Kesehatan Mental
Agoraphobia - Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Table of Contents
Agoraphobia adalah kondisi yang membuat seseorang merasa takut dan cemas berlebihan pada suatu tempat atau situasi tertentu yang dirasa berpotensi menimbulkan kepanikan atau perasaan seperti terperangkap. Pada kondisi ini, penderita mungkin akan mengalami serangan panik, malu, dan merasa tidak berdaya saat berada di tempat-tempat umum, transportasi publik, atau ruangan tertutup.
Ingin tahu lebih lanjut tentang agoraphobia? Mari simak informasi selengkapnya melalui ulasan di bawah ini.
Apa itu Agoraphobia?
Seperti yang sudah dijelaskan, agoraphobia adalah salah satu jenis fobia yang membuat penderitanya merasa ketakutan saat berada di tempat atau situasi tertentu, misalnya tempat publik, ruangan tertutup, atau keramaian yang dianggap dapat menimbulkan rasa panik, perasaan seperti terperangkap, dan sulit untuk melarikan diri. Jika dibiarkan berlarut-larut, kondisi ini dapat menyebabkan aktivitas penderitanya menjadi terbatas dan terisolasi.
Saat timbul rasa takut berlebihan terhadap pemicu fobia, penderita merasa sulit melarikan diri dan tidak bisa meminta pertolongan siapa pun. Akibatnya, penderita merasa tidak aman dan tak berdaya saat berada di tempat umum dan selalu membutuhkan orang lain untuk menemaninya. Bahkan, pada kasus yang parah, mereka enggan keluar rumah sama sekali.
Penyebab Agoraphobia
Hingga kini, belum diketahui secara pasti apa penyebab agoraphobia. Namun, kondisi ini sering dikaitkan sebagai komplikasi dari serangan panik (panic attack). Hal ini dapat terjadi ketika seseorang mengasosiasikan serangan paniknya dengan tempat atau situasi tertentu saat serangan itu terjadi, sehingga orang dengan agoraphobia akan menghindari suasana dan tempat tersebut.mun sebagian lainnya mungkin tidak mengalami serangan panik.
Adapun beberapa faktor yang diketahui dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami agoraphobia adalah sebagai berikut:
-
Terdapat anggota keluarga dengan riwayat fobia yang sama.
-
Memiliki riwayat gangguan panik atau jenis fobia lainnya.
-
Pengalaman traumatis di masa lalu, misalnya pernah mengalami serangan fisik di tempat umum.
-
Memiliki kepribadian yang mudah merasa cemas dan gugup berlebihan.
-
Memiliki ketakutan berlebihan terhadap tindakan kriminal, terorisme, terkena penyakit, atau mengalami kecelakaan.
Gejala Agoraphobia
Agoraphobia adalah kondisi yang dapat memicu kecemasan karena penderita merasa tidak dapat melarikan diri atau mencari pertolongan ketika sedang merasa panik di tempat atau situasi tertentu. Agoraphobia juga bisa menimbulkan gejala fisik, kognitif, dan perilaku. Berikut masing-masing penjelasannya.
Gejala fisik:
-
Jantung berdebar.
-
Napas cepat.
-
Gemetaran, mati rasa, dan kesemutan.
-
Nyeri dada.
-
Sakit perut dan mual.
-
Diare.
-
Berkeringat dan merasa panas atau gerah.
-
Tinitus (telinga berdenging).
-
Kesulitan menelan.
-
Merasa seperti ingin pingsan.
Gejala kognitif:
-
Merasa terjebak di suatu tempat.
-
Gugup dan gemetar bila ditatap orang lain.
-
Merasa malu di hadapan orang lain.
-
Tidak bisa berpikir jernih.
-
Sesak napas dan jantung terasa seperti berhenti berdetak ketika terkena serangan panik.
Gejala perilaku:
-
Menghindari pergi ke luar rumah dalam waktu yang lama.
-
Menghindari situasi yang berisiko memicu serangan panik.
-
Membutuhkan teman atau keluarga untuk menemani dirinya saat harus pergi ke luar rumah.
Biasanya orang dengan agoraphobia takut bepergian dengan transportasi umum, berbelanja di pusat perbelanjaan, dan meninggalkan rumah sehingga sering kali mereka memilih berbelanja online dibandingkan harus pergi ke luar rumah. Perilaku ini disebut juga sebagai avoidance (perilaku menghindar).
Diagnosis Agoraphobia
Sebelum mendiagnosis agoraphobia, dokter akan terlebih dahulu melakukan wawancara medis (anamnesis) agar pasien dapat mendeskripsikan ketakutannya dan untuk mengetahui seberapa sering dan pada situasi seperti apa ketika gejala yang dialami pasien muncul. Kemudian, dilanjutkan dengan melakukan pemeriksaan fisik dan tes penunjang guna memastikan bahwa gejala pasien tidak disebabkan oleh penyakit lain.
Lalu, guna mengonfirmasi diagnosis agoraphobia, dokter akan merujuk pada kriteria dalam The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th Edition (DSM-V). Berdasarkan DSM-V, seseorang didiagnosis agoraphobia bila merasakan kecemasan atau ketakutan yang mengganggu pada 2 atau lebih tempat atau situasi di bawah berikut ini selama setidaknya 6 bulan:
-
Tempat terbuka.
-
Tempat tertutup (toko, bioskop).
-
Antrean atau keramaian.
-
Transportasi umum.
-
Di luar rumah sendirian.
Cara Mengatasi Agoraphobia
Tujuan pengobatan agoraphobia adalah untuk mengurangi rasa cemas, panik, dan takut, serta melatih pasien agar bisa mengendalikan diri saat berhadapan dengan situasi yang membuatnya takut. Metode pengobatan yang biasanya dilakukan untuk pasien agoraphobia adalah psikoterapi dan pemberian obat-obatan.
Jenis psikoterapi yang sering digunakan adalah terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy atau CBT), terapi desensitisasi, terapi pemaparan (exposure therapy), dan terapi relaksasi. Berikut masing-masing penjelasannya:
-
Terapi perilaku kognitif: Terapi ini bertujuan untuk membuat pasien dapat berpikir lebih positif mengenai situasi yang membuatnya takut. Dengan begitu, diharapkan ia dapat menjadi percaya diri kembali.
-
Terapi pemaparan: Terapi yang bertujuan untuk mengurangi rasa takut pasien sehingga mampu menganggap hal yang ditakuti menjadi hal biasa.
-
Terapi relaksasi: Terapi ini dapat membantu mengurangi ketegangan pasien saat sedang menghadapi situasi yang dianggapnya menakutkan.
Sementara itu, obat-obatan yang biasanya diresepkan oleh dokter kepada penderita agoraphobia adalah obat golongan SSRIs (selective serotonin reuptake inhibitors), SNRIs (serotonin-norepinephrine reuptake inhibitors), pregabalin, atau benzodiazepine.
Komplikasi Agoraphobia
Tanpa pengobatan, agoraphobia bisa menjadi semakin parah hingga menyebabkan penderitanya tidak keluar dari rumah selama bertahun-tahun. Bila hal ini terjadi, penderita tidak bisa mengunjungi keluarga atau teman dan kesulitan saat harus bekerja atau sekolah. Pada akhirnya, hal ini dapat memicu depresi, penyalahgunaan obat-obatan atau alkohol, hingga munculnya pikiran bunuh diri (suicidal thought).
Maka dari itu, bila Anda atau kerabat menyadari adanya gejala yang mengarah pada agoraphobia, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan Psikiatri di Siloam Hospitals terdekat agar mendapatkan penanganan yang tepat.
Jika ingin berkonsultasi dari rumah, Anda dapat memanfaatkan layanan Telekonsultasi yang tersedia di aplikasi MySiloam. Layanan tersebut memungkinkan dokter untuk meresepkan obat-obatan sesuai kondisi pasien, dan pasien pun bisa memperoleh obat-obatan tersebut tanpa harus keluar rumah. Namun jika diresepkan beberapa jenis obat, seperti antipsikotik dan antidepresan, pasien wajib mengambilnya secara langsung atau self pick up.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Lippo Cikarang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Jambi
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
MENTAL - Skrining Mental health (MMPI)
Lainnya
2 Service/Item
Rp880.000
TERPOPULER
Paket Siloam Ruby
Skrining Umum
21 Service/Item
Rp1.000.000
TERPOPULER
Paket Siloam Silver
Skrining Umum
22 Service/Item
Rp1.900.000
TERPOPULER
Paket Siloam Pearl
Skrining Umum
31 Service/Item
Rp4.300.000
TERPOPULER
Paket Siloam Platinum
Skrining Umum
43 Service/Item
Rp14.000.000







