Ureterocele - Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya
Kesehatan Tubuh

Ureterocele - Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

03 Juni 2025 5 menit waktu baca
 ureterocele adalah

Ureterocele adalah pembengkakan yang terjadi di bagian bawah ureter yang dekat dengan kandung kemih, sehingga ujung bawah ureter tampak menonjol. Kondisi ini merupakan kelainan kongenital atau cacat lahir, artinya kondisi tersebut mungkin sudah berkembang sejak bayi masih berada di dalam kandungan. Ureterocele biasanya terdeteksi sebelum kelahiran, namun umumnya baru bisa diatasi ketika bayi sudah dilahirkan.

 

Mari pahami lebih lanjut mengenai apa itu urotercole, termasuk penyebab, gejala, dan penanganannya melalui ulasan di bawah ini.

 

Apa itu Ureterocele?

 

Seperti yang sudah dijelaskan, ureterokel atau ureterocele adalah kondisi ketika ujung ureter yang dekat dengan kandung kemih mengalami pembengkakan, sehingga tampak seperti balon berdinding tipis di dalam kandung kemih. Ureter adalah tabung yang berfungsi untuk mengalirkan air kemih (urine) dari ginjal ke kandung kemih.

 

Terjadinya ureterocele dapat menyebabkan lubang ureter mengecil, sehingga aliran urine menjadi terhambat. Alih-alih menuju kandung kemih, hal ini bisa mengakibatkan aliran urine tersebut kembali ke ginjal (vesicoureteral reflux).

 

Berdasarkan posisinya, ureterocele terbagi menjadi beberapa jenis. Berikut masing-masing penjelasannya:

 

  • Intravesical ureterocele (ureterokel intravesikal): Pembengkakan ujung ureter yang terletak di bagian dalam kandung kemih. Nama lain dari kondisi ini adalah ureterokel ortotopik.

  • Extravesical ureterocele (ureterokel ekstravesikal): Pembengkakan ujung ureter terletak di leher kandung kemih hingga ke saluran kemih uretra. Nama lain dari kondisi ini adalah ureterokel ektopik.

  • Cecoureterocele: Pembengkakan ujung ureter terletak di bawah leher kandung kemih hingga ke bagian dalam uretra. Kondisi ini cukup jarang ditemui.

 

Penyebab Ureterocele

 

Ureterocele adalah kelainan kongenital atau cacat lahir, sehingga kondisi ini sudah berkembang selama janin masih berada di dalam kandungan. Hal ini terjadi akibat ujung ureter yang ada di dalam kandung kemih tidak terbentuk atau berkembang dengan benar. Akibatnya, ujung ureter membengkak seperti balon sehingga menyebabkan urine tidak bisa mengalir secara normal atau bahkan berhenti mengalir melalui ureter ke kandung kemih.

 

Di samping itu, tidak ada faktor risiko tertentu yang dapat memicu terjadinya ureterocele. Bahkan, kondisi ini tidak selalu disebabkan oleh kelainan atau gangguan yang terjadi selama kehamilan.

 

Gejala Ureterocele

 

Ureterocele tidak selalu menunjukkan gejala, bahkan ketika penderitanya sudah beranjak dewasa. Kondisi ini biasanya baru memunculkan gejala bila disertai dengan penyakit lain, misalnya infeksi saluran kemih. Adapun beberapa gejala umum akibat ureterocele adalah sebagai berikut:

 

  • Nyeri punggung.

  • Nyeri perut.

  • Nyeri hebat di bagian pinggang.

  • Urine berdarah (hematuria).

  • Sensasi terbakar atau panas saat buang air kecil.

  • Sering buang air kecil, namun dengan jumlah urine yang keluar sedikit.

  • Inkontinensia urine atau sulit menahan buang air kecil

  • Munculnya benjolan di perut.

  • Jika ureterocele berukuran besar dapat turun menonjol ke vagina

  • Bau urine tidak normal.

  • Sulit buang air kecil.

  • Urine berpasir, yang mungkin menandakan adanya batu saluran kemih.

  • Demam, namun jarang terjadi.

 

Diagnosis Ureterocele

 

Ureterocele adalah suatu kondisi pada bayi yang bisa terdeteksi melalui 2 pemeriksaan, yang pertama adalah pemeriksaan USG kehamilan (antenatal) saat usia kehamilan 28 minggu, pasalnya penilaian kondisi saluran kemih janin dinilai paling akurat pada minggu kehamilan ini. Melalui hasil USG, dokter dapat menemukan ada atau tidaknya pembengkakan pada ureter atau ginjal janin. 

 

Sementara yang kedua adalah pemeriksaan saat bayi sudah lahir (postnatal). Kecurigaan terhadap penyakit ini dapat diketahui dengan adanya keluhan berkemih. Guna mengonfirmasi diagnosis ureterocele dan mendeteksi kondisi lain yang menyertainya, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan tambahan. Pemeriksaan tersebut, meliputi:

 

  • Tes urine, untuk mendeteksi infeksi saluran kemih.

  • USG ginjal.

  • Tes VCUG (voiding cystourethrogram), untuk melihat kinerja kandung kemih.

  • Pemindaian ginjal MAG III, untuk melihat fungsi ginjal dan tingkat keparahan penyumbatan aliran urine akibat ureterocele. Pemindaian ini biasanya dilakukan bila ureterocele telah ditemukan guna memastikan ada atau tidaknya kerusakan pada ginjal.

  • CT scan atau MRI, untuk melihat gambaran ureter, ginjal, dan kandung kemih secara detail.

  • Tes darah, berupa hitung darah lengkap, tes fungsi ginjal, dan pengukuran kadar protein C-reaktif (CRP).

  • Sistoskopi, yaitu prosedur memasukkan alat khusus berupa selang tipis yang dilengkapi dengan kamera dan lampu untuk melihat kandung kemih dan saluran urine.

 

Penanganan Ureterocele

 

Dalam menentukan penanganan yang tepat untuk ureterocele, dokter akan mempertimbangkan beberapa hal, termasuk kapan penyakit terdiagnosis, dampaknya pada ginjal, serta ada atau tidaknya vesicoureteral reflux (VUR). Bila ureterocele terdeteksi saat USG prenatal, maka ibu akan diberikan antibiotik untuk mengurangi risiko infeksi hingga persalinan tiba.

 

Ketika bayi sudah lahir, maka dokter akan menentukan metode penanganan terbaik sesuai dengan kondisinya. Metode yang umum dilakukan untuk mengatasi ureterocele adalah operasi. Terdapat beberapa jenis operasi ureterocele, di antaranya:

 

  • Transurethral puncture: Prosedur ini dilakukan dengan menusuk ureterocele menggunakan sistoskopi yang dimasukkan ke dalam uretra dan kandung kemih. Prosedur ini memerlukan anestesi umum (bius total).

  • Ureteral reimplantation: Prosedur ini dilakukan untuk mengangkat ureterocele dan menanamkan kembali ureter ke dalam kandung kemih dengan benar. Dokter juga akan membuat ulang katup penutup untuk mencegah terjadinya VUR.

  • Upper pole heminephrectomy: Prosedur ini biasanya dilakukan bila bagian atas ginjal tidak berfungsi karena adanya kerusakan akibat ureterocele.

 

Komplikasi Ureterocele

 

Bila urine tidak dapat mengalir keluar dari tubuh (retensi urine), maka urine akan mengalir kembali ke ginjal. Kembalinya urine ke ginjal bisa menyebabkan terjadinya infeksi saluran kemih (ISK) dan pembengkakan ginjal yang meningkatkan risiko kerusakan pada ginjal. Kerusakan ginjal tidak bisa diobati, artinya setelah kehilangan fungsinya, ginjal tidak bisa kembali bekerja secara normal.

 

Adapun komplikasi lain dari ureterocele adalah sebagai berikut:

 

  • Kerusakan kandung kemih.

  • Batu ginjal.

  • Infeksi saluran kemih berulang.

  • Hipertensi sekunder akibat perubahan histologi berupa terbentuknya jaringan parut di ginjal yang dapat memengaruhi tekanan darah sistemik.

 

Untuk mengurangi risiko terjadinya cacat lahir pada bayi, seperti ureterocele, ibu hamil perlu menjalani pemeriksaan antenatal secara rutin. Pasalnya, sejumlah kelainan terkadang bisa terdeteksi melalui USG, sehingga dokter bisa melakukan penanganan lebih awal.


Bila menemukan kondisi abnormal pada si kecil yang mengarah ke ureterocele, Anda disarankan untuk segera mengunjungi Siloam Hospitals terdekat agar si kecil mendapatkan penanganan yang tepat. Manfaatkan aplikasi MySiloam untuk membantu Anda melihat jadwal praktik dokter dan membuat janji temu dengan dokter yang Anda pilih.

 

Aplikasi My Siloam

message

ArticleDetail