Kesehatan Tubuh
Apa itu TB MDR? Ini Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Table of Contents
Multidrug resistant tuberculosis atau dikenal dengan TB MDR adalah tipe tuberkulosis yang sudah resistan atau kebal terhadap dua jenis antibiotik yang paling efektif untuk menangani TB, yaitu isoniazid dan rifampicin.
Kondisi ini kerap terjadi karena kesalahan manajemen pengobatan TB atau penularan dari penderita TB MDR ke orang lain. Untuk mengenal penyebab, gejala, hingga pengobatan TB MDR secara lengkap, mari simak pembahasan berikut ini sampai tuntas.
Apa itu TB MDR (Multidrug Resistant Tuberculosis)?
Seperti sudah disebutkan di atas, multidrug resistant tuberculosis atau TB MDR adalah kondisi medis ketika penderita TB (tuberkulosis) mengalami resistansi terhadap isoniazid dan rifampicin, yaitu dua jenis antibiotik lini pertama yang paling efektif untuk menangani TB. Artinya, obat-obatan tersebut sudah tidak mempan untuk membunuh bakteri TB dalam tubuh penderita.
Penyebab TB MDR
Resistansi kuman TB terhadap obat antituberkulosis (OAT) adalah keadaan saat kuman tersebut sudah tidak dapat lagi dibunuh dengan OAT. TB MDR adalah salah satu jenis dari klasifikasi TB resistan obat (TB RO). TB RO dapat terjadi karena pengobatan pasien TB yang tidak sesuai ataupun penularan dari pasien TB RO.
Pada dasarnya, tuberkulosis dapat disembuhkan dengan konsumsi obat-obatan selama 6 bulan secara ketat.Namun, jika penderita tidak menjalani pengobatan TB sesuai anjuran dokter, tidak teratur mengonsumsi panduan OAT, atau menghentikan pengobatan secara sepihak sebelum waktunya, bakteri TB justru akan menjadi kebal atau tidak mempan lagi dengan obat-obatan yang digunakan.
Formulasi OAT yang tidak efektif (kualitas obat yang buruk atau cara penyimpanannya yang kurang tepat) atau penggunaan obat yang tidak tepat (jenis dan jumlah obat, dosis, serta jangka waktu pengobatan yang tidak adekuat) dapat menyebabkan bakteri tuberkulosis menjadi resistan terhadap pengobatan.
Bakteri TB yang sudah resistan tersebut juga bisa menyebar ke orang lain melalui percikan air liur (droplet) saat penderitanya sedang batuk, bersin, berbicara, atau bernapas. Selain itu, sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami TB MDR adalah sebagai berikut.
-
Memiliki riwayat TB sebelumnya.
-
Memiliki sistem imun tubuh yang lemah.
-
Bepergian ke daerah dengan kasus TB MDR yang tinggi.
-
Kontak langsung dengan penderita TB MDR.
Gejala TB MDR
TB MDR ditandai dengan kondisi penderita TB yang tidak kunjung membaik atau bahkan bertambah parah meskipun sudah menjalani pengobatan dari dokter. Gejala kondisi ini biasanya tidak berbeda dengan gejala tuberkulosis, namun intensitasnya cenderung lebih parah. Adapun beberapa gejala umum dari TB MDR adalah:
-
Demam ringan.
-
Nyeri dada.
-
Berkeringat di malam hari.
-
Mudah lelah.
-
Tubuh lemas.
-
Tidak nafsu makan.
Diagnosis TB MDR
Diagnosis TB MDR ditegakkan berdasarkan hasil uji kepekaan yang bertujuan untuk menentukan ada atau tidaknya resistansi bakteri TB terhadap OAT. Uji kepekaan ini dilakukan melalui prosedur pemeriksaan laboratorium khusus oleh laboratorium rujukan nasional TB.
Salah satu prosedur pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan metode teknik molekul, yaitu Xpert MTB/RIF atau dikenal sebagai tes cepat molekuler (TCM). Hasil pemeriksaan ini dapat diketahui dalam waktu kurang lebih 2 jam.
TCM sendiri merupakan prosedur pemeriksaan yang bertujuan untuk mendeteksi bakteri Mycobacterium tuberculosis secara molekuler serta memastikan apakah bakteri tersebut resistan terhadap obat tertentu.
Selain tes cepat molekuler, dokter juga dapat menegakkan diagnosis TB MDR dengan cara menganalisis sampel dahak atau darah pasien.
Pengobatan TB MDR
TB MDR masih dapat disembuhkan dengan pengobatan yang berbeda dengan pengobatan TB biasa. Pengobatan TB MDR membutuhkan waktu yang lebih lama serta harus diawasi dengan ketat oleh dokter.
Secara umum, pengobatan TB MDR akan menggunakan OAT lini kedua, seperti ciprofloxacine, levofloxacin, ofloxacine, dan amikacin. Adapun sejumlah aturan khusus yang perlu diperhatikan oleh pasien selama menjalani pengobatan TB MDR adalah sebagai berikut.
-
Dosis pengobatannya berbeda dengan TB biasa, tergantung dengan gejala dan bagian tubuh yang terdampak bakteri TB. Durasi pengobatan TB MDR bisa berlangsung selama 9–12 bulan bahkan hingga 18–24 bulan, tergantung dari kondisi dan diagnosis klinis pasien.
-
Jumlah dan varian obat lebih banyak.
-
Menerapkan pola hidup sehat sebaik mungkin, seperti menghindari rokok dan paparan asap rokok, mengonsumsi makanan sehat, serta memastikan sirkulasi udara di rumah dalam keadaan baik.
Komplikasi TB MDR
Karena menggunakan obat-obatan dalam jumlah banyak dan beragam, pengobatan TB MDR juga berisiko menimbulkan efek samping yang lebih berat dibandingkan dengan pengobatan TB biasa. Adapun beberapa risiko efek samping pengobatan TB MDR adalah sebagai berikut.
-
Mual dan muntah.
-
Hipotiroid.
-
Gangguan pencernaan.
-
Neuropati perifer (kerusakan sistem saraf tepi).
-
Hepatitis.
Selain itu, jika pengobatan TB MDR juga tidak efektif untuk menangani bakteri TB, kondisi tersebut bisa mengarah pada resistansi obat yang lebih serius atau disebut dengan TB XDR (extensively drug-resistant).
Pencegahan TB MDR
Langkah terpenting yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya TB MDR adalah menjalani pengobatan TB sesuai dengan arahan dokter. Penderita TB diwajibkan untuk mengonsumsi obat-obatan yang sudah diresepkan oleh dokter sampai habis. Penderita juga harus segera menginformasikan dokter apabila mengalami kesulitan saat menjalani pengobatan.
Cara lain untuk mencegah penularan TB MDR adalah dengan menghindari paparan terhadap pasien TB MDR di tempat tertutup atau ramai, seperti rumah sakit dan penjara atau pusat penampungan, seperti panti asuhan dan panti wreda.
Jika Anda bekerja di rumah sakit atau tempat layanan kesehatan di mana pasien TBC sering ditemui, Anda wajib berkonsultasi dengan ahli pengendalian infeksi atau kesehatan kerja untuk memastikan keselamatan Anda.
Selain itu, TB MDR juga dapat dicegah dengan pemberian vaksin Bacille Calmette-Guérin (BCG). Tak hanya TB MDR, imunisasi BCG merupakan upaya pencegahan untuk semua jenis tuberkulosis. Adapun dosis vaksin BCG akan diberikan sebanyak satu kali.
Pada dasarnya, TB MDR adalah kondisi yang memerlukan penanganan medis khusus. Maka dari itu, segera kunjungi Siloam Hospitals terdekat apabila Anda atau orang terdekat mengalami gejala-gejala TB MDR seperti ulasan di atas.
Selain itu, Anda juga dapat menjaga kesehatan paru-paru secara menyeluruh dengan memesan paket Skrining Kesehatan Paru dari Siloam Hospitals. Dengan memesan paket ini, Anda dapat memperoleh tes darah lengkap, foto rontgen, serta spirometri untuk memeriksa kemungkinan gangguan kesehatan pada paru-paru.
Pemesanan paket tersebut dapat dilakukan dengan mudah melalui aplikasi MySiloam. Aplikasi ini juga menyediakan fitur Medical Records yang memungkinkan Anda untuk memantau hasil skrining kesehatan dari rumah. Mari jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kelapa Dua
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
Skrining Kesehatan Paru
Penawaran Spesial
4 Service/Item
Rp650.000
TERPOPULER
Kunjungan Dokter Umum - Homecare
Kunjungan Dokter Umum
Rp650.000
TERPOPULER
Rontgen Dada
Rontgen / X-Ray
Rp191.000
TERPOPULER
Rontgen Dada/Thorax PA + Lateral
Rontgen / X-Ray
Rp382.000
TERPOPULER
CT Thorax Non-CNTRS / CT Scan Dada
CT Scan
Rp2.079.000
TERPOPULER
Kunjungan Dokter Umum dan Perawat - Homecare
Kunjungan Dokter Umum
Rp1.100.000







