Proktitis - Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahannya
Kesehatan Tubuh

Proktitis - Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahannya

20 Mei 2025 5 menit waktu baca
Proktitis adalah

Proktitis adalah kondisi ketika jaringan pelapis rektum mengalami peradangan. Kondisi ini umum terjadi pada penderita penyakit radang usus besar, seperti penyakit Crohn dan kolitis ulseratif. Tidak hanya itu, proktitis juga kerap dialami oleh penderita penyakit menular seksual. 

 

Lantas, apa yang menyebabkan terjadinya proktitis? Mari simak penjelasan selengkapnya dalam artikel berikut ini.

 

Apa itu Proktitis?

 

Proktitis adalah peradangan pada jaringan pelapis rektum bagian dalam. Rektum adalah bagian dari sistem pencernaan bagian bawah yang menghubungkan bagian terakhir usus besar dengan anus. Sebagai pemahaman, feses atau kotoran akan melewati rektum saat dikeluarkan dari tubuh.

 

Penyebab Proktitis

 

Terdapat berbagai kondisi yang dapat menyebabkan terjadinya proktitis, mulai dari penyakit tertentu, penggunaan obat-obatan, hingga asupan makanan yang kurang sehat. Berikut adalah penjelasan terkait penyebab proktitis secara lebih mendalam.

 

  • Infeksi menular seksual (sexually transmitted infections), seperti herpes genital, klamidia, gonore, sifilis, dan sitomegalovirus (CMV).

  • Infeksi akibat makanan yang terkontaminasi bakteri Salmonella, Shigella, dan Campylobacter.

  • Infeksi akibat penggunaan antibiotik. Meski antibiotik merupakan pengobatan yang diberikan untuk mengatasi infeksi bakteri, terkadang antibiotik dapat membunuh bakteri baik di dalam usus, sehingga bakteri berbahaya seperti Clostridium difficile dapat tumbuh di rektum.

  • Penyakit radang usus, seperti kolitis ulseratif dan penyakit Crohn.

  • Protein makanan, misalnya bayi yang memiliki alergi susu sapi atau kedelai.

  • Terapi radiasi yang diarahkan ke rektum atau area di sekitarnya, seperti prostat atau ovarium.

  • Proktitis eosinofilik. Kondisi ini terjadi ketika suatu jenis sel darah putih (eosinofil) menumpuk di dalam lapisan rektum. Proktitis eosinofilik hanya menyerang anak-anak di bawah usia 2 tahun.

  • Diversion proctitis. Proktitis dapat terjadi pada orang yang menjalani beberapa jenis operasi usus besar, seperti kolonostomi, ileostomi, atau pembuatan stoma untuk mengalihkan aliran feses dari rektum. Pengalihan feses atau kotoran dari rektum akan menghilangkan nutrisi dan asam lemak rantai pendek yang dapat menjaga rektum tetap terlumasi dan sehat.

 

Gejala Proktitis

 

Gejala proktitis bisa terjadi secara akut (muncul secara tiba-tiba dan memburuk dengan cepat) atau kronis (gejala berkembang secara bertahap dan menjadi semakin buruk seiring berjalannya waktu). Adapun sejumlah gejala umum proktitis adalah sebagai berikut:

 

  • Nyeri pada anus saat BAB (buang air besar).

  • Diare.

  • Nyeri pada perut bagian kiri bawah.

  • Merasa ingin terus-menerus BAB.

  • Konstipasi (sembelit).

  • Perdarahan di anus saat BAB.

  • Keluar lendir atau nanah dari anus.

  • Pembengkakan pada kelenjar getah bening di selangkangan.

 

Diagnosis Proktitis

 

Sebelum menegakkan diagnosis, dokter akan memulai pemeriksaan dengan wawancara medis (anamnesis) terkait gejala, riwayat kesehatan dan penyakit turunan dalam keluarga. Selain itu, dokter juga akan menanyakan riwayat penggunaan obat serta riwayat perilaku seksual pasien. 

 

Kemudian, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik pada anus untuk memeriksa peradangan pada rektum. Dokter juga dapat merekomendasikan pasien untuk melakukan beberapa pemeriksaan penunjang guna membantu mengonfirmasi diagnosis proktitis, antara lain:

 

  • Pemeriksaan tes darah. Pemeriksaan untuk mengidentifikasi infeksi dan kondisi lain yang dapat menyebabkan proktitis.

  • Pemeriksaan feses lengkap. Pemeriksaan ini akan menganalisis feses untuk mencari bukti adanya infeksi maupun pendarahan.

  • Pemeriksaan kultur feses. Pemeriksaan feses atau tinja yang dikultur dengan media khusus untuk mengidentifikasi bakteri atau virus pada sampel.

  • Prosedur sigmoidoskopi. Prosedur pemeriksaan ini menggunakan tabung ramping dan fleksibel yang dimasukkan melalui anus untuk menilai bagian terakhir usus besar (sigmoid) serta rektum. Selama prosedur, dokter juga dapat mengambil sampel kecil jaringan (biopsi) untuk dianalisis di laboratorium.

  • Prosedur kolonoskopi.Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat kondisi usus besar dengan cakupan lebih luas menggunakan tabung tipis, fleksibel yang dilengkapi dengan kamera. Prosedur ini bertujuan untuk melihat sejauh mana inflamasi di usus terjadi. Dokter juga akan mengambil sampel jaringan untuk dilakukan pemeriksaan di laboratorium.

  • Pemeriksaan IMS (infeksi menular seksual). Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara pengambilan sampel cairan dari rektum, urine, atau darah.

 

Cara Mengobati Proktitis

 

Proktitis adalah kondisi medis yang memerlukan pengobatan untuk mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut. Pengobatan proktitis akan disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya, baik secara medikamentosa atau nonmedikamentosa.

 

Pengobatan medikamentosa meliputi:

 

  • Obat oral, seperti antibiotik, antiviral, imunosupresan (untuk penyakit autoimun), sulfasalazine (untuk meredakan gejala radang usus seperti kolitis ulseratif dan penyakit Crohn), dan infliximab (untuk proktitis ulseratif yang refrakter atau tidak kunjung sembuh). 

  • Obat topikal, seperti kortikosteroid topikal untuk mengatasi nyeri dan radang anus.

  • Prosedur pembedahan, dilakukan untuk mengangkat bagian saluran pencernaan yang rusak dan menjadi pilihan terakhir jika gejala proktitis sudah tidak bisa diatasi dengan obat-obatan.

 

Pengobatan nonmedikamentosa meliputi:

 

  • Menerapkan pola makan sehat untuk mengurangi risiko infeksi saluran cerna akibat keracunan makanan.

  • Menghindari makanan pedas, asam, dan berlemak maupun minuman bersoda, kopi, dan alkohol selama serangan diare.

  • Tidak bergonta-ganti pasangan seksual.

  • Menghindari hubungan seks anal.

  • Menggunakan kondom saat melakukan hubungan seksual.

  • Mencukupi kebutuhan cairan tubuh untuk mencegah dehidrasi.

 

Cara Mencegah Proktitis

 

Langkah utama dalam mencegah proktitis adalah menghindari faktor risiko proktitis dengan menerapkan upaya pencegahan infeksi menular seksual (IMS), salah satunya dengan menghindari hubungan seksual yang berisiko menyebabkan luka, terutama seks anal. Upaya lain yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko proktitis akibat IMS adalah:

 

  • Tidak bergonta-ganti pasangan seksual.

  • Menggunakan pengaman setiap melakukan kontak seksual.

  • Tidak berhubungan seksual dengan siapa pun yang memiliki luka atau cairan abnormal di area genital.

  • Tidakmelakukan hubungan seks saat terdiagnosis IMS sampai dinyatakan sembuh. 

 

Komplikasi Proktitis

 

Proktitis adalah peradangan yang membutuhkan penanganan medis secara tepat dengan segera. Jika tidak mendapatkan penanganan dengan segera, kondisi ini dapat menimbulkan sejumlah komplikasi, salah satunya adalah munculnya abses atau nanah pada lapisan dalam rektum. Berikut uraian selengkapnya. 

 

  • Perdarahan kronis (lama) dan hebat yang dapat menyebabkan anemia. Adapun gejala anemia adalah  pucat, lemas, pusing, nyeri kepala, dan sesak napas.

  • Munculnya abses atau nanah pada lapisan dalam rektum yang dapat menyebabkan nyeri dan bengkak.

  • Terbentuknya fistula (saluran abnormal) antara usus dengan kulit atau usus dengan organ lain, seperti kandung kemih dan vagina.

  • Terbentuknya striktur atau penyempitan di rektum secara tidak normal.

  • Terbentuknya ulserasi (luka berbentuk kawah) di sekitar rektum.

 

Guna menghindari sejumlah komplikasi di atas, Anda bisa memanfaatkan layanan Telekonsultasi yang tersedia di aplikasi MySiloam untuk berkonsultasi dengan dokter secara virtual dari rumah bila merasakan sejumlah gejala yang mengarah pada proktitis. Layanan Telekonsultasi memungkinkan dokter untuk meresepkan obat-obatan sesuai kondisi pasien, dan pasien pun bisa memperoleh obat-obatan tersebut tanpa harus keluar rumah.

 

Jika diperlukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut, Anda dapat mengunjungi Siloam Hospitals terdekat untuk bertemu langsung dengan dokter terkait. Mari unduh MySiloam sekarang dan jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam!

 

telechat

Dokter Kami
dr-marsia-rusfianti-spkk

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Marsia Rusfianti, SpKK, M.Kes

Dermatologi (Kulit)

Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika


Siloam Hospitals Lippo Cikarang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-armina-haramaini-spkk

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Armina Haramaini, SpKK

Dermatologi (Kulit)

Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-epi-panjaitan-msc-spkk

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Epi Panjaitan, MSc, SpKK

Dermatologi (Kulit)

Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail