Mengenal Perbedaan Baby Blues dan Depresi Postpartum
Kesehatan Mental

Mengenal Perbedaan Baby Blues dan Depresi Postpartum

22 Agustus 2024 3 menit waktu baca
perbedaan baby blues dan depresi postpartum

Melahirkan dan memiliki anak merupakan salah satu perubahan terbesar dalam hidup seorang wanita. Adalah sesuatu yang cukup wajar, apabila hal ini terkadang membuat beberapa ibu merasa murung dan kewalahan. 

 

Dua masalah yang umum dialami oleh seorang wanita pascamelahirkan adalah baby blues dan depresi postpartum (depresi pascamelahirkan). Namun, tahukah Anda apa perbedaan baby blues dan depresi postpartum? Agar tidak keliru, mari simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.

 

Perbedaan Baby Blues dan Depresi Postpartum 

 

Ibu yang melahirkan sering kali mengalami gejolak perasaan yang membuat suasana hatinya mudah berubah tak menentu. Kebanyakan orang mengenal kondisi ini sebagai baby blues. Faktanya, ada kondisi lain yang menunjukkan gejala mirip baby blues, namun sebenarnya lebih berat, yaitu depresi postpartum (postpartum depression).

 

Beberapa orang mungkin belum cukup familiar dengan depresi postpartum, sehingga menganggapnya sama dengan baby blues. Padahal, kedua kondisi ini berbeda. Berikut adalah uraian selengkapnya tentang perbedaan baby blues dan depresi postpartum.

 

1. Definisi

 

Perbedaan depresi postpartum dan baby blues yang pertama dapat dilihat dari definisinya. Baby blues adalah perubahan suasana hati (mood) yang terjadi setelah melahirkan. Kondisi ini biasanya membuat ibu sering merasa sedih, cemas, menangis tanpa sebab, dan mengalami masalah tidur.

 

Baby blues merupakan kondisi yang umum terjadi setelah melahirkan. Biasanya, kondisi ini terjadi sejak bayi berusia 2–3 hari dan akan membaik dengan sendirinya saat bayi sudah berusia sekitar 2 minggu. 

 

Di sisi lain, depresi postpartum sebenarnya juga dapat menimbulkan rasa cemas dan sedih yang dialami oleh ibu baru melahirkan. Namun, gejala ini tidak hilang dengan sendirinya dan dapat dirasakan terus-menerus. Bahkan, pada kondisi depresi postpartum, ibu akan mengalami kesulitan untuk menjalin hubungan dengan bayi.

 

Selain itu, depresi postpartum juga dapat memicu gejala fisik, seperti sakit kepala, nyeri otot, hingga penurunan nafsu makan. Karena itulah, depresi postpartum termasuk dalam gangguan mental serius yang dapat memengaruhi kesehatan serta perilaku ibu setelah melahirkan, dan memerlukan perawatan dari profesional.

 

2. Gejala

 

Perbedaan baby blues dan depresi postpartum berikutnya adalah gejalanya. Baby blues biasanya ditandai dengan perubahan suasana hati yang drastis dan sangat cepat, dari sedih ke senang atau sebaliknya. Misalnya, saat ini ibu merasa bahagia dengan perannya sebagai ibu baru. Namun, beberapa menit kemudian, ibu akan menangis dan merasa berat menjalankan peran barunya tersebut.

 

Sementara itu, pada kondisi depresi postpartum, ibu akan mengalami gejolak emosi negatif yang lebih hebat dan intens. Beberapa gejala yang biasanya dialami oleh ibu dengan depresi postpartum adalah:

 

  • Merasa putus asa, sedih, tidak berharga, dan kesepian sepanjang waktu sehingga sering menangis.

  • Cepat marah dan mudah tersinggung.

  • Mengalami kecemasan dan serangan panik.

  • Tidak merasa menjalankan perannya sebagai ibu dengan baik.

  • Kesulitan tidur, makan, dan merawat bagi karena rasa putus asa yang berlebihan.

  • Tidak bisa menjalin ikatan dengan bayi yang dilahirkan.

  • Memiliki intrusive thoughts (pikiran yang mengganggu) seperti pikiran untuk menyakiti bayi.

 

3. Tingkat Keparahan

 

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya mengenai gejala baby blues dan depresi postpartum, maka bisa dikatakan bahwa depresi postpartum lebih parah dibandingkan dengan baby blues. Yang mana, baby blues mungkin hanya berlangsung selama beberapa hari dan bisa menghilang dengan sendirinya.

 

Di sisi lain, gejala depresi postpartum lebih parah sehingga sebaiknya dibantu dengan perawatan medis. Pasalnya, jika dibiarkan, kondisi ini bisa berlangsung hingga berbulan-bulan atau lebih lama, dan bisa memperparah kesehatan mental.

 

Di samping itu, ibu yang mengalami depresi postpartum tanpa pengobatan dalam waktu yang lama juga dapat memengaruhi perkembangan emosional dan perilaku anak. Tentunya, hal ini akan cenderung mengarah pada emosional dan perilaku anak yang kurang baik. Itulah sebabnya, depresi postpartum harus ditangani sesegera mungkin.

 

Penting untuk diketahui bahwa gejala yang disebutkan di atas tidak spesifik mewakili kondisi baby blues dan depresi postpartum. Artinya, penyebab atau gejala tersebut bisa serupa dengan kondisi lainnya. Oleh karenanya, sangat penting untuk memperoleh diagnosis yang tepat dan akurat dengan mengunjungi Psikiatri di Siloam Hospitals terdekat.

 

Sebagai informasi, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang Anda jalani terkait kondisi baby blues dan depresi postpartum dapat berbeda bergantung pada fasilitas kesehatan masing-masing rumah sakit. Tenaga medis profesional akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi medis setiap pasien. 


Selain itu, Anda juga dapat menggunakan layanan Telekonsultasi yang memungkinkan pasien melakukan konsultasi langsung dengan dokter secara virtual. Dengan layanan telekonsultasi, Anda bisa mendapatkan resep obat-obatan tertentu dari dokter tanpa perlu keluar rumah. Namun, jika diresepkan obat golongan tertentu, seperti antidepresan dan antipsikotik, Anda perlu mengambilnya secara langsung.

 

telechat (1)

message

ArticleDetail