Kesehatan Tubuh
Diurnal Enuresis pada Anak, Ini Penyebab dan Penanganannya

Table of Contents
Diurnal enuresis adalah kondisi ketika anak masih mengalami ngompol di siang hari meski usianya telah melewati fase toilet trained. Meski terdengar sepele, kondisi ini sering kali membuat orang tua khawatir. Diurnal enuresis dapat berkaitan dengan berbagai faktor, mulai dari kebiasaan menunda buang air kecil hingga gangguan saluran kemih. Simak informasi selengkapnya mengenai diurnal enuresis di bawah ini.
Apa Itu Diurnal Enuresis?
Seperti yang sudah dijelaskan, diurnal enuresis atau daytime accidental wetting adalah anak tidak bisa mengontrol kandung kemihnya sehingga tanpa sengaja buang air kecil (mengompol) dalam keadaan terjaga di siang hari. Anak yang mengompol di siang hari perlu dievaluasi secara medis bila terjadi pada usia ≥ 5 tahun dan muncul berulang, yaitu lebih dari 1 kali per bulan selama minimal 3 bulan.
Pada usia tersebut, sebagian besar anak seharusnya sudah mampu mengontrol buang air kecil di siang hari sehingga kejadian yang menetap dapat menandakan gangguan fungsi kandung kemih. Diurnal enuresis biasanya terjadi setelah anak sebelumnya sudah mampu mengontrol kandung kemih selama 6 bulan hingga 1 tahun.
Selain mengompol, anak juga dapat mengalami urgensi berkemih, peningkatan frekuensi berkemih, serta nyeri saat buang air kecil. Meski sebagian kasus diurnal enuresis dianggap sebagai proses perkembangan dan normal terjadi, kondisi ini tetap perlu mendapatkan perhatian.
Penelitian dalam International Journal of Urology (2025) menunjukkan bahwa anak yang belum memiliki kontrol kandung kemih di siang hari pada usia 2,5 tahun memiliki risiko lebih tinggi mengalami nocturnal enuresis (mengompol di malam hari) pada usia 4,5 tahun. Risiko ini bisa meningkat sekitar 25% dibandingkan dengan anak yang sudah mampu menahan buang air kecil di siang hari.
Penyebab Diurnal Enuresis
Penyebab umum diurnal enuresis adalah disfungsi berkemih (dysfunctional voiding). Anak dengan kondisi ini sering kali baru merasakan dorongan buang air kecil pada detik-detik terakhir. Sesampainya di toilet, katup saluran kemih mungkin tidak rileks sepenuhnya sehingga kandung kemih tidak benar-benar kosong. Akibatnya, sisa urine bisa keluar tanpa disadari saat anak kembali beraktivitas.
Selain disfungsi berkemih, diurnal enuresis juga bisa disebabkan oleh beberapa faktor lain, seperti:
-
Kandung kemih yang terlalu aktif (overactive bladder).
-
Katup saluran kemih lemah. Kondisi ini bisa menyebabkan anak mengompol saat tertawa, batuk, atau mengejan.
-
Gangguan pada saraf dari bagian bawah sumsum tulang belakang, kondisi ini bisa disertai kelemahan pada kaki.
-
Kelainan struktural pada kandung kemih atau saluran ginjal.
Selain itu, sebuah penelitian dalam Uro (2025) menyebutkan bahwa faktor psikologis memiliki pengaruh yang signifikan terhadap fungsi kandung kemih pada anak. Beberapa masalah psikologi, seperti kecemasan, stres, dan depresi, dapat berkontribusi terhadap terjadinya gangguan saluran kemih.
Penelitian yang sama juga menyebutkan bahwa enuresis diketahui memiliki komponen keturunan. Anak-anak yang memiliki satu orang tua dengan riwayat enuresis memiliki kemungkinan sebesar 44% untuk mengalami enuresis, sedangkan anak dengan dua orang tua yang terdampak memiliki kemungkinan hingga 77%.
Gejala Diurnal Enuresis
Anak dengan diurnal enuresis biasanya menunjukkan tanda-tanda sebagai berikut:
-
Buang air kecil tanpa disadari (mengompol) pada siang hari.
-
Urine keluar secara betahap atau menetes terus-menerus.
-
Kesulitan mencapai toilet tepat waktu.
-
Pola buang air kecil yang tidak teratur, dengan jeda waktu yang terlalu jarang atau terlalu lama.
-
Jarang pergi ke toilet.
-
Selalu merasakan dorongan kuat untuk buang air kecil.
Diagnosis Diurnal Enuresis
Sebelum menegakkan diagnosis, dokter akan terlebih dahulu melakukan anamnesis (wawancara medis) kepada orang tua, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik yang meliputi rektum, genitalia, abdomen, tulang belakang, hidung, telinga, tenggorokan, serta pemeriksaan neurologis.
Guna menegakkan diagnosis, dokter akan meminta anak menjalani tes urine dan tes darah untuk menyingkirkan kemungkinan adanya kondisi medis tertentu. Dokter mungkin juga merekomendasikan pemeriksaan USG atau rontgen untuk mengevaluasi kondisi kandung kemih dan ginjal.
Pengobatan Diurnal Enuresis
Pengobatan diurnal enuresis tergantung dari penyebabnya. Jika disebabkan oleh masalah medis tertentu, maka mengatasi masalah tersebut dapat membuat kebiasaan mengompol di siang hari berhenti. Namun, jika tidak disebabkan oleh penyakit lain, maka penanganannya bisa meliputi:
-
Obat-obatan, seperti oxybutynin, untuk membantu mengatasi diurnal enuresis pada anak maupun orang dewasa. Obat ini bekerja dengan membantu mengontrol otot kandung kemih agar tidak mudah mengeluarkan urine.
-
Operasi, pilihan pengobatan ini dilakukan jika diurnal enuresis disebabkan oleh kelainan bawaan pada saluran kemih.
-
Konseling, upaya ini dapat membantu mengatasi diurnal enuresis pada anak yang disebabkan oleh stres emosional, misalnya tekanan di rumah atau sekolah. Bentuk konseling ini bisa berupa terapi psikologis atau hipnoterapi.
Sementara itu, langkah-langkah yang bisa dilakukan oleh orang tua di rumah untuk mengatasi diurnal enuresis adalah sebagai berikut:
-
Membuat jadwal buang air kecil, misalnya setiap 2–3 jam di siang hari, meskipun anak belum merasakan dorongan buang air kecil.
-
Berikan pujian saat anak berhasil tidak mengompol dalam waktu yang ditentukan.
-
Hindari menggunakan popok pada anak.
-
Memastikan anak mengonsumsi makanan tinggi serat dan mencukupi kebutuhan cairan tubuh agar terhindar dari sembelit.
-
Mendorong anak untuk menggunakan toilet saat melihat tanda-tanda bahwa anak perlu buang air kecil, misalnya tampak gelisah, berada pada posisi jongkok atau menyilangkan kaki, maupun berdiri diam.
-
Minta anak untuk meluangkan waktu lebih lama di toilet sehingga anak bisa mengosongkan kandung kemih sepenuhnya, jangan biarkan anak terburu-buru keluar dari toilet.
Kapan Harus ke Dokter?
Orang tua sebaiknya segera membawa anak ke dokter agar mendapatkan penanganan jika anak mengalami salah satu dari kondisi berikut:
-
Anak mengalami nyeri saat buang air kecil disertai demam.
-
Mengalami hematuria (darah dalam urine).
-
Kejadian mengompol di siang hari telah berlangsung lebih dari 2–3 hari berturut-turut, atau terjadi setidaknya seminggu sekali selama dua bulan atau lebih.
-
Buang air kecil terlalu sering atau justru jarang.
-
Anak berusia lebih dari 5 tahun dan sebelumnya sudah tidak mengompol selama 6–9 bulan.
-
Merasakan dorongan buang air kecil yang sangat kuat dan sulit ditahan.
-
Mengalami infeksi saluran kemih berulang.
Sebagai informasi, penyebab serta gejala yang disebutkan di atas tidak spesifik mewakili kondisi diurnal enuresis. Dengan kata lain, penyebab gejala tersebut bisa serupa dengan kondisi medis lainnya, sehingga penting untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Pediatrik di Siloam Hospitals terdekat agar mendapatkan diagnosis yang akurat.
Namun, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang Anda jalani terkait kondisi ini mungkin
berbeda di satu fasilitas kesehatan dengan yang lain. Tenaga medis akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat sesuai dengan kondisi medis setiap pasien.
Untuk membuat janji temu dengan Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Pediatrik, Anda bisa memanfaatkan fitur yang tersedia di aplikasi MySiloam. Melalui aplikasi ini, Anda juga dapat melihat riwayat kesehatan secara daring. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Sumber
Wiley. Daytime Bladder Control Status in Toddlerhood Is Associated With Subsequent Bedwetting in Preschool Years: A Nationwide Cohort Study of Over 30 000 Japanese Children. Diakses pada 2026 | Uro. Dissecting the Development of the Evaluation and Management of Pediatric Diurnal Enuresis. Diakses pada 2026 | Continence Health Australia. Daytime wetting. Diakses pada 2026 | Cincinnati Children’s. What is Daytime Wetting (Diurnal Enuresis)?. Diakses pada 2026 | KidsHealth. Daytime Wetting. Diakses pada 2026 | Columbia University Irving Medical Center. Daytime Accidental Wetting (Diurnal Enuresis). Diakses pada 2026 | Randwick Children’s Emergency. Daytime wetting. Diakses pada 2026 | The Royal Children’s Hospital Melbourne. Urinary Incontinence - Daytime wetting. Diakses pada 2026 | Deutsches Arzteblatt. The Diagnosis and Treatment of Enuresis and Functional Daytime Urinary Incontinence. Diakses pada 2026 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Ambon
Tersedia :
Tersedia hari ini






