Croup - Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahannya
Kesehatan Tubuh

Croup - Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahannya

26 Mei 2025 6 menit waktu baca
apa itu croup

Croup adalah gangguan saluran pernapasan bagian atas, yang meliputi trakea (tenggorokan), laring (area sekitar kotak suara), dan bronkus (saluran menuju paru-paru). Kondisi ini biasanya ditandai dengan gejala batuk keras, suara serak, sesak napas, dan demam. Croup sering ditemukan pada anak usia kurang dari 5 tahun.

 

Mari pahami lebih lanjut tentang penyebab, gejala, dan pengobatan croup melalui ulasan di bawah ini.

 

Apa itu Croup?

 

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, croup adalah penyakit yang menyerang saluran pernapasan bagian atas, seperti trakea, laring, dan bronkus. Kondisi ini dapat menyebabkan pembengkakan, iritasi, hingga penyempitan pada saluran pernapasan bagian atas. 

 

Croup dapat menimbulkan gejala batuk keras yang khas seperti suara menggonggong yang biasanya semakin memburuk saat malam hari. Kondisi ini dapat sembuh sendiri (self-limiting disease), namun juga dapat menyebabkan komplikasi jika tidak ditangani dengan tepat.

 

Penyebab Croup

 

Penyebab utama croup adalah infeksi virus, di mana >75% penyebab croup adalah virus parainfluenza tipe 1 dan 2. Virus tersebut dapat menular melalui droplet dari batuk atau bersin yang menyebar ke udara. Selain itu, partikel virus juga dapat bertahan hidup di permukaan benda yang jika tersentuh tangan dapat menular ke tubuh, misalnya saat menyentuh mata, hidung, atau mulut.

 

Selain virus parainfluenza tipe 1 dan 2, beberapa jenis virus lain yang dapat menyebabkan croup adalah sebagai berikut:

 

  • Virus influenza A dan B.

  • Adenovirus.

  • Measles (campak).

  • Respiratory syncytial virus (RSV).

 

Selain virus, croup juga dapat disebabkan oleh infeksi bakteri. Adapun beberapa bakteri penyebab croup adalah sebagai berikut:

 

  • Corynebacterium diphtheria.

  • Staphylococcus aureus.

  • Haemophilus influenzae.

  • Moraxella catarrhalis.

  • Streptococcus pneumoniae.

 

Anak-anak berusia 6 bulan sampai 3 tahun memiliki risiko lebih tinggi terkena croup karena mereka memiliki saluran napas yang kecil. Di sisi lain, croup jarang terjadi pada anak yang berusia di atas 6 tahun.

 

Gejala Croup

 

Croup umumnya berlangsung selama 3–7 hari. Penderita biasanya akan merasakan gejala terberat pada hari ke-3 hingga hari ke-4 dan semakin terasa saat malam hari. Infeksi ini dapat menyebabkan penyempitan pada saluran pernapasan atas.

 

Ketika penderita batuk, hal tersebut akan memaksa udara melewati saluran napas yang menyempit  dan pita suara yang membengkak menghasilkan suara seperti gonggongan anjing. Saat menarik napas, sering kali akan menimbulkan suara siulan bernada tinggi yang disebut stridor. 

 

Croup juga dapat menimbulkan gejala lain, seperti:

 

  • Suara serak.

  • Demam ringan. 

  • Ruam.

  • Mata merah.

  • Pembengkakan kelenjar getah bening.

  • Sulit bernapas.

  • Gelisah.

  • Retraksi pernapasan.

  • Sianosis (perubahan warna kulit menjadi kebiruan).

  • Tidak ada nyeri telan maupun drooling (pengeluaran air liur secara tidak sengaja dari mulut). 

 

Diagnosis Croup

 

Dalam proses penegakan diagnosis, dokter akan melakukan anamnesis (tanya jawab medis) terlebih dahulu mengenai gejala, riwayat kesehatan, serta lingkungan rumah, sekolah, dan aktivitas anak sehari-hari. Kemudian, dokter juga melakukan pemeriksaan fisik di area mulut, tenggorokan, dan paru-paru.

 

Apabila diperlukan, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan darah atau rontgen paru-paru untuk mengetahui penyebab dan tingkat keparahan penyakit. Kemudian, dokter akan mengklasifikasikan keparahan kondisi croup pasien dengan scoring Westley yang dinilai dari aspek berikut:

 

  • Stridor.

  • Retraksi atau tarikan dinding dada saat bernapas.

  • Air entry (masuknya udara ke paru).

  • Sianosis.

  • Kesadaran pasien.

 

Dengan mempertimbangkan ke-5 aspek di atas, dokter dapat mengklasifikasikan kondisi ini menjadi croup ringan, sedang, berat, maupun ancaman terjadinya gagal napas. Sebagai informasi, lebih dari 85% anak dengan croup termasuk dalam kategori ringan dan kurang dari 1% termasuk croup berat.

 

Pengobatan Croup

 

Pengobatan croup akan disesuaikan dengan tingkat keparahan penyakit dan penyebabnya. Ada sejumlah pengobatan yang dapat dilakukan oleh dokter, mulai dari terapi obat penurun demam hingga obat kortikosteroid. Berikut adalah selengkapnya.

 

  • Jika disebabkan oleh infeksi virus, dokter akan meresepkan obat-obatan sesuai dengan gejala yang dialami si kecil, seperti obat penurun demam bila pasien mengalami demam. Selain itu, dokter juga bisa memberikan vitamin untuk meningkatkan sistem imun tubuh anak. 

  • Apabila croup disebabkan oleh infeksi bakteri, dokter akan memberikan resep antibiotik

  • Terapi nebulizer untuk meringankan gejala jika dokter mendapati lendir yang kental.

  • Obat kortikosteroid untuk mengurangi peradangan jika terjadi pembengkakan di saluran pernapasan.

  • Memberikan oksigen tambahan menggunakan selang atau masker oksigen jika pasien mengalami penurunan tingkat oksigen dalam darah.



Pada kasus yang ringan, croup dapat ditangani dengan perawatan mandiri di rumah. Croup yang tergolong ringan ditandai dengan pasien masih bisa minum dan masih terlihat aktif. Adapun beberapa perawatan di rumah yang dapat dilakukan untuk mengatasi croup adalah sebagai berikut:

 

  • Mengonsumsi makanan bergizi, serta makanan yang lembut, lunak, atau berkuah.

  • Memperbanyak istirahat untuk menaikkan daya tahan tubuh.

  • Mencukupi kebutuhan cairan tubuh, terutama jika si kecil mengalami demam.

  • Mengompres area dahi, lipatan paha, dan lipatan ketiak dengan air hangat jika mengalami demam.

  • Menjauhkan si kecil dari paparan asap rokok.

  • Menggunakan uap dari air hangat untuk membuka saluran napas jika mengalami hidung tersumbat.

  • Memantau suhu tubuh anak secara berkala, setidaknya setiap 4 jam. Jika gejala semakin memberat, segera kunjungi fasilitas kesehatan terdekat.

  • Menggunakan air purifier di area istirahat anak untuk membantu membersihkan udara di lingkungan sekitar anak.

  • Memberikan ASI atau susu formula secara optimal untuk mencegah dehidrasi (jika anak masih menyusu).

  • Menjaga kondisi anak tetap nyaman agar dapat beristirahat dan tidak terlalu sering menangis. Pasalnya, menangis dapat semakin memperburuk penyempitan saluran napas anak. 

 

Sementara itu, pada kondisi croup yang tergolong parah atau berat, pasien biasanya disarankan untuk menjalani rawat inap di rumah sakit agar mendapatkan pemantauan berkala dari dokter.

 

Segera kunjungi fasilitas kesehatan terdekat untuk pemeriksaan lebih lanjut dan penanganan segera jika terdapat gejala berikut: 

 

  • Gejala memberat dan berlangsung selama 3–5 hari.

  • Gejala tidak membaik dengan istirahat dan perawatan mandiri di rumah.

  • Sesak napas.

  • Peningkatan laju napas.

  • Kesulitan menelan.

  • Sianosis pada hidung, mulut dan bibir, dan ujung-ujung jari.

Pencegahan Croup

 

Mengingat bahwa kondisi ini dapat ditularkan melalui kontak fisik maupun udara, maka langkah yang efektif dalam mencegah croup adalah menghindari penularan atau penyebaran virus penyebab croup. Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah penularan virus penyebab croup adalah sebagai berikut:

 

  • Rutin mencuci tangan dengan air dan sabun.

  • Menggunakan masker saat di  luar rumah atau jika ada salah satu anggota keluarga yang sedang sakit.

  • Tidak berdekatan atau melakukan kontak fisik dengan orang yang sedang sakit.

  • Rutin membersihkan permukaan benda, terutama gagang pintu, toilet, meja makan, dan area lainnya.

  • Menutup area mulut dan hidung saat batuk atau bersin menggunakan sisi dalam lengan atau sapu tangan.

  • Mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang.

  • Memberi vaksinasi kepada anak sesuai jadwal.

 

Komplikasi Croup

 

Pada umumnya, croup jarang menimbulkan komplikasi. Namun, tetap ada  kemungkinan terjadinya sejumlah komplikasi, mulai dari obstruksi jalan napas hingga kematian. Berikut adalah uraian selengkapnya yang penting untuk diketahui.

 

  • Obstruksi jalan napas yang membutuhkan penanganan segera.

  • Infeksi sekunder, seperti trakeitis bakteri dan pneumonia.

  • Edema paru.

  • Infeksi telinga tengah.

  • Limfadenitis (infeksi kelenjar getah bening).

  • Kematian (sangat jarang terjadi).

 

Itulah penjelasan mengenai penyakit croup yang sering menyerang anak-anak. Kondisi ini sebaiknya segera ditangani. Karena itu, apabila si kecil mengalami sejumlah gejala yang mengarah pada croup, jangan ragu untuk melakukan konsultasi dengan dokter di Siloam Hospitals terdekat mengenai saran perawatan yang tepat.

 

Anda juga dapat memanfaatkan layanan Telekonsultasi yang tersedia di aplikasi MySiloam. Layanan tersebut memungkinkan dokter untuk meresepkan obat-obatan sesuai kondisi pasien, dan pasien pun bisa memperoleh obat-obatan tersebut tanpa harus keluar rumah. Namun, terdapat beberapa obat-obatan tertentu yang memerlukan pasien untuk bertemu dokter secara langsung.

 

Selain itu, aplikasi MySiloam juga dilengkapi dengan fitur yang memungkinkan pasien mengecek informasi jadwal praktik dokter, melakukan check in secara mandiri, dan memantau hasil pemeriksaan. Mari unduh MySiloam sekarang dan jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam!

 

telechat (1)

Dokter Kami
dr-liem-eremius-arifin-spa

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Liem Eremius Arifin, SpA

Pediatrik (Anak)

Spesialis Ilmu Kesehatan Anak


Siloam Sriwijaya Palembang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ifo-faujiah-sihite-mked-ped-spa

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ifo Faujiah Sihite, M.Ked (Ped), SpA

Pediatrik (Anak)

Spesialis Ilmu Kesehatan Anak


Siloam Hospitals Jambi

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-anggun-kusumasari-spa-msc

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Anggun Kusumasari, SpA, MSc, AIFO-K

Pediatrik (Anak)

Spesialis Ilmu Kesehatan Anak


Siloam Hospitals Balikpapan

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail