Kesehatan Tubuh
Apa Itu Kraniotomi? Ini Indikasi, Prosedur, dan Efek Sampingnya

Table of Contents
Craniotomy atau kraniotomi adalah prosedur pembedahan dengan membuat lubang pada tulang tengkorak untuk menindaklanjuti penyebab kerusakan atau gangguan otak, seperti infeksi, perdarahan, hingga tumor otak. Tindakan ini biasanya dilakukan oleh dokter spesialis bedah saraf dengan bantuan dokter spesialis anestesi.
Mari pahami lebih lanjut mengenai indikasi, prosedur, hingga efek samping kraniotomi selengkapnya melalui pembahasan berikut.
Apa Itu Kraniotomi (Craniotomy)?
Operasi kraniotomi adalah tindakan medis yang dilakukan dengan mengangkat sebagian kecil dari tulang tengkorak (bone flap) untuk menjangkau bagian otak yang terdapat masalah. Meskipun kerap dikenal sebagai operasi kanker otak, tindakan medis ini juga bisa digunakan untuk mendiagnosis dan menangani gangguan otak lainnya, seperti stroke, abses otak, hingga epilepsi.
Menurut studi yang dipublikasi di PubMed Central, tingkat ketahanan hidup 5 tahun pada 35 pasien yang menjalani kraniotomi mencapai 80,4%. Melihat angka tersebut, kraniotomi dapat dinilai sebagai tindakan medis yang cukup efektif untuk menangani berbagai gangguan otak, sesuai indikasi.
Jenis-Jenis Kraniotomi
Berdasarkan peralatan medis yang digunakan, operasi kraniotomi dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu:
-
Stereotactic craniotomy: Kraniotomi yang melibatkan CT scan atau MRI untuk memeriksa kondisi otak dalam bentuk gambar tiga dimensi. Jenis kraniotomi ini memungkinkan dokter bedah untuk membedakan jaringan otak yang sehat dengan yang tidak. Selain itu, kegunaan lainnya dari stereotactic craniotomy adalah untuk keperluan biopsi jaringan otak yang bermasalah, aspirasi cairan (abses, hematoma, atau kista), dan gamma knife radiosurgery.
-
Endoscopic craniotomy: Melalui prosedur ini, setelah membuat lubang kecil pada tulang tengkorak, dokter dapat memasukkan endoskop (alat tabung tipis yang dilengkapi kamera) untuk mendiagnosis ataupun menangani gangguan pada otak, seperti aneurisma otak, yakni ketika pembuluh darah otak menggembung dan rentan pecah.
Di sisi lain, operasi kraniotomi ini juga dapat diklasifikasikan sesuai dengan bagian tulang tengkorak yang menjadi lokasi pembedahan. Berikut adalah beberapa jenis kraniotomi berdasarkan lokasi pembedahannya.
-
Keyhole craniotomy: Pembedahan yang dilakukan dengan membuat lubang kecil pada tengkorak di bagian belakang telinga, sehingga dapat mengakses bagian otak kecil dan batang otak. Prosedur pembedahan ini biasanya digunakan bersamaan dengan kraniotomi endoskopi untuk menangani tumor otak tanpa perlu membuat sayatan yang terlalu lebar.
-
Pterional craniotomy: Jenis kraniotomi yang dilakukan dengan membuat sayatan di dekat pelipis atau belakang garis rambut di sisi kepala untuk mengangkat sebagian tulang pterion.
-
Posterior fossa craniotomy: Prosedur pembedahan dengan mengangkat tulang fossa posterior yang terletak di bagian dasar tengkorak untuk menangani tumor yang terletak di dekat otak kecil dan batang otak.
-
Supra-orbital craniotomy: Tindakan operasi dengan mengangkat sebagian tulang tengkorak di sekitar alis.
-
Orbitozygomatic craniotomy: Melalui tindakan ini, dokter akan membuat sayatan di belakang garis rambut untuk mengangkat tulang orbitozygomatic (tulang yang membentuk soket mata dan pipi). Jenis kraniotomi ini biasanya dilakukan untuk menangani aneurisma atau tumor otak yang rumit.
-
Bifrontal craniotomy: Tindakan ini dilakukan dengan mengangkat tulang tengkorak yang berada di dahi untuk mengangkat tumor yang terletak di otak bagian depan.
-
Translabyrinthine craniotomy: Prosedur pembedahan dengan mengangkat kanal semisirkularis dan tulang mastoid di bagian dalam telinga. Prosedur ini umumnya dilakukan untuk menangani neuroma akustik.
Selain itu, operasi kraniotomi juga dapat dilakukan ketika pasien dalam keadaan sadar atau dikenal dengan sebutan awake craniotomy. Melalui prosedur ini, dokter dan perawat akan mengajak pasien untuk terus berbicara guna menilai fungsi otak pasien selama pembedahan dilakukan.
Kondisi yang Memerlukan Operasi Kraniotomi
Adapun sejumlah kondisi medis yang dapat ditindaklanjuti dengan prosedur kraniotomi adalah sebagai berikut:
-
Trauma atau cedera pada otak.
-
Kanker atau tumor otak.
-
Aneurisma otak.
-
Pemasangan alat khusus (deep brain stimulation) untuk menangani penyakit Parkinson.
-
Stroke.
-
Hematoma atau bekuan darah di otak.
Prosedur Operasi Kraniotomi
Operasi kraniotomi dapat dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu persiapan, prosedur pelaksanaan serta perawatan pascaoperasi. Adapun penjelasan lengkap dari prosedur kraniotomi adalah sebagai berikut:
Persiapan
Pada dasarnya, persiapan operasi kraniotomi ini bisa berbeda-beda pada setiap pasien sesuai dengan kondisi dan tingkat keparahannya. Apabila cedera kepala dan perdarahan pada otak termasuk dalam kondisi gawat darurat, maka dokter dapat melakukan tindakan kraniotomi sesegera mungkin tanpa memerlukan persiapan khusus.
Namun, jika pasien tidak sedang dalam kondisi gawat darurat, maka sebelum menjalani prosedur kraniotomi, dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik dan menanyakan riwayat medis pasien terlebih dahulu. Selain itu, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan penunjang, seperti tes darah, electroencephalogram (EEG), MRI, CT scan, serta pungsi lumbal untuk mengonfirmasi diagnosis pasien.
Menimbang bahwa kraniotomi merupakan prosedur yang melibatkan organ vital, yakni otak, maka dapat dipahami jika pasien merasa memerlukan waktu dan informasi lebih menyeluruh, sebelum memutuskan menjalani operasi kraniotomi. Dalam hal ini, pasien bisa melakukan konsultasi second opinion untuk mengevaluasi hasil diagnosis serta rencana terapi yang disarankan.
Setelah pasien dinyatakan memenuhi syarat untuk menjalani kraniotomi, dokter akan meminta pasien untuk berpuasa selama 8 jam sebelum operasi guna menghindari komplikasi terkait penggunaan obat-obatan bius (anestesi) seperti mual, muntah, atau terganggunya jalan napas akibat isi lambung yang naik. Dokter juga dapat memotong sebagian atau seluruh rambut pasien untuk memudahkan prosedur pembedahan otak nantinya.
Prosedur Pelaksanaan
Adapun prosedur pelaksanaan dan langkah-langkah yang dilakukan dokter untuk menjalani operasi kraniotomi adalah sebagai berikut:
-
Memberikan obat bius atau anestesi untuk menghilangkan rasa nyeri dan membuat pasien tertidur selama operasi berlangsung. Selain itu, kraniotomi ini juga dapat dilakukan saat pasien dalam kondisi sadar dengan menggunakan metode anestesi lainnya yang dapat membuat pasien tidak merasakan sakit selama prosedur pembedahan berlangsung.
-
Mengoleskan antiseptik pada permukaan kulit kepala pasien.
-
Membuat sayatan pada kulit kepala pasien.
-
Melubangi tengkorak menggunakan bor medis khusus (perforator).
-
Memotong tulang tengkorak menggunakan craniotome.
-
Memperbaiki atau mengangkat bagian otak yang bermasalah.
-
Setelah operasi selesai dilakukan, dokter dapat menaruh kembali tulang tengkorak yang diangkat sebelumnya menggunakan pelat dan sekrup khusus.
-
Menjahit otot dan kulit kepala pasien menggunakan benang khusus.
-
Menutup bekas sayatan dengan perban atau pembalut steril.
Pascaoperasi
Setelah operasi selesai dilakukan, pasien akan dipindahkan ke ruang ICU untuk diobservasi lebih lanjut. Dokter juga dapat melakukan pemeriksaan fungsi saraf dan otak untuk memastikan organ tersebut tetap berfungsi dengan baik setelah operasi.
Jika pasien sudah dalam keadaan sadar dan kondisi umumnya telah stabil, dokter dapat menyarankan pasien untuk menjalani terapi fisik atau fisioterapi guna mengoptimalkan proses pemulihan.
Sementara itu, untuk perawatan di rumah, pasien dianjurkan untuk memperbanyak istirahat, mencukupi kebutuhan cairan tubuh, mengonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang, tidak merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol, serta membatasi aktivitas fisik berat terlebih dahulu. Pasien juga perlu merawat area bekas luka operasi agar tetap kering dan bersih.
Efek Samping Kraniotomi
Kraniotomi adalah prosedur medis yang tergolong aman untuk dilakukan. Meski begitu, sejumlah risiko dan efek samping bisa terjadi akibat operasi kraniotomi, di antaranya:
-
Perdarahan atau pembekuan darah.
-
Infeksi pada bekas luka operasi.
-
Pembengkakan atau peradangan pada otak.
-
Kebocoran cairan serebrospinal.
-
Kejang.
-
Tekanan darah tidak stabil.
-
Gangguan keseimbangan tubuh.
-
Kelumpuhan.
-
Kesulitan berbicara.
-
Gangguan daya ingat.
-
Perubahan suasana hati.
-
Kelemahan otot.
-
Koma.
Penting untuk diketahui bahwa prosedur kraniotomi hanya direkomendasikan bagi pasien setelah diagnosis dikonfirmasi. Dokter akan terlebih dahulu mendiskusikan dan mempertimbangkan dengan seluruh tim medis terkait kondisi pasien, untuk memastikan pasien telah memenuhi persyaratan dalam menjalani tindakan ini dan memang memerlukannya.
Diagnosis yang akurat dan pengobatan yang terarah adalah kunci dari pemulihan optimal. Karenanya, penting untuk mempertimbangkan referensi tepercaya, ketersediaan layanan dan tenaga ahli, serta reputasi, dalam memilih rumah sakit saraf terbaik untuk Anda dan keluarga. Tidak hanya untuk berobat, tapi juga saat mencari second opinion untuk mendapatkan informasi menyeluruh sebelum menjalani operasi.
Didukung fasilitas lengkap, teknologi medis terkini, beserta dokter berpengalaman, Anda bisa mendapatkan pandangan medis kedua berstandar internasional di dalam negeri. Guna memperoleh informasi terkait gejala yang mengarah pada cedera otak, abses, atau tumor otak, Anda dapat berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Bedah Saraf di Siloam Hospitals terdekat.
Perlu dipahami bahwa setiap tahapan pemeriksaan dan metode pengobatan yang Anda jalani dapat berbeda pada fasilitas kesehatan. Tenaga medis profesional akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi medis setiap pasien.
Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk melihat jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, serta memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Ambon
Tersedia :
Tersedia hari ini
Online & Kunjungi Rumah Sakit
Dr. dr. Bagus Sasongko, SpBS, M.Kes, FN-TB, FINSS
Bedah Saraf
Spesialis Bedah Saraf
Siloam Hospitals Lippo Cikarang
Tersedia :
Tersedia hari ini







