Rheumatoid Arthritis - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya
Kesehatan Tubuh

Rheumatoid Arthritis - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

27 Agustus 2025 5 menit waktu baca
rheumatoid arthritis adalah

Rheumatoid arthritis adalah penyakit autoimun yang memengaruhi sendi dan jaringan ikat pada tubuh. Pada kondisi ini, sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan tubuh sendiri, terutama di sendi, menyebabkan peradangan dan kerusakan sendi serta jaringan ikat di sekitarnya.

 

Kondisi ini umumnya ditandai dengan munculnya rasa nyeri pada sendi kecil, terutama pada kedua tangan yang bersifat simetris (kanan dan kiri). Penyakit rheumatoid arthritis juga dapat memengaruhi organ tubuh lainnya seperti mata, kulit, paru-paru, jantung dan jaringan saraf, serta pembuluh darah.

 

Mari simak informasi selengkapnya mengenai penyebab, gejala, dan pengobatan rheumatoid arthritis di bawah ini.

 

Apa itu Rheumatoid Arthritis?

 

Rheumatoid arthritis adalah peradangan pada sendi yang terjadi akibat gangguan autoimun, di mana sistem imun tubuh justru menyerang jaringan tubuh yang sehat. Kondisi ini  termasuk dalam kelompok reumatik autoimun.

 

Rheumatoid arthritis adalah kondisi yang berdampak pada lapisan sendi (sinovium) dan dapat menyebabkan rasa nyeri hebat, pembengkakan, dan kekakuan pada persendian. Bahkan, peradangan sendi ini bisa menimbulkan kelainan bentuk sendi dan erosi tulang.

 

Kondisi ini dapat terjadi pada bagian sendi mana pun, namun lebih sering menyerang area yang bersifat simetris seperti jari tangan, pergelangan tangan, lutut, dan kaki. Meski jarang terjadi, rheumatoid arthritis bahkan bisa memengaruhi organ tubuh lainnya, seperti mata, kulit, jantung, paru-paru, jaringan saraf, dan pembuluh darah.

 

Umumnya, gejala rheumatoid arthritis dimulai pada usia 30–40 tahun. Namun, tak menutup kemungkinan bahwa kondisi ini juga dialami oleh anak-anak, remaja, atau orang dewasa muda. Selain itu, wanita diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami rheumatoid arthritis.

 

Penyebab Rheumatoid Arthritis

 

Rheumatoid arthritis adalah salah satu jenis penyakit autoimun. Artinya, kondisi ini terjadi karena sistem imun menyerang jaringan tubuh yang sehat, tepatnya membran yang mengelilingi sendi (sinovium), sehingga tulang rawan dan tulang dengan sendi akan mengalami kerusakan.

 

Selain itu, otot tendon dan ligamen yang menyangga sendi juga ikut melemah dan menjadi lebih renggang. Akibatnya, sendi akan kehilangan bentuk dan konturnya secara perlahan. Namun, hingga kini belum diketahui secara pasti apa penyebab serangan sistem imun tersebut.

 

Faktor Risiko Rheumatoid Arthritis

 

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya rheumatoid arthritis adalah sebagai berikut:

 

  • Wanita berusia 30–40 tahun.

  • Menderita obesitas.

  • Memiliki riwayat terinfeksi virus/bakteri.

  • Memiliki riwayat radang gusi dan gigi.

  • Memiliki kebiasaan merokok.

  • Memiliki keluarga dengan riwayat rheumatoid arthritis.

 

Gejala Rheumatoid Arthritis

 

Gejala rheumatoid arthritis berbeda-beda, tergantung dari tingkat keparahannya. Umumnya, sendi akan terasa kaku pada pagi hari (morning stiffness) dan biasanya nyeri akan membaik saat mulai beraktivitas. Gejala tersebut juga bisa terjadi secara tak menentu, muncul dan hilang. Namun, sejumlah gejala umum rheumatoid arthritis adalah sebagai berikut:

 

  • Nyeri pada persendian.

  • Pembengkakan pada sendi.

  • Sendi terasa lemas.

  • Kekakuan pada sendi.

  • Kelelahan.

  • Hilangnya nafsu makan dan penurunan berat badan.

  • Demam.

 

Sementara itu, sejumlah gejala yang menyertai rheumatoid arthritis pada bagian tubuh lainnya adalah:

 

  • Anemia atau kekurangan sel darah merah.

  • Batuk kronis, nyeri dada, dan sulit bernapas jika menyerang paru dan jantung.

  • Mata kering, mata merah , nyeri dan gangguan penglihatan jika menyerang mata.

 Gejala rheumatoid arthritis

 

Diagnosis Rheumatoid Arthritis

 

Sebelum menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan anamnesis terkait gejala dan riwayat kesehatan pasien. Dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik untuk memeriksa pembengkakan, kemerahan, rasa hangat saat disentuh, nyeri pada sendi, serta refleks dan kekuatan otot.

 

Kemudian, dokter biasanya meminta pasien untuk menjalani serangkaian tes penunjang, seperti:

 

  • Tes darah, untuk mengetahui kadar ESR (erythrocyte sedimentation rate) dan CRP (C-reactive protein) yang menjadi penanda adanya peradangan pada tubuh.

  • Pemeriksaan rheumatoid factor dan anti cyclic cytrullinated peptide (anti CCP) sebagai pemeriksaan penunjang membantu diagnosis RA.

  • Tes pencitraan dengan rontgen, MRI, dan USG untuk membantu diagnosis dan menilai perkembangan penyakit

 

Komplikasi Rheumatoid Arthritis

 

Apabila tidak mendapatkan penanganan yang baik dan segera, rheumatoid arthritis bisa menimbulkan komplikasi berupa kerusakan jaringan sendi. Hal ini dapat mengganggu fungsi organ tubuh sehari-hari hingga terjadi cacat sendi. 

 

Selain itu, rheumatoid arthritis juga berpotensi menimbulkan komplikasi sistemik. Tidak hanya pada orang tua, komplikasi ini juga bisa terjadi pada usia muda. Beberapa komplikasi yang bisa terjadi akibat penyakit rheumatoid arthritis yang tidak ditangani adalah sebagai berikut:

 

  • Osteoporosis: Suatu kondisi yang menyebabkan lapisan tulang menipis dan mudah patah.

  • Anemia: Mengganggu produksi sel darah merah di sumsum tulang dan mengakibatkan lelah, lemah, dan penurunan daya tahan tubuh.

  • Masalah jantung: Kondisi ini berpotensi menyebabkan penebalan dan pengerasan pembuluh darah arteri dan peradangan pada kantung pembungkus jantung.

  • Infeksi: Rheumatoid arthritis dan pengobatan imunosupresan berisiko meningkatkan terjadinya infeksi.

  • Sindrom Sjogren: Kelainan yang menyebabkan kelembapan di mata dan mulut menurun, sehingga menjadi kering.

 

Pengobatan Rheumatoid Arthritis

 

Tujuan dari pengobatan rheumatoid arthritis adalah mengurangi peradangan pada sendi dan menenangkan sistem kekebalan tubuh agar berhenti menyerang jaringan tubuhnya sendiri. Sejumlah obat-obatan yang digunakan untuk mengatasi rheumatoid arthritis di antaranya:

 

a. Obat Penghilang Rasa Sakit

Salah satu jenis obat yang akan diberikan adalah obat untuk menghilangkan gejala, nyeri sendi, atau pembengkakan sendi, seperti kortikosteroid atau NSAID. Non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAID) bertujuan mengurangi nyeri dan pembengkakan pada sendi.

 

b. Disease Modifying Antirheumatic Drugs (DMARD)

Disease modifying antirheumatic drugs (DMARD) adalah jenis obat yang berfungsi sebagai imunosupresan. Dengan kata lain, obat ini memperbaiki kerja sistem kekebalan tubuh untuk mengurangi peradangan sendi dan mencegah cacat sendi.

Terdapat dua jenis DMARD, yakni DMARD konvensional dan biologis. Penggunaan DMARD, baik konvensional maupun biologis, dapat mengurangi nyeri, pembengkakan, dan kekakuan pada sendi. Selain itu, DMARD juga dapat meningkatkan fungsi harian penderita RA dan mencegah komplikasi serius yang dapat terjadi akibat peradangan kronis.

Pengobatan dengan DMARD biasa dimulai dengan DMARD konvensional seperti metotreksat. JIKA respons terhadap DMARD konvensional tidak memadai, dokter akan menambahkan agen biologi. Misalnya, antitumor necrosis factor alpha (TNFα) contohnya adalimumab, golimumab, etanercept, infliximab. Atau penghambat Interleukin (IL-6) seperti tocilizumab. Semuanya sudah tersedia di Indonesia.

 

Selain pemberian obat-obatan, umumnya dokter juga menyarankan pasien untuk menjalani tindakan medis, seperti:

 

  • Fisioterapi, untuk menjaga kelenturan sendi dan membantu pasien lebih mudah menjalani aktivitas sehari-hari.

  • Operasi, tindakan ini dilakukan jika terapi obat dan fisioterapi tidak efektif dalam mengatasi rheumatoid arthritis. Beberapa jenis operasi yang dapat dilakukan adalah sinovektomi (pengangkatan pembungkus sendi), reparasi tendon, penggantian sendi total, dan fusi sendi (menstabilkan dan menyatukan sendi).

 

Cara Mencegah Penyakit Rheumatoid Arthritis

 

Hingga saat ini, belum ada cara khusus yang bisa dilakukan untuk mencegah rheumatoid arthritis. Namun, beberapa upaya yang dapat mengurangi risiko terjadinya rheumatoid arthritis adalah:

 

  • Menghentikan kebiasaan merokok.

  • Rutin berolahraga.

  • Menjaga berat badan ideal.

  • Menghindari paparan polusi berlebihan.

 

Sangat penting untuk mengenali gejala awal rheumatoid arthritis. Semakin cepat diobati, maka gejala akan semakin membaik. Selain itu, dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, Anda dapat mengurangi risiko komplikasi yang dapat disebabkan oleh penyakit rheumatoid ini.

 

Penting untuk diketahui bahwa penyebab, gejala, serta penanganan yang disebutkan di atas tidak spesifik mewakili kondisi rheumatoid arthritis. Oleh karenanya, sangat penting untuk memperoleh diagnosis yang tepat dan akurat dengan mengunjungi Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Reumatologi di Siloam Hospitals terdekat.


Anda dapat menggunakan fitur Cari Dokter untuk menemukan informasi tentang jadwal dokter, membuat booking, serta janji temu dengan dokter terkait. Anda juga bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk melakukan konsultasi secara online. Mari unduh aplikasinya sekarang dan jaga selalu kesehatan Anda beserta keluarga #BersamaSiloam!

 

Digital Booking Laboratorium

Dokter Kami
dr-sandra-sinthya-langow-sppd-kr

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Sandra Sinthya Langow, SpPD-KR, FACR

Penyakit Dalam

Subspesialis Reumatologi


Siloam Hospitals Lippo Village

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-made-o-mahendra-spot-mbiomed

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Made Oka Mahendra, SpOT, M.Biomed

Ortopedi (Tulang)

Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-su-djie-to-rante-m-biomed-spot

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Su Djie To Rante, M. Biomed., SpOT, Subsp. P.L(K)

Ortopedi (Tulang)

Subspesialis Panggul dan Lutut


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail