Acrophobia - Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya
Kesehatan Mental

Acrophobia - Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

02 Oktober 2024 3 menit waktu baca
acrophobia adalah

Acrophobia adalah jenis fobia di mana penderitanya merasakan ketakutan yang intens terhadap ketinggian. Rasa takut tersebut biasanya juga disertai dengan kecemasan, gemetar, hingga sesak napas. Bila tidak segera ditangani, kondisi ini dapat mengganggu aktivitas penderitanya, terutama saat diharuskan berada di tempat yang tinggi.

 

Lantas, bagaimana cara mengatasi acrophobia? Mari simak penjelasan selengkapnya tentang acrophobia melalui ulasan di bawah ini.

 

Apa itu Acrophobia?

 

Acrophobia adalah kondisi ketika seseorang merasakan ketakutan berlebih saat berada di tempat yang tinggi. Pada dasarnya, takut akan ketinggian merupakan hal yang wajar pada sebagian orang bila situasi tersebut berpotensi membahayakan. Namun, berbeda dengan penderita acrophobia. Mereka tetap merasa takut meskipun ketinggian tersebut tidak berpotensi membahayakan.

 

Seperti fobia lainnya, acrophobia dapat menyerang siapa saja dan segala usia. Fobia spesifik, seperti acropbobia, lebih mungkin berkembang pada anak-anak dan terlihat jelas pada remaja dan dewasa muda. Sebagai informasi, fobia spesifik lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria.

Penyebab Acrophobia

 

Hingga kini, penyebab acrophobia atau fobia ketinggian belum bisa dipastikan. Kendati demikian, para ahli menduga bahwa kondisi ini dapat muncul akibat sejumlah faktor, seperti kejadian traumatis (misalnya, pernah melihat orang jatuh dari ketinggian), memiliki keluarga dengan riwayat fobia ketinggian, atau pernah mengalami peristiwa tidak menyenangkan saat berada di ketinggian. 

 

Adapun beberapa jenis ketinggian yang dapat menimbulkan ketakutan yang intens pada penderita acrophobia adalah sebagai berikut:

 

  • Gedung tinggi.

  • Jembatan.

  • Wahana permainan, misalnya roller coaster.

  • Tangga.

  • Parkiran bertingkat.

  • Pesawat terbang (aerophobia).

  • Jalan layang.

  • Jendela rumah yang berada di lantai dua.

  • Berada di balkon.

 

Gejala Acrophobia

 

Gejala utama acrophobia adalah rasa takut berlebihan saat berada di tempat yang tinggi. Pada situasi ini, penderita acrophobia biasanya langsung mencari sesuatu untuk berpegangan. Penderita juga cenderung langsung jongkok atau merangkak. Hal ini dilakukan meski situasi tersebut tidak membahayakan. 

 

Di samping itu, beberapa gejala lain yang menyertai kondisi acrophobia adalah sebagai berikut:

 

 

Diagnosis Acrophobia

 

Proses diagnosis acrophobia didahului dengan anamnesis (wawancara medis) terkait dengan gejala yang dirasakan pasien, serta riwayat kesehatan pasien dan keluarganya. Kemudian, dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik menyeluruh untuk memastikan bahwa gejala pada pasien tidak disebabkan oleh penyakit fisik tertentu.

 

Bila tidak ditemukan penyakit fisik, dokter akan mengonfirmasi diagnosis acrophobia dengan mengacu pada Diagnostic and statistical Manual of Mental Disorders, 5th Edition (DSM-5). Berdasarkan DSM-5, sejumlah karakteristik acrophobia adalah sebagai berikut:

 

  • Merasakan takut yang intens dan tidak masuk akal saat berada di tempat yang tinggi meski situasi tersebut tidak membahayakan.

  • Merasa cemas meski hanya membayangkan atau memikirkan situasi di ketinggian, padahal belum tentu terjadi.

  • Menghindari kegiatan yang dilaksanakan di tempat tinggi.

  • Menganggu aktivitas sehari-hari penderita.

  • Gejala-gejala tersebut setidaknya berlangsung selama 6 bulan.

 

Cara Mengatasi Acrophobia

 

Tujuan pengobatan acrophobia adalah mengurangi rasa cemas dan ketakutan yang dialami oleh pasien ketika sedang berada di ketinggian. Pasien akan dilatih agar bisa mengendalikan diri saat memikirkan atau berhadapan dengan pemicu fobia, dalam hal ini yaitu ketinggian. Adapun metode pengobatan yang dilakukan untuk mengatasi acrophobia adalah sebagai berikut:

 

  • Terapi paparan (exposure therapy)

Terapi yang dilakukan dengan memperlihatkan visual, baik gambar atau video, dari sudut pandang orang di tempat yang tinggi. Misalnya, visualisasi orang yang sedang melihat jendela besar di lantai atas. Pasien mungkin juga diminta untuk melihat video orang yang sedang menyeberangi jembatan. Tujuan terapi ini adalah membuat pasien bisa mengendalikan rasa takut dari ketinggian.

  • Terapi perilaku kognitif (cognitive behavior therapy)

Terapi perilaku kognitif bertujuan untuk mengalihkan pikiran negatif pasien tentang pemicu fobia menjadi lebih positif. Dengan begitu, pasien tidak akan merasa cemas saat menghadapi situasi yang selama ini ia takuti.

  • Pemberian obat-obatan

Jenis obat-obatan yang biasanya diberikan pada penderita acrophobia adalah benzodiazepine (meredakan rasa cemas, namun hanya sementara waktu) dan obat penghambat beta (untuk menjaga tekanan darah dan memperlambat detak jantung).

 

Acrophobia bisa mengakibatkan penurunan tingkat kebahagiaan dan produktivitas penderitanya karena mereka selalu menghindari aktivitas yang melibatkan ketinggian. Selain itu, penderita juga rentan mengalami cedera karena jatuh jika ketakutan tersebut muncul saat berada di tempat yang tinggi.


Maka dari itu, agar mendapatkan penanganan yang tepat sejak dini, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter apabila Anda atau kerabat mengalami gejala-gejala yang mengarah pada acrophobia. Dalam hal ini, Anda dapat menemui Psikiatri di Siloam Hospitals terdekat. Atau jika tidak sempat berkunjung ke rumah sakit, Anda dapat memanfaatkan layanan Telekonsultasi untuk berbicara dengan dokter secara virtual.

 

telechat

message

ArticleDetail