Kesehatan Tubuh
8 Cara Mencegah Demensia Sejak Dini, Dimulai dari Gaya Hidup

Table of Contents
Demensia adalah salah satu bentuk gangguan kognitif yang cukup mengkhawatirkan, terutama bagi lansia. Sayangnya, saat ini belum ada pengobatan yang dapat mencegah atau menyembuhkan demensia sepenuhnya. Meski begitu, terdapat beberapa cara mencegah demensia yang bisa diterapkan sejak dini, setidaknya untuk menunda terjadinya demensia. Mari simak informasi selengkapnya mengenai cara mencegah demensia sejak dini di bawah ini.
Cara Mencegah Demensia Sejak Dini
Demensia adalah suatu sindrom yang ditandai dengan penurunan fungsi kognitif, termasuk daya ingat, kemampuan berpikir, berbahasa, serta perubahan perilaku yang cukup berat sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan kesehatan pembuluh darah melibatkan perubahan gaya hidup sejak dini dapat menjaga kesehatan otak, termasuk mencegah terjadinya demensia. Berikut uraian selengkapnya mengenai cara mencegah demensia sejak dini:
1. Aktif Berolahraga
Cara mencegah demensia sejak dini yang utama adalah aktif berolahraga. Aktivitas aerobik, terutama aerobik, diketahui dapat membantu mencegah penurunan fungsi kognitif sekaligus risiko demensia, termasuk Alzheimer dan demensia vaskular. Penelitian dalam The Journal of Alzheimer’s Disease (2025) menunjukkan bahwa aktivitas fisik secara teratur memberikan perlindungan neurologis dengan menurunkan risiko demensia sebesar 30% hingga 45%, meskipun besar efeknya dapat berbeda pada setiap individu.
Olahraga yang direkomendasikan untuk mencegah demensia sejak dini meliputi aktivitas aerobik, seperti jalan cepat, sepeda, dan berenang. Selain itu, latihan keseimbangan dan latihan beban juga dianjurkan sebagai bagian dari pencegahan.
2. Menerapkan Pola Makan Sehat
Selain berolahraga, penerapan pola makan sehat tak kalah penting untuk mencegah demensia sejak dini. Hal ini didukung oleh penelitian dalam Ageing Research Reviews (2020) yang melaporkan bahwa pola makan merupakan faktor penting yang bisa memengaruhi risiko terjadinya gangguan kognitif dan demensia di kemudian hari.
Sayuran hijau, buah, serta sumber protein seperti ikan, ayam, dan kacang-kacangan merupakan makanan yang direkomendasikan untuk mencegah demensia sejak dini. Sedangkan, konsumsi daging merah, makanan olahan, dan tinggi gula sebaiknya dibatasi.
3. Dual Task Training
Dual trask training adalah latihan yang mengombinasikan aktivitas fisik dan kognitif secara bersamaan. Contoh dual task training di antaranya berjalan sambil menyebutkan nama hewan atau menghitung mundur, membawa benda sambil melakukan percakapan sederhana, atau melakukan aktivitas tangan seperti mengancingkan baju sambil menyebutkan kata atau angka tertentu. Latihan dual task ini dapat melatih fungsi otak dan kemampuan gerak secara bersamaan.
4. Menghentikan Kebiasaan Merokok
Kebiasaan merokok diketahui menyumbang cukup besar terhadap kasus demensia, terutama demensia Alzheimer, yang mana sekitar 14% dari seluruh kasus penyakit Alzheimer di dunia disebabkan oleh kebiasaan merokok. Semakin lama seseorang merokok, semakin besar pula risiko penurunan daya ingat dan kemampuan berpikirnya.
5. Menghentikan Kebiasaan Mengonsumsi Alkohol
Langkah selanjutnya yang bisa diterapkan untuk mencegah demensia sejak dini adalah menghentikan kebiasaan mengonsumsi alkohol secara berlebihan. Penyalahgunaan alkohol dikaitkan dengan berbagai gangguan saraf, seperti demensia akibat alkohol dan sindrom Wernicke-Korsakoff.
Hubungan tersebut bisa timbul karena alkohol dapat bersifat racun bagi sel saraf dan memicu peradangan pada otak, serta berdampak tidak langsung dengan membuat tubuh kekurangan nutrisi penting, yaitu tiamin (vitamin B1), yang dibutuhkan otak agar bisa bekerja dengan baik.
6. Menjaga Kesehatan Jantung dan Pembuluh Darah
Kesehatan jantung dan pembuluh darah memiliki peran penting dalam menjaga fungsi otak dan menurunkan risiko terjadinya demensia. Otak sangat bergantung pada aliran darah yang cukup untuk mendapatkan oksigen dan nutrisi. Bila pembuluh darah mengalami penyempitan atau kerusakan, suplai darah ke otak dapat terganggu dan berkontribusi pada penurunan fungsi kognitif secara bertahap.
Penelitian dalam Health Science Reports (2025) menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara penyakit kardiovaskular dan demensia. Oleh karena itu, upaya pencegahan demensia sebaiknya tidak hanya fokus pada kesehatan otak melainkan juga pengendalian faktor risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Dengan mengendalikan faktor risiko penyakit kardiovaskular, risiko terjadinya demensia juga dapat ditekan di kemudian hari.
7. Menjaga Kesehatan Mental
Menjaga kesehatan mental juga bisa menjadi salah satu cara mencegah demensia sejak dini. Alasan mengapa depresi dan risiko demensia saling berkaitan belum sepenuhnya diketahui. Namun, depresi dapat menyebabkan berkurangnya motivasi untuk merawat diri dan melakukan interaksi sosial.
Terdapat dugaan lain bahwa produksi kortisol yang berlebihan pada seseorang yang depresi dapat menyebabkan penyusutan (atrofi) pada hipokampus atau memicu peradangan. Hal inilah yang dapat meningkatkan risiko demensia pada individu dengan depresi.
8. Aktif Bersosialisasi
Menjaga interaksi dengan orang lain juga menjadi langkah penting dalam menurunkan risiko demensia. Hal ini dikarenakan bersosialisasi dapat membantu menjaga daya pikir otak, mendorong kebiasaan hidup yang lebih sehat, serta mengurangi stres dan peradangan di dalam tubuh.
Manfaat ini diketahui berlaku pada semua orang, termasuk seseorang yang memiliki risiko genetik terhadap penyakit Alzheimer. Sebaliknya, orang yang jarang berinteraksi atau sering menyendiri cenderung memiliki bagian otak tertentu yang lebih kecil, terutama di area yang berperan dalam ingatan dan kemampuan berpikir.
Itulah penjelasan mengenai cara mencegah demensia sejak dini yang bisa Anda terapkan mulai dari sekarang. Namun, perlu dipahami bahwa informasi yang disebutkan di atas hanya bertujuan sebagai edukasi dan tidak dapat menggantikan saran perawatan dari dokter, terutama bagi yang berisiko tinggi.
Apabila mengalami gejala-gejala yang mengarah pada demensia, seperti kehilangan memori, kesulitan berkomunikasi, dan sering merasa bingung, penting untuk memperoleh diagnosis yang akurat dengan mengunjungi Dokter Spesialis Neurologi (Otak dan Saraf) di Siloam Hospitals terdekat. Bersama Siloam Hospitals, Anda juga dapat memperoleh penanganan lebih lanjut sesuai dengan kondisi tubuh.
Namun, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang Anda jalani terkait kondisi ini mungkin berbeda di satu fasilitas kesehatan dengan yang lain. Tenaga medis akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat sesuai dengan kondisi medis setiap pasien.
Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk menemukan Siloam Hospitals terdekat. Melalui aplikasi ini, Anda juga dapat membuat janji temu dengan dokter terkait serta memeriksa riwayat kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Sumber
NHS. Can dementia be prevented?. Diakses pada 2026 | Alzheimers.gov. Can I Prevent Dementia?. Diakses pada 2026 | Johns Hopkins Medicine. Dementia Prevention: Reduce Your Risk, Starting Now. Diakses pada 2026 | Physiopedia. Preventing Dementia and Cognitive Decline. Diakses pada 2026 | Brain Science. Preventive Strategies for Cognitive Decline and Dementia: Benefits of Aerobic Physical Activity, Especially Open-Skill Exercise. Diakses pada 2026 | The Journal of Prevention of Alzheimer's Disease. Lifestyle interventions for dementia risk reduction: A review on the Role of Physical Activity and Diet in Western and Asian Countries. Diakses pada 2026 | Ageing Research Reviews. Prevention of dementia in an ageing world: Evidence and biological rationale. Diakses pada 2026 | Health Science Reports. Cardiovascular Disease as a Predictor of Dementia: A Cross-National Ecological Study of 204 Countries. Diakses pada 2026 | The Lancet Commissions. Dementia prevention, intervention, and care: 2024 report of the Lancet standing Commission. Diakses pada 2026 | JAMA Neurology. Association of Hearing Aids and Cochlear Implants With Cognitive Decline and Dementia. Diakses pada 2026 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
Skrining Kesehatan Otak Basic
Skrining Pria & Wanita
14 Service/Item
Rp1.500.000
Skrining Kesehatan Otak Advanced
Skrining Pria & Wanita
16 Service/Item
Rp4.100.000
Skrining Kesehatan Otak
2 Service/Item
Rp3.000.000
TERPOPULER
CT Head Non-CNTRS / CT Scan Kepala
CT Scan
Rp1.664.000
TERPOPULER
MRI Head Non-CNTRS / MRI Kepala
MRI / MRA
Rp2.870.000






