Kesehatan Tubuh
Dislokasi Rahang, Ini Penyebab dan Gejala-Gejalanya

Table of Contents
Dislokasi rahang adalah kondisi bergesernya atau terlepasnya tulang rahang bagian bawah dari posisi normalnya. Kondisi ini dapat disebabkan oleh cedera akibat kecelakaan maupun aktivitas tertentu yang membuat seseorang membuka mulut dengan lebar dan kuat, seperti menguap atau tertawa terlalu lebar.
Apabila tidak segera ditangani, dislokasi rahang dapat sangat mengganggu aktivitas penderitanya, seperti kesulitan makan dan berbicara. Mari pahami lebih dalam tentang dislokasi rahang, termasuk penyebab, gejala, diagnosis, hingga pengobatannya melalui artikel berikut ini.
Apa Itu Dislokasi Rahang?
Dislokasi rahang terjadi ketika tulang rahang bawah bergeser atau terlepas keluar dari salah satu atau kedua sisi sendi temporomandibular (TMJ). Pada dasarnya, sendi temporomandibular melibatkan sendi-sendi, otot-otot rahang, dan ligamen yang menghubungkan tulang rahang bawah dengan tulang tengkorak.
Semua bagian dari sendi temporomandibular tersebut bekerja sama sehingga memungkinkan seseorang untuk membuka dan menutup mulut. Ketika mengalami dislokasi, bagian-bagian yang mendukung pergerakan rahang tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Kondisi ini termasuk keadaan darurat medis dan tidak dapat ditangani secara mandiri. Oleh karenanya, penderita harus segera memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Penyebab Dislokasi Rahang
Dislokasi rahang adalah kondisi yang dapat terjadi secara cepat (akut) atau berkembang seiring waktu (kronis). Secara umum, penyebab dislokasi rahang akut adalah trauma fisik di wajah yang diakibatkan oleh kecelakaan, benturan, terjatuh, pukulan, atau cedera olahraga. Selain itu, kondisi ini juga dapat terjadi ketika seseorang:
-
Mengalami cedera rahang.
-
Mengalami kejang.
-
Mengalami muntah parah.
-
Membuka mulut terlalu lebar, misalnya saat tertawa atau menguap.
-
Membuka mulut terlalu lama, misalnya saat sedang menjalani perawatan gigi.
-
Komplikasi dari pemasangan alat bantu napas (intubasi endotrakeal).
Sementara itu, penyebab dari dislokasi sendi temporomandibular kronis sering kali berasal dari dislokasi sendi temporomandibular akut yang tidak ditangani dengan baik. Akibatnya, rahang berada di posisi yang tidak semestinya dalam jangka waktu yang lama.
Faktor Risiko Dislokasi Rahang
Pada dasarnya, dislokasi sendi temporomandibular dapat dialami oleh siapa saja. Namun, ada beberapa faktor yang berpotensi meningkatkan kemungkinan seseorang mengalaminya, antara lain:
-
Peradangan sendi (arthritis) di sendi rahang.
-
Memiliki riwayat cedera rahang.
-
Memiliki lekukan sendi rahang (fossa mandibularis) yang terlalu dangkal.
-
Menderita bruxism (kebiasaan menggertakan gigi tanpa sadar).
-
Menderita gangguan pada jaringan ikat, seperti sindrom Marfan atau sindrom Ehlers-Danlos.
Gejala Dislokasi Rahang
Pergeseran tulang rahang dapat menyebabkan penderitanya kesulitan makan dan berbicara. Selain itu, gejala dislokasi rahang juga dapat meliputi:
-
Nyeri pada rahang yang dapat memburuk ketika rahang digerakkan.
-
Rahang tampak miring.
-
Air liur yang terus-menerus keluar.
-
Sulit menutup mulut.
-
Rahang bawah menonjol ke depan.
-
Maloklusi, yaitu posisi gigi dan rahang tidak sejajar.
Diagnosis Dislokasi Rahang
Untuk menegakkan diagnosis, dokter akan mengawalinya dengan wawancara medis (anamnesis) untuk mengetahui riwayat kesehatan, gejala, riwayat cedera, dan obat-obatan yang mungkin sedang dikonsumsi oleh penderita. Setelah itu, dokter akan melanjutkan dengan pemeriksaan fisik dengan menelusuri daerah pipi dan rahang untuk memeriksa kondisi rahang secara langsung.
Kemudian untuk memverifikasi diagnosis, dokter juga akan melakukan beberapa pemeriksaan penunjang seperti:
-
Foto rontgen rahang, untuk mengevaluasi posisi dan keadaan sendi rahang.
-
CT scan rahang, digunakan untuk mendeteksi adanya pergeseran atau terlepasnya tulang rahang dari sendi atau gangguan lain yang mungkin muncul pada rahang, seperti patah tulang rahang.
Komplikasi Dislokasi Rahang
Dislokasi rahang yang tidak segera ditangani secara tepat dapat mengakibatkan sejumlah komplikasi, seperti:
-
Cedera pada saraf wajah dan pembuluh darah di leher.
-
Gangguan pendengaran akibat cedera di saluran telinga.
-
Risiko terjadinya dislokasi rahang berulang.
Pengobatan Dislokasi Rahang
Karena tidak dapat ditangani secara mandiri, penanganan yang tepat dari dokter sangat penting untuk mencegah kerusakan permanen dan perubahan posisi tulang rahang dan sendi. Secara umum, cara mengatasi dislokasi rahang yang akan direkomendasikan yaitu:
1. Operasi
Apabila kondisinya semakin parah atau disertai dengan patah tulang rahang, dokter akan menyarankan pasien untuk menjalani tindakan operasi. Selama operasi berlangsung, dokter akan memperbaiki posisi rahang dan memperkuat ligamen yang menghubungkan tulang rahang dengan tulang tengkorak.
2. Reposisi Rahang
Cara menyembuhkan dislokasi rahang yang sifatnya ringan dapat dilakukan dengan reposisi rahang atau reduksi manual oleh dokter. Tindakan ini bertujuan untuk mengembalikan rahang ke posisi normal dengan menggunakan tangan. Sebelum prosedur dimulai, pasien umumnya akan diberikan obat pelemas otot serta bius lokal.
3. Pemasangan Perban
Pemasangan perban (barton bandage) biasanya akan dilakukan setelah prosedur operasi atau reduksi manual rahang selesai dilakukan. Perban tersebut akan dibalutkan di sekitar dagu hingga kepala pasien untuk membatasi pergerakan rahang selama masa penyembuhan.
Selama proses pemulihan, dokter juga dapat menyuntikkan botox secara berkala untuk mengoptimalkan proses penyembuhan, terutama pada pasien yang telah mengalami pergeseran rahang secara berulang. Secara umum, proses penyembuhan kondisi ini memerlukan waktu sekitar 6 minggu. Selama periode ini, pasien diharuskan untuk:
-
Tidak membuka mulut terlalu lebar.
-
Mengonsumsi makanan lunak atau cair.
-
Mengonsumsi obat pereda nyeri sesuai resep dokter.
-
Rutin menggunakan kompres dingin selama 10 menit, dilakukan setiap 2–3 jam sekali setiap hari.
Pencegahan Dislokasi Rahang
Beberapa tindakan pencegahan yang diketahui dapat dilakukan untuk mengurangi risiko dislokasi sendi temporomandibular adalah sebagai berikut:
-
Tidak membuka mulut terlalu lebar dan dalam jangka waktu yang lama.
-
Tidak tertawa terlalu lebar dan keras.
-
Menggunakan alat pelindung saat berolahraga atau mengemudi.
-
Menggunakan alat pelindung gigi atau mouth guard, terutama jika mengalami bruxism.
-
Menjalani pemeriksaan dan perawatan medis secara teratur, terutama apabila memiliki kondisi medis tertentu yang dapat memicu terjadinya kejang.
-
Hindari mengonsumsi makanan berukuran besar dalam satu suapan sekaligus, seperti misalnya makan burger berukuran besar dengan isian tebal sekaligus.
Itulah penjelasan mengenai dislokasi rahang, termasuk gejala, penyebab, pengobatan, dan pencegahannya. Melalui penjelasan di atas, diketahui bahwa dislokasi rahang adalah kondisi medis yang serius sehingga memerlukan perawatan medis yang tepat.
Penting untuk diingat bahwa pengobatan alternatif, seperti mencoba memperbaiki dislokasi rahang sendiri atau tanpa tenaga medis profesional, berisiko menyebabkan rasa sakit yang lebih intens, merusak bagian-bagian tubuh yang penting, dan menyebabkan cedera atau komplikasi lebih lanjut.
Oleh karena itu, apabila Anda memiliki keluhan terkait dengan gangguan tulang rahang, jangan ragu untuk mengunjungi Dokter Spesialis Orthopaedi di Siloam Hospitals terdekat agar bisa memperoleh diagnosis serta saran penanganan medis yang tepat.
Sebagai informasi, setiap rumah sakit mungkin memiliki tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang berbeda-beda, tergantung dari fasilitas kesehatan yang tersedia. Namun, tenaga medis profesional akan mempertimbangkan kondisi kesehatan pasien terlebih dahulu guna menentukan langkah pemeriksaan dan pengobatan yang tepat.
Gunakan aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai fitur kesehatan dengan mudah, mulai dari melihat jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam dan nikmati berbagai fitur yang mempermudah perjalanan kesehatan Anda.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Made Oka Mahendra, SpOT, M.Biomed
Ortopedi (Tulang)
Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Su Djie To Rante, M. Biomed., SpOT, Subsp. P.L(K)
Ortopedi (Tulang)
Subspesialis Panggul dan Lutut
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Henry Tanzil, M. Kes, SpOT (K), FICS
Ortopedi (Tulang)
Subspesialis Panggul dan Lutut
Siloam Hospitals Makassar
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
Rontgen Panoramic (Gigi dan Rahang)
Rontgen / X-Ray
Rp237.000
TERPOPULER
Dental X-Ray / Rontgen Gigi
Rontgen / X-Ray
Rp122.000
TERPOPULER
CT Head Non-CNTRS / CT Scan Kepala
CT Scan
Rp1.664.000
TERPOPULER
MRI Head Non-CNTRS / MRI Kepala
MRI / MRA
Rp2.870.000
TERPOPULER
MRI 3T Head Non Contrast / MRI 3T Kepala
MRI / MRA
Rp5.282.000







