Kesehatan Tubuh
Sindrom Putri Tidur, Kelainan Tidur dalam Waktu Lama

Table of Contents
Waktu tidur yang dianjurkan umumnya berkisar selama 7–9 jam setiap malam. Namun pada beberapa kondisi, orang dapat tidur dalam waktu yang lebih lama, bahkan hingga 20 jam sehari selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Kondisi ini disebut juga sebagai sindrom putri tidur atau sindrom Kleine-Levin.
Sindrom Kleine-Levin merupakan kondisi langka dan lebih banyak terjadi pada pria remaja. Meski begitu, sindrom ini tetap bisa dialami oleh semua kalangan. Lantas, apa yang menyebabkan seseorang mengalami sindrom putri tidur? Simak penjelasannya di bawah ini.
Apa itu sindrom Putri Tidur?
Sindrom putri tidur, sleeping beauty syndrome, atau sindrom Kleine-Levin adalah kelainan neurologis yang membuat penderitanya tidur dalam waktu yang lama. Pada kondisi ini, seseorang bisa tidur hingga lebih dari 20 jam per hari.
Biasanya, penderita sindrom ini hanya bangun untuk makan atau ke kamar mandi. Ketika terjaga, pengidap sindrom putri tidur justru akan mengalami sejumlah gejala berupa disorientasi, halusinasi, kebingungan, iritabilitas, apatis, dan mengantuk berlebihan yang membuatnya sulit menjalani aktivitas sehari-hari, seperti bekerja atau sekolah.
Periode sindrom ini biasanya dapat berlangsung selama beberapa minggu hingga berbulan-bulan. Namun ketika periodenya sudah berakhir, penderita bisa kembali melakukan aktivitas sehari-hari dengan normal.
Berbeda dengan cerita dongeng yang digambarkan dengan putri tidur, dalam dunia nyata, sindrom ini justru lebih banyak dialami oleh pria dewasa. Meski begitu, kondisi ini bisa dibilang sangat langka.
Penyebab Sindrom Putri Tidur
Hingga kini, belum diketahui secara pasti apa penyebab sindrom putri tidur. Namun, terdapat dugaan bahwa sindrom ini disebabkan oleh adanya gangguan pada hipotalamus dan talamus, yaitu bagian otak yang berperan penting dalam mengatur pola tidur.
Selain gangguan pada bagian otak, terdapat kemungkinan lainnya lagi bahwa sleeping beauty syndrome ini disebabkan oleh penyakit autoimun atau infeksi virus. Sleeping beauty syndrome juga dapat bersifat genetik karena pernah ditemukan kasus yang menunjukkan bahwa sindrom ini terjadi pada lebih dari satu orang dalam satu keluarga.
Gejala Sindrom Putri Tidur
Munculnya gejala sindrom putri tidur biasanya dimulai pada usia remaja. Gejala tersebut bisa muncul secara periodik dan biasanya terjadi sebanyak 2–12 kali dalam satu tahun. Ketika dimulai, periode sindrom ini dapat berlangsung selama beberapa hari, minggu, atau bulan.
Ketika satu periode berakhir, penderitanya cenderung tidak mengingat pengalaman sebelumnya (selama berlangsungnya periode) dan bisa beraktivitas secara normal. Bahkan, mereka tidak menunjukkan gejala apa pun serta memiliki kualitas tidur yang baik.
Tidak hanya tidur dalam waktu yang lama, sindrom ini juga dapat menimbulkan gejala-gejala penyerta lainnya selama periode berlangsung, antara lain:
-
Memiliki keinginan untuk tidur yang tidak terkendali.
-
Sulit bangun di pagi hari.
-
Mengalami halusinasi.
-
Nafsu makan meningkat.
-
Mudah merasa lelah.
-
Memiliki dorongan seksual yang tinggi.
-
Tidak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan.
-
Mudah tersinggung.
-
Merasa linglung saat bangun.
-
Berperilaku seperti anak kecil.
-
Tidak mengenali lingkungan sekitarnya (disorientasi).
Sindrom Putri Tidur Sulit Dideteksi
Sindrom putri tidur adalah kondisi yang cukup sulit dideteksi. Bahkan, butuh waktu hingga bertahun-tahun untuk memastikan kondisi ini. Pasalnya, gejala sindrom ini memiliki kemiripan dengan beberapa penyakit lain, seperti gangguan kejiwaan (misalnya depresi) atau penyakit saraf (misalnya multiple sclerosis).
Tidak ada tes khusus yang dapat digunakan untuk mendiagnosis kondisi ini, namun dokter akan tetap meminta pasien untuk menjalani beberapa pemeriksaan guna menyingkirkan kemungkinan penyakit lainnya yang bisa menyebabkan sindrom putri tidur ini terjadi. Adapun beberapa pemeriksaan tersebut adalah sebagai berikut:
-
Anamnesis (wawancara medis) dan pemeriksaan fisik.
-
Pemeriksaan psikologis atau status mental pasien.
-
Tes darah.
-
Tes sleep study.
Cara Mengurangi Gejala Sindrom Putri Tidur
Hingga kini, sebenarnya belum ada pengobatan khusus untuk sindrom ini. Namun, dokter dapat memberikan obat-obatan untuk mengurangi gejala pasien. Misalnya, memberikan obat golongan stimulan untuk mengatasi rasa kantuk berlebih. Selain itu, mungkin dokter juga akan memberikan obat-obatan untuk mengatasi gangguan suasana hati.
Pada kondisi ini, pengawasan yang ketat di rumah lebih dibutuhkan daripada penggunaan obat-obatan medis. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, penderita sindrom ini mungkin akan merasa kesulitan dalam mengurus dirinya sendiri sehingga membutuhkan bantuan dari orang lain.
Itulah penjelasan mengenai sindrom putri tidur yang perlu dipahami. Apabila mengalami sejumlah gejala yang mengarah pada sindrom putri tidur atau gangguan tidur lainnya, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter di Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan rekomendasi perawatan yang tepat.
Anda juga dapat memesan paket Sleep Test untuk menilai seberapa baik kualitas tidur Anda. Tidak hanya itu, tes ini juga dapat mengidentifikasi apa penyebab gangguan tidur yang mungkin Anda alami. Sleep Test merupakan bagian dari layanan Siloam at Home yang bisa Anda pesan dengan mudah melalui aplikasi MySiloam. Mari jaga kesehatan Anda dan keluarga #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini







