Intoleransi Laktosa - Penyebab, Gejala, dan Penanganannya
Kesehatan Tubuh

Intoleransi Laktosa - Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

11 November 2025 4 menit waktu baca
Intoleransi Laktosa - Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

Table of Contents

Intoleransi laktosa adalah gangguan pencernaan yang terjadi karena tubuh tidak mampu mencerna laktosa dengan baik. Kondisi ini dapat menimbulkan sejumlah gejala, seperti perut kembung, nyeri perut, diare, dan sering buang angin.

 

Penyebab utama intoleransi laktosa adalah rendahnya produksi enzim laktase yang berfungsi memecah laktosa di dalam usus kecil. Akibatnya, laktosa yang tidak tercerna tersebut akan masuk ke dalam usus besar dan difermentasi oleh bakteri.

 

Mari simak artikel berikut untuk mengenal penyebab, gejala, hingga cara mengatasi intoleransi laktosa selengkapnya.

 

Apa itu Intoleransi Laktosa?

 

Intoleransi laktosa adalah gangguan pencernaan yang ditandai dengan ketidakmampuan usus dalam mencerna laktosa. Hal tersebut dapat terjadi karena kurangnya enzim laktase di dalam usus kecil.

 

Pada kondisi normal, laktosa akan dipecah menjadi gula sederhana, yaitu glukosa dan galaktosa oleh laktase dalam usus kecil yang digunakan oleh tubuh untuk membentuk energi. Namun, pada pengidap intoleransi laktosa, usus kecil tidak mampu memecah laktosa menjadi gula sederhana sehingga akan ikut terbawa ke dalam usus besar. Akibatnya, laktosa tersebut akan difermentasi oleh bakteri dalam usus besar dan berubah menjadi gas yang memicu gangguan pencernaan.

 

Penyebab Intoleransi Laktosa

 

Berdasarkan penyebabnya, intoleransi laktosa dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu intoleransi laktosa primer, sekunder, dan bawaan. Berikut masing-masing penjelasannya.

 

Intoleransi Laktosa Primer

 

Intoleransi laktosa primer merupakan jenis intoleransi laktosa yang paling umum terjadi. Perlu diketahui, anak-anak pengidap intoleransi laktosa awalnya dapat mengonsumsi susu tanpa mengalami gangguan pencernaan. Seiring dengan pertambahan usia, intensitas konsumsi susu tersebut cenderung berkurang sehingga menyebabkan produksi hormon laktase sedikit menurun secara alami.

 

Namun, pada pengidap intoleransi laktosa primer, produksi hormon laktase ini akan menurun secara signifikan sehingga menyebabkan sistem pencernaan tidak mampu mencerna laktosa dalam susu dengan baik.

 

Intoleransi Laktosa Sekunder

 

Penurunan hormon laktase pada pengidap intoleransi laktosa sekunder umumnya disebabkan oleh masalah kesehatan tertentu, seperti radang usus besar, infeksi usus, penyakit celiac, serta Crohn’s disease. Selain itu, intoleransi laktosa sekunder juga bisa terjadi karena efek samping perawatan kemoterapi atau konsumsi obat antibiotik dalam jangka panjang. Jika penyebab yang mendasarinya ditangani dengan tepat, intoleransi laktosa sekunder ini dapat disembuhkan.

 

Intoleransi Laktosa Bawaan

 

Intoleransi laktosa bawaan adalah jenis intoleransi laktosa yang disebabkan oleh kelainan genetik. Intoleransi laktosa bawaan merupakan kondisi langka di mana kedua orang tua menurunkan varian gen tertentu yang mengakibatkan terjadinya intoleransi laktosa.

 

Faktor Risiko Intoleransi Laktosa

 

Sejumlah faktor yang turut meningkatkan risiko seseorang mengalami intoleransi laktosa adalah sebagai berikut:

  • Pertambahan usia. Intoleransi laktosa lebih sering dialami oleh orang dewasa.
  • Lahir secara prematur.
  • Menderita masalah kesehatan yang berdampak pada usus kecil, seperti pertumbuhan bakteri berlebih di dalam usus, penyakit celiac, dan Crohn’s disease.
  • Pernah menjalani pengobatan kanker sebelumnya, seperti perawatan kemoterapi.

 

Gejala Intoleransi Laktosa

 

Biasanya, gejala intoleransi laktosa akan muncul 30 menit hingga 2 jam setelah pengidapnya mengonsumsi makanan yang mengandung laktosa tinggi. Gejala umum dari intoleransi laktosa adalah:

 

Diagnosis Intoleransi Laktosa

 

Langkah awal yang dilakukan oleh dokter untuk mendiagnosis intoleransi laktosa adalah dengan melakukan wawancara medis dan pemeriksaan fisik. Jika diperlukan, dokter juga akan melanjutkan dengan pemeriksaan penunjang. Adapun tindakan medis yang dilakukan oleh dokter sebagai cara mengetahui intoleransi laktosa adalah sebagai berikut:

  • Tes toleransi laktosa. Melalui tes ini, dokter akan meminta pasien untuk mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung laktosa tinggi. Lalu, dokter akan mengambil sampel darah pasien untuk memeriksa kadar glukosanya. Bila kadar glukosa tidak mengalami peningkatan, kondisi tersebut bisa menjadi indikasi adanya intoleransi laktosa.
  • Tes napas hidrogen. Tes ini dilakukan dengan mengarahkan pasien untuk mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung laktosa tinggi guna memeriksa kadar hidrogen di dalam napas. Pasalnya, napas yang mengandung hidrogen tinggi bisa jadi tanda seseorang mengalami intoleransi laktosa.
  • Tes keasaman feses. Tes keasaman feses dalam diagnosis intoleransi laktosa adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan mengambil sampel feses untuk memeriksa kadar asam laktat, glukosa, serta asam lemak rantai pendek lainnya.

Perawatan Intoleransi Laktosa

 

Apakah intoleransi laktosa bisa sembuh? Hingga kini, masih belum diketahui metode pengobatan yang efektif dalam meningkatkan produksi laktase sebagai cara mengatasi intoleransi laktosa.

 

Namun, dokter akan menganjurkan untuk membatasi konsumsi makanan yang mengandung laktosa tinggi guna mengendalikan gejala intoleransi laktosa tersebut. Adapun sejumlah makanan yang perlu dibatasi konsumsinya oleh pengidap intoleransi laktosa adalah sebagai berikut:

  • Susu sapi atau susu kambing.
  • Produk olahan susu, seperti mentega, keju, dan yogurt.
  • Makanan yang mengandung laktosa, seperti biskuit, kue, cokelat, mayones, daging olahan, dan sereal.

 

Bila Anda mengeluhkan gejala-gejala seperti ulasan di atas, jangan ragu untuk mengunjungi Siloam Hospitals terdekat agar mendapatkan tindakan medis yang tepat dari dokter terkait.


Atau, gunakan fitur Cari Dokter untuk menemukan jadwal dokter, booking, dan buat janji dengan dokter terkait. Fitur tersebut dapat ditemukan dalam aplikasi MySiloam yang dapat memudahkan Anda dalam pemesanan paket kesehatan dari mana saja dan kapan saja. Mari unduh aplikasinya sekarang dan jaga kesehatan Anda #BersamaSiloam!

 

Digital Booking Lab&Rad - KV 3

Dokter Kami
dr-albertus-daniel-sppd

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Albertus Daniel, SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ra-aditya-adhi-puruhita-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ra Aditya Adhi Puruhita, M.M.R., SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-juliyanti-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Juliyanti, SpPD, FINASIM

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Kelapa Dua

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail