Kesehatan Tubuh
Kolera - Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi, dan Pencegahan

Table of Contents
Kolera adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Vibrio Cholerae. Kolera menyebabkan pengidapnya mengalami gejala diare parah dan dehidrasi. Kondisi ini dapat berakibat fatal jika tidak ditangani dengan tepat.
Kolera sering terjadi pada masyarakat yang tinggal di kawasan penduduk tanpa sanitasi layak. Negara yang terdampak perang, dilanda kemiskinan dan bencana alam juga cenderung memiliki risiko tinggi terkena wabah kolera. Simak ulasan berikut ini untuk mengetahui lebih lanjut tentang penyakit kolera.
Apa itu Kolera?
Cholera atau kolera adalah penyakit infeksi yang mengganggu sistem pencernaan. Gejala utama yang dialami penderita kolera adalah diare parah serta dehidrasi. Penularan kolera kerap kali berasal dari air yang terkontaminasi bakteri Vibrio cholerae.
Kolera adalah penyakit yang sudah ada sejak dahulu, di mana saat itu sistem pembuangan dan sanitasi masih belum sebaik sekarang. Penyakit ini menyebar hampir di seluruh dunia.
Seiring membaiknya sanitasi yang didukung dengan berkembangnya teknologi, kasus kolera mengalami penurunan drastis. Akan tetapi, kasus kolera di beberapa negara masih cukup tinggi, khususnya negara berkembang yang memiliki sistem sanitasi buruk, padat penduduk, area perang atau kawasan bencana alam.
Menurut data dari WHO (World Health Organization), jumlah kasus kolera di seluruh dunia mencapai 1,3-4 juta kasus per tahunnya. Bahkan, data tersebut juga mencatat angka kematian akibat kolera berkisar 21-143 ribu setiap tahunnya.
Penyebab Kolera
Kolera disebabkan oleh infeksi bakteri Vibrio cholerae yang hidup di alam bebas, seperti sungai, sumur, atau danau. Sumber utama penyebaran bakteri kolera adalah air atau makanan yang terkontaminasi bakteri Vibrio cholerae.
Selain itu, tubuh juga bisa terinfeksi melalui tangan yang tidak dicuci bersih atau dicuci dengan air yang terkontaminasi bakteri V. cholerae.
Beberapa makanan yang kerap menjadi sarang bakteri kolera adalah:
- Sayur dan buah-buahan yang belum dicuci.
- Biji-bijian, seperti gandum dan beras.
- Makanan laut, terutama yang tidak dimasak dengan baik.
Bakteri kolera dalam makanan tidak semerta-merta dapat menginfeksi manusia. Dibutuhkan bakteri dalam jumlah banyak untuk membuat seseorang terkena penyakit kolera. Di mana 1 dari 10 orang yang terinfeksi bakteri kolera akan mengalami gejala pencernaan dalam hitungan jam hingga 5 hari setelah infeksi.
Saat bakteri kolera berhasil masuk ke dalam tubuh dan menginfeksi, bakteri akan berkembang biak di dalam usus kecil. Di mana, perkembang biakan ini dapat mengganggu penyerapan air dan mineral dalam sistem pencernaan. Akibatnya, penderita akan mengalami diare cair yang cukup parah sehingga sering kali mengalami dehidrasi.
Faktor Risiko Kolera
Selain beberapa sumber infeksi di atas, terdapat sejumlah faktor lain yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kolera, yaitu:
1. Kekurangan Asam Lambung
Cairan asam lambung dapat menjadi tameng untuk mencegah tumbuhnya bakteri V. cholerae. Pasalnya, bakteri tersebut tidak dapat bertahan di lingkungan dengan tingkat keasaman tinggi. Artinya, seseorang yang memiliki tingkat asam lambung rendah akan lebih rentan terkena infeksi kolera.
2. Tinggal di Lingkungan yang Kurang Bersih
Bakteri kolera dapat tumbuh dengan pesat di lingkungan yang memiliki sistem sanitasi kurang baik, seperti kurangnya suplai air bersih. Inilah mengapa kolera sering ditemukan pada tempat pengungsian, daerah peperangan, dan sejenisnya.
3. Satu Rumah dengan Penderita
Kolera adalah penyakit infeksi yang dapat menular melalui jalur makanan. Jika Anda tinggal satu rumah dengan penderita kolera dan berbagi makanan bersama, maka risiko tertular infeksi bakteri kolera akan semakin tinggi. Terutama jika tidak didukung dengan sanitasi yang baik, serta tidak menjaga kebersihan makanan dan minuman yang dikonsumsi.
4. Mengonsumsi Makanan Setengah Matang
Bakteri kolera adalah bakteri yang sering ditemukan pada hewan laut dan daging. Apabila Anda mengonsumsi makanan laut dan daging-dagingan yang tidak dimasak dengan baik, kemungkinan terserang penyakit ini akan lebih tinggi.
5. Golongan Darah O
Meski penyebab pastinya belum ditemukan, namun orang dengan golongan darah O diketahui memiliki risiko dua kali lebih tinggi terjangkit penyakit kolera bila dibandingkan dengan golongan darah lainnya.
Gejala Kolera
Gejala utama dan yang pasti dialami oleh penderita kolera adalah diare berat. Karakteristik diare akibat kolera dapat dilihat dari perbedaan bentuk feses yang menjadi cair dan berwarna putih pucat menyerupai susu atau air cucian beras. Pada sebagian kasus kolera, gejala diare terjadi berulang kali hingga penderitanya mengalami dehidrasi.
Selain diare, beberapa gejala yang muncul akibat kolera adalah sebagai berikut:
- Mual dan muntah.
- Dehidrasi dan kelelahan.
- Elektrolit dalam tubuh tidak seimbang.
- Hipoglikemia (gula darah rendah).
- Mengalami syok, seperti tekanan darah rendah, pusing, jantung berdetak cepat, serta nyeri dan kram kaki.
Kolera pada anak-anak sering kali memunculkan gejala yang lebih berat dibandingkan pada orang dewasa. Hal ini dikarenakan anak yang terinfeksi bakteri lebih rentan mengalami dehidrasi dan hipoglikemia, di mana kondisi ini dapat menyebabkan penurunan kesadaran hingga koma.
Cara Mengatasi Kolera
Kolera adalah kondisi yang dapat berujung fatal apabila tidak ditangani dengan segera. Beberapa pengobatan yang biasa dilakukan untuk mengatasi kolera adalah sebagai berikut.
1. Rehidrasi
Diare akibat kolera menyebabkan hilangnya cairan elektrolit dalam tubuh. Oleh karena itu, untuk menggantinya diperlukan larutan rehidrasi sederhana berupa oralit. Oralit diyakini efektif dalam mengembalikan cairan elektrolit dalam tubuh.
2. Menyuntikkan Cairan Infus
Apabila upaya rehidrasi oral menggunakan oralit belum memberikan dampak signifikan terhadap penderita kolera, maka dokter dapat memberikan cairan tambahan melalui infus.
3. Pemberian Antibiotik
Antibiotik bukanlah pengobatan utama dari kolera. Akan tetapi, beberapa jenis antibiotik diketahui berpotensi meredakan gejala diare akibat kolera.
4. Mengonsumsi Suplemen Zinc
Dalam beberapa penelitian, ditunjukkan bahwa zinc merupakan senyawa yang dapat mengurangi gejala diare akibat kolera pada anak-anak.
Pencegahan Kolera
Kolera adalah penyakit yang masih dapat dicegah dengan menerapkan beberapa upaya berikut ini:
- Pastikan Anda minum dari sumber air yang bersih.
- Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
- Mengonsumsi makanan yang sudah matang dengan baik.
- Cuci bersih buah dan sayur sebelum mengonsumsinya, usahakan memilih buah yang dapat dikupas.
- Hindari produk susu yang tidak dipasteurisasi atau tidak disterilkan.
Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, kolera adalah kondisi yang memerlukan perawatan dengan segera. Apabila Anda merasakan gejala seperti di atas, segera konsultasikan ke dokter Siloam Hospitals untuk mengetahui penyebab dan mendapatkan penanganan secara tepat.
Anda dapat berkonsultasi secara langsung dengan mengunjungi Siloam Hospitals atau menggunakan fitur telekonsultasi melalui aplikasi MySiloam. Untuk membuat janji temu dengan dokter, Anda dapat menghubungi call center kami di 1-500-911 atau menggunakan fitur yang tersedia di aplikasi MySiloam.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kelapa Dua
Tersedia :
Tersedia hari ini







