Kesehatan Tubuh
Spondilolisis - Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

Table of Contents
Spondylolysis atau spondilolisis adalah patah tulang (fraktur) stres pada salah satu ruas antar tulang belakang. Kondisi ini dapat memengaruhi bagian tulang belakang yang disebut pars interarticularis, yaitu segmen yang berada di antara dua tulang belakang (vertebra) yang berdekatan.
Spondilolisis dapat dialami oleh siapa saja, namun lebih sering dijumpai pada anak-anak dibandingkan dengan atlet. Benarkah demikian? Mari cari tahu lebih lanjut tentang kondisi spondilolisis melalui artikel berikut ini.
Apa itu Spondilolisis?
Spondilolisis adalah fraktur stres yang terjadi pada vertebra atau tulang belakang. Pada kondisi spondilolisis, fraktur tulang terjadi pada segmen di antara dua tulang belakang yang saling berhubungan (pars interarticularis).
Pars interarticularis atau secara singkat dapat disebut juga sebagai pars adalah bagian tulang tipis yang berada di antara segmen atas (superior) dan bawah (inferior) sendi facet pada tulang belakang. Fungsi pars interarticularis yaitu untuk menghubungkan serta memungkinkan pergerakan pada tulang belakang.
Spondilolisis adalah kondisi yang sering terjadi pada punggung bagian bawah (lumbar spine), yaitu antara vertebra lumbar L4 dan L5. Namun, tak menutup kemungkinan juga menyerang bagian tulang belakang lainnya, misal di leher (cervical spine) atau punggung tengah (thoracic spine).
Penyebab Spondylosis
Spondilolisis terjadi akibat kerusakan atau patah pada pars interarticularis, yang merupakan bagian kecil pada tulang belakang. Adapun beberapa penyebab umum spondilolisis adalah sebagai berikut:
1. Overuse (Penggunaan Berlebihan)
Gerakan berulang secara berlebihan dapat memberikan tekanan pada punggung bawah dan menyebabkan kerusakan pada tulang belakang. Seiring dengan berjalannya waktu, kerusakan tersebut dapat semakin parah hingga menyebabkan fraktur pada pars interarticularis.
2. Grow Spurt (Percepatan Pertumbuhan)
Risiko spondilolisis diketahui dapat meningkat pada anak dan remaja yang sedang mengalami fase percepatan pertumbuhan (grow spurt). Grow spurt sendiri merupakan fase di mana pertumbuhan dan perubahan anak secara fisik terjadi sangat cepat dan signifikan.
3. Faktor Genetik
Beberapa orang mungkin memiliki tulang belakang yang lebih tipis sejak lahir. Apabila demikian, kondisi ini dapat meningkatkan risiko terjadinya spondilolisis.
Faktor Risiko Spondilolisis
Meskipun spondilolisis umumnya terjadi pada orang lanjut usia sebagai dampak dari penurunan kinerja tubuh secara alami, namun terdapat faktor-faktor tertentu yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya spondilitis adalah sebagai berikut:
-
Anak-anak dan remaja yang masih dalam fase pertumbuhan dengan cepat.
-
Penduduk asli Alaska. Pasalnya, orang dari etnis Alaska cenderung memiliki tulang belakang yang tipis.
-
Atlet atau olahragawan yang sering melakukan gerakan menekuk punggung ke belakang secara berulang, seperti atlet senam, karate, angkat beban, atau sepak bola.
-
Memiliki berat badan berlebih atau obesitas.
-
Mengalami cedera tulang belakang atau memiliki riwayat operasi tulang belakang.
-
Kebiasaan merokok.
-
Memiliki gaya hidup sedentari dan tidak rajin berolahraga.
-
Pertambahan usia.
-
Memiliki pekerjaan yang melibatkan gerakan berulang atau menahan beban dengan tulang belakang.
Gejala Spondylosis
Gejala spondylosis yang umum terjadi adalah rasa nyeri dan kaku pada punggung bagian bawah (low back pain) yang biasanya dapat memburuk saat penderitanya beraktivitas, namun juga bisa segera membaik ketika penderitanya beristirahat.
Adapun rasa nyeri yang muncul biasanya memiliki karakteristik sebagai berikut:
-
Menjalar atau menyebar ke seluruh tulang belakang atau dari bagian punggung bawah ke otot paha dan pantat (pada spondilolisis lumbar).
-
Nyeri dan kaku pada bagian punggung tengah (spondilolisis torakal).
-
Nyeri dan kaku pada bagian leher (spondilolisis servikal).
-
Merasakan sensasi ketegangan otot di dalam atau di sekitar punggung bawah.
-
Disertai kesemutan atau mati rasa pada punggung, lengan, tungkai, bahu, kaki, dan tangan.
-
Gangguan koordinasi tubuh.
Diagnosis Spondilolisis
Sebelum menegakkan diagnosis, dokter terlebih dahulu melakukan anamnesis (wawancara medis) dengan menanyakan keluhan dan riwayat kesehatan pasien secara keseluruhan, serta melakukan pemeriksaan fisik yang meliputi:
-
Memeriksa bagian yang terasa nyeri.
-
Memeriksa ada atau tidaknya kelainan gerak tubuh.
-
Memeriksa ada atau tidaknya spasme atau ketegangan otot.
-
Memeriksa ada atau tidaknya kelemahan otot.
Kemudian, akan dilakukan tes pencitraan sebagai pemeriksaan penunjang untuk membantu menegakkan diagnosis. Adapun beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat membantu menegakkan diagnosis spondilolisis adalah sebagai berikut:
-
Foto rontgen atau sinar-X, untuk mendeteksi adanya patah tulang atau kelainan pada tulang lainnya.
-
CT scan, untuk mengevaluasi kerusakan pada pars dan menentukan penanganan yang tepat.
-
MRI, untuk melihat jaringan di sekitar tulang yang bermasalah secara lebih jelas.
Komplikasi Spondilolisis
Jika tidak segera mendapatkan penanganan, spondilolisis dapat menyebabkan vertebra keluar dari posisi normalnya dan menekan sumsum tulang belakang. Kondisi ini disebut juga dengan spondilolistesis (spondylolisthesis). Adapun beberapa gejala spondilolistesis, salah satunya adalah nyeri di bagian punggung bawah.
Apabila pergeseran tulang belakang tersebut menekan saraf, penderita mungkin akan mengalami nyeri hebat di kaki. Pada beberapa kasus, tindakan operasi diperlukan untuk meringankan gejala spondilolistesis agar penderita bisa beraktivitas secara normal kembali.
Penanganan Spondilolisis
Tujuan dari penanganan spondilolisis adalah untuk mengurangi nyeri, mempercepat pemulihan patah tulang, dan membantu pasien agar bisa kembali melakukan aktivitas dengan normal. Penanganan spondilolisis akan disesuaikan dengan lokasi serta derajat keparahan kondisi tulang belakang. Beberapa pilihan perawatan untuk spondilolisis adalah sebagai berikut:
-
Istirahat: Menghentikan aktivitas olahraga atau aktivitas fisik lainnya yang intens untuk sementara waktu guna mengurangi stres pada tulang belakang.
-
Pengobatan: Dokter akan memberikan obat-obatan NSAID untuk membantu meredakan rasa nyeri dan peradangan.
-
Kortikosteroid: Pengobatan ini bertujuan untuk mengurangi peradangan, biasanya diberikan dalam bentuk oral atau melalui suntikan.
-
Fisioterapi: Bertujuan untuk melatih kekuatan dan fleksibilitas tubuh agar dapat kembali melakukan aktivitas fisik setelah mengalami cedera.
-
Bracing: Memberikan penyangga punggung untuk menstabilkan tulang belakang setelah terjadi patah tulang pars.
Spondilolisis adalah kondisi yang jarang memerlukan prosedur pembedahan dalam penanganannya. Pada sebagian besar kasus, penderita akan segera membaik dengan perawatan non-bedah seperti di atas. Biasanya, diperlukan waktu sekitar 6 bulan untuk dapat pulih sepenuhnya dari spondilolisis.
Pencegahan Spondilolisis
Spondilolisis akibat bertambahnya usia adalah kondisi yang tidak dapat dicegah. Namun, ada beberapa cara pencegahan spondilosis yang dapat dilakukan untuk meminimalkan risikonya. Berikut beberapa caranya:
-
Menggunakan sabuk pengaman saat berkendara.
-
Menggunakan alat pelindung saat berolahraga.
-
Memastikan ruang kerja atau kamar bebas dari benda-benda yang dapat menyebabkan cedera.
-
Hindari berdiri di atas meja atau kursi. Sebaiknya, gunakan alat atau perlengkapan yang tepat saat hendak mengambil barang yang sulit dijangkau.
-
Berolahraga secara teratur.
-
Menggunakan tongkat atau alat bantu jalan saat mengalami kondisi yang menyebabkan sulit berjalan untuk mengurangi risiko terjatuh.
Sebagai langkah pencegahan lebih lanjut, lakukan pemeriksaan kesehatan tulang secara berkala di Siloam Hospitals terdekat. Manfaatkan paket medical check up Kesehatan Tulang untuk mendeteksi potensi masalah pada tulang sejak dini.
Untuk mempermudah akses layanan kesehatan yang cepat dan praktis di Siloam Hospitals, Anda dapat mengunduh aplikasi MySiloam. Jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Ambon
Tersedia :
Tersedia hari ini
Online & Kunjungi Rumah Sakit
Dr. dr. Bagus Sasongko, SpBS, M.Kes, FN-TB, FINSS
Bedah Saraf
Spesialis Bedah Saraf
Siloam Hospitals Lippo Cikarang
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
Fisioterapi (1x kunjungan) - Homecare
Rehabilitasi Medis Homecare
Rp399.000
TERPOPULER
Fisioterapi (6x kunjungan) - Homecare
Rehabilitasi Medis Homecare
Rp3.300.000
TERPOPULER
Paket Cek Kesehatan Tulang
Darah, Elektrolit, Tulang, Vitamin & Mineral
2 Service/Item
Rp518.400
TERPOPULER
Rontgen Tulang Belakang Bawah Dan Ekor/VERT. Lumbosacral AP + LAT
Rontgen / X-Ray
Rp509.000
CT Scan Tulang Belakang Bawah Dan Ekor/Lumbosacral (Non Kontras)
CT Scan, Tulang/ Ortopedi
Rp2.808.000
MRI Tulang Belakang Tengah/Punggung/Spine Thoracic (Non Kontras)
MRI / MRA
Rp2.870.000
TERPOPULER
1.5T MRI LUMBAL NON CONTRAST
MRI / MRA, Tulang/ Ortopedi
Rp2.870.000







