Apa itu Agnosia? Ini Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya
Kesehatan Tubuh

Apa itu Agnosia? Ini Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

22 Agustus 2024 5 menit waktu baca
agnosia adalah

Agnosia adalah sekelompok kondisi ketika terdapat kerusakan pada otak yang memengaruhi kemampuannya dalam memproses atau memahami informasi yang masuk melalui indra perasa, penglihatan, peraba, penciuman, atau pendengaran. Kondisi ini tergolong langka, namun bisa dialami oleh semua kalangan usia. Mari kenali apa itu agnosia, mulai dari penyebab, gejala, pengobatan, hingga pencegahannya dalam artikel berikut ini.

 

Apa itu Agnosia?

 

Agnosia adalah kondisi langka yang membuat otak tidak bisa mengenali suatu objek, meskipun indra tubuh dapat mendeteksinya. Kondisi ini juga bisa memengaruhi kemampuan otak dalam mengumpulkan dan memahami informasinya. Misalnya, seseorang tidak bisa mendeteksi bahwa suatu benda sedang bergerak, namun ia dapat mengetahui keberadaan benda tersebut saat dalam posisi tidak bergerak.

 

Penyebab Agnosia

 

Agnosia terjadi ketika terdapat kerusakan pada area lobus parietal, temporal, atau oksipital di otak. Salah satu fungsi area-area otak tersebut adalah untuk menyimpan informasi mengenai kegunaan dan keberadaan objek, pemandangan, serta suara yang familiar sekaligus mengintegrasikan memori tersebut dengan kemampuan identifikasi dan persepsi. 

 

Kerusakan tersebut bisa terjadi secara tiba-tiba karena cedera di area otak ataupun berkembang secara perlahan akibat kondisi medis tertentu. Secara umum, beberapa kondisi yang bisa menyebabkan kerusakan otak dan memicu terjadinya agnosia adalah sebagai berikut:

 

 

Gejala Agnosia

 

Secara garis besar, agnosia dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu apperceptive dan associative. Untuk memahami gejala agnosia baik itu apperceptive dan associative, berikut adalah penjelasan selengkapnya.  

 

  • Apperceptive: Kondisi ketika indra seseorang bekerja, namun otak tidak bisa memproses informasi yang didapatkan oleh indra tersebut. Misalnya, ketika seseorang menunjukkan dua gambar kucing yang sama, penderita agnosia apperceptive tidak bisa mengenali bahwa gambar tersebut merupakan gambar kucing, serta tidak mengetahui keduanya adalah gambar yang sama. 

  • Associative: Kondisi ketika indra menangkap suatu informasi dan otak bisa memprosesnya, tetapi otak tidak dapat mengenali atau memahami makna dari informasi tersebut. Sebagai contoh, saat seseorang menunjukkan dua gambar kucing yang sama, penderita agnosia associative mengetahui keduanya merupakan gambar yang sama, namun tidak bisa mengenali hal tersebut merupakan gambar kucing.

 

Di samping itu, berdasarkan jenis indra yang terganggu, agnosia juga dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, di antaranya sebagai berikut.

 

Visual agnosias (agnosia yang memengaruhi indra penglihatan)

 

  • Cortical blindness: Kondisi ketika mata bisa berfungsi secara normal, namun otak tidak mampu memproses informasi yang dikirimkan dari mata.

  • Akinetopsia: Kondisi ketika seseorang bisa mengenali suatu objek, namun tidak dapat mendeteksi saat objek tersebut bergerak.

  • Form agnosia: Kondisi ketika seseorang bisa melihat bagian dari suatu objek, namun tidak dapat mengidentifikasi objek itu sendiri. Misalnya, seseorang dapat melihat roda, kursi, dan setang suatu sepeda, namun tidak dapat mengenali benda tersebut sebagai sebuah sepeda.

  • Alexia: Kondisi ketika seseorang tidak bisa membaca, namun bisa melihat kata, menulis, dan berbicara tanpa ada masalah.

  • Achromatopsia (color agnosia): Kondisi ketika seseorang bisa melihat dan membedakan warna, namun tidak mampu menyebutkan nama warnanya.

  • Environmental agnosia: Jenis ini terjadi ketika seseorang tidak dapat menyadari di mana mereka berada, mendeskripsikan lokasi yang sebenarnya familiar, atau memberikan arahan ke lokasi tertentu.

  • Autopagnosia: Kondisi ketika seseorang tidak dapat mengenali bagian tubuh tertentu, baik pada diri sendiri maupun orang lain.

  • Prosopagnosia: Kondisi ketika seseorang kesulitan untuk mengenali wajah atau ekspresi wajah.

  • Social-emotional agnosia: Kondisi ketika seseorang tidak dapat mengenali isyarat nonverbal, seperti bahasa tubuh.

 

Auditory agnosias (agnosia yang memengaruhi indra pendengaran)

 

  • Cortical deafness: Kondisi ketika telinga menangkap suara dan mengirimkannya ke otak, namun otak tidak dapat memproses informasi tersebut.

  • Amusia: Jenis auditory agnosia yang membuat seseorang tidak dapat mengenali lagu atau melodi yang sudah diketahui sebelumnya.

  • Phonagnosia: Kondisi ketika seseorang tidak mampu mengenali suara yang familiar, namun mengerti apa yang disampaikan.

 

Tactile agnosias (agnosia yang memengaruhi indra peraba)

 

  • Ahylognosia: Pada kondisi ini, seseorang tidak mampu mengenali bahan, berat, maupun tekstur dari suatu objek yang sedang disentuh, namun ia tetap bisa mengenali objek tersebut dari bentuknya.

  • Amorphognosia: Jenis tactile agnosia yang membuat seseorang tidak bisa mengidentifikasi bentuk atau ukuran suatu benda saat menyentuhnya.

  • Astereognosis: Ini terjadi ketika seseorang tidak bisa mengenali suatu objek dengan menyentuhnya, namun dapat mengetahui objek tersebut saat melihatnya.

 

Jenis agnosia lainnya

 

  • Gustatory agnosia: Jenis agnosia yang dapat memengaruhi indra perasa, sehingga membuat seseorang tidak mampu mengenali rasa tertentu, seperti manis atau pahit.

  • Olfactory agnosia: Pada kondisi ini, seseorang tidak bisa mengenali bau tertentu yang sebelumnya diketahui.

  • Unilateral neglect: Kondisi ketika seseorang tidak dapat mengenali rangsang sentuhan, suhu, nyeri, atau lainnya pada satu sisi tubuh.

  • Anosognosia: Ditandai dengan ketidakmampuan seseorang untuk mengenali bahwa ia sedang menderita suatu kondisi medis.

  • Anosodiaphoria: Ini terjadi ketika seseorang menyadari bahwa ia menderita suatu kondisi medis, namun tidak bisa mengenali atau memahami pentingnya hal tersebut.

 

Diagnosis Agnosia

 

Penegakan diagnosis agnosia dapat dilakukan melalui beberapa tahap. Pertama-tama, dokter akan melakukan wawancara medis (anamnesis) untuk mengetahui keluhan dan riwayat kesehatan pasien secara keseluruhan. Kemudian, dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik dan beberapa pemeriksaan penunjang untuk mengetahui kondisi otak pasien. Beberapa pemeriksaan penunjang tersebut, di antaranya:

 

  • Tes sensorik.

  • Pemeriksaan status mental dan kognitif.

  • Memory and familiarity test.

  • Tes pencitraan, seperti CT scan dan MRI otak.

  • Electroencephalogram (EEG).

 

Pengobatan Agnosia

 

Pada dasarnya, tidak ada metode pengobatan khusus untuk mengobati agnosia. Namun, dokter dapat melakukan sejumlah prosedur medis untuk menangani penyebab yang mendasarinya. Adapun beberapa tindakan medis yang dapat dilakukan adalah:

 

  • Pemberian obat-obatan, seperti antibiotik (untuk menangani abses otak yang dapat memicu agnosia) atau antidemensia (untuk menangani demensia yang dapat memicu agnosia).

  • Tindakan operasi, untuk menangani tumor otak yang dapat memicu agnosia.

  • Terapi dan rehabilitasi, seperti terapi wicara dan okupasi untuk membantu meningkatkan kualitas hidup pasien.

 

Pencegahan Agnosia

 

Secara umum, pencegahan agnosia dapat dilakukan dengan meminimalkan risiko terjadinya sejumlah kondisi yang menjadi penyebab yang mendasarinya. Adapun beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya agnosia adalah sebagai berikut:

 

  • Mengonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang dan menjaga berat badan ideal. Hal ini dilakukan untuk menjaga kesehatan jantung dan peredaran darah sehingga dapat mengurangi risiko terjadinya stroke yang bisa menyebabkan kerusakan otak.

  • Menggunakan alat pelindung diri yang tepat, terutama jika melakukan aktivitas yang berisiko menyebabkan cedera di area kepala.

 

Pada intinya, agnosia adalah kondisi yang perlu diwaspadai oleh setiap individu. Namun, perlu diingat bahwa penyebab dan gejala di atas tidak secara spesifik mewakili kondisi agnosia. Artinya, penyebab dan gejala tersebut juga bisa terjadi pada kondisi medis lainnya. Oleh karenanya, sangat penting untuk memperoleh diagnosis yang tepat dan akurat terkait dengan agnosia dari Dokter Spesialis Neurologi di Siloam Hospitals terdekat.

 

Tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang dijalani pasien terkait dengan agnosia dapat berbeda-beda, sesuai dengan ketersediaan fasilitas kesehatan di masing-masing rumah sakit. Tenaga medis profesional akan menentukan tahapan prosedur medis dan pengobatan sesuai dengan kondisi setiap pasien. 


Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk melihat jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, serta memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

 

Aplikasi My Siloam (1)

Dokter Kami
dr-kelvin-yuwanda-spn

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-jerry-hartawan--sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-dorothea-fortuna-meita-caturwulan-sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail