Kesehatan Mental
Body Dysmorphic Disorder - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Table of Contents
Gangguan dismorfik tubuh atau body dysmorphic disorder adalah suatu gangguan mental di mana penderitanya menilai salah satu atau lebih dari bagian tubuhnya memiliki kekurangan. Kondisi ini dapat dialami oleh pria maupun wanita, dan sering kali dimulai ketika usia remaja (di bawah usia 18 tahun).
Mari pelajari lebih lanjut tentang body dysmorphic disorder, termasuk penyebab dan pengobatannya, melalui ulasan di bawah ini.
Apa itu Body Dysmorphic Disorder?
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, gangguan dismorfik tubuh atau body dysmorphic disorder adalah jenis gangguan mental yang ditandai dengan rasa cemas berlebihan terhadap kekurangan pada bagian tubuh tertentu atau penampilan fisiknya.
Kondisi ini sering kali terjadi pada pria maupun wanita berusia 18–30 tahun. Orang dengan body dysmorphic disorder kerap merasa malu dan gelisah karena merasa penampilan fisiknya cukup buruk, sehingga menghindari berbagai situasi sosial.
Body dysmorphic disorder hampir mirip dengan gangguan makan, di mana penderitanya memiliki pandangan buruk terhadap penampilan fisiknya. Namun, pada gangguan dismorfik tubuh, kegelisahan penderitanya bukan dipicu oleh berat badan atau bentuk tubuh secara keseluruhan, namun lebih spesifik seperti kulit keriput, paha yang besar, bentuk hidung, ukuran payudara, alat kelamin, dan lain-lain.
Penyebab Body Dysmorphic Disorder
Hingga kini, belum diketahui secara pasti apa penyebab body dysmorphic disorder. Kendati demikian, terdapat beberapa faktor yang diduga berkaitan dengan kondisi ini, mulai dari faktor genetik hingga budaya. Berikut penjelasan lebih detailnya.
-
Faktor genetik: Memiliki orang tua atau anggota keluarga dengan kondisi serupa.
-
Pengalaman yang kurang menyenangkan di masa lalu: Pengalaman masa lalu, seperti bullying juga dapat memicu terjadinya body dysmorphic disorder.
-
Memiliki kepribadian tertentu: Orang dengan ciri-ciri kepribadian tertentu seperti perfeksionis memiliki risiko lebih tinggi mengalami body dysmorphic disorder.
-
Menderita kondisi mental lain: Gangguan mental tertentu seperti anxiety disorder dan depresi juga dapat meningkatkan risiko terjadinya body dysmorphic disorder.
-
Kultur atau budaya: Adanya suatu budaya pada negara atau daerah tertentu tentang standar kecantikan atau bentuk ideal tubuh dapat menyebabkan seseorang ingin selalu mengikuti standar yang telah beredar di masyarakat tersebut.
Gejala Body Dysmorphic Disorder
Gejala gangguan dismorfik tubuh bisa berbeda-beda antara penderita yang satu dengan penderita lainnya. Namun secara umum, gejala body dysmorphic disorder adalah rasa tidak suka terhadap salah satu atau beberapa bagian tubuhnya. Di samping itu, beberapa tanda umum lainnya adalah sebagai berikut.
-
Sering berkaca dalam waktu yang lama dan selalu merasa kecewa karena tubuhnya memiliki kekurangan.
-
Sering mengganti model penampilan.
-
Sering melakukan selfie dan mengaplikasikan filter untuk menutupi kekurangannya.
-
Sering kali memiliki pikiran untuk menjalani operasi plastik atau perawatan tertentu guna memperbaiki penampilannya.
-
Merasa stres, cemas berlebihan, dan panik ketika melihat diri sendiri di depan cermin.
-
Timbul pikiran untuk menyakiti diri sendiri bahkan muncul pikiran untuk bunuh diri karena kecewa dengan penampilannya yang dianggap buruk.
Diagnosis Body Dysmorphic Disorder
Dalam menegakkan diagnosis body dysmorphic disorder, dokter akan terlebih dahulu melakukan wawancara medis (anamnesis) untuk mengetahui tanda-tanda serta riwayat medis, sosial, dan keluarga pasien. Namun, hal ini terkadang cukup sulit dilakukan mengingat bahwa pasien kerap merasa malu untuk mengungkapkan kekurangannya kepada orang lain.
Ketika pasien sudah bersedia bercerita, maka dokter akan melakukan penilaian dengan bertanya seputar perasaan dan harapan pasien. Dokter pun dapat meminta pasien mengisi kuesioner khusus untuk menilai apakah pasien memenuhi kriteria diagnostik dari body dysmorphic disorder.
Umumnya tidak diperlukan pemeriksaan fisik untuk kondisi ini, namun dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan pada bagian tubuh yang dianggap kurang menyenangkan oleh pasien untuk melihat apakah ada kelainan secara anatomis.
Pengobatan Body Dysmorphic Disorder
Tujuan utama pengobatan body dysmorphic disorder adalah untuk meningkatkan rasa kepercayaan diri sekaligus kualitas hidup penderita. Terdapat dua rencana pengobatan yang biasa dilakukan oleh dokter, yaitu psikoterapi dan obat-obatan. Berikut adalah masing-masing penjelasannya.
A. Psikoterapi
Psikoterapi adalah terapi mental untuk pasien. Pada terapi ini, dokter akan mendampingi pasien dan menanyakan tentang perasaan pasien serta berdiskusi mengenai strategi-strategi positif yang bisa dilakukan untuk mengatasi rasa tidak percaya diri atau benci terhadap bagian tubuh yang dirasa kurang menyenangkan.
B. Obat-obatan
Hingga kini, sebenarnya belum ada obat khusus yang dapat diberikan untuk mengobati body dysmorphic disorder. Namun, dokter biasanya memberikan obat antidepresan seperti serotonin-specific reuptake inhibitor (SSRI) agar pasien merasa lebih nyaman dan tenang sehingga bisa melakukan penilaian yang jernih terhadap suatu hal.
Selain antidepresan, dokter juga bisa meresepkan obat antipsikotik, seperti olanzapine dan aripiprazole. Obat ini dapat dikonsumsi sendiri atau dikombinasikan dengan serotonin-specific reuptake inhibitor (SSRI).
Komplikasi Body Dysmorphic Disorder
Apabila kondisi ini berkelanjutan dan tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat, penderita gangguan dismorfik tubuh dapat mengalami sejumlah komplikasi, seperti depresi, OCD (obsessive compulsive disorder), penyalahgunaan obat terlarang, bahkan tak jarang menyakiti diri sendiri, seperti menusuk-nusuk kulit.
Pencegahan Body Dysmorphic Disorder
Hal yang bisa dilakukan untuk mencegah body dysmorphic disorder adalah dengan menerapkan pola pikir jernih terhadap bentuk tubuh yang sehat dan realistis, misalnya dengan mengurangi penggunaan smartphone atau media sosial (social media).
Di samping itu, perbanyak melakukan kegiatan positif seperti berolahraga untuk melatih pikiran positif terhadap diri sendiri sehingga Anda pun bisa memberikan penghargaan terhadap diri sendiri.
Apabila Anda sering merasa cemas, gelisah, ataupun memiliki perasaan yang mengarah pada body dysmorphic disorder, jangan ragu untuk melakukan konsultasi dengan psikolog atau psikiater melalui layanan Telekonsultasi dari Siloam Hospitals melalui aplikasi MySiloam.
Layanan Telekonsultasi memungkinkan dokter untuk meresepkan obat-obatan sesuai kondisi pasien, dan pasien pun bisa memperoleh obat-obatan tersebut tanpa harus keluar rumah. Namun jika diresepkan beberapa jenis obat, seperti antipsikotik dan antidepresan, pasien wajib mengambilnya secara langsung atau self pick up. Mari jaga kesehatan Anda #BersamaSiloam.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Lippo Cikarang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Jambi
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
MENTAL - Skrining Mental health (MMPI)
Lainnya
2 Service/Item
Rp880.000
TERPOPULER
Paket Siloam Ruby
Skrining Umum
21 Service/Item
Rp1.000.000
TERPOPULER
Paket Siloam Silver
Skrining Umum
22 Service/Item
Rp1.900.000
TERPOPULER
Paket Siloam Pearl
Skrining Umum
31 Service/Item
Rp4.300.000
TERPOPULER
Brain Check Up
Penawaran Spesial, Skrining Stroke
19 Service/Item
Rp9.000.000







