Apa Itu Kanker Serviks HPV-Negatif? Kenali Penyebab dan Gejalanya
Kesehatan Tubuh

Apa Itu Kanker Serviks HPV-Negatif? Kenali Penyebab dan Gejalanya

20 Juli 2026 4 menit waktu baca
 Kanker Serviks HPV-Negatif

Human papillomavirus (HPV) merupakan penyebab utama kanker serviks. Meski demikian, pada sebagian kecil kasus, seseorang dapat didiagnosis menderita kanker serviks meskipun hasil tes HPV sebelumnya menunjukkan negatif. Kondisi ini dikenal sebagai kanker serviks HPV-negatif.

 

Karena itu, kondisi ini sering terlambat terdeteksi, padahal deteksi dini kanker serviks memegang peranan penting dalam membantu pasien mendapatkan penanganan yang cepat. Agar lebih waspada, simak penyebab, gejala, dan pengobatannya melalui artikel berikut.

 

Apa Itu Kanker Serviks HPV-Negatif?

 

Kanker serviks adalah kondisi ketika sel bertumbuh secara abnormal dan tidak terkendali di leher rahim (serviks). Penyebab utama terjadinya kanker serviks adalah infeksi virus HPV, sehingga salah satu metode skrining yang sering digunakan untuk mewaspadai kanker tersebut adalah tes HPV-DNA.

 

Namun, artikel pada jurnal Pathogens (2025) menyebutkan bahwa sebagian kecil dari seluruh kasus kanker serviks, yakni sekitar 5–11%, bisa timbul tanpa adanya virus HPV yang terdeteksi selama pemeriksaan. Kondisi inilah yang disebut sebagai kanker serviks HPV-negatif atau HPV-independent cervical cancer.

 

Karena tes dan vaksin HPV tidak efektif untuk jenis kanker ini, diagnosis sering kali baru ditegakkan setelah mencapai stadium lanjut, sehingga prognosisnya dikatakan kurang baik. Selain itu, studi menunjukkan bahwa risiko perkembangan kanker ini cenderung lebih tinggi dibandingkan kanker serviks yang disebabkan oleh HPV.

 

Penyebab Kanker Serviks HPV-Negatif

 

Kanker serviks HPV-negatif umumnya dapat disebabkan oleh beberapa hal berikut:

 

  • Mutasi genetik. Menurut jurnal yang dipublikasikan di PubMed (2022), kerusakan genetik di dalam sel akibat mutasi pada beberapa gen, di antaranya TP53, PIK3CA, dan CDKN2A, dapat memicu kanker serviks HPV-negatif.

  • Teori ‘hit and run. Terdapat teori yang mengatakan bahwa jenis kanker ini terjadi akibat infeksi virus HPV yang kemudian menghilang setelah memicu pertumbuhan sel kanker, sehingga tidak terdeteksi saat pemeriksaan.

  • Hasil negatif palsu pada tes HPV. Hal ini dapat terjadi karena beberapa faktor, di antaranya muatan virus yang rendah, metode pengujian yang buruk, kesalahan pengambilan sampel, atau bahkan hilangnya genom HPV selama proses integrasi.

 

Gejala Kanker Serviks HPV-Negatif

 

Mirip dengan kanker serviks akibat virus HPV, kanker serviks HPV-negatif juga sering tidak menunjukkan gejala spesifik pada tahap awal. Beberapa gejala umum yang dapat timbul adalah sebagai berikut:

 

  • Rasa nyeri saat berhubungan seksual.

  • Keputihan berbau yang bercampur dengan darah.

  • Perdarahan vagina di luar siklus menstruasi

  • Nyeri panggul.

  • Gangguan berkemih.

 

Diagnosis Kanker Serviks HPV-Negatif

 

Untuk menegakkan diagnosis HPV-independent cervical cancer, dokter akan melakukan tanya jawab (anamnesis) terkait gejala, riwayat kesehatan pasien terdahulu, dan riwayat kesehatan keluarga pasien, yang diikuti dengan pemeriksaan fisik secara keseluruhan.

 

Pada dasarnya, kanker serviks dapat terdeteksi melalui tes HPV-DNA. Namun, pada kanker serviks HPV-negatif, virus HPV tidak ditemukan. Oleh karena itu, pemeriksaan lanjutan berikut akan dilakukan guna memastikan jenis sel yang berkembang terlebih pada pasien dengan gejala yang mengarah pada kanker serviks:

 

  • Pap smear, dilakukan dengan mengambil sampel jaringan serviks untuk memeriksa kondisi jenis sel yang berkembang pada leher rahim. Pemeriksaan ini juga biasa dilakukan untuk tujuan skrining pada wanita usia produktif yang aktif secara seksual. 

  • Pemeriksaan dengan PCR, dilakukan untuk memastikan ada tidaknya infeksi virus pada leher rahim yang menjadi penyebab kanker serviks. PCR akan memeriksa ada tidaknya  materi genetik yang berasal dari virus HPV.

  • Biopsi, pemeriksaan ini dilakukan dengan mengambil sampel jaringan serviks baik dengan metode kuretase atau eksisi untuk selanjutnya diperiksakan ke laboratorium sehingga bisa diketahui jenis sel yang berkembang di dalam leher rahim.

  • Pemeriksaan molekular, pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui perubahan materi genetik pada sel-sel yang berkembang pada kanker serviks HPV-negatif.

  • Pemeriksaan panel imunohistokimia (p16 dan MUC6), yaitu pemeriksaan yang menggunakan antibodi untuk menemukan antigen (zat asing) di sampel jaringan.

 

Pengobatan Kanker Serviks HPV-Negatif

 

Terlambatnya deteksi dini pada kanker serviks HPV-negatif menyebabkan kondisinya baru diketahui setelah terjadi perkembangan dan penyebaran sel kanker ke organ atau jaringan lain.  Karena itu, pasien perlu segera mendapatkan penanganan setelah terdiagnosis dengan kondisi ini.

 

Pengobatan kanker serviks HPV-negatif umumnya disesuaikan dengan jenis sel yang berkembang dan tingkat keparahan penyakit. Terapi yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

 

  • Kemoradiasi, yakni terapi kanker yang mengombinasikan kemoterapi dengan radioterapi.

  • Obat antiangiogenik, yakni obat-obatan yang bertujuan untuk menghentikan pasokan nutrisi dan oksigen ke tumor.

  • Immune checkpoint inhibitors, yaitu obat-obatan yang menghambat pengikatan protein PD-L1 dan PD-1, sehingga sel T dapat membunuh tumor. 

  • Kemoradioterapi berbasis platinum (pada stadium lanjut), yaitu terapi kemoradiasi yang dapat meningkatkan sensitivitas sel kanker terhadap pengobatan.

 

Namun, karena sifatnya yang agresif dan memiliki immune-cold phenotype (lingkungan tumor yang kurang merespons imunoterapi standar), pengobatan untuk kanker serviks HPV-negatif memerlukan pendekatan terapi onkologi presisi. Onkologi presisi adalah terapi target yang disesuaikan dengan mutasi genetik pasien.

 

Demikian penjelasan mengenai kanker serviks HPV-negatif yang dapat disampaikan. Perlu diingat bahwa informasi di atas hanya bertujuan sebagai edukasi, sehingga tidak dapat menggantikan diagnosis dan saran medis dari dokter. Gejala yang disebutkan pun tidak spesifik mewakili kanker serviks HPV-negatif dan dapat mengarah pada kondisi medis lain.

 

Apabila Anda merasakan gejala yang mengarah pada kanker serviks menetap, tetapi skrining HPV tidak menemukan adanya kelainan, mencari second opinion untuk evaluasi lanjutan bisa menjadi keputusan yang bijak.

 

Tidak perlu bepergian jauh ke luar negeri, Anda juga dapat mengunjungi Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi (Kebidanan dan Kandungan) Subspesialis Onkologi Ginekologi di Siloam Hospitals terdekat untuk konsultasi lebih lanjut.

 

Dengan adanya teknologi medis modern dan tenaga medis berpengalaman di Indonesia, layanan kesehatan berstandar internasional bisa diakses dengan mudah. Hubungi Siloam Medical Concierge untuk koordinasi jadwal konsultasi, pemeriksaan, maupun informasi fasilitas medis yang tersedia. Mari, temukan jawaban untuk masalah kesehatan Anda di sini.

 

 

second opinion dokter spesialis

Sumber

Cleveland Clinic. Immunohistochemistry (IHC). Diakses pada 2026 | de Bono JS, et al. The Evolving Role of Precision Medicine in Oncology. Frontiers in Oncology. 2022. Diakses pada 2026 | Frontiers in Oncology. Advances in Precision Oncology and Molecular Diagnostics. 2026. Diakses pada 2026 | International Journal of Gynecological Cancer. ESGO/ESTRO/ESP Guidelines for the Management of Endometrial Cancer. 2024. Diakses pada 2026 | MD Anderson Cancer Center. What Is Chemoradiation? Diakses pada 2026 | MDPI. Microbial Signatures and Biomarkers in Cancer. Pathogens. 2025. Diakses pada 2026 | National Cancer Institute. Immune Checkpoint Inhibitors. Diakses pada 2026 | PubMed Central (PMC). Artificial Intelligence in Cancer Diagnostics and Precision Oncology. 2024. Diakses pada 2026 | PubMed Central (PMC). Tumor Mutation Burden as a Biomarker for Immunotherapy. 2021. Diakses pada 2026 | ScienceDirect Topics. High-Throughput Sequencing. Diakses pada 2026 |

message

ArticleDetail