Kesehatan Tubuh
Apakah Penyakit Kelenjar Getah Bening Menular?

Table of Contents
Kelenjar getah bening adalah bagian penting dari sistem kekebalan tubuh yang berfungsi untuk melawan infeksi. Organ kecil berbentuk seperti kacang ini tersebar di berbagai bagian tubuh, seperti leher, ketiak, dan selangkangan. Fungsinya adalah menyaring kuman, virus, serta sel yang tidak normal sebelum menyebar lebih luas.
Kondisi tersebut dapat menimbulkan pertanyaan, apakah penyakit kelenjar getah bening bisa menular atau tidak? Untuk memahaminya, perlu diketahui berbagai penyebab yang mendasari, bagaimana proses diagnosis dilakukan, serta penanganan yang diberikan sesuai kondisi pasien. Simak penjelasannya dalam artikel ini.
Apakah Penyakit Kelenjar Getah Bening Menular?
Pada dasarnya, gangguan kelenjar getah bening bukanlah penyakit menular. Kondisi ini tidak dapat berpindah dari satu orang ke orang lain, baik melalui sentuhan, udara, makanan, atau interaksi sehari-hari.
Namun, pembesaran kelenjar getah bening sering terjadi sebagai respons terhadap infeksi tertentu. Dalam situasi tersebut, yang bersifat menular adalah infeksinya, bukan gangguan kelenjar getah bening itu sendiri.
Jadi, jika kembali ke pertanyaan utama, penyakit kelenjar getah bening bisa menular atau tidak, jawabannya adalah tidak. Gangguan seperti limfoma tidak menyebar dari satu orang ke orang lain. Bila terdapat kaitan dengan infeksi, hal tersebut hanya berkaitan dengan peningkatan risiko terjadinya gangguan, bukan penularan langsung penyakit kelenjar getah bening itu sendiri.
Penyebab Penyakit Kelenjar Getah Bening
Penyebab gangguan kelenjar getah bening sangat beragam, tergantung pada jenis penyakit yang mendasarinya. Berikut beberapa kondisi yang sering terjadi:
1. Limfadenopati
Limfadenopati adalah kondisi ketika kelenjar getah bening mengalami pembesaran sebagai respons terhadap proses tertentu di dalam tubuh, seperti infeksi, peradangan, atau gangguan lain. Beberapa penyebab limfadenopati antara lain:
-
Infeksi, baik oleh virus (HIV, mononukleosis, dan herpes), bakteri (Staphylococcus, Streptococcus, sifilis, dan tuberkulosis), maupun jamur dan parasit. Ini merupakan penyebab yang paling umum.
-
Kanker, seperti leukemia dan limfoma, atau penyebaran kanker dari organ lain, seperti payudara, paru-paru, tiroid, ginjal, dan saluran pencernaan.
-
Penyakit autoimun dan peradangan, misalnya lupus, rheumatoid arthritis, dan sarkoidosis.
-
Efek obat dan paparan zat tertentu, termasuk beberapa obat kejang, antibiotik, obat tekanan darah, serta paparan rokok dan alkohol.
-
Kelainan metabolik bawaan, kondisi ini jarang terjadi tetapi dapat menyebabkan pembesaran kelenjar.
Pada dasarnya, limfadenopati terjadi karena kelenjar getah bening sedang merespons infeksi, peradangan, kanker, atau faktor lain yang membuat sistem imun bekerja lebih aktif dari biasanya. Karena itu, kondisi bukanlah penyakit yang menular. Jika penyebabnya adalah infeksi tertentu, maka infeksinya yang dapat menular, bukan kondisi pembesaran kelenjarnya.
2. Limfadenitis
Limfadenitis adalah peradangan kelenjar getah bening yang umumnya terjadi akibat infeksi. Infeksi ini biasanya bermula di bagian tubuh lain, lalu menyebar ke kelenjar getah bening melalui aliran limfa. Penyebab yang paling sering adalah bakteri, seperti Streptococcus dan Staphylococcus, tetapi virus dan jamur juga bisa memicu kondisi ini.
Berdasarkan penyebarannya, limfadenitis dibagi menjadi dua jenis, meliputi:
-
Limfadenitis lokal, yaitu pembengkakan pada satu kelenjar yang letaknya dekat dengan sumber infeksi. Contohnya, infeksi amandel dapat menyebabkan pembesaran kelenjar di leher.
-
Limfadenitis menyeluruh, yaitu ketika dua atau lebih kelompok kelenjar di area tubuh berbeda ikut membesar. Kondisi ini biasanya terjadi jika infeksi menyebar melalui aliran darah atau akibat penyakit yang memengaruhi seluruh tubuh.
Adapun gejala yang mungkin muncul antara lain kelenjar yang membesar dan terasa sakit saat ditekan, kulit di atasnya tampak kemerahan, demam, hingga terbentuknya nanah (abses) pada kondisi yang lebih berat. Karena penyebabnya beragam, penting untuk memastikan sumber infeksinya terlebih dahulu agar pengobatan yang diberikan lebih efektif.
3. Limfoma
Limfoma adalah jenis kanker darah pada sistem limfatik yang berasal dari limfosit, yaitu sel darah putih yang berperan penting dalam menjaga daya tahan tubuh. Dalam kondisi normal, limfosit mampu melawan kuman dan infeksi. Sementara pada Limfoma, limfosit mengalami perubahan sehingga menjadi abnormal.
Sel yang berubah ini terus berkembang tanpa kendali dan tidak mati seperti sel normal. Akibatnya, sel tersebut menumpuk di kelenjar getah bening atau bagian tubuh lain dan mengganggu fungsi sistem kekebalan tubuh.
Limfoma terbagi menjadi dua jenis utama, meliputi:
-
Limfoma Hodgkin: Jenis limfoma yang ditandai dengan adanya sel Reed-Sternberg, yaitu sel limfosit abnormal yang khas pada pemeriksaan mikroskopis. Penyakit ini umumnya berkembang secara lebih terprediksi dan sering menyebar dari satu kelompok kelenjar getah bening ke kelompok terdekat.
-
Limfoma Non-Hodgkin: Kelompok limfoma yang tidak memiliki sel Reed-Sternberg. Jenis ini lebih sering ditemukan pada pasien lanjut usia. Dari berbagai tipe, salah satu tipe yang cukup sering terjadi adalah diffuse large B-cell lymphoma, yaitu limfoma yang berkembang cepat dan berasal dari sel limfosit B.
Meski dapat menyebabkan pembesaran kelenjar getah bening seperti pada kasus infeksi, penyakit limfoma berbeda karena terjadi akibat pertumbuhan sel yang tidak terkendali, bukan karena kuman. Jadi, limfoma tidak bisa menular, tetapi dapat menjadi gangguan serius pada sistem limfatik yang memerlukan penanganan medis.
4. Limfedema
Limfedema merupakan kondisi penumpukan cairan limfa pada jaringan tubuh yang terjadi ketika aliran dalam sistem limfatik terganggu atau tidak berjalan optimal. Cairan limfa adalah cairan tubuh yang membawa sisa zat dan kuman untuk disaring di kelenjar getah bening sebelum kembali ke aliran darah. Jika jalurnya terganggu, cairan akan menumpuk dan menyebabkan pembengkakan, biasanya di lengan, tangan, kaki, atau telapak kaki.
Berdasarkan penyebabnya, limfedema dibagi menjadi dua, yaitu:
-
Limfedema primer: Kelainan bawaan sejak lahir akibat perkembangan sistem limfatik yang tidak sempurna.
-
Limfedema sekunder: Gangguan yang lebih sering terjadi akibat faktor luar, seperti operasi pengangkatan kelenjar getah bening, radioterapi, atau infeksi parasit (filariasis).
Mengingat sistem limfatik juga berperan dalam menyaring bakteri asing dan membantu daya tahan tubuh, kerusakan pada sistem ini dapat membuat area yang bengkak lebih mudah terkena infeksi. Dalam kasus yang sangat jarang, gangguan jangka panjang bahkan dapat meningkatkan risiko kanker.
Diagnosis Penyakit Kelenjar Getah Bening
Proses diagnosis biasanya dimulai dari wawancara medis (anamnesis) dan pemeriksaan fisik. Dokter akan menanyakan terkait gejala yang dirasakan, sudah berapa lama keluhan muncul, serta riwayat kesehatan pasien dan keluarga, termasuk riwayat kanker.
Saat pemeriksaan fisik, dokter akan meraba kelenjar getah bening yang membesar serta memeriksa tanda lain yang mungkin berkaitan dengan gangguan kelenjar getah bening, seperti pembesaran hati atau limpa dan kulit yang tampak pucat. Jika diperlukan, dokter akan menyarankan pemeriksaan penunjang untuk memastikan penyebabnya. Beberapa tes yang umum dilakukan antara lain:
-
Tes darah, untuk mendeteksi tanda infeksi, peradangan, atau kelainan pada sel darah yang mungkin berkaitan dengan gangguan kelenjar getah bening.
-
Rontgen, untuk area tertentu sesuai keluhan pasien.
-
CT scan, untuk melihat ukuran dan letak kelenjar secara lebih jelas.
-
PET (positron emission tomography) scan, untuk menilai aktivitas sel, terutama bila dicurigai kanker.
Apabila hasil pemeriksaan belum memberikan diagnosis yang jelas, dokter dapat melakukan biopsi. Prosedur ini dilakukan dengan mengambil sedikit jaringan kelenjar getah bening untuk diperiksa di laboratorium. Melalui biopsi, dokter dapat mengetahui apakah pembesaran pada kelenjar getah bening disebabkan oleh infeksi, peradangan, atau kanker.
Perawatan Penyakit Kelenjar Getah Bening
Pengobatan gangguan kelenjar getah bening perlu disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya. Jika pembengkakan bersifat ringan dan tidak berbahaya, dokter biasanya hanya melakukan pemantauan karena kelenjar bisa mengecil sendiri seiring membaiknya kondisi tubuh. Namun, bila diperlukan penanganan khusus, pilihan terapi dapat mencakup:
-
Obat untuk infeksi, seperti antibiotik untuk infeksi bakteri, atau obat antivirus dan antiparasit sesuai penyebabnya.
-
Terapi khusus kanker, misalnya kemoterapi, radioterapi, atau imunoterapi apabila berkaitan dengan limfoma.
-
Tindakan operasi pada situasi tertentu, seperti pengangkatan kelenjar getah bening yang bermasalah atau mengalami kerusakan.
-
Pengobatan pada penyakit pemicu, misalnya terapi untuk gangguan autoimun atau kondisi lain yang menyebabkan pembesaran kelenjar.
Untuk mengurangi rasa nyeri dan tidak nyaman, beberapa langkah sederhana juga bisa dilakukan secara mandiri, seperti:
-
Mengompres area yang bengkak dengan air hangat.
-
Mengonsumsi obat pereda nyeri sesuai anjuran dokter.
-
Menjaga pola makan yang seimbang.
-
Melakukan aktivitas fisik secara teratur.
-
Mencukupi asupan cairan harian sekitar 2 liter per hari.
-
Istirahat yang cukup selama proses pemulihan.
Demikian pembahasan mengenai apakah penyakit kelenjar getah bening bisa menular atau tidak, termasuk penyebab yang mendasarinya, serta proses diagnosis, dan penanganannya. Perlu dipahami bahwa informasi ini bertujuan sebagai edukasi dan tidak dapat menggantikan pemeriksaan, diagnosis, maupun saran medis langsung dari dokter.
Jika Anda mengalami pembesaran kelenjar getah bening yang tidak kunjung membaik atau disertai gejala lain, sebaiknya berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi Medik di Siloam Hospitals terdekat. Dokter akan melakukan evaluasi menyeluruh melalui pemeriksaan fisik, tes laboratorium, biopsi, serta pemeriksaan pencitraan untuk memastikan penyebab dan menentukan rencana terapi yang sesuai.
Perlu diketahui bahwa tahapan pemeriksaan dan pengobatan penyakit kelenjar getah bening dapat berbeda di setiap rumah sakit, tergantung pada fasilitas, tingkat keparahan, usia, maupun kondisi klinis pasien. Meski demikian, tenaga medis akan tetap memastikan proses perawatan dilakukan secara aman, tepat, dan terarah.
Untuk mempermudah akses layanan kesehatan, Anda dapat menggunakan aplikasi MySiloam. Melalui aplikasi ini, Anda dapat melihat jadwal praktik dokter, membuat janji konsultasi, serta mengakses hasil pemeriksaan medis secara online. Unduh MySiloam dan manfaatkan berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Sumber
Lymphoma Action. Causes and risk factors for lymphoma. Diakses pada 2026 | MedlinePlus. Lymphadenitis. Diakses pada 2026 | Johns Hopkins Medicine. Lymphadenitis. Diakses pada 2026 | National Library of Medicine. Lymphoma. Diakses pada 2026 | Mayo Clinic. Lymphoma. Diakses pada 2026 | Mount Elizabeth. Lymphoma. Diakses pada 2026 | Northwell Health. Lymph Node Transfer for Lymphedema. Diakses pada 2026 | Health Direct. Lymph Nodes. Diakses pada 2026 | Cleveland Clinic. Lymph Nodes. Diakses pada 2026 | Cleveland Clinic Abu Dhabi. Lymph Nodes. Diakses pada 2026 | National Library of Medicine. Lymphadenopathy. Diakses pada 2026 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kelapa Dua
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
CT Whole ABD Non-CNTRS / CT Scan Perut
CT Scan
Rp2.495.000
TERPOPULER
CT Scan Perut Atas/Upper Abdomen (Non Kontras)
CT Scan
Rp2.079.000
TERPOPULER
CT Thorax Non-CNTRS / CT Scan Dada
CT Scan
Rp2.079.000
TERPOPULER
Complete Blood Count + Diff / Pemeriksaan Darah Lengkap
1 Service/Item
Rp123.300
CT PELVIS NON CONTRAST
CT Scan
Rp2.079.000






