Ibu dan Anak
Mumps (Gondongan) - Penyebab, Gejala, & Pengobatannya

Table of Contents
Gondongan atau mumps adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus dan biasanya menyerang kelenjar air liur. Sebagai informasi, kelenjar air liur terdiri dari parotis (kelenjar terbesar yang terletak di dekat telinga), submandibula (terletak di bawah rahang), sublingual (terletak di bawah lidah), dan kelenjar kecil lainnya.
Mumps dapat menyebabkan parotitis atau pembengkakan kelenjar parotis pada area di mana kelenjar air liur tersebut berada. Pembengkakan ini bisa dialami oleh siapa saja, namun paling sering terjadi pada anak-anak.
Untuk mengetahui penyebab, gejala, hingga pengobatan mumps pada anak, simak ulasan selengkapnya melalui artikel di bawah ini.
Apa itu Mumps (Gondongan)?
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, mumps atau gondongan adalah salah satu jenis penyakit infeksi menular akut yang disebabkan oleh virus. Namun, penularan penyakit ini dinilai tidak lebih parah jika dibandingkan dengan campak (measles).
Mumps kerap menyerang anak usia 2–14 tahun. Sementara anak usia di bawah 2 tahun, terutama yang di bawah 1 tahun umumnya jarang terinfeksi penyakit ini. Selain itu, infeksi virus penyebab mumps biasanya dapat memberikan kekebalan seumur hidup. Artinya, seseorang yang sudah pernah menderita mumps kemungkinan besar tidak akan terinfeksi lagi di kemudian hari.
Penyebab Mumps
Penyebab utama mumps adalah infeksi virus yang bernama Paramyxovirus. Virus ini sangat menular dan dapat menyebar melalui droplet atau percikan air liur penderitanya saat bersin, batuk, berbicara, maupun bernapas.
Anak yang mengidap penyakit ini dapat menyebarkan virusnya ke orang lain dalam kurun waktu 1–7 hari sebelum gejala muncul, namun tetap ada risiko menular dalam kurun waktu 5–9 hari setelahnya.
Gejala Mumps
Gejala mumps pada anak biasanya muncul pada 12–24 hari setelah terinfeksi. Dalam rentang waktu tersebut, mumps dapat menimbulkan gejala berupa demam, menggigil, nyeri kepala, dan penurunan nafsu makan.
Lalu, dalam kurun waktu 12–24 jam setelah gejala awal mumps muncul, kelenjar air liur akan membengkak yang dapat berlangsung selama 5–7 hari. Namun, dalam kasus yang lebih ringan, mumps pada anak hanya menimbulkan pembengkakan kelenjar air liur tanpa menunjukkan gejala lainnya.
Komplikasi Mumps
Mumps jarang menimbulkan komplikasi jika dialami oleh anak yang sudah mendapatkan vaksinasi. Namun, jika belum memperoleh vaksinasi dan tidak segera ditangani dengan tepat, mumps dapat memengaruhi fungsi organ tubuh lainnya, seperti testis, indung telur, pankreas, hingga otak.
Berikut adalah beberapa kondisi medis yang kerap muncul sebagai bentuk dari komplikasi mumps.
-
Orchitis (20% kasus): Peradangan pada testis.
-
Meningitis (15% kasus): Peradangan dan pembengkakan pada selaput di sekitar otak dan sumsum tulang belakang.
-
Pankreatitis (4% kasus): Peradangan pada pankreas.
-
Oophoritis (<5% kasus): Peradangan pada ovarium atau sel indung telur.
-
Ensefalitis (0,1% kasus): Peradangan pada jaringan otak.
Diagnosis Mumps
Langkah awal yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis mumps adalah anamnesis (wawancara medis) dengan pasien atau orang tua pasien untuk mengetahui keluhan, gejala, dan riwayat kesehatan pasien. Selanjutnya, dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik untuk melihat gejala-gejala yang dialami oleh pasien.
Tidak hanya sampai di situ, untuk membantu mengonfirmasi diagnosis mumps, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan laboratorium guna mengidentifikasi keberadaan virus penyebab mumps serta antibodinya di dalam darah.
Pengobatan Mumps pada Anak
Karena disebabkan oleh virus, mumps adalah penyakit self limiting disease atau penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya. Tidak ada obat khusus untuk penyakit ini, namun terdapat sejumlah metode pengobatan mumps pada anak yang bisa dilakukan untuk meringankan gejala dan mencegah risiko terjadinya komplikasi, di antaranya sebagai berikut.
-
Memberikan parasetamol atau ibuprofen sesuai dengan resep dokter untuk meredakan nyeri dan demam.
-
Istirahat yang cukup.
-
Mencukupi kebutuhan harian cairan tubuh,
-
Menghindari mengonsumsi makanan yang dapat meningkatkan produksi air liur, misalnya seperti makanan pedas dan asam yang dapat memperburuk rasa nyeri.
-
Mengonsumsi makanan lunak agar mudah dikunyah dan tidak memperberat nyeri
Pencegahan Mumps pada Anak
Pencegahan mumps pada anak dapat dilakukan dengan memberikan vaksinasi MMR sesuai dengan jadwal. Vaksinasi MMR sendiri merupakan jenis vaksin yang dapat digunakan untuk meminimalkan risiko infeksi tiga jenis penyakit, yaitu measles (campak), mumps (gondongan), dan rubella.
Berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), jadwal pemberian vaksin MMR pada anak dapat diberikan sebanyak dua dosis, yaitu pada usia 15–18 bulan untuk dosis pertama dan usia 5–7 tahun untuk dosis kedua.
Dapat disimpulkan, mumps adalah kondisi yang perlu segera ditangani dengan tepat guna mencegah penyebaran infeksi ke bagian tubuh vital. Apabila si kecil mengeluhkan gejala yang mengarah pada mumps, sebaiknya segera kunjungi Siloam Hospitals terdekat untuk memperoleh diagnosis dan penanganan yang tepat dan sesuai kondisi anak.
Atau, Anda juga dapat memesan layanan Homecare - Kunjungan Dokter Umum dan Perawat dari Siloam Hospitals apabila membutuhkan perawatan dan penanganan medis untuk si kecil tanpa harus keluar rumah. Layanan ini bisa dipesan secara mudah melalui aplikasi MySiloam. Unduh aplikasinya sekarang serta jaga selalu kesehatan Anda dan buah hati #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Sriwijaya Palembang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Ifo Faujiah Sihite, M.Ked (Ped), SpA
Pediatrik (Anak)
Spesialis Ilmu Kesehatan Anak
Siloam Hospitals Jambi
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Anggun Kusumasari, SpA, MSc, AIFO-K
Pediatrik (Anak)
Spesialis Ilmu Kesehatan Anak
Siloam Hospitals Balikpapan
Tersedia :
Tersedia hari ini







