Apa itu Prosopagnosia? Ini Penyebab, Gejala, & Pengobatannya
Kesehatan Mental

Apa itu Prosopagnosia? Ini Penyebab, Gejala, & Pengobatannya

22 Agustus 2024 5 menit waktu baca
prosopagnosia adalah

Face blindness, facial/visual agnosia, atau prosopagnosia adalah kondisi medis yang membuat penderitanya merasa kesulitan untuk mengenali atau tidak dapat mengingat wajah orang lain termasuk keluarga dan teman, bahkan wajah sendiri. Kondisi ini terjadi karena adanya gangguan pada bagian otak yang berfungsi dalam mengenali, membedakan, serta mengingat wajah orang. Mari pahami lebih lanjut mengenai prosopagnosia selengkapnya dalam ulasan di bawah ini.

 

Apa itu Prosopagnosia (Face Blindness)?

 

Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa prosopagnosia adalah kondisi ketika seseorang kesulitan untuk mengenali wajah orang lain. Bahkan, pada kasus yang lebih parah, penderita prosopagnosia juga tidak bisa mengenali wajahnya sendiri. Kondisi ini bukan terjadi karena adanya gangguan penglihatan, melainkan karena terdapat masalah pada perkembangan sistem saraf fusiform gyrus (bagian dalam otak yang berfungsi untuk mengelola memori dan mengingat wajah).

 

Prosopagnosia termasuk dalam kelompok agnosia, yaitu kondisi yang terjadi akibat adanya gangguan kerja otak dalam memproses informasi dari pancaindra sehingga seseorang kehilangan kemampuan dalam mengenali objek, orang, suara, bentuk, atau bau, meski tidak ada kerusakan indra. Dalam beberapa kasus, prosopagnosia mungkin juga disertai dengan anosognosia atau kondisi ketika seseorang secara tidak sadar tidak dapat menerima atau menyadari kondisi medis yang sedang dideritanya.

 

Penyebab Prosopagnosia

 

Berdasarkan penyebab yang mendasarinya, prosopagnosia dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu prosopagnosia kongenital (developmental prosopagnosia) dan prosopagnosia yang didapat (acquired prosopagnosia). Berikut masing-masing penjelasannya.

 

  • Prosopagnosia kongenital (developmental prosopagnosia): Disebabkan oleh kelainan genetik. Jenis prosopagnosia ini biasanya terjadi pada orang yang memiliki keluarga dengan riwayat kondisi serupa.

  • Prosopagnosia yang didapat (acquired prosopagnosia): Penderita prosopagnosia jenis ini awalnya bisa mengenali serta membedakan wajah orang lain. Namun, mereka kehilangan kemampuan tersebut karena cedera atau penyakit yang menyerang otak, seperti stroke, cedera kepala, dan penyakit saraf/psikiatri yang menyerang otak seperti penyakit Alzheimer, depresi, dan skizofrenia.

 

Di samping itu, sejumlah faktor lainnya yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami prosopagnosia adalah sebagai berikut:

 

  • Menderita kelainan genetik lain, seperti gangguan spektrum autisme, sindrom Asperger, Williams syndrome, dan sindrom Turner (pada kasus prosopagnosia kongenital).

  • Keracunan karbon monoksida.

  • Gangguan perkembangan otak.

  • Demensia.

  • Tumor otak.

  • Epilepsi.

  • Infeksi pada otak.

  • Hipoksia serebral (kekurangan oksigen di otak). Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai penyebab, salah satunya disebabkan oleh stroke.

 

Gejala Prosopagnosia

 

Gejala utama prosopagnosia adalah ketidakmampuan seseorang untuk mengenali wajah orang lain, bahkan orang terdekat seperti teman dan keluarga, hingga wajah sendiri. Di sisi lain, jika dilihat dari ciri-ciri prosopagnosia yang muncul, kondisi ini juga dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu apperceptive prosopagnosia dan associative prosopagnosia. Berikut penjelasannya.

 

  • Apperceptive prosopagnosia: Ini terjadi ketika seseorang tidak bisa mengenali ekspresi wajah orang lain atau isyarat nonverbal lainnya.

  • Associative prosopagnosia: Kondisi ketika seseorang tidak dapat mengenali wajah seseorang meski sudah kenal dengan orangnya. Namun, penderita dengan kondisi ini masih bisa mengingat orang lain melalui hal lain, seperti dari suara atau cara mereka berjalan.

 

Di samping itu, penderita prosopagnosia juga dapat mengalami keluhan lain, seperti:

 

  • Kesulitan untuk membedakan wajah dan benda.

  • Gangguan kecemasan.

  • Cenderung menghindari interaksi sosial.

  • Depresi.

 

Diagnosis Prosopagnosia

 

Dalam menegakkan diagnosis prosopagnosia, dokter akan terlebih dahulu menanyakan riwayat kesehatan pasien serta keluarganya. Setelah itu, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan fisik dan beberapa tes penunjang, di antaranya sebagai berikut:

 

 

Lalu, untuk membantu mengonfirmasi diagnosis prosopagnosia, dokter juga dapat melakukan beberapa pemeriksaan neurologis, seperti:

 

  • Tes sensorik atau tes pancaindra, untuk mengevaluasi fungsi pancaindra dalam mendeteksi rangsang tertentu.

  • Tes kognitif, untuk mengevaluasi kemampuan pasien dalam mengingat, mengambil keputusan, dan memecahkan masalah.

  • Tes memori, untuk mengetahui apakah pasien mengalami gangguan dalam mengingat objek maupun wajah.

  • Tes pengenalan wajah, untuk memeriksa kemampuan pasien dalam mengenali, mengingat, serta membedakan wajah orang lain.

  • Tes pengenalan objek, untuk mengetahui apakah pasien memiliki gambaran stimuli (rangsangan) yang disimpan dalam memori sama persis dengan rangsangan yang didapat oleh pancaindra.

 

Pengobatan Prosopagnosia

 

Pada dasarnya, tidak ada metode pengobatan khusus untuk menyembuhkan prosopagnosia, terutama dalam kasus prosopagnosia kongenital. Kendati demikian, dokter umumnya dapat menangani penyebab yang mendasari acquired prosopagnosia melalui beberapa metode berikut ini:

 

  • Pemberian obat-obatan, seperti obat antibiotik jika penyebab prosopagnosia adalah gangguan pada otak akibat infeksi bakteri.

  • Tindakan operasi untuk mengangkat tumor jika penyebab prosopagnosia adalah tumor otak.

 

Selain itu, dokter juga dapat merekomendasikan pasien prosopagnosia untuk menjalani terapi. Tujuannya adalah membantu pasien untuk menemukan cara lain dalam mengingat dan mengenali wajah keluarga maupun orang-orang di sekitarnya. Beberapa terapi yang dapat dilakukan untuk menangani prosopagnosia adalah:

 

  • Perceptual training, untuk melatih penderita prosopagnosia mengenali wajah orang lain melalui ciri-ciri fisik, seperti jumlah atau letak tahi lalat di wajah, dan lain sebagainya.

  • Latihan mengenali suara. Dengan begitu, pasien dapat mengingat dan mengenali orang lain melalui ciri khas suaranya.

 

Komplikasi Prosopagnosia

 

Penting untuk segera menangani prosopagnosia dengan tepat. Pasalnya, apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat, kondisi ini dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup atau memicu gangguan kesehatan mental lain, di antaranya sebagai berikut:

 

  • Kesulitan untuk menjalin hubungan sosial dengan orang lain.

  • Kesulitan untuk mencari pekerjaan.

  • Gangguan belajar.

  • Gangguan kecemasan.

  • Depresi.

 

Pencegahan Prosopagnosia

 

Apabila disebabkan oleh kelainan bawaan lahir, prosopagnosia cenderung sulit untuk dicegah. Namun, guna meminimalkan risiko terjadinya prosopagnosia kongenital pada anak, calon orang tua disarankan untuk menjalani skrining genetik saat sedang merencanakan kehamilan, terutama apabila memiliki anggota keluarga dengan riwayat kondisi serupa.

 

Di samping itu, beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk menghindari risiko terjadinya acquired prosopagnosia adalah sebagai berikut:

 

  • Menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) untuk meminimalkan risiko terjadinya infeksi otak hingga stroke.

  • Menjalani pengobatan sampai tuntas dan sesuai dengan anjuran dokter jika menderita kondisi medis tertentu, seperti sleep apnea, epilepsi, serta infeksi mata, sinus, gigi, dan telinga.

  • Mengenakan alat pelindung kepala saat melakukan aktivitas fisik yang berisiko menyebabkan cedera kepala.

  • Berkendara dengan aman dan sesuai aturan.

 

Pada dasarnya, prosopagnosia adalah kondisi yang perlu mendapatkan penanganan secara tepat agar tidak memengaruhi kualitas hidup penderitanya. Pasalnya, prosopagnosia bisa berdampak pada kondisi fisik maupun mental pasien secara keseluruhan. Karena itu, jangan ragu untuk mengunjungi Psikiatri dari Siloam Hospitals apabila Anda atau kerabat Anda mengalami kondisi yang mengarah pada prosopagnosia.

 

Atau, Anda juga dapat menggunakan layanan Telekonsultasi dari Siloam Hospitals yang memungkinkan pasien untuk berkonsultasi langsung dengan dokter secara virtual. Melalui layanan ini, dokter juga bisa meresepkan obat-obatan tertentu, dan pasien pun bisa mengambil resep tersebut tanpa perlu keluar rumah. Namun, jika diresepkan obat antipsikotik atau antidepresan, pasien wajib mengambilnya secara langsung (self pick up) setelah melakukan konsultasi dengan dokter.

 

telechat

message

ArticleDetail