Penyebab, Gejala, & Pengobatannya Gangguan Depersonalisasi
Kesehatan Mental

Penyebab, Gejala, & Pengobatannya Gangguan Depersonalisasi

21 Oktober 2025 4 menit waktu baca
depersonalisasi adalah

Gangguan depersonalisasi adalah kondisi kesehatan mental yang terjadi ketika seseorang mengalami perasaan terpisah dari diri atau tubuhnya sendiri. Kondisi ini dapat menyebabkan pengidapnya merasa kehilangan kendali dan kesulitan mengontrol pikiran serta perilakunya.

 

Mari kenali penyebab, gejala, serta cara mengatasi gangguan depersonalisasi selengkapnya melalui artikel berikut ini.

 

Apa itu Gangguan Depersonalisasi?

 

Depersonalization disorder atau gangguan depersonalisasi adalah salah satu jenis gangguan disosiatif yang menyebabkan seseorang merasa jiwanya seperti terpisah dan berada di luar tubuh. Pengidap kondisi ini kerap merasa bahwa seolah-olah mereka sedang mengamati diri sendiri dari kejauhan, termasuk tindakan, pikiran, dan perasaan mereka.

 

Pada umumnya, keadaan ini bisa dialami oleh banyak orang dan hanya berlangsung dalam kurun waktu singkat. Namun, bagi mereka yang mengidap gangguan depersonalisasi, perasaan jiwa yang terpisah tersebut dapat terjadi secara berulang selama bertahun-tahun.

 

Penyebab Gangguan Depersonalisasi

 

Pada dasarnya, penyebab gangguan depersonalisasi masih belum diketahui dengan pasti. Meskipun demikian, terdapat dugaan bahwa kondisi ini bisa dipicu oleh gangguan kesehatan mental lainnya seperti skizofrenia, demensia, faktor genetik, serta tekanan emosional dari lingkungan sekitar. Selain itu, terdapat beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan depersonalisasi adalah:

 

  • Riwayat keluarga dengan gangguan depersonalisasi atau masalah kejiwaan lainnya.

  • Memiliki kepribadian tertentu di mana dirinya cenderung menghindari dan menyangkal situasi sulit.

  • Berjenis kelamin wanita. Wanita berisiko empat kali lebih besar mengalami gangguan depersonalisasi dibandingkan pria.

  • Trauma masa lalu.

  • Stres berat, misalnya akibat masalah dalam hubungan sosial, keadaan ekonomi, atau lingkungan pekerjaan.

  • Gangguan cemas atau depresi berkepanjangan.

  • Mengonsumsi obat-obatan tertentu, seperti obat halusinogen.

  • Penyalahgunaan NAPZA atau minuman beralkohol.

 

Gejala Gangguan Depersonalisasi

 

Gejala gangguan depersonalisasi yang utama adalah persepsi tubuh yang merasa terganggu, dimana penderita akan merasa seperti robot atau sedang bermimpi.

Adapun sejumlah gejala umum yang dialami oleh pengidap gangguan depersonalisasi adalah sebagai berikut:

 

  • Perasaan bahwa jiwanya seperti terpisah atau berada di luar tubuh. Kondisi ini membuat seseorang merasa seolah-olah sedang berada dalam mimpi dan mengamati dirinya sendiri dari kejauhan.

  • Terputus dari tubuh, pikiran, perasaan, dan lingkungan sekitar.

  • Bertindak seperti robot, penderita cenderung tidak bisa mengendalikan ucapan maupun perilaku.

  • Mati rasa, baik secara emosional maupun fisik.

  • Panik, cemas, bahkan jatuh dalam depresi karena merasa tidak bisa mengendalikan diri sendiri.

 

Komplikasi Gangguan Depersonalisasi

 

Gangguan depersonalisasi jika tidak ditangani dengan segera dan tepat, berpotensi menimbulkan sejumlah komplikasi yang dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang. Beberapa diantaranya seperti:

 

  • Kesulitan untuk fokus dan mengingat sesuatu.

  • Kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

  • Masalah dalam hubungan keluarga dan sosial.

  • Merasa sangat putus asa.

 

Diagnosis Gangguan Depersonalisasi

 

Gangguan depersonalisasi adalah kondisi yang dapat didiagnosis melalui serangkaian metode pemeriksaan yang bertujuan untuk memahami dampaknya terhadap individu.. Beberapa metode pemeriksaan yang umum digunakan dalam proses diagnosis gangguan depersonalisasi adalah:

 

  • Wawancara medis (anamnesis) yang dilakukan oleh seorang psikolog atau psikiater untuk mengetahui keluhan, riwayat kesehatan, serta kejadian traumatis yang pernah dialami oleh pasien.

  • Pemeriksaan fisik untuk mengidentifikasi gejala gangguan depersonalisasi yang muncul secara fisik.

  • Uji laboratorium, seperti tes darah dan tes urine untuk mengetahui apakah gangguan depersonalisasi dipicu oleh kondisi tertentu, seperti penyalahgunaan NAPZA atau konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.

  • Teknik pencitraan, seperti CT scan atau MRI otak untuk menyingkirkan kemungkinan gangguan depersonalisasi disebabkan oleh gangguan pada struktur dan keseimbangan kimiawi otak.

 

Selain itu, dokter juga dapat melakukan observasi untuk mengetahui apakah kondisi dan perilaku pasien sesuai dengan kriteria gangguan depersonalisasi berdasarkan buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5).

 

Cara Mengatasi Gangguan Depersonalisasi

 

Tujuan pengobatan ganguan depersonalisasi adalah untuk mengatasi gejala yang sering dialami oleh penderita dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Adapun beberapa metode pengobatan yang bisa dilakukan untuk menangani gangguan depersonalisasi adalah:

 

1. Psikoterapi

 

Psikoterapi adalah terapi kejiwaan yang dilakukan untuk mencari tahu penyebab serta memperbaiki pola pikir, perasaan, dan perilaku yang bermasalah akibat gangguan kesehatan mental. Pada kasus gangguan depersonalisasi, terapi ini dapat membantu pasien untuk berdamai dengan masalah yang dihadapi.

 

Psikoterapi juga dapat dilakukan dengan mengarahkan pasien untuk mengembangkan coping mechanism yang tepat saat menghadapi kondisi yang bisa memicu munculnya gejala gangguan depersonalisasi.

 

Selain itu, psikolog atau psikiater juga dapat melakukan beberapa jenis terapi psikologis lain, seperti terapi seni, terapi keluarga, hingga hipnosis untuk mengoptimalkan proses pemulihan gangguan depersonalisasi.

 

2. Pemberian Obat-obatan

 

Psikiater juga dapat meresepkan obat antidepresan dengan tujuan meredakan gejala depresi serta gangguan kecemasan yang seringkali dialami oleh pengidap gangguan depersonalisasi. Pemilihan jenis obat dan dosisnya dapat bervariasi untuk setiap individu, tergantung pada tingkat keparahan gejala.

 

3. Perawatan di Rumah

 

Sebagai upaya membantu mengoptimalkan proses pemulihan, psikolog/psikiater dapat menyarankan penderita gangguan depersonalisasi untuk menjalani perawatan mandiri di rumah yang tepat, seperti:

 

  • Melakukan teknik relaksasi, seperti bermeditasi dan yoga.

  • Berbagi cerita dan mendapatkan dukungan dari kerabat dan teman.

  • Menulis jurnal harian untuk lebih mengenal diri sendiri.

  • Menjalani pola hidup sehat sebaik mungkin, seperti rutin berolahraga, istirahat yang cukup, mengonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang, serta mencukupi kebutuhan cairan tubuh.

 

Cara Mencegah Gangguan Depersonalisasi

 

Bagi seseorang yang mengalami kejadian traumatis disarankan untuk segera mencari bantuan konseling dan konsultasi medis dari psikolog atau psikiater guna meminimalkan risiko gangguan depersonalisasi.

 

Gangguan depersonalisasi adalah masalah mental yang membutuhkan terapi khusus untuk menghindari risiko komplikasi. Apabila mengalami gejala sebagaimana dijelaskan di atas, segera lakukan konseling dengan psikolog atau psikiater melalui fitur Telekonsultasi untuk mendapatkan diagnosis serta penanganan yang tepat.

 

Melalui fitur ini, pasien dapat menerima obat yang telah diresepkan oleh psikiater tanpa harus keluar rumah. Kendati demikian, terdapat beberapa jenis obat, seperti antidepresan dan antipsikotik yang perlu diambil oleh pasien secara langsung atau self pick up.

 

Anda juga dapat memanfaatkan aplikasi MySiloam untuk mendapatkan informasi jadwal, booking, dan membuat janji temu dengan dokter di Siloam Hospitals terdekat dari rumah. Mari jaga selalu kesehatan fisik dan mental #BersamaSiloam!

 

telechat

message

ArticleDetail