Ibu dan Anak
Proteinuria pada Ibu Hamil Bisa Menandakan Preeklamsia, Jangan Abaikan!

Table of Contents
Proteinuria adalah kondisi ketika terdapat protein dalam urine dalam jumlah yang melebihi batas normal. Meski dalam beberapa kasus proteinuria bersifat sementara dan tidak berbahaya, penting bagi ibu hamil untuk memahami penyebab, risiko, dan langkah penanganannya. Di sisi lain, keberadaan proteinuria juga bisa menjadi tanda awal adanya gangguan serius, seperti preeklampsia. Mari simak ulasan selengkapnya mengenai proteinuria pada ibu hamil di bawah ini.
Apa Itu Proteinuria pada Ibu Hamil?
Proteinuria adalah kondisi ketika kadar protein dalam urine lebih tinggi dari batas normal. Dalam keadaan biasa, urine hanya mengandung sedikit protein karena ginjal yang sehat akan menyaring dan mencegah protein masuk ke dalam urine. Namun, pada ibu hamil, peningkatan kadar protein urine dalam jumlah ringan masih dapat dianggap normal.
Rata-rata kadar protein dalam urine orang yang tidak hamil adalah di bawah 150 mg/hari. Sedangkan, batas normal kadar protein dalam urine pada wanita hamil adalah 300 mg/hari. Apabila kadar protein pada ibu hamil mencapai di atas 300 mg/hari, kondisi ini dianggap sebagai tanda kondisi serius, seperti preeklamsia.
Preeklamsia adalah komplikasi kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tiggi dan adanya protein dalam urine. Preeklamsia dapat menimbulkan beberapa risiko serius bagi ibu dan bayi sehingga perlu diwaspadai.
Diagnosis proteinuria ditegakkan melalui pemeriksaan kuantitatif terhadap urine yang dikumpulkan selama 24 jam. Hasil dengan kadar protein > 300 mg/24 jam menunjukkan adanya proteinuria. Jika pengumpulan urine 24 jam tidak memungkinkan, dapat dilakukan pemeriksaan semikuantitatif menggunakan dipstik urine. Hasil dipstik yang menunjukkan >1+ juga mengindikasikan kemungkinan adanya proteinuria.
Penyebab Proteinuria pada Ibu Hamil
Penyebab umum proteinuria pada ibu hamil adalah preeklamsia yang biasanya berkembang setelah usia 20 minggu kehamilan. Kemungkinan lain penyebab proteinuria pada ibu hamil adalah dehidrasi, peradangan, infeksi, batu ginjal, stres, tekanan darah rendah, atau olahraga berat.
Jika ibu hamil sudah menunjukkan proteinuria sebelum mencapai usia 20 minggu kehamilan, kondisi ini dikenal sebagai proteinuria kronis. Artinya, proteinuria yang dialami kemungkinan besar bukan diakibatkan karena kehamilan, tetapi karena kondisi medis yang sudah ada sebelumnya, seperti penyakit jantung, penyakit ginjal kronis, hipertensi kronis, dan diabetes. Selain itu, infeksi seperti ISK (infeksi saluran kemih) juga dapat meningkatkan kadar protein di dalam urine.
Jika proteinuria muncul atau memburuk setelah 20 minggu, dokter akan lebih waspada terhadap kemungkinan preeklamsia. Kondisi ini biasanya ditandai dengan tekanan darah tinggi dan bisa menyebabkan kerusakan pada organ, terutama hati dan ginjal.
Gejala Proteinuria pada Ibu Hamil
Tinggi rendahnya kadar protein dalam urine hanya bisa diketahui melalui pemeriksaan laboratorium. Namun, mengingat penyebab umum proteinuria pada ibu hamil adalah preeklamsia, timbulnya kondisi ini biasanya disertai dengan gejala preeklamsia seperti:
-
Tekanan darah tinggi (hipertensi).
-
Pembengkakan pada tangan dan wajah.
-
Peningkatan berat badan tiba-tiba.
-
Sakit kepala terus-menerus.
-
Nyeri perut sebelah kanan.
-
Tidak buang air kecil.
-
Mual dan muntah.
-
Perubahan penglihatan.
-
Kesulitan bernapas.
-
Pusing atau pingsan.
Proteinuria pada ibu hamil juga dapat disebabkan oleh penyakit ginjal. Gejala penyakit ginjal dapat meliputi:
-
Urine berbusa atau berwarna cokelat.
-
Nyeri punggung bawah.
-
Pembengkakan pada tangan dan kaki.
-
Peningkatan atau penurunan frekuensi buang air kecil.
-
Kulit gatal.
-
Kram otot.
-
Mual dan muntah.
-
Kelelahan.
-
Penurunan berat badan.
-
Kesulitan bernapas.
Diagnosis Proteinuria pada Ibu Hamil
Sebelum menegakkan diagnosis, dokter akan terlebih dahulu melakukan anamnesis (wawancara medis) mengenai gejala dan riwayat kesehatan pasien. Kemudian, dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik secara menyeluruh pada pasien. Lalu, guna mengonfirmasi diagnosis, beberapa pemeriksaan tambahan yang dilakukan oleh dokter adalah sebagai berikut:
-
Urinalisis: Memeriksa kadar protein dalam urine. Jika hasil urinalisis menunjukkan kadar protein yang tinggi, dokter biasanya akan merekomendasikan pasien menjalani tes lainnya untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat seperti pengumpulan urine 24 jam yang merupakan pemeriksaan baku emas untuk menegakkan diagnosis.
-
Pemeriksaan lainnya: Jika dokter mengantisipasi preeklamsia, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan meminta tes laboratorium tambahan untuk mencari tanda-tanda lain, termasuk:
-
Enzim hati tinggi.
-
Trombosit rendah.
-
Kreatin tinggi.
-
Asam urat tinggi.
Cara Mengatasi Proteinuria pada Ibu Hamil
Proteinuria yang disebabkan oleh preeklamsia bisa membaik dengan sendirinya setelah bayi dan plasenta lahir. Namun, di beberapa kasus, kondisi ini bisa tetap berlangsung hingga beberapa hari atau minggu setelah persalinan.
Dokter biasanya menyarankan induksi persalinan untuk mengurangi risiko komplikasi, terutama jika usia kehamilan pasien sudah mencapai 37 minggu dan mengalami gejala preeklamsia berat, seperti:
-
Bayi kekurangan oksigen.
-
Tekanan darah diastolik lebih dari 110 mmHg.
-
Gangguan fungsi hati.
-
Sakit kepala berat.
-
Nyeri perut kanan atas.
-
Kejang.
-
Penumpukan cairan di paru-paru.
-
Trombosit rendah atau perdarahan.
-
Produksi urine menurun.
Perlu dipahami bahwa tanda dan gejala terkait proteinuria pada ibu hamil di atas tidak bisa dijadikan sebagai acuan utama yang mewakili kondisi tersebut. Bukan tidak mungkin, beberapa gejala yang disebutkan di atas juga terjadi pada kondisi medis lain, sehingga penting untuk melakukan konsultasi dengan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi di Siloam Hospitals terdekat agar mendapatkan diagnosis yang tepat.
Setiap rumah sakit mungkin memiliki tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang berbeda-beda, tergantung dari fasilitas kesehatan yang tersedia. Namun, tenaga medis profesional akan mempertimbangkan kondisi kesehatan pasien terlebih dahulu guna menentukan langkah pemeriksaan dan pengobatan yang tepat.
Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk melihat jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, serta memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Sumber
American Journal of Obstetrics & Gynecology. Proteinuria during pregnancy: definition, pathophysiology, methodology, and clinical significance. Diakses pada 2025 | Healthline. What It Means If You Have Protein in Your Urine During Pregnancy. Diakses pada 2025 | Very Well Health. When Protein in Urine During Pregnancy Could Mean Preeclampsia. Diakses pada 2025 | Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran. Diagnosis dan Tata Laksana Pre-eklamsia. Diakses pada 2025 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Lenny Khosal, M.Kes, SpOG
Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)
Spesialis Obstetri dan Ginekologi
Siloam Hospitals Makassar
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Tia Indriana, SpOG
Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)
Spesialis Obstetri dan Ginekologi
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Danny Wiguna, SpOG
Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)
Spesialis Obstetri dan Ginekologi
Siloam Hospitals Yogyakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
Complete Urinalysis (Chem & Sed) / Urine Lengkap
Infeksi, Skrining Ginjal, Urin
1 Service/Item
Rp76.500
TERPOPULER
Routine Test / Urine Rutin (Protein, Glukosa, Sedimen)
Infeksi, Skrining Ginjal, Urin
1 Service/Item
Rp63.000
TERPOPULER
Pregnancy (B-Hcg) Test 25 mIU / Tes Kehamilan B-hcg 25 mIU
1 Service/Item
Rp122.400
Protein Urine Ad Random / Protein Urine Acak
1 Service/Item
Rp247.500
Protein Urine Quantitative / Protein Urine Kuantitatif
1 Service/Item
Rp289.800






