Kesehatan Tubuh
Abses Otak (Abses Serebri) - Penyebab, Gejala & Pengobatan

Table of Contents
Abses serebri atau abses otak adalah kondisi medis berupa penumpukan cairan nanah pada ruang kecil di dalam otak. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri atau jamur pada otak/selaput otak akibat trauma kepala berat ataupun menyebarnya infeksi dari bagian tubuh lain.
Mari kenali penyebab, faktor risiko, gejala, diagnosis, hingga pengobatan abses otak selengkapnya melalui pembahasan berikut ini.
Apa itu Abses Otak (Abses Serebri)?
Abses serebri atau abses otak adalah penumpukan cairan nanah yang disebabkan oleh infeksi bakteri atau jamur di dalam otak. Abses otak adalah kondisi yang berbahaya dan mengancam nyawa karena berisiko menyebabkan peradangan yang dapat memengaruhi fungsi otak hingga sepsis dan kematian.
Abses otak adalah kondisi yang dapat dialami oleh semua kalangan usia, namun lebih sering terjadi pada orang-orang berusia 30–45 tahun. Selain itu, seseorang yang menderita penyakit kronis dan memiliki sistem imun tubuh yang lemah, seperti penderita HIV/AIDS, diabetes, atau kanker, juga lebih berisiko mengalami abses otak.
Penyebab Abses Otak
Penyebab utama dari abses otak adalah infeksi bakteri atau jamur pada jaringan otak. Beberapa jenis patogen yang kerap menyebabkan terjadinya abses otak adalah Bacteroides, Staphylococcus, Streptococcus, Enterobacter, jamur Aspergillus, serta parasit Toxoplasma gondii. Patogen tersebut dapat masuk dan menginfeksi otak saat terjadi cedera kepala berat, melalui tindakan operasi di otak, ataupun penyebaran infeksi dari organ tubuh lain.
Faktor Risiko Abses Otak
Adapun sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami abses otak adalah sebagai berikut:
- Mengalami infeksi pada bagian tubuh lain, seperti otitis media (infeksi telinga tengah), mastoiditis (infeksi pada tulang telinga), abses gigi, sinusitis, endokarditis, infeksi paru-paru, dan lain sebagainya.
- Memiliki daya tahan tubuh yang lemah karena kondisi tertentu, seperti kanker, HIV/AIDS, penyakit autoimun, atau menggunakan obat imunosupresan.
- Menderita penyakit jantung bawaan atau kelainan pembuluh darah paru.
- Pernah menjalani tindakan operasi pada bagian kepala.
- Cedera kepala berat.
Gejala Abses Otak
Gejala abses otak cenderung beragam, tergantung pada ukuran serta lokasi abses di dalam otak. Namun, sejumlah gejala umum dari abses otak adalah sebagai berikut:
- Demam tinggi.
- Menggigil.
- Sakit kepala terus-menerus dan berat yang tidak dapat membaik dengan pemberian obat antinyeri.
- Punggung atau leher terasa kaku.
- Mual dan muntah.
- Kejang.
- Gangguan saraf, seperti lemah otot atau lumpuh pada satu sisi tubuh.
- Gangguan penglihatan seperti penglihatan ganda dan kabur.
- Gelisah.
- Penurunan kesadaran.
- Perubahan perilaku seperti kebingungan dan mudah marah.
Komplikasi Abses Otak
Abses otak yang tidak ditangani dengan tepat dan segera berisiko menyebabkan berbagai komplikasi, seperti:
- Abses kambuh kembali.
- Pembengkakan otak.
- Kerusakan jaringan otak.
- Epilepsi.
- Meningitis.
- Sepsis.
- Koma.
- Kematian.
Diagnosis Abses Otak
Langkah awal yang dilakukan dokter untuk mendiagnosis abses otak adalah anamnesis atau wawancara medis untuk mengetahui keluhan serta riwayat penyakit yang dialami oleh pasien. Prosedur diagnosis juga dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik termasuk pemeriksaan fungsi neurologis. Lalu, untuk mengonfirmasi diagnosis abses otak, dokter dapat menggunakan beberapa pemeriksaan penunjang, seperti:
- Tes darah untuk memeriksa keberadaan infeksi di dalam darah.
- Teknik pencitraan, seperti Rontgen, CT Scan, atau MRI untuk memeriksa ukuran dan lokasi abses serebri.
- Biopsi untuk memeriksa perubahan jaringan di dalam otak dan mengetahui patogen penyebab abses otak.
- Lumbal pungsi untuk mengidentifikasi jenis patogen yang menyebabkan abses otak.
- Electroencephalogram (EEG) untuk mengetahui aktivitas kelistrikan otak yang dapat dipengaruhi oleh abses serebri, terutama bagi orang yang menderita kekambuhan kejang.
- Kultur darah, untuk mengidentifikasi bakteri atau jamur penyebab abses otak.
Pengobatan Abses Otak
Abses otak adalah kondisi yang perlu ditangani sesegera mungkin. Setelah pasien dipastikan mengalami abses otak, dokter akan melakukan metode pengobatan tertentu untuk meredakan gejala serta mencegah komplikasi. Beberapa metode pengobatan tersebut di antaranya:
1. Pemberian Obat-obatan
Pemberian obat-obatan ini bertujuan untuk mengatasi infeksi serta meredakan gejala yang dikeluhkan oleh pasien. Jenis obat-obatan yang umum digunakan untuk menangani abses otak adalah:
- Antijamur atau antibiotik untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh jamur atau bakteri.
- Kortikosteroid dan diuretik untuk mengurangi pembengkakan dan tekanan berlebih pada otak.
- Obat antikejang untuk mengendalikan kejang yang terjadi akibat abses otak.
2. Tindakan Operasi
Dokter dapat melakukan tindakan operasi untuk mengangkat abses apabila abses tersebut berukuran lebih dari 2 sentimeter dan berisiko pecah serta merusak jaringan otak di sekitarnya. Terdapat dua jenis tindakan operasi yang umum digunakan untuk menangani abses otak, yaitu:
- Simple aspiration: Prosedur pembedahan dengan membuat lubang kecil pada tengkorak untuk mengeluarkan nanah. Tindakan ini biasanya dilakukan dengan menggunakan bantuan CT Scan untuk memastikan lokasi abses otak.
- Kraniotomi: Tindakan medis dengan mengangkat sebagian kecil tulang tengkorak untuk mengangkat abses dan menangani jaringan otak yang terinfeksi.
Pencegahan Abses Otak
Pada dasarnya, abses otak dapat dicegah dengan menghindari faktor risikonya. Adapun sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk menghindari risiko terjadinya abses otak adalah sebagai berikut:
- Menjaga kebersihan gigi dan mulut.
- Menggunakan alat pelindung, seperti helm, saat berkendara ataupun bekerja di lingkungan yang berisiko menyebabkan cedera kepala.
- Tidak merokok.
- Mengonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang.
- Melakukan vaksinasi untuk menghindari risiko infeksi bakteri tertentu.
- Mengonsumsi obat-obatan sesuai dengan anjuran dokter.
- Menjalani pemeriksaan dan pengobatan secara rutin apabila menderita penyakit kronis, seperti diabetes atau penyakit jantung.
- Menerapkan aktivitas seksual yang sehat untuk mencegah penyebaran penyakit HIV/AIDS.
Jika Anda mengeluhkan gejala seperti ulasan di atas, segera buat janji temu dengan dokter Siloam Hospitals terdekat menggunakan fitur Cari Dokter. Dengan begitu, Anda dapat memperoleh diagnosis dan penanganan medis yang tepat dari dokter terkait.
Dan, untuk memudahkan Anda dalam mengakses berbagai layanan kesehatan, gunakan aplikasi MySiloam yang dapat memudahkan Anda dalam melihat informasi jadwal praktik, membuat appointment dengan dokter terkait, hingga antre secara online. Download aplikasinya sekarang dan jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini







