Ibu dan Anak
Efek Bayi Isap Jempol dan Cara Menghentikan Kebiasaan Ini

Table of Contents
Mengisap jempol merupakan kebiasaan alami yang dilakukan oleh sebagian besar bayi. Bayi biasanya mulai mengisap jempol saat masih di dalam kandungan dan bisa melakukannya setelah lahir sebagai cara untuk menenangkan diri, membuat diri merasa aman dan nyaman, serta meredakan stres.
Kebiasaan bayi mengisap jempol memiliki sejumlah dampak yang kurang baik seiring pertambahan usianya, seperti gangguan pertumbuhan gigi dan tulang rahang.
Mari pahami berbagai efek bayi isap jempol untuk kesehatan dan cara menghentikannya.
Kenapa Bayi Suka Mengisap Jempol?
Pada dasarnya, mengisap jempol adalah kebiasaan yang lumrah bagi bayi. Bahkan, beberapa bayi sudah mulai mengisap jempol atau jari sejak masih dalam kandungan, yaitu sekitar minggu ke-29 usia kehamilan.
Hal tersebut dilakukan oleh bayi menciptakan ketenangan, juga mengatasi rasa cemas dan sedih.
Umumnya, kebiasaan bayi mengisap jempol akan berhenti dengan sendirinya seiring pertambahan usia (hingga kira-kira usia 4 tahun). Namun, apabila si kecil tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti setelah melewati batas usia ini, maka orang tua perlu mengatasi kebiasaan ini dengan segera untuk mencegah dampak negatifnya.
Bolehkah Bayi Mengisap Jempol?
Tak sedikit orang tua yang khawatir terhadap kebiasaan bayi mengisap jempol, sehingga mereka berupaya keras untuk mencoba menghentikannya. Sebenarnya, kebiasaan mengisap jempol tidak berbahaya, namun hal ini dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan giginya jika dilakukan terus-menerus hingga ia bertumbuh besar.
Jadi, meski dapat memberikan ketenangan dan perasaan aman bagi bayi, sebaiknya kebiasaan ini diminimalisasi dan tidak dibiarkan berlangsung dalam waktu lama.
Efek Bayi Isap Jempol
Efek bayi isap jempol dapat terjadi tergantung dari intensitas dan jangka waktu berlangsungnya kebiasaan ini. JIka dibiarkan terlalu lama, kebiasaan ini dapat menyebabkan beberapa masalah kesehatan gigi dan mulut pada anak dalam jangka panjang. Berikut masing-masing penjelasannya.
1. Gigi Depan Bagian Atas Tidak Rata
Sering mengisap jempol dapat meningkatkan tekanan pada jaringan lunak langit-langit mulut dan rahang atas. Akibatnya, rahang atas akan menyempit sehingga mengganggu pertumbuhan gigi, seperti gigi bagian atas tidak rata, yang kemudian berpengaruh pada bentuk wajah anak.
2. Cadel
Apabila pertumbuhan struktur gigi depan tidak rata, maka bentuk rahang bisa berubah dan memengaruhi cara bicara anak nantinya. Ada kemungkinan bahwa anak akan terdengar cadel saat mengucapkan beberapa huruf konsonan, misalnya huruf d, t, s.
3. Gigi Tonggos
Kebiasaan bayi isap jempol mendorong gigi depan ke arah depan secara terus-menerus. Jika dibiarkan dalam waktu lama dapat menyebabkan anak cenderung memiliki bentuk gigi tonggos saat gigi dewasa tumbuh menggantikan gigi susu anak.
4. Cheilitis Angular
Efek bayi isap jempol berikutnya adalah cheilitis angular, yaitu kondisi ketika ujung bibir menjadi kering dan rentan mengalami infeksi. Bibir kering ini dapat menimbulkan luka pada ujung bibir dan membuat anak merasa tidak nyaman.
Selain itu, kebiasaan mengisap jempol juga diketahui dapat membuat langit-langit mulut menjadi lebih sensitif. Apabila tangan dan kuku anak tidak bersih, maka kuman atau kotoran penyebab penyakit lebih mudah masuk ke dalam tubuh.
5. Paronikia
Paronikia adalah kondisi ketika bakteri menginfeksi akar kuku. Di Indonesia, kondisi ini lebih sering dikenal dengan sebutan cantengan. Paronikia disebabkan oleh tekanan isapan terus-menerus pada kuku, sehingga menimbulkan trauma kuku minor dan membentuk celah antara kuku dan kulit.
Apabila kebiasaan ini berlangsung hingga usia bayi lebih tua, mereka akan cenderung mengunyah dan menggigit kuku jempolnya. Hal ini dapat menyebabkan luka pada kuku yang kemudian menjadi sarang bakteri penyebab infeksi.
6. Crossbite
Crossbite atau gigitan silang merupakan suatu kondisi yang terjadi akibat susunan gigi atas dan bawah berbeda atau berlawanan dari normalnya. Crossbite dapat menyebabkan kemampuan menggigit menjadi lemah dan tidak selaras.
7. Pembentukan Kalus di Jempol Bayi
Pembentukan kalus dapat terjadi karena saat mengisap kulit jempol bayi bergesekan terus-menerus dengan lidah sehingga menyebabkan penebalan dan pengerasan kulit. Kalus pada jempol bayi ini bisa menimbulkan rasa tidak nyaman atau nyeri.
Cara Menghilangkan Kebiasaan Bayi Isap Jempol
Meski bisa berhenti dengan sendirinya seiring pertambahan usia, namun peran orang tua dalam hal ini cukup penting. Anda dapat membantu menghentikan kebiasaan bayi isap jempol sedini mungkin untuk menghindari beberapa efek negatif di atas.
Adapun beberapa cara menghentikan bayi isap jempol yang dapat dicoba antara lain:
1. Mencari Tahu Penyebabnya
Pertama-tama, orang tua perlu mencari tahu apa penyebab bayi isap jempol. Pasalnya, kebiasaan isap jempol merupakan respon bayi terhadap sesuatu. Jika bayi mengisap jempol saat merasa takut atau khawatir, maka Anda dapat memberikan perhatian lebih untuk membuatnya merasa tenang, nyaman, dan aman, seperti memeluk dan berbicara padanya.
Sementara itu, bila kebiasaan ini terjadi ketika si kecil terlihat bosan, maka Anda bisa mengajaknya melakukan aktivitas yang menyenangkan, seperti bermain. Jika bayi mengisap jempol karena merasa lapar, maka Anda perlu memastikan jadwal pemberian ASI secara lebih teratur.
2. Memberikan Pujian atau Hadiah
Melarang dengan cara memarahi dan menghukum si kecil bukanlah suatu metode yang efektif untuk menghentikan kebiasaan ini. Pola asuh seperti itu justru akan membuatnya semakin merasa takut dan cemas.
Sebagai solusinya, Anda dapat mencoba melakukan pendekatan dengan memberikan pujian atau hadiah jika ia berhasil menghentikannya. Hal ini bisa menjadi motivasi bagi mereka untuk menghentikan kebiasaan ini.
3. Alihkan Perhatiannya
Anda juga dapat mengalihkan perhatian si kecil jika mulai terlihat gelagat untuk mengisap jempol. Yakni dengan menunjukkan sesuatu yang menarik, mengajaknya berbicara, maupun melakukan aktivitas yang menyenangkan bayi lainnya.
Kini, Anda sudah mengetahui apa saja efek bayi isap jempol bagi kesehatan, terutama kesehatan gigi dan mulut. Karena itu, apabila si kecil memiliki kebiasaan ini, segera bimbing mereka untuk menghentikannya.
Jika Anda membutuhkan bantuan untuk menangani hal tersebut atau ada keluhan lain pada anak, jangan ragu mengunjungi Siloam Hospitals terdekat agar anak mendapatkan penanganan yang tepat dari dokter spesialis anak kami.
Anda pun dapat menggunakan fitur Cari Dokter yang telah kami sediakan untuk mencari informasi mengenai jadwal dokter dan membuat janji temu dengan dokter terkait.
Gunakan pula aplikasi MySiloam untuk memudahkan Anda mengakses fitur kesehatan dengan mudah dan cepat, mulai dari pemesanan paket medical check up hingga melihat hasil tes lab. Mari unduh aplikasinya sekarang dan jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Sriwijaya Palembang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Ifo Faujiah Sihite, M.Ked (Ped), SpA
Pediatrik (Anak)
Spesialis Ilmu Kesehatan Anak
Siloam Hospitals Jambi
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Anggun Kusumasari, SpA, MSc, AIFO-K
Pediatrik (Anak)
Spesialis Ilmu Kesehatan Anak
Siloam Hospitals Balikpapan
Tersedia :
Tersedia hari ini







