Serangan Jantung (Infark Miokard), Ini Penyebab & Gejalanya
Kesehatan Tubuh

Serangan Jantung (Infark Miokard), Ini Penyebab & Gejalanya

21 Januari 2026 6 menit waktu baca
Infark miokard

Infark miokard adalah kondisi yang terjadi ketika aliran darah ke otot jantung berkurang karena pembuluh darah arteri koroner mengalami penyumbatan. Kondisi ini dikenal juga sebagai serangan jantung. Berkurangnya aliran darah berisiko menyebabkan jaringan otot jantung mengalami kerusakan.

 

Lantas, faktor apa saja yang dapat meningkatkan risiko terjadinya infark miokard atau serangan jantung? Dan bagaimana cara pencegahannya? Mari simak penjelasannya melalui artikel berikut.

 

Apa Itu Serangan Jantung (Infark Miokard)?

 

Serangan jantung adalah kondisi yang terjadi akibat kurangnya aliran darah ke otot jantung karena adanya penyumbatan atau penyempitan pembuluh darah arteri koroner. Dalam istilah medis, kondisi ini disebut dengan infark miokard. Kondisi ini cukup berbahaya dan termasuk dalam keadaan darurat yang mengancam nyawa sehingga memerlukan penanganan sesegera mungkin.

 

Miokard atau otot jantung adalah organ vital dalam tubuh yang berfungsi untuk memompa darah kaya oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh termasuk otak. Apabila aliran darah terhambat dalam waktu yang lama, otot jantung akan mengalami kerusakan dan bisa berujung pada kematian.

 

Penyebab Serangan Jantung

 

Umumnya kasus serangan jantung terjadi karena penyempitan atau penyumbatan pada pembuluh darah arteri koroner. Penyempitan tersebut biasanya disebabkan oleh aterosklerosis, yaitu penumpukan plak lemak jenuh, lemak trans, kolesterol LDL, dan zat lain pada lapisan dalam dinding pembuluh darah arteri koroner. 

 

Plak aterosklerosis dapat mencegah darah yang kaya oksigen dan nutrisi untuk mencapai bagian otot jantung. Ketika darah tidak sampai ke otot jantung, aliran darah menuju jantung menjadi tidak optimal, berkurang, atau bahkan berhenti seketika.

 

Akibatnya, jantung tidak mendapatkan pasokan oksigen yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsinya. Ketika kondisi ini berlangsung dalam jangka waktu yang lama, otot jantung dapat mengalami kerusakan permanen dan berujung pada kematian. Meski jarang terjadi, serangan jantung juga bisa dipicu oleh beberapa kondisi medis lain, seperti:

 

  • Bekuan darah di lokasi tumpukan plak.

  • Coronary artery spasm (CAS).

  • Trauma, termasuk robekan atau pecahnya arteri koroner.

  • Obstruksi (sumbatan) yang berasal dari area lain.

  • Ketidakseimbangan elektrolit.

  • Gangguan makan yang berlangsung lama.

  • Stres kardiomiopati.

  • Anomali arteri koroner.

 

Faktor Risiko Serangan Jantung

 

Sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko infark miokard atau serangan jantung adalah sebagai berikut:

 

  • Wanita berusia di atas 55 tahun dan pria berusia di atas 45 tahun.

  • Memiliki riwayat infark miokard.

  • Memiliki keluarga dengan riwayat infark miokard.

  • Menderita tekanan darah tinggi (hipertensi).

  • Memiliki berat badan berlebih atau obesitas.

  • Memiliki kadar kolesterol jahat (LDL) dan trigliserida yang tinggi dalam tubuh.

  • Merokok.

  • Jarang berolahraga.

  • Menderita diabetes. Gula darah yang tinggi dapat merusak pembuluh darah, memicu reaksi inflamasi dan pengendapan plak.

  • Mengonsumsi makanan berlemak dan tinggi kalori secara berlebihan.

  • Stres berkepanjangan.

  • Wanita yang mengalami menopause dini.

  • Wanita dengan riwayat preeklampsia atau hipertensi selama kehamilan. 

  • Penyalahgunaan obat-obatan, seperti kokain dan amfetamin.

  • Memiliki riwayat penyakit autoimun.

 

Gejala Serangan Jantung

 

Gejala serangan jantung dapat bervariasi, mulai dari gejala ringan hingga berat. Namun, ada pula penderita yang tidak merasakan gejala apa pun, meski sedang mengalami serangan jantung. Beberapa gejala serangan jantung yang umum terjadi adalah sebagai berikut:

 

  • Nyeri atau rasa tidak nyaman pada dada seperti ditimpa beban berat yang menjalar ke bagian tubuh lain, seperti rahang, leher, bahu kiri, punggung, atau lengan.

  • Keringat dingin dan detak jantung tidak normal.

  • Gangguan pencernaan.

  • Kepala pusing disertai rasa ingin pingsan.

  • Sesak napas atau napas pendek.

 

Sementara itu, terdapat gejala-gejala tertentu yang dapat dialami oleh wanita setelah menopause. Gejala infark miokard pada wanita bisa saja tidak menimbulkan nyeri dada, melainkan nyeri perut, mual, muntah, kelelahan, nyeri punggung bagian atas, sesak napas, pusing, dan muncul gejala seperti penyakit asam lambung.

 

Diagnosis Serangan Jantung

 

Nyeri dada tidak selalu menandakan serangan jantung. Untuk menegakkan diagnosis infark miokard, dokter akan melakukan anamnesis (wawancara medis) guna mengetahui gejala yang dialami pasien beserta riwayat kesehatan pasien dan keluarganya. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, seperti memeriksa denyut nadi, tekanan darah, pernapasan, kadar oksigen dalam darah, serta mendengarkan suara jantung dan paru-paru.

 

Biasanya, dokter juga akan melakukan pemeriksaan tambahan untuk membantu menegakkan diagnosis dan mencari tahu penyebabnya. Beberapa pemeriksaan untuk infark miokard adalah:

 

  • Elektrokardiogram (EKG): Pemeriksaan ini dilakukan untuk memonitor irama detak jantung.

  • Tes darah: Pemeriksaan untuk membantu menentukan tingkat kerusakan otot jantung melalui pemeriksaan enzim.

  • Ekokardiogram: Pemeriksaan untuk melihat apakah ada kerusakan pada otot jantung menggunakan ultrasound (gelombang suara dengan frekuensi tinggi) dan mengetahui area pembuluh darah yang tersumbat.

  • Sinar-X: Pemeriksaan untuk melihat apakah jantung mengalami pembesaran atau paru-paru terisi cairan.

  • Angiogram: Pemeriksaan dengan prosedur kateterisasi dan sinar-X untuk melihat aliran darah yang melewati arteri dan katup jantung.

  • CT scan: Untuk melihat kondisi jantung secara lebih jelas dan detail.

  • MRI jantung: Untuk melihat gambaran kondisi jantung menggunakan medan magnet.

  • Nuclear stress test: Menggunakan zat radioaktif yang disuntikkan ke aliran darah untuk mengetahui bagaimana darah mengalir. Hal ini dilakukan guna melihat bagian otot jantung yang mengalami kerusakan atau mati dan melihat tingkat keparahan penyempitan arteri.

 

Pengobatan Serangan Jantung

 

Tujuan perawatan pada pasien serangan jantung adalah untuk memulihkan aliran darah ke otot jantung dan mengembalikan irama detak jantung sehingga jantung dapat berfungsi seperti sebagaimana mestinya. 

 

Ketika mengalami infark miokard akut, penderita harus segera menghentikan aktivitasnya dan menghubungi layanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan pertolongan yang tepat. Dokter akan melakukan tindakan pengobatan seseuai jenis serangan jantung yang terjadi, apakah STEMI atau NSTEMI

 

Untuk menangani serangan jantung jenis STEMI, dokter akan menggunakan obat untuk mengurai bekuan darah dan memulihkan aliran darah ke jantung. Proses ini disebut trombolisis. Selain itu, dokter juga bisa melebarkan pembuluh darah dengan memasang ring jantung.

 

Untuk penanganan NSTEMI, trombolisis biasanya menjadi pilihan pertama. Namun, jika gejala tidak membaik, dokter bisa memasang ring jantung. Apabila pembuluh darah terlalu rumit atau banyak cabang arteri yang menyempit maupun tersumbat, dokter mungkin akan melakukan operasi bypass jantung (CABG).

 

Penanganan infark miokard sangat bergantung pada waktu, semakin cepat ditangani maka semakin besar pula kemungkinan pasien dapat diselamatkan dan komplikasi yang mungkin terjadi dapat diminimalisasi. Sebaliknya, jika penanganannya terlambat, kerusakan akan meluas dan bisa berujung pada gagal jantung hingga kematian.

 

Pencegahan Serangan Jantung

 

Infark miokard adalah kondisi yang dapat dicegah sejak dini, yakni dengan menerapkan gaya hidup sehat. Adapun sejumlah gaya hidup sehat tersebut antara lain:

 

 

Kementerian Kesehatan merekomendasikan metode CERDIK untuk mencegah serangan jantung. “CERDIK” merupakan akronim dari: 

 

C = Cek kesehatan secara berkala.

E = Enyahkan asap rokok. 

R = Rajin aktivitas fisik. 

D = Diet sehat dengan kalori seimbang. 

I = Istirahat yang cukup.

K = Kendalikan stres.

 

Penting untuk diketahui bahwa informasi yang disebutkan pada artikel ini hanya untuk tujuan edukasi semata dan tidak dapat menggantikan diagnosis maupun saran perawatan dari tenaga medis profesional. Gejala-gejala yang telah disebutkan di atas tidak secara spesifik mewakili kondisi infark miokard dan dapat merujuk pada kondisi medis lainnya.

 

Oleh karena itu, apabila Anda mengalami nyeri dada disertai sesak napas, keringat dingin, nyeri yang menjalar ke bagian tubuh lainnya dan tidak hilang dengan istirahat, segera kunjungi Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah di Siloam Hospitals terdekat untuk memperoleh diagnosis yang akurat.

 

Penanganan serangan jantung harus dilakukan secara cepat dan tepat karena setiap detik sangat berharga dalam mencegah kerusakan organ yang lebih luas. Karenanya, dalam memilih rumah sakit jantung terbaik, penting bagi pasien dan keluarga untuk mempertimbangkan referensi, rekam jejak, serta layanan kesehatan unggulan sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan.

 

Di Siloam Hospitals Group, kami menyediakan layanan Chest Pain Ready Hospitals untuk membantu Anda mendapatkan penanganan penyakit jantung secara cepat dan tepat dengan 24/7 unit terintegrasi, dokter spesialis jantung siaga, cath lab, dan perawat bersertifikasi untuk menangani kegawatan jantung.

 

banner artikel kv 2

Dokter Kami
dr-isabella-lalenoh-spjp

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Isabella Lalenoh, SpJP

Kardiologi (Jantung)

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah


Siloam Hospitals TB Simatupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-kadek-satrya-kurnia-suratna-spjp

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Kadek Satrya Kurnia Suratna, SpJP

Kardiologi (Jantung)

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ronald-a-ulaan

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Rinaldi Agustinus Ulaan, SpJP

Kardiologi (Jantung)

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah


Rumah Sakit Umum Siloam Lippo Village

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail