Terapi Antibodi Monoklonal dan Efek Sampingnya
Kesehatan Tubuh

Terapi Antibodi Monoklonal dan Efek Sampingnya

18 November 2025 4 menit waktu baca
antibodi monoklonal

Cukup banyak metode perawatan yang bisa dipilih dengan tujuan meningkatkan angka kesembuhan terkait infeksi virus SARS-CoV-2. Salah satu yang belakangan ini terus dikembangkan adalah terapi antibodi monoklonal yang cukup efektif mengatasi COVID-19.

 

Terapi ini secara klinis mampu menurunkan waktu rawat inap dan mencegah perburukan gejala yang ditimbulkan infeksi virus SARS-CoV-2. Namun, terapi ini baru dilakukan kepada pasien yang masih dalam tahap gejala ringan dan belum membutuhkan terapi oksigen.

 

Sejak Februari 2021, Food and Drugs Administration (FDA) telah mengizinkan penggunaan terapi ini. Ada dua jenis obat yang digunakan dalam terapi ini, diantaranya etesevimab dan bamlanivimab.

 

Hasilnya cukup positif, dalam fase pertama dan kedua uji klinis di tingkat global, terapi antibodi monoklonal dinyatakan memiliki keamanan, efektivitas, dan efikasi yang menjanjikan ketimbang metode pengobatan lainnya terkait COVID-19.

 

Mengenal Antibodi Monoklonal

 

Secara garis besar, antibodi monoklonal merupakan protein yang dibuat di laboratorium yang bekerja dengan cara meniru kemampuan sistem kekebalan tubuh manusia untuk melawan infeksi virus (imunoterapi) dan patogen berbahaya lainnya.

 

Obat yang digunakan dalam terapi ini, etesevimab dan bamlanivimab, pada dasarnya merupakan antibodi monoklonal yang secara khusus diciptakan sebagai protein spike untuk virus SARS-CoV-2. Dengan cara ini, virus tidak akan melekat pada tubuh manusia.

 

Selain itu, kedua obat tersebut bekerja dengan cara mengikat virus agar tidak menginfeksi sel dan bereplikasi di dalamnya.

 

Dalam uji klinis kepada pasien COVID-19 dengan gejala kategori ringan-sedang, etesevimab dan bamlanivimab secara signifikan mampu mengurangi resiko rawat inap dan kematian terkait infeksi virus SARS-CoV-2. Hanya saja uji coba lanjutan masih perlu dilakukan.

 

Sementara di Korea Selatan, perusahaan farmasi Celltrion Healthcare, dilaporkan telah melakukan uji terapi antibodi monoklonal dengan menggunakan Redganvimab pada pasien COVID-19 dengan kategori gejala ringan dan sedang.

 

Hasilnya jauh lebih mengejutkan, terapi antibodi monoklonal dengan Redganvimab ternyata mampu menetralkan varian virus SARS-CoV-2 wild type, dan beberapa varian lainnya seperti Alpha (B.1.1.7), Beta (B.1.351), Delta (B.1.617.2), hingga Gamma (P.1), dan mempercepat proses pemulihan gejalanya.

 

Penelitian lainnya di beberapa rumah sakit di Inggris, yang melibatkan sekitar 10.000 pasien terkonfirmasi positif COVID-19 dengan gejala ringan-sedang, menunjukkan hasil positif dengan penurunan angka rawat inap dan meningkatnya angka kesembuhan.

 

Kepala peneliti gabungan Recovery, Sir Martin Landry, menyatakan jika pemberian terapi antibodi monoklonal dapat menurunkan risiko kematian hingga seperlimanya ketimbang mereka yang tidak menggunakan terapi ini dalam kondisi yang sama (gejala ringan-sedang).

 

Terapi Antibodi Monoklonal di Indonesia

 

Untuk Indonesia sendiri, terapi antibodi monoklonal secara eksklusif menggunakan regdanvimab. Sebagai informasi, terapi dengan menggunakan obat regdanvimab ini sebelumnya pernah dilakukan di Korea Selatan dengan hasil yang cukup memuaskan.

 

Dexa Medica, pemegang merek Redganvimab menyatakan jika terapi ini bisa digunakan sebagai salah satu pilihan terbaik untuk pasien COVID-19. Terapi ini sudah melalui uji klinik fase III dengan hasil yang sangat positif.

 

Redganvimab secara signifikan efektif mengurangi risiko rawat inap hingga 72% untuk pasien yang masuk dalam kategori gejala ringan-sedang, dengan potensi berkembang menjadi gejala berat dalam di hari ke-28. Selain itu, obat ini pun dinilai efektif mengurangi risiko rawat inap dan mampu menekan angka kematian akibat COVID-19 hingga 70%.

 

Dalam Surat Usulan Revisi Pedoman Tata Laksana COVID-19 tertanggal 14 Juli 2021, beberapa perhimpunan profesi dokter Indonesia yang merekomendasikan terapi antibodi monoklonal, termasuk regdanvimab. Diantaranya adalah:

 

  • Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)
  • Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)
  • Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI)
  • Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI)
  • Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN)

 

Pihak Dexa Medica mengklaim jika mereka sudah mendapat emergency use authorization (EUA) atau surat izin edar dari BPOM untuk mendatangkan Redganvimab ke Indonesia secara berkelanjutan, sesuai dengan kebutuhan dari pihak rumah sakit dan dokter.

 

Efek Samping

 

Meski terbilang cukup efektif dan cukup aman bagi pasien COVID-19 dengan gejala ringan-sedang, terdapat beberapa efek samping serius terkait antibodi monoklonal, antara lain hipersensitivitas, reaksi alergi terkait infus, dan anafilaksis.

 

Namun, efek tersebut hanya sebatas pemberian untuk obat bamlanivimab tanpa pemberian etesevimab. Selain itu, penggunaan kedua obat tersebut dapat menyebabkan beberapa efek samping, seperti munculnya ruam, pusing, mual hingga muntah, dan pruritus.

 

Sementara itu, penggunaan obat regdanvimab yang digunakan sebagai terapi antibodi monoklonal di Indonesia, masih terus dievaluasi. Hingga saat ini, laporan yang sering muncul adalah hipertrigliseridemia (2,8%) atau peningkatan kadar trigliserida dalam tubuh.

 

Selain itu, dilaporkan beberapa reaksi yang dapat muncul seperti demam, sakit kepala, menggigil, sesak napas, mual, hipotensi, bronkospasme, iritasi tenggorokan, angioedema, ruam, mialgia, pruritus, dan pusing. Reaksi tersebut masih dalam kategori tidak umum dan hanya sebatas pemberian pada infus.

 

Jika reaksi tersebut muncul, biasanya petugas akan melakukan evaluasi kembali dan mulai mempertimbangkan terapi lainnya. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter dokter Siloam Hospital terdekat untuk memperoleh diagnosis dan penanganan medis secara tepat.

 

Anda dapat menggunakan fitur Cari Dokter untuk menemukan jadwal dokter, booking, dan buat janji dengan dokter terkait. Atau, gunakan juga aplikasi MySiloam untuk memudahkan Anda berkonsultasi langsung dengan dokter secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam dan percayakan kesehatan Anda dan keluarga #BersamaSiloam!

 

Siloam at Home (1)

Dokter Kami
dr-albertus-daniel-sppd

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Albertus Daniel, SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ra-aditya-adhi-puruhita-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ra Aditya Adhi Puruhita, M.M.R., SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-juliyanti-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Juliyanti, SpPD, FINASIM

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Kelapa Dua

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail