Mengenal Fobia, Jenis-Jenis, Penyebab, & Penanganannya
Kesehatan Mental

Mengenal Fobia, Jenis-Jenis, Penyebab, & Penanganannya

26 November 2024 5 menit waktu baca
fobia adalah & jenis-jenisnya

 

Fobia adalah rasa takut berlebihan terhadap sebuah situasi, objek, atau tempat dan penderitanya tidak dapat mengontrol rasa takut tersebut. Hal inilah yang membuat penderita fobia umumnya membatasi hidup mereka dengan menghindari hal-hal yang mereka takuti. Untuk mengenal lebih dalam tentang fobia, termasuk jenis, penyebab, dan penanganannya, mari simak ulasan berikut ini hingga tuntas.

 

Apa itu Fobia?

 

Seperti yang telah dijelaskan di atas, fobia adalah jenis anxiety disorder yang membuat seseorang merasa takut berlebihan terhadap suatu objek, tempat, atau situasi tertentu. Sebagian besar penderita fobia menyadari bahwa rasa takutnya terlalu berlebihan, namun mereka tetap tidak mampu mengendalikannya. 

 

Pada kasus yang lebih parah, fobia dapat membuat seseorang kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Bahkan, sebagian penderita fobia juga mengalami gangguan mental lainnya, seperti panic attack, depresi, gangguan bipolar, isolasi sosial, hingga gangguan somatisasi.

 

Jenis-Jenis Fobia

 

Secara garis besar, fobia dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu fobia spesifik dan fobia kompleks. Fobia spesifik adalah rasa takut berlebihan terhadap hal-hal yang spesifik, seperti fobia binatang atau benda tertentu. Sementara fobia kompleks merupakan perasaan takut berlebihan terhadap hal-hal yang lebih rumit, misalnya seperti fobia lingkungan sosial. Kondisi ini kerap membuat seseorang cenderung membatasi aktivitasnya.

 

Untuk lebih memahami terkait perbedaan fobia spesifik dengan fobia kompleks, berikut adalah penjelasannya. 

 

1. Fobia Spesifik

 

Simple phobia atau specific phobia (fobia spesifik) adalah kondisi ketika seseorang merasa takut berlebihan terhadap objek, binatang, situasi, lingkungan, atau aktivitas yang spesifik. Kondisi ini biasanya berkembang sejak masa kanak-kanak dan dapat membaik seiring dengan bertambahnya usia.

 

Adapun beberapa jenis fobia spesifik yang umum terjadi adalah sebagai berikut.

 

  • Aerophobia: Takut berlebihan untuk terbang.

  • Amaxophobia: Takut berlebihan untuk mengemudi atau menggunakan kendaraan.

  • Claustrophobia: Takut berlebihan terhadap ruang sempit dan tertutup.

  • Nyctophobia: Fobia terhadap kegelapan.

  • Hemophobia: Fobia terhadap darah.

  • Dentophobia: Takut terhadap dokter gigi.

  • Trypanophobia: Fobia terhadap jarum suntik.

  • Arachnophobia: Takut terhadap laba-laba.

  • Cynophobia: Takut terhadap anjing.

  • Entomophobia: Takut terhadap serangga.

  • Aquaphobia: Takut terhadap air.

  • Acrophobia: Fobia terhadap ketinggian.

  • Trypophobia: Takut terhadap pola berlubang.

  • Coulrophobia: Takut berlebihan terhadap badut.

  • Genophobia: Takut berlebihan saat melakukan hubungan seksual.

 

2. Fobia Kompleks

 

Complex phobia (fobia kompleks) merupakan jenis fobia yang umumnya berkembang pada usia dewasa dan kerap dikaitkan dengan ketakutan terhadap situasi atau keadaan tertentu. Pada dasarnya, terdapat dua jenis fobia kompleks yang umum terjadi, yaitu:

 

  • Agoraphobia: Rasa takut berlebihan terhadap situasi atau tempat yang membuat seseorang merasa terperangkap, panik, malu, atau tidak berdaya. Kondisi ini kerap terjadi ketika penderitanya merasa kesepian atau berada di keramaian.

  • Fobia sosial: Rasa takut berlebihan saat berada di lingkungan sosial. Kondisi ini dapat membuat penderitanya takut dan panik saat harus berbicara di depan umum.

 

Penyebab Fobia

 

Fobia adalah kondisi ketika otak bereaksi secara berlebihan terhadap rasa takut dan cemas. Dalam kondisi normal, rasa takut ini merupakan cara otak untuk memberikan peringatan bahwa terdapat suatu kondisi yang bisa membuat seseorang berada dalam bahaya.

 

Belum diketahui secara pasti apa penyebab emosi tersebut berubah menjadi fobia. Namun, beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami fobia adalah sebagai berikut.

 

  • Faktor genetik. Risiko fobia dapat meningkat pada seseorang yang memiliki keluarga dengan riwayat kondisi serupa. Studi menunjukkan bahwa beberapa orang dilahirkan dengan kecenderungan lebih cemas dibandingkan orang lain.

  • Pernah mengalami kejadian traumatis di masa lalu.

  • Pernah mendengar atau mengalami kejadian yang menakutkan berulang kali.

 

Gejala Fobia

 

Fobia dapat menimbulkan gejala beragam, tergantung pada jenis dan situasi yang menimbulkan rasa takut tersebut. Orang dengan gejala fobia bisa saja tidak mengalami gejala apa pun sampai terpapar dengan sumber fobia. Namun, saat dihadapkan dengan keadaan atau situasi yang menimbulkan rasa takut, beberapa gejala yang umum dialami oleh penderita fobia adalah sebagai berikut.

 

  • Takut atau panik secara berlebihan.

  • Merasa seperti berada dalam situasi berbahaya.

  • Depersonalisasi, yaitu kondisi ketika seseorang merasa bahwa jiwanya berada di luar tubuh.

  • Derealisasi, yaitu kondisi ketika seseorang merasa dunia atau lingkungan di sekitarnya tidak nyata.

  • Jantung berdebar.

  • Menggigil, berkeringat, atau merasa panas.

  • Tubuh gemetar.

  • Mual atau sakit perut.

  • Nyeri dada dan sesak napas.

  • Pusing.

  • Penurunan kesadaran hingga pingsan.

  • Pucat.

  • Penyempitan lapang pandang.

  • Cenderung menghindari aktivitas yang dapat menimbulkan rasa takut berlebihan, seperti tidak mau mengunjungi dokter gigi atau melakukan donor darah karena takut jarum suntik.

 

Sementara jika terjadi pada anak-anak, sejumlah gejala fobia yang umum terjadi adalah sebagai berikut.

 

  • Menangis.

  • Tantrum.

  • Terdiam.

  • Enggan berpisah atau sangat bergantung dengan orang lain yang membuatnya merasa aman.

 

Diagnosis Fobia

 

Psikolog atau dokter spesialis kejiwaan (psikiater) umumnya dapat mendiagnosis fobia melalui evaluasi kondisi psikologis dan wawancara medis (anamnesis) dengan pasien. Adapun beberapa pertanyaan yang umum diajukan oleh psikolog atau psikiater untuk mendiagnosis fobia adalah sebagai berikut.

 

  • Apa saja pemicu fobia tersebut?

  • Gejala apa yang dialami pasien saat muncul fobia?

  • Bagaimana gaya hidup dan rutinitas yang sedang dilakukan dan apakah gejala fobia yang muncul memengaruhi aktivitas tersebut?

  • Kapan gejala fobia muncul?

  • Apakah pernah mengalami kejadian traumatis yang bisa berkontribusi terhadap kemunculan fobia?

 

Di samping itu, dokter juga akan melakukan analisis gejala pasien berdasarkan Criteria listed in the Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Adapun kriteria DSM-5 untuk fobia spesifik adalah:

 

  • Memiliki rasa takut yang berlebihan terhadap suatu objek atau situasi tertentu.

  • Rasa takut dan cemas muncul dengan segera setelah terpapar oleh objek atau situasi tertentu. 

  • Ketakutan atau kecemasan tersebut tidak sebanding dengan bahaya aktual yang ditimbulkan oleh objek atau situasi tertentu.

  • Objek atau situasi fobia secara aktif dihindari atau dihadapi dengan rasa takut atau cemas yang intens.

  • Kondisi cemas, takut, dan menghindar menyebabkan gangguan signifikan dalam kehidupan sehari-hari.

  • Gejala fobia berlangsung secara terus menerus, biasanya terjadi selama 6 bulan atau lebih.

 

Penanganan Fobia

 

Dalam kebanyakan kasus, fobia dapat berangsur-angsur membaik setelah penderitanya memperoleh penanganan yang tepat. Adapun beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi fobia adalah sebagai berikut.

 

  • Pemberian obat-obatan tertentu, seperti antidepresan, anticemas, atau penghambat beta (beta blocker) untuk membantu mengendalikan gejala fobia.

  • Psikoterapi, seperti cognitive behavioral therapy (CBT) membantu mengubah pola pikir dan perilaku pasien saat menghadapi rasa takut.

  • Terapi paparan, yaitu terapi yang dilakukan dengan cara menghadapkan pasien terhadap objek, situasi, atau hewan yang mereka takuti. Terapi ini dapat membantu mengubah cara berpikir pasien terhadap objek atau situasi yang ditakuti.

 

Meski umumnya tidak berbahaya, fobia adalah jenis gangguan cemas yang perlu ditangani dengan tepat agar tidak memengaruhi kualitas hidup penderitanya. Namun, perlu dipahami bahwa terdapat berbagai kondisi yang mungkin memiliki gejala dan penyebab yang hampir sama dengan apa yang telah tertulis di artikel ini.

 

Maka dari itu, apabila mengalami gejala yang mengarah pada kondisi ini, hindari melakukan self-diagnosis dan segera berkonsultasi dengan Psikiatri di Siloam Hospitals terdekat agar memperoleh diagnosis sekaligus saran pengobatan yang tepat.

 

Penting pula untuk dipahami bahwa proses pemeriksaan dan pengobatan di setiap rumah sakit bisa berbeda-beda, tergantung dari fasilitas kesehatan yang disediakan. Namun, tenaga medis tentu akan memastikan bahwa tahapan pemeriksaan dan pengobatan sesuai dengan kondisi pasien.

 

Jika ingin berkonsultasi dari rumah, manfaatkan layanan Telekonsultasi yang tersedia di aplikasi MySiloam. Layanan tersebut memungkinkan dokter untuk meresepkan obat-obatan sesuai kondisi pasien, dan pasien pun bisa memperoleh obat-obatan tersebut tanpa harus keluar rumah. Namun jika diresepkan beberapa jenis obat, seperti antipsikotik dan antidepresan, pasien wajib mengambilnya secara langsung.

 

telechat

message

ArticleDetail