Kesehatan Mental
Genophobia - Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Table of Contents
Genophobia adalah salah satu jenis fobia di mana seseorang memiliki ketakutan berlebihan untuk melakukan hubungan seksual, terutama yang melibatkan penetrasi. Bahkan, penderitanya bisa mengalami gejala meski hanya dengan membayangkan hal tersebut. Lantas, bagaimana cara mengatasinya? Simak pembahasan selengkapnya tentang genophobia melalui ulasan di bawah ini.
Apa itu Genophobia?
Seperti yang sudah dijelaskan, genophobia adalah timbulnya rasa takut berlebih (fobia) untuk melakukan hubungan seksual. Genophobia dapat menyebabkan seseorang enggan terlibat dalam hubungan percintaan agar tidak perlu melakukan hubungan intim. Kondisi ini disebut juga dengan erotophobia. Di samping ketakutan melakukan hubungan seksual, ketakutan atau kecemasan umum terhadap kedekatan intim dengan orang lain juga termasuk dalam genophobia.
Penyebab Genophobia
Secara umum, penyebab fobia tidak selalu diketahui secara pasti, bahkan untuk fobia spesifik seperti genophobia. Kendati demikian, kondisi ini sering kali berkaitan dengan beberapa faktor yang mencakup masalah fisik atau emosional. Beberapa di antaranya sebagai berikut:
-
Pengalaman traumatis (post-traumatic stress disorder/PTSD), misalnya pernah menjadi korban pemerkosaan dan pelecehan seksual.
-
Ketakutan akan penyakit menular seksual. Hubungan seksual yang dilakukan secara tidak aman, misalnya sering berganti pasangan, dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi menular seksual, seperti gonore. Namun, hal ini sebenarnya bisa dicegah dengan tetap setia pada satu pasangan, serta menggunakan kondom saat melakukan seks.
-
Merasa kemampuan dalam berhubungan seksual menurun. Hal ini dapat menyebabkan seseorang takut tidak bisa memuaskan pasangannya. Hingga pada beberapa kasus, ketakutan ini menyebabkan seseorang merasa cemas berlebihan.
-
Vaginismus. Kondisi ketika otot-otot vagina mengepal atau tegang tanpa disengaja saat terjadi penetrasi penis ke vagina. Hal ini bisa membuat hubungan seksual terasa menyakitkan. Rasa sakit inilah yang dapat membuat penderitanya takut berhubungan seksual kembali.
-
Disfungsi ereksi, yaitu kondisi ketika seorang pria tidak bisa berereksi atau mempertahankan ereksi dalam waktu lama. Hal ini dapat menyebabkan penderitanya merasa malu dan tidak percaya diri, sehingga takut melakukan hubungan seksual.
-
Mengalami dysmorphia (body dysmorphic disorder) atau rasa malu dan tidak percaya diri terhadap bentuk tubuhnya sendiri. Hal ini bisa membuat seseorang enggan melakukan hubungan seksual.
Gejala Genophobia
Fobia secara umum dapat menyebabkan reaksi yang melebihi sekadar rasa ketakutan atau tidak suka, serta rasa cemas yang intens. Bahkan, fobia bisa menimbulkan reaksi fisik dan psikologis yang mengganggu fungsi normal tubuh. Ketika membayangkan atau akan melakukan hubungan seksual, beberapa gejala yang dapat dialami oleh penderita genophobia adalah sebagai berikut:
-
Merasa takut secara berlebihan dan intens.
-
Mual atau muntah.
-
Tidak bisa mengontrol rasa cemas.
-
Keringat dingin.
-
Sesak napas.
-
Jantung berdebar.
-
Gemetar.
-
Gejala tetap terjadi selama pemicunya masih ada.
Orang dengan genophobia juga dapat menunjukkan berbagai macam reaksi terhadap pasangan seksualnya, seperti berteriak atau membentak. Terkadang, penderita tidak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali saat akan berhubungan seksual.
Cara Mengatasi Genophobia
Genophobia adalah suatu kondisi yang perlu segera ditangani, terutama bagi yang sudah memiliki pasangan. Penanganannya sendiri bisa berbeda-beda, tergantung dari penyebab yang mendasarinya. Misalnya, bila disebabkan oleh vaginismus, maka dokter akan terlebih dulu berfokus untuk menangani kondisi tersebut.
Selain melakukan penanganan secara fisik, dokter spesialis kesehatan jiwa juga akan membantu pasien mengatasi masalah emosional yang menyertainya. Hal ini bisa dilakukan melalui psikoterapi, seperti terapi perilaku kognitif (CBT) dan terapi paparan (exposure therapy).
Terapi perilaku kognitif bertujuan untuk mengubah pola pikir pasien terhadap hubungan seksual agar menjadi lebih positif. Dalam terapi ini, pasien juga akan berlatih mengenai cara menghadapi reaksi fisik yang muncul saat terpapar pemicu fobia. Terapi perilaku kognitif biasanya dikombinasikan dengan terapi paparan. Di samping itu, seorang terapis seks juga dapat membantu dalam hal ini.
Komplikasi Genophobia
Jika tidak segera ditangani, ketakutan terhadap hubungan seksual berpotensi menghambat fungsi reproduksi dan kehidupan sosial penderitanya. Mengingat bahwa hubungan seksual adalah kebutuhan biologis setiap manusia. Kondisi ini dapat menyebabkan penderitanya menghindar dari orang lain, bahkan mengisolasikan diri hingga mengalami depresi.
Di samping itu, bila penderita genophobia memiliki pasangan, hal ini dapat memicu konflik antara ia dan pasangan karena kebutuhan seksual yang tidak bisa terpenuhi. Jadi, untuk mencegah berbagai hal tersebut, sebaiknya penderita genophobia segera mendapatkan penanganan hingga ketakutannya mereda dan hilang.
Bila Anda, pasangan, atau kerabat menunjukkan sejumlah gejala yang mengarah pada jenis fobia ini, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan Psikiatri di Siloam Hospitals. Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai fitur kesehatan yang memudahkan kebutuhan kesehatan Anda, salah satunya melakukan membuat janji temu dengan dokter terkait secara praktis.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Lippo Cikarang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Jambi
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
MENTAL - Skrining Mental health (MMPI)
Lainnya
2 Service/Item
Rp880.000
TERPOPULER
Paket Siloam Ruby
Skrining Umum
21 Service/Item
Rp1.000.000
TERPOPULER
Paket Siloam Silver
Skrining Umum
22 Service/Item
Rp1.900.000
TERPOPULER
Paket Siloam Pearl
Skrining Umum
31 Service/Item
Rp4.300.000
TERPOPULER
Paket Siloam Platinum
Skrining Umum
43 Service/Item
Rp14.000.000







