Hidronefrosis (Pembengkakan Ginjal), Ini Penyebab & Gejalanya
Kesehatan Tubuh

Hidronefrosis (Pembengkakan Ginjal), Ini Penyebab & Gejalanya

23 September 2025 4 menit waktu baca
hidronefrosis adalah

 

Hidronefrosis adalah kondisi medis ketika ginjal mengalami pembengkakan karena adanya penumpukan urine yang tidak dapat mengalir dengan baik dari ginjal ke kandung kemih. Pembengkakan atau pembesaran tersebut dapat terjadi pada salah satu atau kedua ginjal. Kondisi ini sering kali disebabkan oleh sumbatan atau penyempitan pada saluran kemih.

 

Apabila hidronefrosis tidak segera ditangani, kondisi ini berisiko menyebabkan komplikasi serius yang mengarah pada gagal ginjal. Maka dari itu, mari waspadai kondisi ini dengan mengenal penyebab, gejala, dan pengobatan hidronefrosis.

 

Apa Itu Hidronefrosis?

 

Hidronefrosis adalah pembengkakan ginjal karena adanya penumpukan urine yang tidak dapat mengalir ke kandung kemih. Pada kondisi normal, ginjal akan menyaring zat sisa metabolisme dan kelebihan cairan dalam darah untuk membentuk urine. Kemudian, urine dari ginjal akan mengalir menuju kandung kemih melalui saluran penghubung yang disebut dengan ureter

 

Namun, pada penderita hidronefrosis, proses penyaluran urine dari ginjal menuju kandung kemih tersebut terhambat. Aliran yang terhambat ini dapat mengakibatkan tekanan pada intralumen ginjal sehingga menyebabkan terjadinya pembengkakan ginjal.

 

Penyebab Hidronefrosis

 

Umumnya, penyebab hidronefrosis adalah penyumbatan atau gangguan pada saluran kemih, lebih tepatnya ureter. Urine yang seharusnya masuk ke kandung kemih justru tertahan di ginjal sehingga terjadi pembesaran atau pembengkakan pada ginjal. Hidronefrosis juga dapat dipicu oleh penyakit atau kondisi medis lain yang sebelumnya diderita pasien, seperti:

 

  • Terbentuknya gumpalan darah di ginjal atau ureter.

  • Batu ginjal yang keluar dari ginjal dan menetap di ureter.

  • Gangguan pada otot atau saraf kandung kemih.

  • Retensi urine.

  • Kehamilan.

  • Prolaps uteri atau turun peranakan.

  • Kanker atau tumor di area saluran kemih.

  • Munculnya jaringan parut yang menyebabkan penyempitan ureter.

  • Vesicoureteral reflux (VUR) atau kembalinya urine dari kandung kemih ke ginjal. Kondisi ini bisa disebabkan oleh pembesaran prostat, penyempitan uretra (lubang saluran kemih), ataupun kelainan bawaan lahir.

 

Penyakit hidronefrosis juga bisa terjadi pada bayi. Kondisi ini biasanya terdeteksi melalui pemeriksaan USG prenatal. Adapun beberapa penyebabnya adalah:

 

  • Kelainan bawaan lahir.

  • Obstruksi (penyumbatan) yang menghambat keluarnya urine dari ginjal.

  • Gangguan pada otot kandung kemih yang mengakibatkan urine mengalir kembali ke ginjal.

  • Pembentukan kantung di ureter yang menyumbat ureter (ureterocele).

 

Gejala Hidronefrosis

 

Gejala hidronefrosis biasanya baru disadari ketika derajat pembengkakan sudah semakin parah hingga timbul rasa tidak nyaman. Hal ini terjadi karena ginjal dipenuhi oleh urine sehingga menekan organ lainnya. Durasi terjadinya sumbatan juga memengaruhi gejala yang muncul.

 

Gejala hidronefrosis dapat berbeda-beda pada setiap penderita, tergantung dari penyebab dan tingkat keparahannya. Meski begitu, sejumlah gejala umum yang bisa muncul akibat hidronefrosis adalah sebagai berikut:

 

  • Volume urine tidak sebanyak biasanya.

  • Lebih jarang buang air kecil.

  • Nyeri saat buang air kecil.

  • Tidak bisa mengosongkan kandung kemih sepenuhnya.

  • Demam, mual, dan muntah.

  • Terdapat darah dalam urine (hematuria).

  • Sulit menahan kencing.

  • Nyeri pada perut, punggung, dan area samping tubuh.

 

Sementara itu, penyakit hidronefrosis pada bayi baru lahir umumnya tidak menimbulkan gejala. Namun, pada beberapa kasus, bayi dapat mengalami sejumlah gejala, seperti pembesaran perut, infeksi saluran kemih, rewel, demam, tidak mau menyusu, dan perubahan frekuensi buang air kecil. Sedangkan, gejala hidronefrosis yang sering dialami anak-anak adalah mengompol, nyeri perut dan pinggang, demam, mual, muntah, serta gangguan perkembangan.

 

Diagnosis Hidronefrosis

 

Sebelum menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan wawancara medis (anamnesis) terkait gejala dan riwayat kesehatan pasien yang dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik untuk mengetahui apakah terdapat pembesaran prostat dan kandung kemih pada pria serta pemeriksaan panggul pada wanita.

 

Apabila diperlukan, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang untuk membantu menegakkan diagnosis, di antaranya:

 

  • Tes darah, bertujuan untuk mendeteksi infeksi.

  • Tes urine, bertujuan untuk melihat apakah ada darah, batu kristal, atau bakteri di dalam urine.

  • Urografi intravena, bertujuan untuk melihat kondisi saluran urine dengan bantuan zat kontras dan rontgen.

  • Tes pencitraan dengan USG atau CT scan untuk melihat kondisi ginjal.

 

Komplikasi Hidronefrosis

 

Jika tidak segera ditangani, beberapa komplikasi yang bisa terjadi akibat hidronefrosis adalah sebagai berikut:

 

  • Peningkatan penekanan pada ginjal yang dapat menurunkan fungsi ginjal dalam menyaring darah dan membuang zat sisa metabolisme.

  • Gangguan keseimbangan elektrolit dalam tubuh akibat berkurangnya fungsi ginjal.

  • Infeksi ginjal, yang menyebabkan kerusakan ginjal permanen dan berujung pada gagal ginjal.

 

Cara Mengobati Hidronefrosis

 

Apakah hidronefrosis bisa sembuh? Kondisi ini bisa disembuhkan dengan beberapa metode pengobatan, tergantung dari penyebab dan tingkat keparahannya. Beberapa pilihan pengobatan hidronefrosis adalah:

 

  • Kateterisasi: Pengobatan ini dilakukan jika hidronefrosis disebabkan oleh penyumbatan ureter. Kateterisasi dilakukan dengan memasang alat kateter untuk membantu mengalirkan urine ke kandung kemih.

  • Pemberian obat-obatan: Dokter biasanya memberikan obat antibiotik dan pereda nyeri untuk meringankan nyeri yang disebabkan oleh infeksi saluran kemih.

  • Operasi: Tindakan ini biasanya dilakukan untuk kasus hidronefrosis yang disebabkan oleh batu ginjal, pembesaran prostat atau adanya jaringan parut dan bekuan darah.

  • Kemoterapi dan radioterapi: Pengobatan ini dilakukan jika hidronefrosis terjadi karena kanker.

 

Penting untuk diketahui bahwa gejala-gejala yang disebutkan di atas tidak spesifik mewakili kondisi hidronefrosis. Artinya, beberapa gejala tersebut juga dapat terjadi pada penyakit lainnya. Oleh karena itu, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Ginjal Hipertensi di Siloam Hospitals terdekat apabila mengalami rasa nyeri ketika buang air kecil untuk memperoleh diagnosis yang tepat.

 

Sebagai informasi, setiap rumah sakit mungkin memiliki tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang berbeda-beda, tergantung dari fasilitas kesehatan yang tersedia. Namun, tenaga medis profesional akan mempertimbangkan kondisi kesehatan pasien terlebih dahulu guna menentukan langkah pemeriksaan dan pengobatan yang tepat.


Jika dibutuhkan, Siloam Hospitals juga menyediakan paket Skrining Ginjal yang bisa dipesan secara praktis melalui aplikasi MySiloam. Anda dapat melakukan transaksi di aplikasi MySiloam dari mana saja, kemudian datang ke rumah sakit sesuai tanggal janji temu yang sudah dijadwalkan.

Digital Booking Lab&Rad - KV 4

message

ArticleDetail