Ibu dan Anak
Mengenal Penyebab Gagap pada Balita dan Cara Mengatasinya

Table of Contents
Anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan tentu pernah mengalami gagap (stuttering), terutama di usia 18–42 bulan. Namun, kondisi tersebut normalnya akan hilang dengan sendirinya seiring dengan meningkatnya kemampuan anak dalam berkomunikasi. Tetapi, beberapa kasus gagap pada balita dapat berlangsung hingga ia beranjak remaja dan dewasa.
Jika anak masih mengalami gagap seiring dengan pertambahan usianya, orang tua perlu mewaspadai hal tersebut. Dalam hal ini, perlu segera dilakukan penanganan agar anak tidak mengalami kesulitan dalam berkomunikasi ke depannya.
Sebenarnya, apa yang menyebabkan gagap pada balita atau anak dan bagaimana cara mengatasinya? Mari cari tahu jawabannya melalui ulasan di bawah ini.
Apa itu Gagap (Stuttering)?
Stuttering atau gagap adalah gangguan dalam berbicara yang menyebabkan anak sulit berkomunikasi atau berbicara dengan lancar. Kondisi ini sering kali disebut juga dengan disfluensi berbahasa (disfluencies).
Gagap pada anak usia dini dapat terlihat melalui beberapa kelainan ketika anak sedang berbicara, antara lain:
-
Keragu-raguan: Berhenti secara tiba-tiba saat sedang berbicara dan tampak ragu untuk melanjutkannya.
-
Pengulangan: Sering mengulang bunyi atau kata dalam suatu kalimat (contohnya saat si kecil berucap, “Aku ma-ma-mau makan).
-
Perpanjangan: Menghasilkan suara yang sama untuk jangka waktu yang lama (contohnya, “Aaaaku mau mmmmmaaakan”).
Gagap pada balita terkadang juga disertai sikap nonverbal, seperti mengedipkan mata atau meringis. Gagap biasanya tidak disadari pada anak-anak, terutama yang masih balita sehingga orang tua harus peka terhadap perkembangan si kecil agar bisa mendeteksi kondisinya.
Perlu diketahui bahwa gagap berbeda dengan speech delay. Pada kondisi speech delay, anak mengalami keterlambatan dalam berbicara dan berbahasa. Penderita dengan kondisi ini dapat mengucapkan satu kata secara lancar tapi tidak mampu menghasilkan kata atau frasa secara spontan.
Oleh karena itu, mereka lebih menunjukkan maksud, keinginan, atau perasaan mereka melalui gerakan tubuh. Namun, baik kondisi gagap maupun speech delay sama-sama memerlukan penanganan khusus.
Penyebab Gagap pada Balita
Belum diketahui secara pasti apa penyebab gagap pada balita. Namun, terdapat dugaan bahwa kondisi ini bisa dipengaruhi oleh faktor genetik. Balita yang memiliki keluarga dengan masalah serupa diketahui berisiko lebih besar mengalami gagap.
Selain faktor genetik, terjadinya gagap pada balita juga sering dikaitkan dengan tekanan atau stres emosional yang dialami anak akibat peristiwa traumatis. Di samping itu, gagap bisa disebabkan oleh adanya gangguan pada otak atau saraf yang mengendalikan kemampuan berbicara dan berbahasa. Risiko gagap juga diketahui lebih besar terjadi pada anak laki-laki daripada perempuan.
Meski sering kali muncul tanpa alasan atau penyebab khusus, beberapa anak mungkin mengalami gagap ketika ia sedang bergembira, lelah, atau mendadak harus berbicara. Selain itu, adanya tata bahasa baru yang ia terima atau yang perlu dipelajari, juga bisa menyebabkan otak anak kesulitan dalam mengolahnya. Akibatnya, bicara anak pun menjadi terputus-putus.
Tanda-Tanda Gagap pada Balita
Pada dasarnya, setiap orang pasti pernah mengalami fase gagap ketika berusia balita atau prasekolah. Bahkan, orang dewasa pun terkadang menyisipkan beberapa kata seperti “hm”, “um”, “eh” di tengah-tengah kalimat atau sesekali mengulang bunyi.
Pada anak-anak, fase tersebut akan dilalui seiring dengan bertambahnya usia. Sedangkan pada orang dewasa, hal ini biasanya disebabkan oleh kegugupan atau perlunya waktu untuk berpikir sebelum merespons sesuatu hal, sehingga kegagapan tersebut sifatnya sementara atau sebentar dan bisa hilang dengan sendirinya.
Lantas, bagaimana cara membedakan gagap yang normal dan tidak normal? Orang tua perlu waspada apabila anak menunjukkan beberapa tanda berikut ini:
-
Gagap terjadi beberapa kali dalam kalimat yang sama (contohnya: a-a-a-aku ma-ma-mau mmmaaakan). Biasanya gagap akan terjadi pada kata-kata penting di kalimat tersebut, misalnya kata kerja.
-
Anak membutuhkan jeda yang lama di antara setiap katanya (contoh: aku…..mau….makan).
-
Kesulitan saat akan mulai berbicara. Anak mungkin terlihat membuka mulutnya seperti hendak berbicara namun tidak ada kata yang keluar.
-
Cara berbicara anak menunjukkan ketegangan pada otot-otot mulut dan leher.
-
Cenderung menghindari berbicara.
-
Gagap berlanjut bahkan setelah anak berusia lebih dari 5 tahun.
-
Anak tidak menyadari kondisinya dan merasa marah atau frustrasi karena kesulitannya dalam berbicara.
Cara Mengatasi Gagap pada Balita
Meski tidak bisa menghilangkan gagap sepenuhnya, perawatan gagap pada balita dapat membantu meningkatkan kemampuan anak dalam berbicara, komunikasi, dan menjalani aktivitasnya sehari-hari. Adapun beberapa cara mengatasi gagap pada anak adalah sebagai berikut:
-
Terapi wicara yang dapat mengajarkan anak untuk memperlambat tempo berbicara dan mengenali keadaan ketika gagapnya kambuh.
-
Terapi kognitif dan perilaku yang bertujuan untuk mengubah cara berpikir dan berperilaku anak sehingga ia bisa tetap merasa percaya diri dan tidak stres saat menghadapi kondisinya.
-
Mengajak anak membaca buku bersama.
-
Hindari memberikan reaksi negatif ketika anak gagap.
-
Mendampingi anak dan memberikan stimulasi berbicara, terutama selama periode golden age anak.
-
Melatih kemampuan berbicara anak secara rutin, hindari memotong pembicaraannya dan dengarkan hingga ia menyelesaikan kalimatnya.
Jika ingin melakukan terapi bicara pada anak, Anda dapat memesan paket Speech Therapy - Homecare yang tersedia di layanan Siloam at Home. Paket terapi wicara ini dapat membantu penyembuhan masalah pengucapan bunyi atau suara yang dialami oleh si kecil. Paket ini praktis, karena tenaga medis kami yang akan langsung mengunjungi rumah Anda untuk melakukan sesi terapi.
Anda dapat melakukan pemesanan paket Speech Therapy - Homecare secara mudah melalui aplikasi MySiloam. Aplikasi ini juga memberikan kemudahan bagi Anda untuk mengakses layanan kesehatan lainnya, seperti membuat janji temu dengan dokter, konsultasi virtual, dan lain-lain. Mari unduh aplikasinya sekarang dan jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Sriwijaya Palembang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Ifo Faujiah Sihite, M.Ked (Ped), SpA
Pediatrik (Anak)
Spesialis Ilmu Kesehatan Anak
Siloam Hospitals Jambi
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Anggun Kusumasari, SpA, MSc, AIFO-K
Pediatrik (Anak)
Spesialis Ilmu Kesehatan Anak
Siloam Hospitals Balikpapan
Tersedia :
Tersedia hari ini







