Kesehatan Tubuh
Memahami RFA (Radiofrequency Ablation) untuk Manajemen Nyeri

Table of Contents
Radiofrequency ablation atau RFA adalah prosedur medis yang kerap digunakan sebagai cara mengatasi nyeri kronis. Tindakan ini memanfaatkan gelombang radio untuk memancarkan panas yang dapat menghambat kerja serabut saraf dalam menghantarkan sinyal rasa sakit menuju otak.
Mari kenali prosedur, keunggulan, hingga efek samping radiofrequency ablation selengkapnya melalui artikel di bawah ini.
Apa itu RFA (Radiofrequency Ablation)?
Radiofrekuensi ablasi, radiofrequency ablation atau RFA adalah tindakan minimal invasif yang menggunakan gelombang radio untuk menghambat kerja dari serabut saraf dalam membawa sinyal rasa sakit menuju otak.
RFA adalah tindakan medis yang kerap digunakan untuk meredakan nyeri kronis yang timbul akibat beberapa kondisi, seperti low back pain, nyeri sendi, nyeri pada wajah yang disebabkan trigeminal neuralgia, dan nyeri kanker. Bahkan, terapi RFA ini juga dapat dilakukan untuk menangani gangguan irama jantung (aritmia) hingga menghambat pertumbuhan tumor dengan membunuh sel-sel tumor.
Prosedur RFA
Secara umum, tindakan radiofrequency ablation akan melalui beberapa tahap, di antaranya adalah persiapan, prosedur pelaksanaan, hingga pascatindakan. Berikut masing-masing penjelasannya.
Persiapan
Sebelum menjalani prosedur RFA, dokter akan melakukan wawancara medis (anamnesis) dengan pasien untuk mengetahui keluhan, riwayat penyakit, serta jenis obat-obatan yang sedang dikonsumsi.
Apabila sedang mengonsumsi aspirin atau obat pengencer darah lainnya, pasien akan dianjurkan untuk berhenti mengonsumsi obat tersebut selama beberapa hari sebelum tindakan RFA. Selain itu, dokter mungkin tidak menganjurkan pasien untuk menjalani tindakan RFA apabila memiliki kondisi tertentu, seperti:
- Sedang hamil.
- Mengidap infeksi.
- Memiliki gangguan pembekuan darah.
Prosedur Pelaksanaan
Jika pasien telah dipastikan layak menjalani terapi RFA, dokter akan melakukan rontgen atau teknik pencitraan lainnya untuk memeriksa kondisi serta memastikan penyebab rasa nyeri tersebut. Setelah itu, prosedur terapi RFA akan dilanjutkan melalui langkah-langkah berikut ini.
- Mengarahkan pasien untuk duduk atau berbaring pada tempat yang tersedia.
- Memberikan anestesi lokal pada bagian tubuh pasien yang terasa nyeri.
- Memasukkan jarum khusus pada bagian tubuh yang terasa nyeri. Jarum tersebut akan diarahkan menuju serabut saraf yang menimbulkan rasa nyeri dengan bantuan fluoroskopi.
- Setelah jarum sampai pada saraf yang dituju, dokter akan memasukkan mikroelektroda melalui jarum dan menanyakan apakah pasien merasakan kesemutan atau kedutan pada area tersebut untuk memastikan lokasinya.
- Memberikan anestesi lokal untuk menghilangkan rasa nyeri pada saraf yang ditargetkan.
- Mengirimkan gelombang radio melalui jarum untuk memanaskan bagian saraf yang ditargetkan. Prosedur ini dapat dilakukan pada lebih dari satu saraf yang ditargetkan. Umumnya, prosedur ini berlangsung selama 15–120 menit tergantung pada lokasi dan jumlah tindakan yang dilakukan.
Pascatindakan
Setelah terapi RFA selesai dilakukan, pasien dapat beristirahat dan pulang ke rumah. Namun, pastikan untuk tidak berkendara atau melakukan aktivitas fisik berat terlebih dahulu selama 24 jam pascatindakan.
Setelah beristirahat selama 1–2 hari, pasien dapat menjalani aktivitas yang normal. Sebagai tindakan lanjutan, dokter juga dapat merekomendasikan pasien untuk menjalani terapi rehabilitasi atau fisioterapi untuk mengoptimalkan kekuatan dan fleksibilitas tubuh.
Jika terdapat rasa pegal atau nyeri di area dilakukannya tindakan, maka dokter mungkin akan meresepkan obat anti nyeri. Pasien juga dapat mengompres dingin pada area tersebut sebagai penanganan mandiri.
Keunggulan RFA
RFA adalah prosedur medis yang kerap dipilih untuk manajemen rasa nyeri kronis karena memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya adalah:
- Terapi minimal invasif sehingga tidak perlu melakukan pembedahan terbuka.
- Proses pemulihan pascatindakan relatif cepat. Bahkan, pasien yang menjalani tindakan RFA dapat melakukan aktivitas seperti biasa setelah beristirahat selama 1–2 hari.
- Dapat mengurangi penggunaan obat-obatan anti nyeri dan meminimalkan efek sampingnya.
- Meningkatkan kualitas hidup pasien dan memperbaiki fungsi tubuh.
Efek Samping RFA
Pada dasarnya, RFA adalah tindakan medis yang aman dilakukan. Namun, tindakan ini dapat menimbulkan efek samping berupa sensasi terbakar selama prosedur berlangsung. Pada beberapa kasus, pasien juga dapat mengalami sensasi mati rasa pascatindakan. Efek samping tersebut biasanya terjadi selama satu hingga dua minggu setelah tindakan RFA.
Selain itu, efek samping lainnya seperti infeksi atau perdarahan pada tempat masuknya jarum sangat jarang terjadi.
RFA adalah metode minimal invasif yang dapat dilakukan untuk menangani nyeri kronis akibat kondisi medis tertentu. Apabila Anda mengeluhkan rasa nyeri yang mengganggu aktivitas, jangan ragu untuk mengunjungi Siloam Hospitals terdekat agar mendapatkan penanganan medis yang tepat dari dokter spesialis berpengalaman.
Gunakan fitur Cari Dokter untuk memudahkan Anda dalam menemukan jadwal, booking, serta buat janji temu dengan dokter terkait. Atau, manfaatkan pula aplikasi MySiloam untuk mengakses semua layanan kesehatan Siloam Hospitals dengan mudah dan cepat. Mari percayakan kesehatan Anda #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Lippo Village
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Ambon
Tersedia :
Tersedia hari ini






