Apa Itu Kraniotomi? Ini Indikasi, Prosedur, dan Efek Sampingnya
Kesehatan Tubuh

Apa Itu Kraniotomi? Ini Indikasi, Prosedur, dan Efek Sampingnya

08 Juni 2026 6 menit waktu baca
kraniotomi adalah

Kraniotomi adalah prosedur pembedahan dengan membuka sebagian pada tulang tengkorak untuk menindaklanjuti penyebab kerusakan atau gangguan otak, seperti infeksi, perdarahan, hingga tumor otak. Tindakan ini biasanya dilakukan oleh dokter spesialis bedah saraf dengan bantuan dokter spesialis anestesi.

 

Mari pahami lebih lanjut mengenai indikasi, prosedur, hingga efek samping kraniotomi selengkapnya melalui pembahasan berikut.

 

Apa Itu Kraniotomi?

 

Operasi kraniotomi adalah tindakan medis yang dilakukan dengan mengangkat sebagian kecil dari tulang tengkorak (bone flap) untuk menjangkau bagian otak yang terdapat masalah. Pada prosedur ini, tulang tengkorak yang diangkat akan dipasang kembali setelah tindakan pada otak selesai dilakukan. 

 

Hal ini berbeda dengan kraniektomi, yaitu prosedur pengangkatan sebagian tulang tengkorak tanpa pemasangan kembali secara langsung karena tulang perlu disimpan sementara hingga kondisi pasien memungkinkan dilakukan pemasangan kembali pada tahap berikutnya.

 

Meskipun kerap dikenal sebagai operasi tumor otak, tindakan medis ini juga bisa digunakan untuk mendiagnosis dan menangani gangguan otak lainnya, seperti stroke, abses otak, hingga epilepsi.

 

“Tindakan kraniotomi merupakan tindakan yang biasa dilakukan dokter bedah saraf, dapat mengakses semua penyakit yang berhubungan dengan kelainan yang ada di dalam otak.”

 dr. Alvin Abrar Harahap, SpBS

 

Menurut studi yang dipublikasi di PubMed Central, tingkat ketahanan hidup 5 tahun pada 35 pasien yang menjalani kraniotomi mencapai 80,4%. Melihat angka tersebut, kraniotomi dapat dinilai sebagai tindakan medis yang cukup efektif untuk menangani berbagai gangguan otak, sesuai indikasi.

 

Jenis-Jenis Kraniotomi

 

Berdasarkan peralatan medis yang digunakan, operasi kraniotomi dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu:

 

Berdasarkan teknik

  • Conventional/Standard Craniotomy.

  • Keyhole Craniotomy.

  • Endoscopic Craniotomy.

  • Microsurgical Craniostomy.

  • Awake Craniotomy.

  • Stereotactic Craniotomy.

  • Robot-Assisted Craniotomy.

  • Decompressive Craniectomy.

Berdasarkan lokasi

Kraniotomi ini juga dapat diklasifikasikan sesuai dengan bagian tulang tengkorak yang menjadi lokasi pembedahan. Berikut adalah beberapa jenis kraniotomi berdasarkan lokasi pembedahannya.

 

  • Kraniotomi frontal: Tindakan kraniotomi yang dilakukan membuka tulang kepala bagian depan sebelah kiri atau kanan apabila ada perdarahan pada otak.

  • Kraniotomi temporal (pterional): Tindakan pada kepala bagian samping kiri atau kanan. Biasanya dilakukan untuk tindakan perdarahan otak, tumor otak, atau kelainan pembuluh darah seperti aneurisma.

  • Kraniotomi bifrontal: Tindakan yang dilakukan membuka tulang kepala bagian depan sebelah kiri dan kanan. Biasanya dilakukan untuk tindakan dekompresi pada perdarahan otak ataupun tumor otak yang berada pada dasar tulang kepala bagian depan.

  • Kraniotomi oksipital: Dilakukan tindakan membuka tulang kepala bagian belakang, bukan daerah otak kecil. Umumnya, tindakan dilakukan pada tumor otak maupun perdarahan otak.

  • Kraniotomi fossa posterior: Tindakan yang dilakukan untuk membuka tulang kepala bagian otak kecil. Umumnya dilakukan untuk tindakan perdarahan otak maupun tumor otak yang berada pada otak kecil yang dekat dengan batang otak ataupun meliputi daerah CPA (cerebro pontinev angle).

Selain itu, operasi kraniotomi juga dapat dilakukan ketika pasien dalam keadaan sadar atau dikenal dengan sebutan awake craniotomy. Melalui prosedur ini, dokter dan perawat akan mengajak pasien untuk terus berbicara guna menilai fungsi otak pasien selama pembedahan dilakukan.

 

Kondisi yang Memerlukan Operasi Kraniotomi

 

Adapun sejumlah kondisi medis yang dapat ditindaklanjuti dengan prosedur kraniotomi adalah sebagai berikut:

 

Prosedur Operasi Kraniotomi

 

Operasi kraniotomi dapat dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu persiapan, prosedur pelaksanaan serta perawatan pascaoperasi. Adapun penjelasan lengkap dari prosedur kraniotomi adalah sebagai berikut:

 

Persiapan

 

Pada dasarnya, persiapan operasi kraniotomi ini bisa berbeda-beda pada setiap pasien sesuai dengan kondisi dan tingkat keparahannya. Apabila cedera kepala dan perdarahan pada otak termasuk dalam kondisi gawat darurat, dokter dapat melakukan tindakan kraniotomi sesegera mungkin tanpa memerlukan persiapan khusus.

 

Namun, jika pasien tidak sedang dalam kondisi gawat darurat, maka sebelum menjalani prosedur kraniotomi, dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik dan menanyakan riwayat medis pasien terlebih dahulu. Selain itu, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan penunjang, seperti tes darah, CT scan, atau MRI otak.

 

Pada kondisi tertentu, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan lain sesuai indikasi, misalnya electroencephalogram (EEG) pada pasien yang menjalani evaluasi untuk operasi epilepsi atau pungsi lumbal pada pasien yang dicurigai mengalami infeksi pada saraf pusat.

 

Menimbang bahwa kraniotomi merupakan prosedur yang melibatkan organ vital, yakni otak, maka dapat dipahami jika pasien merasa memerlukan waktu dan informasi lebih menyeluruh, sebelum memutuskan menjalani operasi kraniotomi. Dalam hal ini, pasien bisa melakukan konsultasi second opinion untuk mengevaluasi hasil diagnosis serta rencana terapi yang disarankan. 

 

Setelah pasien dinyatakan memenuhi syarat untuk menjalani kraniotomi, dokter akan meminta pasien untuk berpuasa selama 8 jam sebelum operasi guna menghindari komplikasi terkait penggunaan obat-obatan bius (anestesi) seperti mual, muntah, atau terganggunya jalan napas akibat isi lambung yang naik. Dokter juga dapat memotong sebagian atau seluruh rambut pasien untuk memudahkan prosedur pembedahan otak nantinya.

 

Prosedur Pelaksanaan

 

Prosedur pelaksanaan dan langkah-langkah yang dilakukan dokter untuk menjalani operasi kraniotomi adalah sebagai berikut:

 

  • Memberikan obat bius atau anestesi untuk menghilangkan rasa nyeri dan membuat pasien tertidur selama operasi berlangsung. Kraniotomi juga dapat dilakukan saat pasien dalam kondisi sadar dengan menggunakan metode anestesi lokal pada lokasi sayatan yang akan dibuat agar pasien tidak merasakan sakit selama prosedur pembedahan berlangsung.

  • Mengoleskan antiseptik pada permukaan kulit kepala pasien.

  • Membuat sayatan pada kulit kepala pasien.

  • Melubangi tengkorak menggunakan bor medis khusus (perforator).

  • Memotong tulang tengkorak menggunakan craniotome.

  • Melakukan tindakan sesuai tujuan operasi, seperti mengangkat tumor, mengangkat perdarahan, memperbaiki pembuluh darah atau mengambil sampel jaringan.

  • Setelah operasi selesai dilakukan, dokter dapat menaruh kembali tulang tengkorak yang diangkat sebelumnya menggunakan pelat dan sekrup khusus.

  • Menjahit otot dan kulit kepala pasien menggunakan benang khusus.

  • Menutup bekas sayatan dengan perban atau pembalut steril.

 

Pascaoperasi

 

Setelah operasi selesai dilakukan, pasien akan dipindahkan ke ruang ICU untuk diobservasi lebih lanjut. Dokter juga dapat melakukan pemeriksaan fungsi saraf dan otak untuk memastikan organ tersebut tetap berfungsi dengan baik setelah operasi.

 

Jika pasien sudah dalam keadaan sadar dan kondisi umumnya telah stabil, dokter dapat menyarankan pasien untuk menjalani terapi fisik atau fisioterapi guna mengoptimalkan proses pemulihan.

 

Sementara itu, untuk perawatan di rumah, pasien dianjurkan untuk memperbanyak istirahat, mencukupi kebutuhan cairan tubuh, mengonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang, tidak merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol, serta membatasi aktivitas fisik berat terlebih dahulu. Pasien juga perlu merawat area bekas luka operasi agar tetap kering dan bersih.

 

Keberhasilan dan prognosis pascakraniotomi sangat tergantung pada penyakit yang mendasari, lokasi kelainan, usia, dan kondisi umum dari pasien.

 dr. Alvin Abrar Harahap, SpBS

 

Efek Samping Kraniotomi

 

Kraniotomi adalah prosedur medis yang tergolong aman untuk dilakukan. Meski begitu, sejumlah risiko dan efek samping bisa terjadi akibat operasi kraniotomi, di antaranya:

 

  • Perdarahan atau pembekuan darah.

  • Infeksi pada bekas luka operasi.

  • Pembengkakan atau peradangan pada otak.

  • Kebocoran cairan serebrospinal.

  • Kejang.

  • Tekanan darah tidak stabil.

  • Pneumonia. Dapat terjadi pada pasien yang menjalani perawatan lama sehingga terjadi infeksi pada paru.

  • Gangguan keseimbangan tubuh.

  • Kelumpuhan.

  • Kesulitan berbicara.

  • Gangguan daya ingat.

  • Perubahan suasana hati.

  • Kelemahan otot.

  • Koma. 

 

Penting untuk diketahui bahwa prosedur kraniotomi hanya direkomendasikan bagi pasien setelah diagnosis dikonfirmasi. Dokter akan terlebih dahulu mendiskusikan dan mempertimbangkan dengan seluruh tim medis terkait kondisi pasien, untuk memastikan pasien telah memenuhi persyaratan dalam menjalani tindakan ini dan memang memerlukannya.

 

Diagnosis yang akurat dan pengobatan yang terarah adalah kunci dari pemulihan optimal. Karenanya, penting untuk mempertimbangkan referensi tepercaya, ketersediaan layanan dan tenaga ahli, serta reputasi, dalam memilih rumah sakit saraf terbaik untuk Anda dan keluarga. Tidak hanya untuk berobat, tapi juga saat mencari second opinion untuk mendapatkan informasi menyeluruh sebelum menjalani operasi.


Anda bisa mendapatkan pandangan medis kedua berstandar internasional di dalam negeri. Guna memperoleh informasi terkait gejala yang mengarah pada cedera otak, abses, atau tumor otak, Anda dapat berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Bedah Saraf di Siloam Hospitals terdekat.

 

Perlu dipahami bahwa setiap tahapan pemeriksaan dan metode pengobatan yang Anda jalani dapat berbeda pada fasilitas kesehatan. Tenaga medis profesional akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi medis setiap pasien.

 

Untuk memudahkan akses layanan, Anda dapat menghubungi Siloam Medical Concierge untuk mendapatkan informasi terkait jadwal dokter, layanan pemeriksaan, serta fasilitas medis yang tersedia. Mari mulai langkah menuju kesembuhan Anda, di sini, di Indonesia.

 

second opinion penanganan komprehensif

message

ArticleDetail