Ventilasi Mekanik, Ini Tujuan dan Prosedur Penggunaannya
Kesehatan Tubuh

Ventilasi Mekanik, Ini Tujuan dan Prosedur Penggunaannya

05 Mei 2025 5 menit waktu baca
ventilasi mekanik

Mechanical ventilation atau ventilasi mekanik adalah prosedur penggunaan alat medis untuk membantu pasien dalam bernapas. Alat medis tersebut biasanya digunakan pada pasien saat sedang menjalani tindakan operasi atau ketika mengalami gangguan pernapasan yang parah sehingga tidak memungkinkan untuk bisa bernapas sendiri. Mari simak informasi selengkapnya mengenai ventilasi mekanik melalui pembahasan di bawah ini.

 

Apa itu Ventilasi Mekanik?

 

Ventilasi mekanik adalah penggunaan mesin khusus untuk membantu mengoptimalkan aliran udara yang masuk dan keluar dari paru-paru. Perlu diketahui bahwa prosedur medis ini tidak digunakan sebagai pengobatan utama dalam menangani penyakit tertentu, melainkan berperan sebagai alat bantu hidup untuk menstabilkan kondisi pasien secara keseluruhan. Dengan begitu, proses pemulihan bisa berjalan dengan optimal.

 

Pada dasarnya, ventilasi mekanik menggunakan alat bantu pernapasan bernama ventilator yang dapat membantu menyuplai oksigen ke paru-paru, mengeluarkan karbon dioksida dari paru-paru, serta memberikan tekanan untuk menjaga kantong udara kecil di paru-paru (alveoli) agar tidak kolaps.

 

Berdasarkan sifatnya, mechanical ventilation dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu invasive mechanical ventilation dan noninvasive ventilation. Berikut masing-masing penjelasannya.

 

  • Invasive mechanical ventilation: prinsipnya adalah menghubungkan selang pernapasan ke mesin ventilator. Selang tersebut bisa dipasang melalui prosedur intubasi atau trakeostomi. Melalui prosedur intubasi, dokter akan memasukkan selang atau tabung endotrakeal (ETT) ke dalam saluran pernapasan melalui mulut. Sementara itu pada prosedur trakeostomi, selang dimasukkan melalui sebuah lubang yang dibuat di trakea atau batang tenggorokan.

  • Noninvasive ventilation: Dilakukan dengan menggunakan sungkup oksigen yang terhubung ke mesin ventilator. Terdapat dua macam noninvasive ventilation yang umum dikenal, yaitu CPAP (continuous positive airway pressure) dan BiPAP (bilevel positive airway pressure).

 

Siapa yang Membutuhkan Ventilasi Mekanik?

 

Dokter dapat menggunakan ventilasi mekanik untuk membantu pasien yang mengalami gangguan pernapasan berat. Secara umum, beberapa kondisi yang membuat pasien membutuhkan ventilasi mekanik adalah sebagai berikut:

 

  • Sedang menjalani tindakan pembedahan. Pasalnya, anestesi umum (bius total) yang dilakukan sebelum tindakan pembedahan bisa memengaruhi kemampuan bernapas pasien secara mandiri sehingga pasien membutuhkan ventilator mekanik untuk membantunya bernapas selama operasi berlangsung.

  • Menderita penyakit paru-paru tertentu.

  • Mengalami kondisi darurat medis yang menghalangi jalan napas atau mengganggu pernapasan.

  • Cedera atau gangguan otak tertentu yang bisa memengaruhi fungsi sistem pernapasan.

  • Mengalami kondisi yang berisiko menyebabkan terjadinya aspirasi (masuknya cairan atau makanan ke dalam paru-paru).

 

Di samping itu, sejumlah kondisi medis atau penyakit yang bisa membuat pasien membutuhkan prosedur ventilasi mekanik, di antaranya:

 

 

Prosedur Penggunaan Ventilasi Mekanik

 

Pada dasarnya, prosedur ventilasi mekanik noninvasif terbilang cukup sederhana. Dokter hanya perlu menghubungkan sungkup oksigen dengan mesin ventilator dan meletakkannya menutupi area hidung dan mulut pasien. Namun, jika menggunakan ventilator mekanik invasif, dokter akan melakukan beberapa prosedur berikut ini:

 

  • Memberikan obat sedatif guna membuat pasien menjadi lebih rileks dan mencegah adanya gerakan tubuh secara berlebihan.

  • Memasukkan endotracheal (ET) tube ke dalam tenggorokan dan trakea (saluran pernapasan menuju paru-paru).

  • Memasang selang ke ventilator.

 

Selama menggunakan ventilator, dokter akan terus memonitor kondisi pasien dan melakukan beberapa prosedur perawatan guna mencegah risiko terjadinya komplikasi. Beberapa perawatan tersebut, di antaranya:

 

  • Pemantauan tekanan darah, detak jantung, laju pernapasan, dan saturasi oksigen. Selain itu, dokter mungkin juga dapat melakukan rontgen dada untuk mengevaluasi kondisi paru-paru serta analisa gas darah guna memeriksa kadar oksigen dan karbon dioksida dalam darah.

  • Penyedotan (suctioning) lendir berlebih pada saluran pernapasan untuk menjaga saluran napas tetap bersih. Melalui prosedur ini, dokter akan memasukkan selang tipis ke dalam breathing tube untuk mengeluarkan lendir berlebih. Prosedur tersebut mungkin akan merangsang refleks batuk pada pasien.

  • Pemberian obat-obatan berbentuk aerosol melalui breathing tube. Selain itu, dokter juga dapat memberikan obat melalui intravena (IV) untuk membantu menstabilkan kondisi pasien.

  • Pemberian nutrisi berbentuk cairan yang dimasukkan melalui selang khusus yang melewati hidung dan masuk ke dalam lambung (nasogastric tube). Selain itu, dokter juga dapat memberikan asupan cairan melalui infus.

  • Mobilisasi. Dalam hal ini, dokter akan menggerakkan tubuh pasien secara teratur.

  • Penggunaan bronkoskopi, yaitu prosedur medis yang dilakukan dengan memasukkan tabung tipis yang dilengkapi kamera kecil dan lampu melalui breathing tube. Tujuannya adalah melihat kondisi saluran pernapasan atau mengambil sampel lendir atau jaringan untuk diuji di laboratorium.

 

Efek Samping Ventilasi Mekanik

 

Secara umum,  ventilasi mekanik dapat menimbulkan sejumlah efek samping atau komplikasi. Namun, dokter biasanya akan melakukan berbagai upaya untuk meminimalkan risiko terjadinya efek samping atau komplikasi tersebut. Adapun beberapa risiko efek samping atau komplikasi dari penggunaan ventilator mekanik adalah:

 

  • Infeksi bakteri. Pasalnya, bakteri dapat menginfeksi paru-paru pasien melalui selang yang dimasukkan ke dalam saluran pernapasan, seperti ventilator-associated pneumonia (VAP).

  • Kerusakan jaringan paru-paru akibat adanya tekanan dari mesin ventilator.

  • Pneumothorax, kondisi saat terdapat udara yang masuk ke dalam rongga pleura yang berada di antara lapisan pleura yang membungkus paru-paru dan lapisan pleura yang melekat pada dinding dalam rongga dada. Kondisi ini dapat diakibatkan oleh gangguan keseimbangan tekanan udara di dalam dada akibat penggunaan ventilator.

  • Gangguan jantung dan aliran darah di dalam tubuh yang dapat menyebabkan terjadinya hipoperfusi (kondisi ketika kurangnya asupan darah dan oksigen ke jaringan tubuh atau organ sehingga dapat menyebabkan kegagalan organ).

 

Perlu dipahami bahwa tidak semua kasus gangguan pernapasan harus ditangani dengan ventilasi mekanik. Jika kondisi pasien cenderung stabil, dapat bernapas secara mandiri tanpa gangguan, dan memungkinkan untuk menjalani pengobatan serta perawatan yang lebih sederhana, penggunaan alat bantu napas tersebut mungkin tidak diperlukan.

 

Oleh karenanya, penting untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu jika mengalami gangguan pernapasan guna memperoleh perawatan yang tepat dan sesuai kondisi tubuh. Dalam hal ini, Anda bisa berdiskusi Dokter Spesialis Pulmonologi (Paru) berpengalaman dari Siloam Hospitals.

 

Selain itu, gunakan juga aplikasi MySiloam yang dilengkapi dengan berbagai fitur untuk mendapatkan layanan kesehatan lebih cepat. Dengan aplikasi MySiloam, Anda bisa menemukan informasi jadwal praktik, membuat janji temu dengan dokter, self check in, hingga antre secara online.

 

Aplikasi My Siloam (1)

 

Dokter Kami
dr-tomas-ari-kurniawan-komala-span

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Tomas Ari Kurniawan Komala, SpAn

Anestesiologi

Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif


Siloam Hospitals Yogyakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-charles-wijaya-tan-span

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Charles Wijaya Tan, M.Kes, Sp.An-KMN

Anestesiologi

Subspesialis Manajemen Nyeri


Siloam Hospitals Makassar

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-agung-purnomo-span

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Agung Purnomo, SpAn

Anestesiologi

Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif


Siloam Hospitals Balikpapan

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail