Kesehatan Tubuh
Amputasi - Penyebab, Gejala, Komplikasi, dan Prosedurnya

Table of Contents
Amputasi dapat didefinisikan sebagai hilangnya atau terputusnya anggota tubuh tertentu, seperti tungkai, lengan, kaki, jari kaki, atau jari tangan. Tergantung dari situasinya, amputasi bisa terjadi akibat cedera atau dilakukan sebagai bagian dari tindakan operasi yang telah direncanakan maupun tindakan mendesak atau darurat.
Meski terdengar menyeramkan, tindakan atau prosedur amputasi yang dilakukan sesuai standar medis justru dapat menyelamatkan nyawa pasien, seperti saat terjadi cedera berat pada korban kecelakaan, terdapat penyebaran infeksi, adanya luka yang membusuk, atau pasien pengidap osteosarkoma (kanker tulang).
Mari simak penjelasan lengkap tentang amputasi dan jenis-jenisnya melalui ulasan di bawah ini.
Apa itu Amputasi?
Seperti yang telah disebutkan di atas, amputasi adalah hilangnya atau putusnya bagian tubuh tertentu, seperti jari tangan, jari kaki, lengan, tangan, atau kaki. Amputasi bisa terjadi akibat cedera atau merupakan suatu tindakan operasi yang dilakukan untuk mengatasi kondisi atau penyakit tertentu.
Pada umumnya, amputasi akibat cedera dapat dibedakan menjadi dua, yaitu amputasi parsial (sebagian) atau total (keseluruhan). Amputasi parsial berarti masih terdapat sebagian jaringan lunak yang terhubung atau tersambung sehingga tidak putus sepenuhnya. Sementara itu, amputasi total adalah kondisi saat bagian tubuh pasien terputus seluruhnya.
Prosedur amputasi (yang menjadi bagian dari suatu tindakan operasi) biasanya dilakukan untuk mengatasi kondisi atau penyakit tertentu agar tidak berujung pada komplikasi yang serius dan berbahaya. Seperti misalnya kaki dari korban kecelakaan yang harus diamputasi untuk mencegah penyebaran infeksi atau luka yang membusuk.
Penyebab Amputasi
Berikut penjelasan lengkap mengenai jenis-jenis amputasi berdasarkan penyebabnya.
A. Amputasi Akibat Cedera
Terjadinya cedera berat atau kecelakaan yang tidak disengaja menjadi salah satu alasan mengapa dokter melakukan tindakan amputasi. Biasanya tindakan ini dilakukan jika anggota tubuh yang cedera sudah tidak dapat diperbaiki atau diselamatkan lagi.
Proses amputasi yang terjadi akibat cedera atau kecelakaan dapat disebut juga sebagai amputasi traumatik. Jenis amputasi ini menyumbang sekitar 45% dari semua kasus amputasi. Beberapa amputasi akibat cedera biasanya terjadi karena peristiwa-peristiwa berikut:
-
Luka bakar yang serius.
-
Serangan binatang buas.
-
Kecelakaan akibat penggunaan alat berat atau kecelakaan lalu lintas.
-
Bencana alam, seperti tertimpa reruntuhan bangunan saat terjadi gempa.
-
Luka tembak.
B. Amputasi Akibat Penyakit
Amputasi akibat penyakit akan dilakukan ketika terjadi infeksi, kerusakan pada jaringan, atau terdapat penyakit yang memengaruhi bagian tubuh lainnya dan sudah tidak dapat diperbaiki lagi. Prosedur inibertujuan untuk menyelamatkan nyawa pasien dan mencegah kerusakan yang lebih parah jika tidak dilakukan pengangkatan atau pemotongan.
Beragam kondisi medis yang bisa membuat seseorang harus menjalani prosedur amputasi, seperti:
-
Menderita kanker tulang seperti osteosarkoma atau kanker lainnya yang menyebar ke saraf, otot, tulang, dan pembuluh darah.
-
Infeksi serius di bagian kaki atau lengan, seperti infeksi tulang (osteomielitis) atau necrotizing fasciitis yang parah.
-
Cedera yang disebabkan oleh paparan suhu dingin ekstrem atau frostbite.
-
Penebalan jaringan saraf (neuroma).
-
Gangrene atau kematian jaringan tubuh akibat kurangnya aliran darah atau infeksi bakteri yang serius. Kondisi ini biasanya terjadi pada penderita penyakit arteri perifer atau neuropati diabetik.
Tanda-Tanda dari Bagian Tubuh yang Memerlukan Amputasi
Beberapa gejala atau tanda yang menandakan perlunya dilakukan amputasi, terutama sebagai akibat dari cedera adalah sebagai berikut:
-
Adanya rasa sakit berlebih yang tidak tertahankan dan terus berlangsung.
-
Bagian tubuh yang terdampak tidak dapat berfungsi kembali.
-
Perdarahan, di mana tingkat keparahannya tergantung pada jenis dan lokasi cedera.
-
Kerusakan pada jaringan tubuh yang sebagian masih terhubung dengan tulang, sendi, otot, dan kulit atau sudah terputus secara keseluruhan.
Komplikasi Amputasi
Prosedur amputasi tentunya memiliki sejumlah risiko komplikasi. Namun, tingkat risiko terjadinya komplikasi pada prosedur amputasi yang dilakukan secara terencana lebih rendah dibandingkan dengan prosedur amputasi darurat. Beberapa komplikasi amputasi adalah sebagai berikut:
-
Infeksi luka.
-
Bengkak.
-
Perdarahan.
-
Syok.
-
Deep vein thrombosis (DVT) atau trombosis vena dalam.
-
Phantom limb, yaitu rasa nyeri berkelanjutan pada bagian tubuh yang sudah diamputasi.
-
Tendon, sendi, dan otot di sekitar organ tubuh yang diamputasi terasa kaku dan susah digerakkan.
-
Gangguan kejiwaan, seperti post-traumatic stress disorder (PTSD), sering marah, depresi, hingga munculnya keinginan untuk bunuh diri.
Prosedur Amputasi
Terdapat tiga tahapan dalam pelaksanaan prosedur amputasi. Berikut penjelasannya.
1. Persiapan Prosedur Amputasi
Sebelum melakukan operasi, dokter bedah akan memberikan arahan kepada pasien terkait pelaksanaan prosedur amputasi. Pasien akan diminta untuk berpuasa setidaknya selama enam sampai delapan jam sebelum waktu operasi. Namun, perlu digarisbawahi bahwa hal ini hanya berlaku pada prosedur amputasi yang direncanakan.
Dokter juga akan memberikan obat antibiotik profilaksis untuk diminum sebelum operasi, guna mengurangi risiko infeksi pascaoperasi. Sesaat sebelum operasi dimulai, dokter akan memberikan anestesi atau bius total pada pasien. Pemberian anestesi total bertujuan agar pasien tertidur selama operasi berlangsung dan tidak merasakan sakit.
2. Operasi Amputasi
Selama proses operasi amputasi, dokter bedah akan mengangkat semua jaringan yang rusak dan menjaga sebanyak mungkin jaringan sehat agar tetap utuh. Selain itu, dokter juga akan merencanakan penggunaan alat prostetik yang dirancang untuk menggantikan anggota tubuh yang hilang.
Berikut tahapan prosedur yang dilakukan selama operasi amputasi:
-
Membuang jaringan yang rusak dan tulang yang hancur.
-
Menghaluskan tulang yang tidak rata.
-
Mengikat pembuluh darah untuk mencegah perdarahan.
-
Membentuk otot pada ujung tungkai untuk memasang tungkai palsu pada prosedur amputasi kaki.
-
Menempatkan perban steril di atas luka.
-
Menggunakan jahitan atau staples untuk menjahit atau menutup ujung tungkai. Pada situasi tertentu, dokter bedah mungkin akan menunggu selama beberapa hari sampai luka mengering sebelum luka ditutup.
3. Pascaamputasi
Pasien akan mendapat perawatan secara intensif di rumah sakit setelah operasi amputasi. Dokter akan mengawasi proses penyembuhan dan kemajuan kondisi kesehatan pasien selama kurang lebih satu sampai dua minggu. Selama proses ini, pasien akan diberikan obat pereda nyeri dan diminta untuk rutin mengikuti terapi fisik.
Umumnya, terapi fisik berlangsung selama enam sampai delapan minggu. Aktivitas ini bertujuan untuk melatih kemandirian pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari setelah operasi amputasi.
Salah satu latihan kemandirian yang perlu dilakukan adalah belajar menggunakan, melepas, dan merawat alat prostetik sendiri, seperti contohnya kaki palsu. Pemasangan alat prostetik ini umumnya dilakukan pada enam sampai delapan minggu pascaamputasi dan ketika luka operasi sudah benar-benar sembuh.
Pemulihan Setelah Amputasi
Kehilangan bagian tubuh tertentu akibat amputasi akan banyak memengaruhi kualitas hidup pasien, seperti menurunnya kemampuan untuk beraktivitas, hilangnya rasa percaya diri, dan trauma. Oleh karena itu, pasien biasanya dianjurkan untuk menjalani proses rehabilitasi secara rutin, seperti:
-
Latihan fisik untuk meningkatkan kekuatan otot dan keterampilan anggota gerak.
-
Menjalani perawatan dan pengobatan secara rutin sesuai anjuran dokter untuk mempercepat proses pemulihan dan meredakan rasa nyeri di sekitar area amputasi.
-
Terapi psikologis untuk mengatasi gangguan kesehatan mental pascaamputasi.
-
Penggunaan alat bantu, seperti kruk dan kursi roda.
Demikian penjelasan tentang amputasi yang perlu diketahui.Beberapa kasus amputasi memang disebabkan oleh faktor yang tidak bisa dihindari. Namun untuk kasus-kasus amputasi yang disebabkan oleh penyakit tertentu, seperti luka pada kaki penderita diabetes, kondisi ini bisa dicegah dengan merawat bagian tubuh yang terluka dengan tepat.
Oleh karena itu, Anda bisa memesan paket Perawatan Luka yang merupakan bagian dari layanan Siloam at Home. Paket tersebut memungkinkan Anda untuk mendapatkan perawatan luka tanpa harus keluar rumah, karena tenaga medis yang akan datang ke rumah Anda. Praktis, bisa dipesan langsung lewat aplikasi MySiloam.
Namun, apabila Anda mengeluhkan gejala kondisi kesehatan lainnya, jangan ragu untuk mengunjungi Siloam Hospitals terdekat di kota Anda untuk mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang akurat dari dokter kami. Jaga selalu kesehatan Anda dan keluarga #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Ivan Joalsen M.T, Sp.BTKV (K), SubsSp-Ve. McPhleb
Bedah Toraks Kardiovaskular
Spesialis Bedah Toraks, Kardiak dan Vaskular
Siloam Hospitals Balikpapan
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Putu Wisnu Arya Wardana, SpBTKV, FIATCVS
Bedah Toraks Kardiovaskular
Spesialis Bedah Toraks, Kardiak dan Vaskular
Siloam Hospitals Denpasar
Tersedia :
Tersedia hari ini
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Hariadi Hadibrata, SpBTKV (K)
Bedah Toraks Kardiovaskular
Subspesialis Bedah Toraks
MRCCC Siloam Hospitals Semanggi
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
Fisioterapi (1x kunjungan) - Homecare
Rehabilitasi Medis Homecare
Rp399.000
TERPOPULER
Fisioterapi (6x kunjungan) - Homecare
Rehabilitasi Medis Homecare
Rp3.300.000
TERPOPULER
Rontgen Tulang Belakang Bawah Dan Ekor/VERT. Lumbosacral AP + LAT
Rontgen / X-Ray
Rp509.000
TERPOPULER
Pedis / Rontgen Kaki
Rontgen / X-Ray
Rp335.000
TERPOPULER
Rontgen Tangan/Manus
Rontgen / X-Ray
Rp382.000
CT Scan Tulang Belakang Bawah Dan Ekor/Lumbosacral (Non Kontras)
CT Scan, Tulang/ Ortopedi
Rp2.808.000







