Hidrosefalus: Penyebab, Gejala, hingga Cara Mengobatinya
Kesehatan Tubuh

Hidrosefalus: Penyebab, Gejala, hingga Cara Mengobatinya

21 Mei 2025 4 menit waktu baca
hidrosefalus adalah

Table of Contents

Hidrosefalus adalah kondisi yang terjadi saat ada penumpukan cairan berlebihan di dalam otak. Umumnya, otak memiliki cairan yang mengisi ruang-ruang ventrikel di dalamnya. Namun, bila frekuensi cairan tersebut terlalu banyak pada kasus hidrosefalus, hal tersebut dapat menyebabkan seseorang mengalami peningkatan tekanan pada sel otak dan gangguan saraf. Mari simak penjelasan lengkap tentang hidrosefalus di bawah ini.

 

Apa itu Penyakit Hidrosefalus?

 

Hidrosefalus adalah kondisi di mana frekuensi cairan yang mengisi ruang-ruang ventrikel di dalam otak meningkat secara berlebihan. Cairan ini dinamakan dengan cairan serebrospinal (CSF), yaitu cairan bening yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang.

 

Hidrosefalus membuat tekanan pada cairan serebrospinal terlalu tinggi dan berakibat pada rusaknya jaringan otak. Hal ini pun dapat menyebabkan berbagai masalah terkait fungsi otak.

 

Hidrosefalus umumnya terjadi pada bayi baru lahir. Hidrosefalus pada bayi ditandai dengan ukuran kepala yang membesar secara tidak normal.

 

Meski begitu, tak menutup kemungkinan bahwa hidrosefalus dapat terjadi pada berbagai kalangan usia. Pasalnya, kondisi ini juga banyak diderita oleh orang berusia 60 tahun ke atas.

 

Berdasarkan penyebabnya, hidrosefalus terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

 

  • Hidrosefalus setelah lahir (acquired hydrocephalus): Kondisi ini disebabkan oleh gangguan yang terjadi di dalam otak, seperti tumor otak, radang selaput otak (meningitis), atau stroke.
  • Hidrosefalus kongenital: Kondisi ini disebabkan oleh kelainan bawaan akibat adanya gangguan dalam kandungan, seperti infeksi toksoplasma dan kekurangan asam folat.

 

Penyebab Hidrosefalus

 

Secara umum, hidrosefalus adalah ketidakseimbangan antara banyaknya cairan serebrospinal yang diproduksi dan diserap ke dalam aliran darah. Akibatnya, terjadi penumpukan cairan di dalam otak dan mengakibatkan tekanan dalam kepala meningkat. Beberapa faktor penyebab hidrosefalus antara lain:

 

  • Cedera atau penyakit pada otak sehingga berpengaruh pada penyerapan cairan otak.
  • Produksi cairan otak lebih cepat dari penyerapannya, sehingga menimbulkan ketidakseimbangan.
  • Penyumbatan parsial aliran cairan serebrospinal, baik ventrikel satu ke yang lainnya atau dari ventrikel ke area lain di sekitar otak.

 

Hidrosefalus pada bayi dapat terjadi selama proses persalinan atau beberapa saat setelah kelahirannya. Kondisi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti:

 

  • Perkembangan yang tidak normal pada otak dan tulang belakang, sehingga menyebabkan sumbatan aliran cairan otak.
  • Infeksi selama masa kehamilan, seperti rubella atau sifilis.
  • Kelainan bawaan dari lahir, contohnya sindrom Dandy-Walker.
  • Perdarahan dalam otak yang disebabkan oleh kelahiran prematur.

 

Selain yang telah disebutkan di atas, ada beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko hidrosefalus pada semua kalangan usia, di antaranya:

 

  • Infeksi saraf tulang belakang dan otak, misalnya meningitis.
  • Cedera pada otak yang mengakibatkan perdarahan.
  • Benturan keras pada kepala yang memengaruhi otak.
  • Tumor di otak dan saraf tulang belakang.

 

Gejala Hidrosefalus

 

Hidrosefalus kongenital dan hidrosefalus setelah lahir memiliki gejala yang berbeda. Hidrosefalus kongenital ditandai dengan:

 

  • Kaki dan tangan berkontraksi terus-menerus, sehingga sulit digerakkan.
  • Kepala bayi membesar hingga melebihi ukuran rata-rata bayi seusianya.
  • Bayi terlihat selalu mengantuk dan kurang responsif terhadap lingkungan di sekitarnya.
  • Kulit kepala pada bayi tampak lebih tipis sehingga pembuluh darah bisa terlihat dengan jelas.
  • Mengalami kejang secara berulang.
  • Napas tidak teratur.
  • Lambatnya perkembangan pada bayi, misalnya belum bisa tengkurap saat mencapai umur 6 bulan.

 

Sedangkan, beberapa gejala yang dirasakan oleh penderita hidrosefalus setelah lahir adalah sebagai berikut:

 

  • Rasa nyeri hebat pada kepala.
  • Muntah dengan cara menyemprot.
  • Mudah merasa lemas.
  • Terlihat ngantuk, bingung dan mengalami disorientasi.
  • Mengalami kejang berulang.
  • Gangguan penglihatan (objek menjadi kabur atau ganda).

 

Diagnosis Hidrosefalus

 

Diagnosis hidrosefalus pada bayi dapat dilihat dari ukuran kepalanya yang membesar. Sementara itu, penegakan diagnosis hidrosefalus pada orang dewasa adalah melalui anamnesis terlebih dahulu, lalu dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik dan tes penunjang.

 

Beberapa tes penunjang yang biasanya dilakukan untuk mendiagnosis pasien hidrosefalus adalah USG, CT Scan, dan MRI. Tes penunjang tersebut juga dapat membantu dokter mengetahui penyebab hidrosefalus dan mendeteksi lebih awal kemungkinan gangguan kesehatan lainnya.

 

Pengobatan Hidrosefalus

 

Terdapat dua pengobatan yang umumnya dilakukan pada pasien hidrosefalus, yaitu sistem shunt dan ventrikulostomi. Berikut masing-masing penjelasannya.

 

Sistem Shunt

 

Sistem shunt adalah prosedur bedah yang dilakukan dengan menempatkan kateter (tabung dilengkapi katup) di dalam otak untuk mengeluarkan cairan serebrospinal yang berlebihan di dalam otak menuju bagian tubuh lain, seperti rongga dada, ruang jantung, dan perut. Dengan begitu, cairan serebrospinal yang terdapat dalam otak pun dapat terjaga keseimbangannya.

 

Prosedur ini perlu dilakukan seumur hidup. Dalam artian, penderita hidrosefalus harus rutin memeriksakan kondisinya untuk  memantau kondisi kateter di dalam otak.

 

Ventrikulostomi

 

Ventrikulostomi adalah prosedur bedah yang melibatkan penggunaan endoskopi untuk memantau keadaan di dalam otak. Pada prosedur ini, dokter akan membuat lubang sayatan di antara ventrikel atau di bagian bawah salah satu ventrikel.

 

Tujuan ventrikulostomi pada pasien hidrosefalus adalah membantu mengeluarkan cairan serebrospinal dari dalam otak. Prosedur bedah ini selesai ketika cairan yang berlebihan sudah berhasil dikeluarkan dari otak. Setelah itu, dokter akan menutup sayatan atau lubang pada otak dan kepala dengan membuat jahitan. 

 

Penyakit hidrosefalus adalah kondisi penumpukan cairan berlebihan di dalam otak. Perlu diketahui jika penyebab dan gejala yang disebutkan di atas tidak mewakili kondisi hidrosefalus secara spesifik. Maka dari itu, sangat penting bagi si kecil mendapatkan diagnosis yang tepat dan akurat dengan mengunjungi Dokter Spesialis Pediatri (Anak) di Siloam Hospitals terdekat.

 

Sebagai informasi, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang Anda jalani terkait hidrosefalus dapat berbeda bergantung pada fasilitas kesehatan masing-masing rumah sakit. Tenaga medis profesional akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi medis setiap pasien. 

 

Anda bisa memanfaatkan MySiloam untuk melihat jadwal praktik dokter hingga memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh supaya bisa menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

 

Digital Booking Lab&Rad - KV 2

Dokter Kami
dr-kelvin-yuwanda-spn

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-jerry-hartawan--sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-dorothea-fortuna-meita-caturwulan-sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail