Kesehatan Tubuh
Trauma Abdomen - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Table of Contents
Abdominal trauma atau trauma abdomen adalah cedera yang terjadi pada rongga perut. Kondisi ini dapat ditandai dengan rasa nyeri pada perut, perut bengkak, serta luka atau memar pada perut. Lantas, apa penyebab dan bagaimana cara menangani trauma perut tersebut? Untuk memahaminya, Anda dapat menyimak artikel berikut ini.
Apa itu Trauma Abdomen?
Trauma abdomen adalah kondisi medis ketika terdapat cedera pada rongga perut. Kondisi ini biasanya terjadi karena adanya pukulan, benturan benda tumpul, ataupun tusukan benda tajam.
Karena terjadi pada rongga perut, trauma abdomen dapat menyebabkan kerusakan pada berbagai organ dalam tubuh, seperti lambung, usus halus, usus besar, hati, pankreas, kantung empedu, limpa, dan ginjal. Apabila tidak ditangani dengan segera dan tepat, cedera perut ini dapat memicu perdarahan yang berisiko mengancam nyawa.
Jenis Trauma Abdomen
Pada dasarnya, trauma perut dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu trauma tumpul dan trauma tajam. Berikut masing-masing penjelasannya.
1. Trauma Tumpul
Trauma tumpul merupakan cedera yang terjadi akibat hantaman atau benturan keras pada perut. Kondisi ini lebih sering terjadi pada hati, limpa, dan usus halus.
2. Trauma Tajam
Trauma tajam adalah cedera berupa luka yang disebabkan oleh tusukan benda tajam ke dalam rongga perut. Trauma tajam dapat disebabkan oleh luka tembak, luka bacok, atau luka tusuk karena benda tajam.
Penyebab Trauma Abdomen
Adapun sejumlah kondisi yang dapat menyebabkan seseorang mengalami trauma pada perut adalah sebagai berikut:
- Kecelakaan lalu lintas atau kecelakaan kerja.
- Terjatuh dari ketinggian.
- Cedera akibat olahraga.
- Serangan fisik.
- Terkena ledakan.
- Terkena tembakan.
- Terkena benturan benda tumpul.
Tanda dan Gejala Trauma Abdomen
Gejala trauma perut cenderung bervariasi tergantung pada jenis, lokasi cedera, dan tingkat keparahannya. Namun, berikut adalah beberapa gejala dari trauma perut yang umum terjadi:
- Nyeri pada perut.
- Perut membengkak dan terasa kaku dengan penurunan atau tanpa bising usus.
- Kesulitan bernapas.
- Mual dengan atau tanpa disertai muntah.
- Memar atau luka pada area perut yang terdampak.
- Perdarahan saluran cerna bagian bawah.
- Darah dalam urine (jika terdapat cedera pada ginjal).
Sementara itu, pada kasus yang lebih serius, trauma perut dapat menyebabkan syok yang ditandai dengan sejumlah gejala seperti berikut ini:
- Jantung berdebar.
- Penurunan tekanan darah.
- Kehilangan kesadaran.
- Kulit dingin dengan elastisitas (turgor) kulit yang jelek.
- Pengisian kapiler (capillary refilling time) lambat.
Komplikasi Trauma Abdomen
Cedera abdomen yang tidak mendapatkan penanganan dengan tepat dan segera berisiko menimbulkan sejumlah komplikasi, di antaranya:
- Peritonitis.
- Sindrom kompartemen abdomen (peningkatan tekanan pada abdomen).
- Kerusakan organ dalam.
- Perdarahan hebat intraabdominal.
- Sepsis intraabdominal.
Pertolongan Pertama Trauma Abdomen
Apabila terdapat pasien dalam kondisi cedera, baik dalam keadaan sadar maupun tidak sadar, tindakan awal yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan pertolongan pertama sesuai metode advanced trauma life support (ATLS). Metode tersebut meliputi:
A (Airway)
Melalui tindakan ini, tenaga medis akan menilai kondisi jalan napas pasien. Jika dipastikan tidak terdapat cedera pada jalan napas, tindakan akan dilanjutkan dengan membuka jalan napas menggunakan metode head tilt chin lift (menengadahkan kepala dan mengangkat serta mendorong dagu pasien menggunakan jari telunjuk dan jari tengah secara perlahan).
B (Breathing and Ventilation)
Breathing and ventilation merupakan metode bantuan pernapasan dari advanced trauma life support yang bertujuan untuk memastikan apakah pasien benar-benar bernapas. Untuk memeriksanya, tenaga medis dapat melihat gerakan naik turun pada dada pasien saat sedang bernapas.
C (Circulation)
Circulation adalah tahapan dari pertolongan pertama trauma untuk memberikan bantuan sirkulasi dan merupakan survei primer yang harus dilakukan dalam 2–5 menit pada pasien trauma. Jika denyut nadi tidak teraba (henti jantung) dan tidak ada pernapasan (henti napas), maka dapat dilakukan cardiopulmonary resuscitation (CPR) untuk mengembalikan kemampuan bernapas dan sirkulasi darah pada tubuh pasien.
D (Disability)
Disability adalah tahapan ATLS untuk menilai tingkat kesadaran pasien dengan menilai kewaspadaan (alert), respon suara (voice responsive), respon rasa nyeri (pain responsive), tidak responsif (unresponsive), refleks pupil terhadap cahaya, kadar gula darah, dan pergerakan (movement).
E (Exposure)
Pada tahap exposure, dokter akan melepaskan pakaian pasien untuk menemukan tanda-tanda cedera, seperti luka atau memar, pada tubuh pasien.
Diagnosis Trauma Abdomen
Setelah memberikan pertolongan pertama, dokter dapat memastikan dan mengonfirmasi diagnosis melalui beberapa prosedur pemeriksaan, di antaranya adalah:
- Jika pasien dalam keadaan sadar, dokter akan melakukan anamnesis (wawancara medis) untuk mengetahui kronologi kecelakaan dan keluhan yang dialami pasien.
- Pemeriksaan fisik secara keseluruhan.
- Teknik pencitraan, yaitu CT Scan, MRI (Magnetic Resonance Imaging), dan USG abdomen.
- Tes laboratorium, yaitu tes darah dan tes urine.
Pengobatan Trauma Abdomen
Pengobatan trauma abdomen perlu disesuaikan dengan lokasi atau area yang terdampak dan tingkat keparahan trauma. Pada kasus yang ringan, dokter dapat melakukan perawatan konservatif dengan memberikan obat-obatan untuk menangani nyeri dan menyarankan pasien untuk beristirahat total.
Namun, jika menimbulkan trauma berat, dokter akan menindaklanjutinya dengan melakukan transfusi darah serta tindakan pembedahan perut (laparotomi) untuk memperbaiki organ serta jaringan yang rusak.
Pencegahan Trauma Abdomen
Pencegahan trauma perut dapat dilakukan dengan menghindari berbagai faktor risikonya, seperti:
- Mengutamakan keselamatan diri saat bekerja.
- Mematuhi rambu lalu lintas dan menggunakan sabuk pengaman saat berkendara guna menghindari risiko kecelakaan lalu lintas.
- Menggunakan alat pelindung yang sesuai dengan standar saat berolahraga.
- Menghindari terlibat dalam kekerasan fisik.
Segera konsultasikan kondisi Anda dengan dokter Siloam Hospitals terdekat apabila pernah mengalami cedera perut dan menemukan gejala seperti ulasan di atas. Anda juga dapat mengunjungi Siloam Hospitals Asri atau Siloam Hospitals Agora Cempaka Putih untuk berkonsultasi dengan dr. Tommy Supit, Sp.B FICS guna memperoleh penanganan lebih lanjut terkait dengan cedera perut.
Sebelum itu, gunakan fitur Cari Dokter yang dapat memudahkan Anda untuk mencari informasi jadwal dan buat janji temu dengan dokter Siloam Hospitals. Manfaatkan pula aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai layanan kesehatan dengan mudah dan cepat. Unduh aplikasi MySiloam secara gratis dan dapatkan akses layanan kesehatan dengan mudah #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals TB Simatupang
Tersedia :
Tersedia hari ini




