Kesehatan Tubuh
LGV (Lymphogranuloma Venereum): Penyebab dan Pengobatannya

Table of Contents
Lymphogranuloma venereum atau LGV adalah salah satu jenis infeksi menular seksual yang dapat menimbulkan gejala awal berupa munculnya luka (ulkus) di kelamin serta pembengkakan kelenjar getah bening pada pangkal paha. Kondisi ini biasanya terjadi bersama dengan infeksi menular seksual lain, seperti HIV.
Mari kenali penyebab, gejala, cara mendiagnosis, serta pengobatan LGV selengkapnya melalui pembahasan berikut ini.
Apa itu LGV (Lymphogranuloma Venereum)?
Lymphogranuloma venereum atau LGV adalah salah satu jenis infeksi menular seksual (IMS) yang terjadi akibat infeksi bakteri Chlamydia trachomatis varian tertentu. Kondisi ini biasa dialami oleh siapa saja, namun lebih sering terjadi pada pria berusia 15–40 tahun yang sudah aktif secara seksual.
Penyebab LGV
Penyebab utama LGV adalah infeksi bakteri Chlamydia trachomatis varian L1, L2, dan L3. Perlu diketahui bahwa bakteri tersebut berbeda dengan bakteri Chlamydia trachomatis tipe D-K yang menyebabkan klamidia. Secara umum, infeksi bakteri penyebab LGV dapat menyerang kelenjar getah bening dan bisa menular melalui kontak langsung dengan luka atau berhubungan seksual melalui vagina, anus, atau mulut.
Selain itu, sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami LGV adalah sebagai berikut.
-
Berjenis kelamin pria, terutama jika melakukan hubungan seksual dengan sesama jenis.
-
Berusia 15–40 tahun dan sudah aktif secara seksual.
-
Menderita HIV/AIDS.
-
Menerapkan praktik hubungan seksual yang tidak aman, seperti sering bergonta-ganti pasangan atau melakukan hubungan seksual tanpa pengaman.
-
Menggunakan alat pendukung seks (sex toys) bersama orang lain.
Gejala LGV
Lymphogranuloma venereum dapat menimbulkan gejala yang terbagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap 1, tahap 2, dan tahap 3. Secara umum, pembagian gejala LGV ini dilakukan berdasarkan urutan kejadiannya. Berikut penjelasan mendetail mengenai masing-masing tahapan gejala LGV.
1. LGV Tahap 1
Gejala pada tahap 1 umumnya muncul sekitar 3–12 hari atau bahkan sampai 30 hari setelah terinfeksi bakteri Chlamydia trachomatis. Pada tahap ini, gejala LGV berupa luka atau ulkus kecil yang dangkal di area kelamin atau mulut yang menjadi tempat terjadinya kontak langsung dengan bakteri penyebab LGV.
Luka tersebut juga bisa berkumpul, sehingga kerap diduga sebagai herpes. Namun, luka LGV biasanya tidak menimbulkan rasa nyeri dan dapat menghilang dalam waktu beberapa hari. Karena hal ini pula, LGV pada tahap 1 sering kali tidak disadari oleh penderita.
2. LGV Tahap 2
Gejala LGV tahap 2 dapat terjadi pada 2–6 minggu setelah muncul gejala tahap 1. Pada tahap ini, sebagian penderita mungkin belum menyadari dirinya terinfeksi LGV karena gejalanya bisa serupa dengan beberapa penyakit lain. Adapun beberapa gejala umum LGV pada tahap 2 adalah:
-
Pembengkakan kelenjar getah bening di salah satu atau kedua sisi pangkal paha (buboes). Jika penularan LGV terjadi melalui mulut (oral), gejala yang muncul juga bisa berupa pembengkakan kelenjar getah bening di area leher.
-
Nyeri pada anus.
-
Nyeri saat BAK dan BAB.
-
Perdarahan di anus.
-
BAB terasa seperti belum tuntas (tenesmus).
-
Nyeri kepala.
-
Tidak enak badan (malaise).
-
Sakit perut.
-
Nyeri punggung dan panggul (pada wanita).
-
Demam.
-
Mual dan muntah.
-
Nyeri sendi.
-
Penurunan berat badan tanpa alasan yang jelas.
3. LGV Tahap 3
Gejala pada tahap 3 biasanya muncul ketika LGV tidak segera ditangani dengan tepat. Pada tahap ketiga, luka di area kelamin biasanya sudah sembuh dan akan meninggalkan bekas (scars). Di samping itu, beberapa gejala umum LGV pada tahap 3 adalah:
-
Abses atau penumpukan nanah di area yang terinfeksi.
-
Fistula ani (saluran abnormal yang menghubungkan antara kulit dan anus).
-
Penyempitan saluran anus.
-
Disfungsi otot dasar panggul.
-
Edema atau pembengkakan pada kelenjar getah bening dan area kelamin.
-
Pecahnya kelenjar getah bening.
-
Perubahan bentuk kelamin.
Komplikasi LGV
Secara umum, gejala-gejala yang muncul pada tahap 3 juga bisa digolongkan sebagai komplikasi akibat LGV. Di samping itu, beberapa komplikasi lymphogranuloma venereum yang dapat muncul jika tidak segera ditangani dengan tepat adalah sebagai berikut:
-
Radang panggul pada wanita.
-
Artritis (radang sendi).
-
Nekrosis (kematian jaringan).
-
Kerusakan kelenjar getah bening.
-
Fistula ani.
-
Munculnya jaringan parut pada penis.
-
Pembengkakan pada area kelamin dalam jangka panjang.
Sementara itu, jika terjadi pada ibu hamil, lymphogranuloma venereum dapat menyebabkan bayi yang lahir mengalami konjungtivitis.
Diagnosis LGV
Langkah awal yang dapat dilakukan dokter untuk mendiagnosis LGV adalah wawancara medis (anamnesis) terkait dengan keluhan, riwayat kesehatan, dan perilaku seksual pasien. Lalu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk memeriksa kondisi dubur dan area kelamin pasien.
Selain itu, beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis LGV adalah sebagai berikut:
-
Tes darah serologi, untuk memeriksa keberadaan antibodi yang terbentuk saat tubuh terinfeksi bakteri Chlamydia trachomatis.
-
Nucleic acid amplification test (NAAT), untuk mendeteksi keberadaan bakteri melalui swab test dari jaringan pada area yang terinfeksi atau urine.
-
Pemeriksaan direct immunofluorescence assay, untuk mendeteksi keberadaan antibodi Chlamydia trachomatis.
-
Kultur Chlamydia trachomatis, untuk mendeteksi keberadaan bakteri penyebab LGV melalui sampel cairan dan jaringan dari kelenjar getah bening.
-
CT scan, untuk memeriksa bagian tubuh yang terinfeksi secara mendetail.
Pengobatan LGV
Pengobatan LGV pada dasarnya bertujuan untuk menangani infeksi bakteri serta mencegah risiko terjadinya komplikasi yang dapat memperburuk kondisi pasien. Adapun beberapa metode yang dapat dilakukan oleh dokter untuk menangani lymphogranuloma venereum adalah sebagai berikut:
-
Pemberian antibiotik, seperti doxycycline, erythromycin, atau tetracycline selama 2 minggu.
-
Prosedur pengeluaran nanah jika terdapat pembengkakan kelenjar getah bening akibat penumpukan nanah.
-
Prosedur operasi jika pasien mengalami gejala LGV yang tergolong berat, seperti perubahan bentuk kelamin atau fistula ani. Prosedur ini juga dapat dilakukan apabila gejala tidak kunjung mereda setelah mengonsumsi antibiotik.
-
Pemberian edukasi mengenai cara melakukan hubungan seksual yang aman untuk mencegah penyebaran IMS.
Pasien yang telah terdiagnosis LGV harus menjalani tes chlamydia dalam jangka waktu 3–12 bulan setelah pengobatan. Orang yang pernah melakukan kontak seksual dengan pasien yang mengidap LGV dalam waktu 60 hari sebelum timbulnya gejala pasien juga harus diperiksa untuk mengetahui adanya infeksi klamidia.
Pencegahan LGV
Langkah utama yang dapat dilakukan untuk mencegah LGV adalah menerapkan praktik hubungan seksual yang sehat dan aman. Adapun beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah risiko terjadinya lymphogranuloma venereum adalah sebagai berikut:
-
Tidak bergonta-ganti pasangan seksual.
-
Menggunakan alat pengaman (kondom) saat berhubungan seksual.
-
Membersihkan alat kelamin sebelum dan sesudah melakukan hubungan seksual.
-
Menghindari penggunaan barang pribadi bersama orang lain.
-
Menjalani skrining infeksi menular seksual secara rutin jika pernah menderita LGV atau memiliki faktor risiko LGV lainnya.
Dapat disimpulkan, LGV adalah infeksi menular seksual yang perlu segera ditangani dengan tepat agar tidak memengaruhi kehidupan seksual penderitanya. Oleh karenanya, jangan ragu untuk mengunjungi Siloam Hospitals terdekat apabila Anda atau orang terdekat Anda mengalami gejala-gejala LGV seperti ulasan di atas.
Agar lebih praktis, Anda dapat memanfaatkan fitur Cari Dokter atau aplikasi MySiloam untuk mencari informasi jadwal praktik serta membuat janji temu dengan dokter dari mana saja dan kapan saja. Mari jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Marsia Rusfianti, SpKK, M.Kes
Dermatologi (Kulit)
Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika
Siloam Hospitals Lippo Cikarang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Armina Haramaini, SpKK
Dermatologi (Kulit)
Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Epi Panjaitan, MSc, SpKK
Dermatologi (Kulit)
Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
Skrining Pranikah Basic (Pria)
Skrining Pranikah, Skrining Pria & Wanita
15 Service/Item
Rp3.500.000
TERPOPULER
Skrining Pranikah Basic (Wanita)
Skrining Pranikah, Skrining Pria & Wanita
18 Service/Item
Rp8.500.000
MCU Paket Wanita Dasar (SHBS)
Skrining Pria & Wanita
13 Service/Item
Rp830.000
TERPOPULER
Full Blood Count (CBC + DIFF + LED) / Hematologi Lengkap
Darah, Imunologi, Infeksi
1 Service/Item
Rp113.400
TERPOPULER
Complete Blood Count (HB, HT, E, LEUKOCYTE, PLATELET, MCV, MCH, MCHC) / Hematologi Rutin
Darah
1 Service/Item
Rp90.900







