Cedera Rotator Cuff: Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya
Kesehatan Tubuh

Cedera Rotator Cuff: Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya

03 Juni 2026 7 menit waktu baca
rotator cuff adalah

Cedera rotator cuff adalah salah satu penyebab umum munculnya keluhan nyeri bahu dan gangguan gerak lengan atas pada dewasa muda. Rotator cuff adalah sekelompok tendon dan otot yang mengelilingi bahu dan menghubungkan tulang lengan atas (humerus), tulang belikat (skapula), dan tulang selangka (klavikula). 

 

Apabila seseorang mengalami cedera rotator cuff, bagian bahu akan mengalami nyeri dan bisa menjalar ke area tulang lengan atas, tulang belikat, dan tulang selangka. Mari pahami lebih lanjut mengenai cedera rotator cuff, termasuk penyebab, gejala, dan pengobatannya di bawah ini.

 

Apa Itu Rotator Cuff?

 

Bahu manusia tersusun dari tiga tulang, yaitu tulang lengan atas (humerus), tulang belikat (skapula), dan tulang selangka (klavikula). Dalam hal ini, rotator cuff berfungsi untuk menjaga humerus agar tetap berada di posisinya sekaligus untuk menstabilkan dan menunjang pergerakan sendi bahu (mengangkat tangan ke atas, memutar bahu ke arah dalam, dan lain-lain).

 

Rotator cuff terdiri dari empat tendon yang bersatu sebagai penutup untuk melindungi ujung tulang lengan atas (humerus). Antara rotator cuff dan tulang di atas bahu (akromion), ada semacam kantong pelumas yang disebut bursa.

 

Pelumas ini memungkinkan tendon rotator cuff untuk bergerak ke segala arah dengan leluasa saat seseorang menggerakkan lengannya. Namun, jika salah satu dari tendon rotator cuff mengalami cedera atau gangguan, bursa pun juga bisa ikut meradang dan menimbulkan rasa nyeri.

 

“Tanda-tanda yang perlu diwaspadai pada kondisi ini adalah nyeri yang semakin berat pada malam hari (night pain). Segera periksakan diri ke dokter apabila nyeri bahu disertai penurunan kekuatan (loss of power), misalnya tidak mampu mengangkat bahu atau lengan secara mandiri sehingga harus dibantu oleh tangan yang lain.”

 dr. Yudistira Parulian Siregar, SpOT (K)

 

Robekan pada Cedera Rotator Cuff

 

Cedera rotator cuff dapat dibedakan berdasarkan jenis robekannya. Berikut masing-masing penjelasannya.

 

1. Full-thickness Tears

 

Full-thickness tears atau robekan total dapat menyebabkan seluruh bagian tendon terlepas dari tulang. Oleh karenanya, full-thickness tears dapat menyebabkan kerusakan yang paling parah dan membuat penderitanya merasakan nyeri yang luar biasa pada bahu dan loss of power dari gerakan bahu.

 

2. Partial-thickness Tears

 

Sesuai dengan namanya, partial-thickness tears hanya melibatkan sebagian tendon. Pada kondisi ini, tendon tidak terlepas sepenuhnya dari tulang dan robekan hanya menembus sebagian dari ketebalan tendon. Meskipun masih menempel pada tulang, tendon telah mengalami penipisan dan robekan dapat menyebabkan nyeri karena luka dalam.

 

3. Acute Tears

 

Acute tears dapat terjadi akibat cedera, seperti jatuh dan kecelakaan saat sedang berolahraga atau mengemudi. Acute tears juga dapat terjadi ketika seseorang mengangkat benda yang sangat berat secara tiba-tiba. Dalam banyak kasus, acute tears dapat disertai dengan cedera bahu lainnya, seperti dislokasi atau patah tulang.

 

4. Degenerative Tears

 

Degenerative tears terjadi akibat melemahnya tendon secara perlahan seiring berjalannya waktu dan akibat penggunaan tendon secara berlebihan dan terus-menerus dalam jangka waktu yang lama (wear and tear). Risiko terjadinya degenerative tears dapat meningkat seiring bertambahnya usia seseorang.

 

Gejala Cedera Rotator Cuff

 

Meski bervariasi dan berbeda pada tiap penderita, gejala cedera rotator cuff umumnya meliputi:

 

  • Kesulitan mengangkat lengan atau menggerakkan lengan ke arah tertentu.

  • Nyeri yang terasa seakan-akan seperti baru saja terbentur benda tumpul dalam bahu dan dapat memburuk pada malam hari.

  • Nyeri dapat terjadi secara berulang, terutama jika sedang melakukan aktivitas tertentu.

  • Rasa lemas yang menyeluruh pada bahu.

  • Tidak mampu mengangkat beban yang biasanya dapat dilakukan.

  • Munculnya bunyi “krek” atau sensasi berderak saat menggerakkan bahu.

  • Memberat ketika malam hari.

 

Jenis-Jenis Cedera Rotator Cuff

 

Rotator cuff-related shoulder pain (RCRSP) adalah gejala yang melibatkan sindrom nyeri bahu yang meliputi: subacromial impingement, rotator cuff tendinopathy, dan symptomatic partial/full-thickness tear. Berikut penjelasan selengkapnya.

 

A. Rotator Cuff Impingement Syndrome

 

Rotator cuff impingement syndrome terjadi ketika tendon rotator cuff terjepit dan bergesekan berulang kali dengan tulang belikat. Akibatnya, tendon pun menjadi aus dan berisiko tinggi mengalami kerusakan atau robek.

 

B. Rotator Cuff Tendinitis dan Tendinopathy 

 

Rotator cuff tendinitis ditandai oleh adanya iritasi dan pembengkakan yang terjadi pada tendon rotator cuff. Kondisi ini dapat dipicu oleh cedera atau saat seseorang menggunakan bahu secara berlebihan. 

 

C. Rotator Cuff Tears

 

Sesuai namanya, cuff tears merupakan robekan yang terjadi pada tendon rotator cuff. Orang berusia muda yang mengalami rotator cuff tears biasanya diakibatkan oleh cedera akut seperti terjatuh atau kecelakaan (direct blow). Sementara pada orang yang berusia lebih tua, rotator cuff tears umumnya disebabkan karena “wear and tear”. 

 

D. Bursitis

 

Bursitis adalah peradangan pada pelumas dan bantalan di sekitar sendi atau juga disebut bursa. Sebagai informasi, bursa merupakan komponen tubuh yang berfungsi mengurangi gesekan antara tulang dan tendon ketika seseorang bergerak. Bursitis umumnya diakibatkan oleh cedera.

 

Faktor Risiko Cedera Rotator Cuff

 

Beberapa faktor tertentu diketahui dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami cedera rotator cuff, seperti:

 

  • Usia.

  • Riwayat keluarga dengan cedera rotator cuff.

  • Bekerja di sektor konstruksi.

  • Memiliki pekerjaan yang mengharuskannya mengangkat tangan terus-menerus, seperti melukis.

  • Aktif berolahraga jenis tertentu yang melibatkan gerakan tangan berulang, seperti bermain tenis, padel, golf

  • Gerakan-gerakan ritmik sederhana rumah tangga, seperti membuat kue, memasak, dan membersihkan jendela.

  • Faktor lain, seperti konsumsi alkohol dan penyakit komorbid jangka panjang, di antaranya diabetes melitus dan gangguan tiroid. 

 

Diagnosis Cedera Rotator Cuff

 

Untuk menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan anamnesis (wawancara medis) terkait riwayat kesehatan, gejala, dan kegiatan yang dilakukan pasien pada beberapa hari terakhir sebelum terjadinya cedera. Setelah itu, dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara:

 

  • Memeriksa kondisi bahu dan lengan pasien untuk mendeteksi adanya kelainan bentuk, pembengkakan, atau perubahan pada warna kulit.

  • Menekan bahu dan lengan pasien untuk melihat apakah terdapat rasa nyeri saat ditekan.

  • Meminta pasien untuk menggerakkan bahu dan lengan. Hal ini dilakukan untuk mengevaluasi range of motion (ROM) aktif dan pasif, serta melihat apakah terdapat nyeri saat lengan dan bahu digerakkan.

Kemudian untuk mengonfirmasi diagnosis, dokter dapat melakukan beberapa investigasi dengan merekomendasikan pemeriksaan penunjang dengan tes pencitraan, seperti:

 

  • Foto X-ray (rontgen) untuk melihat kondisi tulang-tulang pada bahu yang mengalami cedera.

  • Ultrasonografi (USG) dan magnetic resonance imaging (MRI), untuk melihat kondisi rotator cuff beserta jaringan di sekitarnya secara lebih jelas.

 

Komplikasi Cedera Rotator Cuff

 

Apabila cedera pada rotator cuff tidak kunjung memperoleh penanganan yang tepat, pasien berisiko mengalami sejumlah komplikasi, seperti:

 

  • Nyeri yang berkepanjangan.

  • Penurunan fungsi sendi bahu.

  • Mengalami adhesive capsulitis atau frozen shoulder.

  • Ketidakmampuan untuk bergerak secara permanen.

 

Pengobatan Cedera Rotator Cuff

 

Cedera pada rotator cuff adalah kondisi medis yang dapat disembuhkan. Pengobatan cedera rotator cuff sendiri akan didasarkan pada tingkat keparahan masing-masing penderita. Berikut penjelasannya.

 

1. Pengobatan Konservatif/Non Bedah

 

Dalam kasus yang ringan, penderita dapat melakukan perawatan mandiri yang meliputi:

 

  • Istirahat dan hindari menggerakkan bahu selama masa pemulihan.

  • Menghindari segala aktivitas yang dapat memicu nyeri bahu.

  • Mengonsumsi obat pereda nyeri, seperti paracetamol atau golongan obat antiinflamasi

  • Melakukan latihan fisik tertentu untuk memperkuat dan meningkatkan fleksibilitas bahu.

  • Melakukan terapi fisik atau fisioterapi terstruktur

  • Memperoleh injeksi steroid sesuai dengan anjuran dokter.

2. Pengobatan Bedah

 

Apabila pengobatan non-bedah tidak efektif, dokter biasanya akan menyarankan pasien untuk menjalani prosedur bedah. Pada umumnya, tindakan operasi direkomendasikan bagi pasien yang mengalami:

 

  • Penurunan fungsi bahu secara signifikan.

  • Cedera telah berlangsung selama 6–12 bulan tanpa adanya perbaikan kondisi.

  • Robekan pada tendon cukup besar (lebih dari 3 cm).

  • Robekan pada tendon disebabkan oleh cedera akut yang baru saja terjadi.

 

Beberapa prosedur operasi yang dapat dilakukan untuk kondisi robekan rotator cuff, antara lain:

 

  • Arthroscopy rotator cuff repair: Pada pilihan ini, dokter orthopedi akan memakai kamera kecil untuk melihat ke dalam sendi. Alat khusus untuk bahu akan dipakai untuk menjahit tendon yang robek.

  • Open tendon repair: Pada beberapa kasus, kerusakan tendon sudah cukup besar, sehingga diperlukan sayatan yang lebih besar untuk melekatkan tendon yang robek.

  • Tendon transfer: Apabila kerusakan lebih besar lagi, ada pilihan lain untuk memakai urat di badan sendiri dengan tujuan menggantikan fungsi yang hilang. 

  • Shoulder replacement: Massive rotator cuff injury bisa jadi memerlukan operasi penggantian bonggol bahu. Prosedur inovatif yang disebut reverse shoulder arthroplasty juga dapat meningkatkan stabilitas bahu. 

 

Tindakan mana yang paling cocok dengan pasien, harus didiskusikan dengan mendalam bersama dokter orthopedi karena semua kasus tidak sama. Penting untuk diketahui bahwa penyebab serta gejala yang disebutkan di atas tidak spesifik mewakili kondisi cedera rotator cuff. Artinya, penyebab atau gejala tersebut bisa serupa dengan kondisi medis atau penyakit lainnya.

 

Proses, metode, dan opsi pengobatan di setiap rumah sakit pun dapat berbeda, tergantung kondisi pasien serta fasilitas kesehatan yang tersedia. Karena itu, jika mengalami gejala yang mengarah pada cedera rotator cuff, seperti kesulitan mengangkat lengan dan rasa lemas menyeluruh pada bahu, konsultasikan dengan Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi di Siloam Hospitals terdekat untuk diagnosis dan penanganan yang akurat.

 

Dengan adanya teknologi medis modern dan tim dokter berpengalaman di Siloam International Hospitals, Anda tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri untuk mendapatkan layanan berstandar internasional. Siloam Medical Concierge hadir untuk membantu Anda memperoleh informasi jadwal dokter, layanan pemeriksaan, dan fasilitas medis dengan standar rumah sakit internasional. Mari, mulai perjalanan kesembuhan Anda bersama kami, di Indonesia.

 

 

 

second opinion penanganan komprehensif

Dokter Kami
dr-yudistira-parulian-siregar-spot

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Yudistira Parulian Siregar, SpOT (K)

Ortopedi (Tulang)

Subspesialis Cedera Olahraga


Siloam Hospitals Mampang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-made-o-mahendra-spot-mbiomed

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Made Oka Mahendra, SpOT, M.Biomed

Ortopedi (Tulang)

Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-su-djie-to-rante-m-biomed-spot

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Su Djie To Rante, M. Biomed., SpOT, Subsp. P.L(K)

Ortopedi (Tulang)

Subspesialis Panggul dan Lutut


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail