Kesehatan Tubuh
Osteopenia - Gejala, Penyebab, Pengobatan, dan Pencegahannya

Table of Contents
Osteopenia adalah gangguan tulang yang terjadi ketika kepadatan tulang lebih rendah dari batas normal, tetapi belum mencapai tingkat osteoporosis. Kondisi ini mengindikasikan bahwa tulang mengalami penurunan kepadatan, sehingga lebih rentan terhadap fraktur atau patah tulang.
Osteopenia dapat menjadi tahap awal dari osteoporosis, yang merupakan kondisi lebih serius dan dapat menyebabkan risiko patah tulang yang lebih tinggi. Mari pahami apa itu osteopenia, termasuk penyebab, faktor risiko, gejala, diagnosis, hingga pencegahan dan pengobatannya di bawah ini.
Apa itu Osteopenia?
Osteopenia adalah suatu kondisi yang menandakan penurunan kepadatan tulang, tetapi belum mencapai tingkat keparahan yang terdapat pada osteoporosis. Dalam pemahaman medis, kepadatan tulang diukur dalam satuan yang disebut BMD (bone mineral density).
Kondisi ini menunjukkan bahwa tulang seseorang tidak memiliki kepadatan yang mencukupi dibandingkan dengan standar normal untuk kelompok usia dan jenis kelamin tertentu.
Jika diibaratkan, orang dengan tulang sehat masuk dalam kategori nilai A, sementara mereka yang mengalami osteoporosis masuk dalam kategori nilai D atau F. Kemudian, kondisi osteopenia menempati kategori nilai B atau C.
Meski demikian, perlu dicatat bahwa osteopenia tidak pasti akan berkembang menjadi osteoporosis.
Penyebab Osteopenia
Osteopenia terjadi karena adanya penurunan kepadatan tulang dalam tubuh. Proses pembentukan tulang akan terjadi secara alami, di mana tulang yang baru tumbuh menggantikan tulang yang sudah tua. Pada masa pertumbuhan, proses pembentukan tulang yang baru akan diproduksi lebih cepat dibandingkan dengan kerusakan tulang yang tua.
Seiring dengan pertambahan usia (umumnya di sekitar 35 tahun), kecepatan pembentukan tulang baru akan mengalami penurunan, sedangkan kerusakan tulang yang tua perlahan akan semakin cepat. Hal ini dapat menyebabkan ketidakseimbangan kepadatan tulang. Kurangnya kepadatan tulang meningkatkan risiko seseorang mengalami keretakan atau patah tulang.
Faktor Risiko Osteopenia
Adapun beberapa faktor yang diketahui dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami osteopenia adalah:
-
Berusia di atas 50 tahun.
-
Menopause dini (di bawah 40 tahun).
-
Jarang berolahraga.
-
Kurangnya asupan vitamin D dan kalsium.
-
Riwayat keluarga dengan osteopenia.
-
Menjalani operasi pengangkatan ovarium.
-
Gangguan kesehatan, seperti hipertiroidisme.
-
Konsumsi kafein berlebih.
-
Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol berlebihan.
-
Operasi pada sistem pencernaan yang dapat memengaruhi penyerapan nutrisi dan mineral.
-
Penggunaan obat-obatan tertentu seperti prednisone, kortikosteroid, atau antikonvulsan dalam jangka panjang.
Gejala Osteopenia
Osteopenia sering kali tidak menunjukkan gejala. Meski demikian, secara umum, penderita osteopenia lebih rentan terhadap:
-
Penurunan tinggi badan secara berlebih (di atas 2,5 cm).
-
Nyeri tulang.
-
Tulang retak.
Diagnosis Osteopenia
Cara terbaik untuk mendiagnosis osteopenia adalah melalui tes kepadatan tulang yang dikenal sebagai dual-energy x-ray absorptiometry (DXA). Tes DXA umumnya dilakukan pada tulang belakang, pinggul, dan pergelangan tangan. Tes ini menggunakan sinar X energi rendah untuk menilai kandungan kalsium dalam tulang.
Hasilnya akan dibandingkan dengan skor T (tulang orang dewasa muda yang sehat) dan skor Z (tulang orang dengan usia dan jenis kelamin yang sama), yang kemudian membantu menentukan apakah seseorang mengalami osteopenia, osteoporosis, atau memiliki keadaan tulang normal.
Skor T yang berkisar antara -1 hingga -2,5 dapat dikategorikan sebagai osteopenia. Jika skor lebih rendah dari -2,5, seseorang mungkin mengalami osteoporosis.
Pencegahan Osteopenia
Pada dasarnya, cara mencegah osteopenia adalah dengan melakukan berbagai hal untuk menjaga kesehatan tulang, seperti:
-
Rutin berolahraga.
-
Berhenti merokok.
-
Batasi konsumsi alkohol dan kafein.
-
Rutin berjemur di bawah sinar matahari.
-
Konsumsi makanan yang mengandung vitamin D dan kalsium.
-
Melakukan medical check up dengan rutin.
Pengobatan Osteopenia
Osteopenia dapat diatasi dengan berbagai pendekatan, mulai dari olahraga rutin, pemenuhan nutrisi, hingga penggunaan obat-obatan. Namun, penggunaan obat-obatan ini harus dilakukan atas persetujuan dari dokter.
Adapun beberapa jenis obat yang mungkin diresepkan oleh dokter untuk mengatasi osteopenia adalah:
1. Raloxifene (Evista)
Obat ini akan bekerja dengan meniru hormon estrogen untuk membantu menjaga kesehatan tulang. Adapun efek samping dari obat ini adalah kram kaki, hot flashes, dan risiko pembekuan darah. Obat ini mungkin tidak dianjurkan untuk wanita dengan risiko tinggi terkena stroke dan hipertensi.
2. Bisfosfonat
Bisfosfonat digunakan untuk mencegah perkembangan osteopenia menjadi osteoporosis. Contoh obat dalam kelompok ini antara lain yaitu ibandronate, alendronate, zoledronic acid , dan risedronate.
Beberapa efek samping yang mungkin muncul dari penggunaan obat ini adalah demam, iritasi kerongkongan, naiknya asam lambung, serta nyeri pada sendi, tulang, dan otot.
Agar tidak menyebabkan iritasi pada kerongkongan, penderita disarankan untuk mengonsumsi obat ini di pagi hari dan dalam keadaan perut kosong. Hindari berbaring setidaknya 30 menit dan konsumsi makan setidaknya 60 menit setelah mengonsumsi obat.
3. Estrogen Terkonjugasi/Bazedoksifen
Obat ini direkomendasikan untuk wanita dengan osteopenia yang masih memiliki uterus, dan sering diberikan bersamaan dengan obat seperti raloxifene untuk meningkatkan kepadatan tulang mencegah patah tulang, dan mengurangi risiko efek samping dari bazedoksifen.
Penggunaan jangka panjang obat ini harus dilakukan dengan hati-hati, di bawah pengawasan dokter. Dikarenakan efek samping dari obat ini dapat meliputi penggumpalan darah, stroke, serangan jantung, dan peningkatan risiko beberapa jenis kanker.
Jika Anda atau orang di sekitar Anda berisiko mengalami osteopenia, Anda dapat mengunjungi Siloam Hospitals Mampang untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut terkait dengan gangguan tulang, jaringan ikat, dan sendi.
Sebagai pusat unggulan ortopedi, Siloam Hospitals Mampang dilengkapi dengan fasilitas medis mutakhir dan tim ahli ortopedi berpengalaman sehingga mampu memberikan diagnosis, perawatan, hingga terapi rehabilitasi gangguan ortopedi secara optimal.
Siloam Hospitals juga menyediakan paket Fisioterapi yang bisa diakses dari rumah Anda melalui layanan Siloam at Home. Fisioterapi adalah tindakan rehabilitasi untuk menghindari atau meminimalkan keterbatasan fisik akibat cedera atau penyakit. Paket Fisioterapi di rumah tersedia untuk semua kalangan usia, mulai dari bayi hingga lanjut usia.
Anda dapat dengan mudah memesan paket Fisioterapi melalui aplikasi MySiloam. Unduh MySiloam sekarang dan jangan lupa untuk menjaga kesehatan Anda #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Made Oka Mahendra, SpOT, M.Biomed
Ortopedi (Tulang)
Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Su Djie To Rante, M. Biomed., SpOT, Subsp. P.L(K)
Ortopedi (Tulang)
Subspesialis Panggul dan Lutut
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Henry Tanzil, M. Kes, SpOT (K), FICS
Ortopedi (Tulang)
Subspesialis Panggul dan Lutut
Siloam Hospitals Makassar
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
Fisioterapi (1x kunjungan) - Homecare
Rehabilitasi Medis Homecare
Rp399.000
TERPOPULER
Fisioterapi (6x kunjungan) - Homecare
Rehabilitasi Medis Homecare
Rp3.300.000
TERPOPULER
Arctic Genu / Rontgen Sendi Lutut (Uni Lateral)
Rontgen / X-Ray, Tulang/ Ortopedi
Rp289.000
TERPOPULER
Pedis / Rontgen Kaki
Rontgen / X-Ray
Rp335.000
TERPOPULER
Pelvis AP / Rontgen Panggul
Rontgen / X-Ray, Tulang/ Ortopedi
Rp226.000
TERPOPULER
Rontgen Tangan/Manus
Rontgen / X-Ray
Rp382.000
TERPOPULER
1.5T MRI KNEE NON CONTRAST (1 SIDE)
MRI / MRA, Tulang/ Ortopedi
Rp2.870.000







