Kesehatan Tubuh
Benarkah Gen Penyebab Obesitas? Ini Penjelasan Lengkapnya

Table of Contents
Obesitas adalah kondisi ketika terjadi penumpukan lemak yang menyebabkan berat badan melebihi batas normal. Kondisi ini kerap dikaitkan dengan pola hidup tidak sehat, seperti mengonsumsi makanan tidak sehat secara berlebihan dan jarang berolahraga. Di samping itu, faktor genetik juga bisa meningkatkan risiko obesitas. Mari simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.
Benarkah Gen Penyebab Obesitas?
Obesitas adalah kondisi yang terjadi karena tubuh mendapatkan asupan kalori lebih banyak dibandingkan dengan jumlah kalori yang dibakar. Akibatnya, tubuh akan menyimpan kalori yang tidak digunakan tersebut dalam bentuk lemak.
Obesitas erat kaitannya dengan faktor genetik dan lingkungan. Epidemi obesitas di seluruh dunia tidak hanya menyerang orang dewasa tetapi juga anak-anak. Obesitas yang disebabkan oleh faktor lingkungan biasanya dipicu oleh pola hidup tidak sehat, seperti mengonsumsi makanan tinggi lemak dan gula secara berlebihan, sedentary lifestyle, sering bergadang, hingga stres berkepanjangan.
Sedangkan obesitas genetik dapat diklasifikasikan menjadi obesitas sindromik, poligenik, atau monogenik. Obesitas sindromik merupakan obesitas yang disebabkan oleh kelainan kromosom seperti pada sindrom Prader-Willi, sindrom WAGR, sindrom SIM1, sindrom Fragile X, dan lain-lain.
Sekitar 60% obesitas yang diturunkan (inherited obesity) bersifat poligenik. Obesitas poligenik dikaitkan dengan mutasi pada CYP27A1, TFAP2B, PARK2, IFNGR1, ADRB1-3 (memengaruhi pemanfaatan energi dan lipolisis atau pemecahan lemak), SLC6A14-(memengaruhi pengendalian nafsu makan dan keseimbangan energi), dan lain-lain.
Obesitas monogenik selanjutnya dapat diklasifikasikan menjadi bentuk obesitas genetik yang diturunkan secara autosomal dominan atau autosomal resesif. Salah satu contoh obesitas monogenik adalah adanya mutasi atau kelainan pada gen FTO (fat mass and obesity associated). Mutasi pada gen FTO pada kromosom 16 merupakan mutasi gen yang paling signifikan yang berkontribusi terhadap obesitas pada orang dewasa dan anak-anak.
Gen FTO pada dasarnya berperan sebagai sensor nutrisi dengan memengaruhi jumlah asupan makanan yang ingin dikonsumsi dan tingkat kelaparan seseorang. Variasi dalam gen tersebut bisa memengaruhi regulasi asupan makanan dan dapat membuat seseorang mudah lapar. G
Gen FTO hadir dalam dua bentuk, yaitu varian risiko tinggi obesitas dan varian risiko rendah obesitas. Setiap orang mewarisi dua salinan gen ini yang masing-masing berasal dari kedua orang tua (ayah dan ibu). Risiko seseorang mengalami obesitas meningkat sekitar 70% apabila mewarisi dua gen FTO berisiko tinggi obesitas.
Pada tahun 2013, penelitian yang dilakukan University College London melibatkan 359 pria sehat dengan berat badan normal yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok orang yang memiliki dua gen FTO berisiko tinggi dan orang yang memiliki gen FTO berisiko rendah.
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Clinical Investigation menunjukkan bahwa orang dengan varian FTO risiko tinggi obesitas akan mengalami peningkatan kadar hormon ghrelin (hormon lapar) setelah mereka makan.
Selain itu, gen ini juga bisa memengaruhi kadar lemak yang disimpan dan didistribusikan di dalam tubuh. Bahkan, para ahli menemukan bahwa orang dengan perbedaan tertentu pada gen FTO memiliki kemungkinan 20–30% lebih tinggi untuk mengalami obesitas.
Meski begitu, masih belum diketahui secara pasti seberapa besar pengaruh faktor genetik dalam meningkatkan risiko seseorang mengalami obesitas. Sebab, pada dasarnya, obesitas termasuk penyakit yang sangat kompleks. Ada banyak faktor yang berkontribusi dan menyebabkan terjadinya kondisi ini, termasuk genetik, perilaku, dan lingkungan.
Tips Mengurangi Risiko Obesitas Genetik
Secara umum, faktor genetik dapat menjadi penyebab obesitas, namun bukan berarti hal tersebut membuat seseorang langsung memiliki berat badan berlebih sejak lahir. Orang dengan gen penyebab obesitas masih bisa menjaga berat badan ideal dengan menerapkan pola hidup sehat sebaik mungkin. Lebih jelasnya, berikut adalah beberapa cara yang bisa dilakukan untuk meminimalkan risiko terjadinya obesitas genetik:
1. Rutin Berolahraga
Langkah pertama yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya obesitas adalah rutin berolahraga. Pasalnya, latihan fisik ini dapat meningkatkan kadar kalori yang dibakar di dalam tubuh. Adapun beberapa jenis olahraga yang disarankan adalah joging, yoga, dan senam aerobik. Agar bisa memperoleh hasilnya secara optimal, seseorang disarankan untuk berolahraga setidaknya 30 menit per hari yang dilakukan sebanyak 3–5x per minggu.
2. Menerapkan Pola Makan yang Sehat
Cara mencegah risiko terjadinya obesitas genetik berikutnya adalah dengan menerapkan pola makan yang sehat. Dalam hal ini, penting untuk mengetahui berapa banyak asupan kalori yang diperlukan tubuh, mengingat setiap individu memiliki kebutuhan kalori harian yang berbeda-beda tergantung pada jenis kelamin, usia, dan aktivitas sehari-hari.
Setelah itu, biasakan untuk menjalani program diet yang sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang. Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menerapkan pola makan sehat untuk mencegah risiko obesitas genetik, di antaranya:
-
Menghindari konsumsi karbohidrat yang mengandung gula sederhana, seperti gula pasir, gula aren, sirop, dan lain sebagainya.
-
Memperbanyak konsumsi makanan berserat tinggi, seperti nasi merah, oatmeal, sayuran, buah-buahan, dan lain sebagainya.
-
Mengonsumsi protein rendah lemak, seperti daging ikan, tahu, dan tempe.
-
Menggunakan jenis minyak tak jenuh tunggal, seperti minyak zaitun.
-
Menghindari konsumsi makanan yang digoreng.
-
Menghindari makanan olahan.
3. Makan dengan Porsi Sedikit tapi Sering
Makan dengan porsi sedikit tapi sering juga menjadi salah satu tips meminimalkan risiko terjadinya obesitas genetik. Selain itu, hindari melewati waktu sarapan selama sedang menjalani program diet. Pasalnya, hal tersebut justru dapat membuat tubuh merasa sangat lapar di siang hari yang bisa menyebabkan porsi makan menjadi tidak terkontrol.
Itu dia penjelasan mengenai pengaruh faktor gen penyebab obesitas yang dapat disampaikan. Kesimpulannya, faktor genetik memang bisa berkaitan dengan potensi seseorang mengalami genetik. Meski demikian, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk meminimalkan risiko terjadinya kondisi tersebut jika seseorang memiliki gen penyebab obesitas.
Jika Anda memiliki faktor genetik yang berkaitan dengan peningkatan risiko obesitas, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Siloam Hospitals guna memperoleh diagnosis hingga saran penerapan gaya hidup yang tepat sebagai upaya pencegahannya.
Agar lebih praktis, Anda juga bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk memudahkan akses berbagai layanan kesehatan dari Siloam Hospitals. Dengan aplikasi ini, Anda dapat melihat informasi jadwal praktik, reservasi pertemuan dengan dokter, check in mandiri, serta antre secara online. Dengan begitu, Anda tidak perlu menunggu dan berlama-lama di rumah sakit.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kelapa Dua
Tersedia :
Tersedia hari ini







