Apa Itu Skoliosis? Kenali Gejala, Pengobatan & Pencegahannya
Kesehatan Tubuh

Apa Itu Skoliosis? Kenali Gejala, Pengobatan & Pencegahannya

19 Mei 2026 6 menit waktu baca
Skoliosis adalah

Skoliosis adalah kelainan pada tulang belakang yang ditandai dengan kelengkungan abnormal pada punggung menyerupai bentuk huruf S atau C. Beberapa penyebab skoliosis adalah cedera pada tulang belakang, gangguan saraf atau otot, atau bawaan dari lahir. Meski lebih sering terjadi pada anak-anak, tak menutup kemungkinan kondisi ini juga dialami oleh orang dewasa. Mari simak apa itu skoliosis selengkapnya melalui artikel berikut.

 

Apa Itu Skoliosis?

 

Normalnya, tulang belakang membentuk kurva yang tampak lurus dari bahu ke bawah jika dilihat dari belakang dan sedikit melengkung jika dilihat dari samping. Pada penderita skoliosis, kondisi ini menyebabkan bentuk tulang belakang melengkung seperti huruf S atau C yang dapat terlihat baik dari arah samping maupun belakang.

 

Skoliosis adalah jenis kelainan pada tulang belakang yang perlu segera ditangani. Apabila dibiarkan, penyakit ini dapat menyebabkan sejumlah komplikasi, seperti:

 

  • Nyeri punggung yang berkepanjangan.

  • Kerusakan saraf tulang belakang.

  • Gangguan pada jantung dan paru-paru.

  • Sesak napas akibat kelengkungan tulang yang membuat volume rongga dada di satu sisi menjadi lebih sempit.

  • Menurunnya kepercayaan diri akibat postur tubuh yang tidak sempurna.

 

Jenis-Jenis Skoliosis

 

Berdasarkan penyebabnya, skoliosis terbagi menjadi beberapa jenis. Berikut masing-masing penjelasannya:

 

  • Skoliosis degeneratif: Kondisi ini biasanya terjadi pada usia 40–50 tahun, sering kali dialami oleh orang dewasa yang pernah menderita skoliosis sebelumnya. Skoliosis degeneratif disebabkan oleh proses penuaan sendi-sendi dan ligamen tulang belakang seiring dengan bertambahnya usia.

  • Skoliosis neuromuskular: Kondisi ini terjadi karena ketidakmampuan badan dalam mempertahankan tonus serta postur tubuh akibat adanya kelainan pada sistem saraf dan otot. Skoliosis neuromuskular juga bisa berkaitan dengan penyakit spina bifida dan cerebral palsy.

  • Skoliosis kongenital: Kondisi ini merupakan akibat dari gangguan perkembangan tulang belakang pada janin sejak di dalam kandungan. Jenis skoliosis ini biasanya lebih sulit ditangani.

  • Skoliosis sindromik: Kondisi ini terjadi pada seseorang dengan sindrom tertentu, misalnya sindrom Beale, sindrom Retts, dan sindrom Prader-Willi.

  • Skoliosis idiopatik: Jenis skoliosis ini belum diketahui secara pasti apa penyebabnya, namun merupakan kasus skoliosis yang paling banyak terjadi, terutama pada anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan, yaitu pada usia 10–18 tahun.

 

Penyebab Skoliosis

 

Penyebab skoliosis bisa beragam, tergantung jenisnya. Pada banyak kasus, terutama skoliosis idiopatik yang umum terjadi pada remaja, penyebab pastinya belum diketahui. Namun, secara umum beberapa kondisi yang dapat menjadi penyebab skoliosis adalah sebagai berikut:

 

  • Cacat tulang belakang.

  • Bantalan dan sendi tulang belakang yang mulai rapuh karena usia.

  • Bawaan lahir.

  • Infeksi atau cedera pada tulang belakang.

  • Penyakit osteoporosis.

  • Gangguan saraf dan otot.

 

Adapun beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko skoliosis adalah:

 

  • Memiliki keluarga dengan riwayat skoliosis.

  • Berjenis kelamin wanita.

  • Sedang memasuki masa pubertas.

 

Gejala skoliosis

 

Gejala Skoliosis

 

Gejala skoliosis dapat berbeda, tergantung dari tingkat keparahan kondisinya. Namun, ciri-ciri skoliosis yang umum ditemukan pada penderitanya dapat berupa:

 

  • Tubuh penderita cenderung condong ke satu sisi.

  • Nyeri punggung.

  • Mengalami ketegangan otot.

  • Kaku pada punggung.

  • Tulang belakang terlihat melengkung.

  • Tulang belikat tampak menonjol di salah satu sisi.

  • Tinggi pinggang tidak sama.

  • Salah satu kaki lebih panjang saat berdiri tegak.

  • Bahu miring.

  • Salah satu pinggul lebih menonjol daripada sisi lainnya.

 

Apabila derajat lengkungan skoliosis sudah cukup parah, penderita biasanya akan merasa tidak nyaman pada punggung. Selain itu, kondisi ini dapat menyebabkan perputaran tulang belakang yang dapat membuat derajat lengkungan semakin parah, bahkan salah satu sisi tulang rusuk atau otot menjadi menonjol.

 

Diagnosis Skoliosis

 

Diagnosis skoliosis dimulai oleh dokter dengan melakukan anamnesis (wawancara medis) untuk mengetahui keluhan serta riwayat kesehatan pasien dan keluarganya. Kemudian, dilanjutkan dengan melakukan pemeriksaan fisik, meliputi pemeriksaan pada area tulang belakang, bahu, tulang rusuk, serta pinggul. Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat dan menilai derajat lengkungan abnormal atau tonjolan di area tersebut.

 

Kemudian, beberapa pemeriksaan penunjang yang biasanya dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis skoliosis adalah:

 

  • Foto rontgen, untuk mendapatkan gambaran tulang belakang menggunakan sinar X.

  • CT scan, untuk melihat kondisi kerangka tulang dalam bentuk gambar 3D.

  • MRI, untuk mendapatkan gambaran tulang belakang beserta jaringan di sekitarnya dengan lebih detail.

 

Tingkat keparahan skoliosis dinilai dari derajat kelengkungan tulang belakang (cobb angle) sebagai berikut:

 

  • 0–10 derajat: Belum didiagnosis sebagai skoliosis, namun memerlukan pengawasan apabila terdapat faktor risiko.

  • 10–25 derajat: Skoliosis ringan (mild scoliosis).

  • 25–40 derajat: Skoliosis sedang (moderate scoliosis).

  • 40–60 derajat: Skoliosis berat (severe scoliosis).

 

Sebelum mengambil keputusan medis, sebagian pasien mungkin merasa perlu mencari second opinion untuk memantapkan rencana pengobatannya. Dalam situasi ini, pasien dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis lain untuk memastikan bahwa terapi yang disarankan sudah sesuai dengan kondisinya.

 

Pengobatan Skoliosis

 

Beberapa hal yang dipertimbangkan dalam pengobatan skoliosis adalah usia pasien, jenis skoliosis, tingkat keparahan, dan kondisi lengkungan pada tulang belakang.

 

A. Pengobatan Skoliosis pada Anak

 

Skoliosis pada anak dengan derajat kelengkungan 0–10 derajat tidak memerlukan pengobatan khusus. Pasalnya, anak-anak memiliki tulang belakang yang masih bisa berkembang dan bisa kembali lurus seiring dengan pertambahan usia. Meski begitu, anak dengan risiko skoliosis perlu mendapatkan pengawasan khusus dari dokter dan menjalani pemeriksaan secara rutin. Hal ini dilakukan untuk memantau perkembangan tulang belakang anak.

 

Jika derajat kelengkungan skoliosis pada anak mencapai 25 derajat, dokter akan menyarankan penggunaan alat khusus sebagai penyangga tulang belakang. Namun, metode ini tidak mengembalikan bentuk tulang belakang menjadi normal kembali, melainkan hanya mencegah kelengkungan berkembang semakin parah. Apabila derajat kelengkungan telah mencapai 40 derajat atau lebih disertai gejala yang mengganggu aktivitas sehari-hari, dokter akan menyarankan pasien untuk melakukan operasi.

 

B. Terapi Skoliosis pada Orang Dewasa

 

Pada orang dewasa, biasanya dokter akan memberikan obat pereda nyeri untuk skoliosis dalam kategori ringan-sedang dengan nyeri. Selain itu, dokter juga bisa memberikan suntikan kortikosteroid untuk meredakan rasa nyeri, kesemutan, dan kaku akibat tekanan pada saraf tulang belakang pasien. Jika skoliosis telah mencapai kategori berat yang tidak bisa diatasi dengan obat pereda nyeri, maka dokter akan mempertimbangkan prosedur spinal-fusion surgery.

 

C. Operasi Skoliosis

 

Tindakan operasi dipertimbangkan apabila skoliosis yang dialami pasien cukup berat dan tidak membaik meski sudah menjalani terapi. Operasi skoliosis umumnya dilakukan setelah masa pertumbuhan selesai untuk meminimalkan risiko kekambuhan lengkungan. Operasi yang paling sering dilakukan adalah spinal-fusion surgery atau fusi tulang belakang.

 

Pada prosedur tersebut, dokter akan menyatukan dua atau beberapa ruas tulang belakang agar membentuk satu tulang. Kemudian, tulang tersebut disangga dengan plat agar tegak. Jenis operasi lain yang bisa dilakukan oleh dokter untuk mengatasi skoliosis adalah:

 

  • Operasi laminektomi, mengangkat sebagian tulang belakang untuk menghilangkan tekanan pada saraf yang terdampak.

  • Operasi dekompresi, mengangkat salah satu cakram atau bantalan di tulang belakang untuk mengurangi atau menghilangkan tekanan pada saraf yang terdampak.

Pencegahan Skoliosis

 

Sebagian besar kasus skoliosis tidak dapat dicegah. Namun, guna mengurangi risiko terjadinya skoliosis degeneratif (karena pertambahan usia), lakukan program latihan aerobik dan latihan kekuatan otot inti secara rutin sejak dini. Aktivitas fisik tersebut dapat membantu meluruskan tulang belakang yang melengkung serta menguatkan otot punggung dan perut.

 

Sementara itu, pencegahan skoliosis pada anak dapat dilakukan dengan menjalani skrining skoliosis secara rutin. Pemeriksaan tersebut bertujuan untuk mendeteksi skoliosis sejak dini sehingga dapat diberi penanganan dengan tepat sesegera mungkin.

 

Penting untuk diingat bahwa informasi di atas bertujuan untuk edukasi semata dan tidak dapat menggantikan diagnosis resmi serta saran perawatan dari tenaga medis profesional. Beberapa penyebab serta gejala yang disebutkan juga tidak secara spesifik mewakili kondisi skoliosis karena mungkin mengindikasikan kondisi lainnya.

 

Proses, metode, dan opsi pengobatan di setiap rumah sakit pun dapat berbeda, tergantung pada kondisi medis pasien serta fasilitas kesehatan yang dimiliki. Oleh karena itu, saat memilih rumah sakit ortopedi terbaik, pastikan Anda mempertimbangkan rekomendasi tepercaya dan layanan kesehatan unggulan sebagai bagian penting dalam menentukan pilihan pengobatan maupun mendapatkan second opinion.

 

Tidak perlu jauh ke luar negeri. Dengan teknologi medis yang canggih dan tim dokter berpengalaman, Anda dapat memperoleh tinjauan medis yang lengkap di Indonesia. Segera berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Orthopaedi (Tulang) dan Traumatologi di Siloam Hospitals terdekat apabila mengalami gejala yang mengarah pada skoliosis, seperti tulang belakang melengkung berbentuk huruf S, nyeri pada punggung, dan bahu tampak lebih miring ke salah satu sisi.

 

Hubungi Siloam Medical Concierge untuk membantu Anda memperoleh layanan kesehatan dengan standar internasional. Mari, temukan solusi kesehatan Anda bersama kami, di Indonesia.

 

 

second opinion penanganan komprehensif

Dokter Kami
dr-donny-argie-spbs

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Donny Argie, SpBS, NVas, FINPS, FICS

Bedah Saraf

Spesialis Bedah Saraf


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ivanmorl-ruspanah-spbs

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ivanmorl Ruspanah, SpBS

Bedah Saraf

Spesialis Bedah Saraf


Siloam Hospitals Ambon

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-bagus-sasongko-spbs

Online & Kunjungi Rumah Sakit

Dr. dr. Bagus Sasongko, SpBS, M.Kes, FN-TB, FINSS

Bedah Saraf

Spesialis Bedah Saraf


Siloam Hospitals Lippo Cikarang

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail