Kesehatan Tubuh
Apa Itu Kanker Serviks? Ini Penyebab, Gejala, & Pengobatannya

Table of Contents
Kanker serviks adalah kondisi ketika sel tumbuh secara abnormal di leher rahim atau serviks. Gejala kanker serviks stadium awal biasanya tidak terlalu spesifik, sehingga kerap tidak disadari oleh penderitanya.
Kendati demikian, tanda kanker serviks yang dapat ditemukan biasanya berupa keputihan serta perdarahan abnormal pada vagina. Untuk mewaspadainya, simak penyebab kanker serviks, beserta gejala, stadium, faktor risiko, pengobatan, hingga cara mencegahnya di sini.
Apa Itu Kanker Serviks?
Kanker serviks adalah kondisi tumbuhnya sel secara abnormal di leher rahim (serviks). Menurut data Global Cancer Observatory pada tahun 2022, kanker serviks menempati posisi ketiga sebagai jenis kanker yang paling banyak terjadi di Indonesia, yakni sebanyak 36.964 kasus (9% dari total kasus kanker). Kanker serviks terdiri dari dua jenis utama, yaitu karsinoma sel skuamosa dan adenokarsinoma.
Namun, karsinoma sel skuamosa merupakan tipe yang lebih banyak ditemukan pada kasus kanker serviks. Menurut studi yang dipublikasikan di Journal of Epidemiology and Global Health (2024), kanker serviks tipe karsinoma sel skuamosa paling sering ditemukan pada wanita berusia 55 tahun dan tipe adenokarsinoma pada wanita berusia 45 tahun. Namun, perlu diketahui bahwa faktor risiko masing-masing individu tetap memengaruhi hasil diagnosis.
Penyebab Kanker Serviks
Kanker serviks merupakan keganasan yang berasal dari serviks. Serviks merupakan sepertiga bagian bawah uterus, berbentuk silindris, menonjol, dan terhubung dengan vagina melalui ostium uteri eksternum. Utamanya, penyebab kanker serviks adalah infeksi persisten virus HPV (human papillomavirus) tipe onkogenik atau HPV risiko tinggi yang dapat memicu kanker.
HPV risiko tinggi yang paling sering menjadi penyebab kanker serviks adalah tipe 16 dan 18 yang mencakup sekitar 78% kasus kanker serviks. Sementara itu, HPV risiko tinggi tipe 31, 33, 45, 52, dan 58 bertanggung jawab terhadap 18% kasus kanker serviks.
Infeksi HPV risiko tinggi dapat diatasi oleh kekebalan tubuh yang baik, dan 90% infeksi HPV akan hilang dalam 2 tahun. Namun, infeksi HPV yang persisten akan menyebabkan sel serviks normal berkembang menjadi sel prakanker (displasia) yang, jika tidak terdeteksi dini serta tidak ditangani dengan baik, akan menjadi sel kanker dalam beberapa tahun ke depan.
Faktor Risiko Kanker Serviks
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko kanker serviks adalah sebagai berikut:
-
Bergonta-ganti pasangan seksual.
-
Memiliki pasangan seksual laki-laki yang telah memiliki banyak pasangan seksual.
-
Berhubungan seks di bawah usia 18 tahun.
-
Riwayat displasia serviks, vagina, atau vulva.
-
Riwayat keluarga mengidap kanker serviks.
-
Merokok.
-
Infeksi menular seksual tertentu, seperti klamidia.
-
Masalah dengan sistem kekebalan tubuh.
-
Memiliki ibu yang mengonsumsi obat diethylstilbestrol (DES) selama kehamilan.
-
Mempunyai anak banyak, sosial ekonomi rendah, dan pemakaian pil KB (dengan HPV negatif atau positif).
Gejala Kanker Serviks
Gejala kanker serviks stadium awal umumnya sulit dideteksi. Namun, seiring dengan perkembangan penyakit, tanda-tanda kanker serviks berikut dapat terjadi:
-
Rasa nyeri saat berhubungan intim.
-
Keputihan berbau yang bercampur dengan darah atau berair.
-
Perdarahan abnormal dari vagina.
Jika sudah memasuki stadium lanjut, gejala kanker serviks yang dialami oleh penderita biasanya berupa:
-
Nyeri panggul.
-
Masalah buang air kecil.
-
Kaki bengkak.
Selain itu, ciri-ciri kanker serviks yang telah menyebar ke organ-organ terdekat atau kelenjar getah bening biasanya berupa terganggunya mekanisme kerja organ-organ. Misalnya, komplikasi kanker serviks dapat menekan kandung kemih atau menghalangi aliran darah.

Diagnosis Kanker Serviks
Diagnosis kanker serviks ditegakkan setelah didapatkan hasil histopatologi serviks yang diambil dengan cara biopsi. Sebelumnya, anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang akan dilakukan terlebih dahulu. Berikut informasinya.
1. Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik
Pada tahap awal, kanker serviks umumnya belum menimbulkan gejala. Namun, setelah berkembang menjadi kanker yang bersifat invasif, beberapa gejala umum dapat muncul, yakni perdarahan (darah keluar dari vagina di luar siklus haid, seperti contact bleeding atau perdarahan saat berhubungan intim) dan keputihan.
Jika sudah mencapai stadium lanjut, gejala kanker serviks dapat berkembang menjadi nyeri pinggang atau nyeri perut bagian bawah karena desakan tumor di daerah panggul yang dapat menyebabkan penyumbatan saluran kemih sehingga aliran urine berkurang atau terhenti (anuria).
Selain itu, kanker yang sudah menyebar ke organ di sekitarnya juga dapat menimbulkan komplikasi, seperti terbentuknya saluran tidak normal antara vagina dan kandung kemih (fistula vesikovaginal) atau antara vagina dan rektum (fistula rektovaginal) yang menyebabkan urine atau feses keluar dari vagina. Pembengkakan pada tungkai (edema kaki) juga bisa terjadi akibat tersumbatnya aliran getah bening.
Jika didapatkan gejala-gejala tersebut, maka penderita sebaiknya memeriksakan diri ke dokter spesialis obstetri dan ginekologi. Pemeriksaan awal yang akan dilakukan biasanya meliputi:
-
Pemeriksaan fisik berupa pemeriksaan luar alat reproduksi (vulva, vagina, dan sekitarnya).
-
Pemeriksaan menggunakan alat spekulum atau cocor bebek untuk melihat kondisi di dalam vagina dan serviks.
-
Pemeriksaan dalam vagina.
-
Pemeriksaan colok dubur (rectal toucher).
2. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan untuk membantu menegakkan diagnosis kanker serviks dapat mencakup berbagai tes untuk memastikan sejauh mana penyakit telah berkembang, seperti:
-
Pengamatan visual (inspeksi).
-
Kolposkopi, untuk melihat lesi prakanker leher rahim secara lebih detail.
-
Biopsi serviks, untuk mengambil sampel jaringan dan memastikan ada tidaknya sel kanker.
-
Sistoskopi, pemeriksaan bagian dalam saluran kemih.
-
Rektoskopi, pemeriksaan dinding rektum dan anus.
-
USG transvaginal atau transrektal.
-
BNO-IVP, pemeriksaan radiologi untuk melihat seluruh sistem saluran kemih.
-
Foto rontgen dada dan bone scan.
Jika terdapat kecurigaan penyebaran kanker ke kandung kemih atau rektum maka dokter akan mengonfirmasi melalui biopsi dan analisis jaringan (histologik) dengan sistoskopi atau rektoskopi. Prosedur seperti pengangkatan sebagian kecil jaringan leher rahim (konisasi) termasuk dalam pemeriksaan klinis untuk membantu menegakkan diagnosis kanker serviks.
Stadium Kanker Serviks
Sama halnya dengan jenis kanker yang lain, kanker serviks terbagi menjadi beberapa tingkatan stadium yang menunjukkan seberapa jauh kanker telah berkembang di dalam tubuh. Berdasarkan FIGO Staging 2018, stadium kanker serviks adalah sebagai berikut:
1. Stadium I
Stadium I terjadi saat kanker terbatas pada leher rahim dan belum menyebar ke bagian tubuh lain.
-
IA, kanker hanya dapat terlihat dan didiagnosis melalui mikroskop karena ukurannya masih sangat kecil, dengan kedalaman <5 mm.
-
IA1, ditandai dengan tumbuhnya kanker berukuran <3 mm pada jaringan serviks.
-
IA2, ditandai dengan tumbuhnya kanker berukuran 3 hingga 5 mm pada jaringan serviks.
-
IB, kanker menginvasi sedalam ≥5 mm (lebih besar dari stadium IA), tapi masih sebatas pada leher rahim.
-
IB1, ditandai dengan kanker yang menginvasi sedalam ≥5 mm (lebih besar dari stadium IA) dan berukuran ≤2 cm.
-
IB2, ditandai dengan kanker berukuran 2 hingga 4 cm.
-
IB3, ditandai dengan kanker ≥4 cm yang masih berada pada serviks saja.
2. Stadium II
Stadium II terjadi saat kanker menyebar ke luar serviks, tetapi belum meluas hingga sepertiga bagian bawah dari vagina atau dinding panggul.
-
IIA, kanker menyebar pada dua pertiga bagian atas vagina, tapi belum menjalar ke jaringan di samping leher rahim (parametrium).
-
IIA1, ditandai dengan kanker berukuran ≤4 cm.
-
IIA2, ditandai dengan kanker berukuran ≥4 cm.
-
IIB, kanker sudah menyebar hingga parametrium atau jaringan lemak dan ikat yang mengelilingi rahim, tetapi belum sampai dinding panggul.
3. Stadium III
Pada stadium III, kanker sudah menyebar lebih luas lagi hingga sepertiga bagian bawah vagina, meluas ke dinding panggul, menyebabkan pembengkakan ginjal (hidronefrosis), dan menyebar hingga kelenjar getah bening di panggul maupun di sekitar aorta.
-
IIIA, kanker mengenai sepertiga bagian bawah vagina, tapi belum mencapai dinding panggul.
-
IIIB, kanker sudah menjalar ke dinding panggul, hingga menyebabkan sumbatan pada saluran kemih dan pembengkakan ginjal atau hidronefrosis.
-
IIIC, kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening, baik di panggul maupun di sekitar aorta (pembuluh darah besar di perut).
-
IIIC1, kanker menyebar ke kelenjar getah bening di panggul.
-
IIIC2, kanker menyebar hingga ke kelenjar getah bening di sekitar aorta.
4. Stadium IV
Stadium IV berarti kanker sudah menyebar jauh dari area leher rahim. Pada tahap ini, sel kanker bisa menjalar ke organ di sekitar panggul atau bahkan lebih jauh.
-
IVA, kanker menyebar ke organ di sekitar rahim, seperti kandung kemih atau dubur.
-
IVB, kanker menyebar ke organ yang jauh, seperti paru-paru, hati, atau tulang.
Pengobatan Kanker Serviks
Apakah kanker serviks bisa sembuh? Pasien kanker serviks dapat mencapai kesembuhan, terlebih jika kanker terdeteksi sedini mungkin dan penanganan diberikan secara optimal. Studi yang dipublikasikan di JAMA Network Open menemukan bahwa angka kelangsungan hidup 5 tahun pada pasien kanker serviks berusia 65–74 tahun yang mendapatkan diagnosis dan penanganan secara dini berkisar pada 91%.
Cara mengatasi kanker serviks bisa meliputi tindakan operasi maupun terapi, tergantung pada stadiumnya. Pada stadium IA, penanganan yang dapat dilakukan meliputi tindakan operasi konisasi, trakelektomi (pengangkatan serviks), atau histerektomi (pengangkatan rahim).
Pada stadium IB1, IB2, dan IIA1, tindakan pembedahan yang menjadi standar pada penanganan kanker serviks adalah histerektomi radikal yang turut mengangkat serviks, vagina, parametrium kanan dan kiri, kedua indung telur, serta kelenjar getah bening di sekitarnya. Kedua indung telur bisa dipertahankan jika usia penderita masih premenopause dan tidak ada penyebaran kanker ke indung telur.
Di sisi lain, terapi radiasi yang terdiri atas EBRT dan brakiterapi yang diberikan bersama kemoterapi (kemoradiasi) menjadi penanganan untuk penderita kanker serviks stadium IB3, IIA2, IIB, IIIA, IIIB, IIIC, dan IV. Saat ini, pengobatan imunoterapi menggunakan pembrolizumab yang dikombinasikan dengan kemoradiasi dapat mengontrol penyebaran kanker secara efektif dan memperpanjang harapan hidup penderita kanker serviks (meningkatkan PFS dan OS).
Sementara itu, terapi paliatif berupa kemoradiasi, radiasi saja, atau kemoterapi saja akan diberikan pada pasien stadium lanjut untuk membantu meringankan gejala dan menjaga kualitas hidup pasien.
Pencegahan Kanker Serviks
Berikut sejumlah cara mencegah kanker serviks yang dapat dilakukan:
1. Vaksinasi HPV (Vaksin Kuadrivalen atau Nonavalen)
Sebagai pencegahan primer kanker serviks, vaksinasi HPV dilakukan pada anak perempuan berusia 9–14 tahun dengan dua dosis suntikan (0 dan 6–12 bulan) dan pada usia 16–45 tahun dengan tiga dosis suntikan (0, 1–2, dan 6 bulan). Vaksinasi juga bisa diberikan pada laki-laki berusia 9–26 tahun dengan dua dosis suntikan.
2. Deteksi Dini dan Pengobatan Lesi Prakanker Serviks
Skrining wajib dijalani secara berkala oleh semua wanita yang sudah aktif secara seksual atau menikah. Metode skrining ini meliputi tes IVA, Pap smear, HPV DNA, atau kombinasi pemeriksaan HPV DNA-Pap smear (co-testing).
Skrining dengan tes IVA dapat dilakukan dengan cara single-visit approach atau see-and-treat program, yaitu bila didapatkan temuan IVA positif dan direkomendasikan untuk konfirmasi diagnostik dengan pemeriksaan kolposkopi. Sementara itu, Pap smear disarankan bagi wanita berusia 21–65 tahun setiap 3 tahun.
Co-testing yang dilakukan setiap 5 tahun juga direkomendasikan untuk wanita berusia 30–65 tahun. Di sisi lain, wanita berusia di atas 65 tahun tidak perlu menjalani skrining jika skrining yang adekuat dan normal telah dilakukan sebelumnya. Hasil temuan skrining yang abnormal harus segera ditangani dengan krioterapi, terapi ablasi termal, atau LEEP/LLETZ.
3. Perbaikan Gaya Hidup
Selain menjalani pencegahan secara medis, pastikan untuk menerapkan pola hidup sehat seperti rutin berolahraga dan mengonsumsi makanan bergizi. Selain itu, penting untuk menghindari perilaku seks berisiko dengan tidak bergonta-ganti pasangan dan menggunakan pengaman saat berhubungan seksual.
Perlu diingat bahwa informasi di atas hanya bertujuan untuk edukasi dan tidak dimaksudkan untuk menggantikan diagnosis ataupun saran perawatan dari dokter. Gejala yang telah disebutkan juga tidak spesifik mewakili kanker serviks; beberapa kondisi medis lain mungkin juga memiliki gejala yang serupa.
Dalam hal ini, Anda dapat berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi (Kebidanan dan Kandungan) Subspesialis Onkologi Ginekologi di Siloam Hospitals terdekat apabila mengalami gejala yang mengarah pada kanker serviks, seperti nyeri saat berhubungan intim dan perdarahan di luar siklus menstruasi.
Jika membutuhkan informasi lebih lanjut terkait kanker serviks maupun rencana terapi yang disarankan, mencari second opinion bisa menjadi langkah yang bijak agar Anda dapat mengambil keputusan medis dengan lebih yakin.
Tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri; untuk mempermudah proses memperoleh pendapat medis yang lengkap, Anda juga dapat menghubungi Siloam Medical Concierge guna memperoleh informasi jadwal dokter, layanan pemeriksaan, dan fasilitas medis yang tersedia. Mari, ambil langkah perjalanan kesembuhan Anda, di sini, di Indonesia.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Benyamin Rakhamatsyah Titaley, SpOG., Subsp. Onk
Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)
Subspesialis Onkologi Ginekologi
Siloam Hospitals Bangka Belitung
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Lenny Khosal, M.Kes, SpOG
Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)
Spesialis Obstetri dan Ginekologi
Siloam Hospitals Makassar
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Tia Indriana, SpOG
Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)
Spesialis Obstetri dan Ginekologi
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini






