Antikonvulsan (Obat Antikejang), Cara Kerja, & Efek Samping
Kesehatan Tubuh

Antikonvulsan (Obat Antikejang), Cara Kerja, & Efek Samping

30 Mei 2025 3 menit waktu baca
antikonvulsan adalah

 

Antikonvulsan (antikejang) adalah jenis obat yang digunakan untuk mencegah ataumengobati kejang. Umumnya, antikonvulsan dimanfaatkan sebagai pengobatan penyakit epilepsi serta gangguan kejang lainnya. Namun tak hanya itu, obat antikejang ini juga terkadang digunakan untuk mengobati kondisi lain, seperti sakit kepala migrain. Simak penjelasan selengkapnya tentang antikonvulsan melalui ulasan di bawah ini.

 

Apa itu Antikonvulsan (Obat Antikejang)?

 

Seperti yang sudah dijelaskan, antikonvulsan adalah obat yang digunakan untuk mengatasi kejang. Kejang merupakan suatu kondisi ketika terjadi lonjakan aktivitas listrik yang bersifat sementara dan tidak bisa diberhentikan dalam otak. Kondisi ini sering kali dikaitkan dengan epilepsi, namun sebenarnya ada berbagai faktor lain yang bisa menyebabkan kejang.

 

Saat ini, obat antikonvulsan dikenal sebagai obat antikejang. Adapun beberapa jenis obat antikonvulsan adalah sebagai berikut:

 

  • Carbamazepine.

  • Clobazam.

  • Clonazepam.

  • Gabapentin.

  • Levetiracetam.

  • Oxcarbazepine.

  • Perampanel.

  • Phenobarbital.

  • Phenytoin.

  • Pregabalin.

  • Topiramate.

  • Zonisamide.

 

Kondisi yang Dapat Ditangani dengan Antikonvulsan

 

Meski utamanya digunakan untuk mengatasi kejang, antikonvulsan atau obat antikejang juga dapat dimanfaatkan sebagai pengobatan kondisi lain yang tidak berhubungan dengan kejang. Beberapa kondisi tersebut, di antaranya:

 

 

Cara Kerja Antikonvulsan

 

Secara umum, cara kerja antikonvulsan adalah mengendalikan aktivitas listrik yang tidak normal di otak. Ada banyak jenis antikonvulsan dan obat-obat tersebut bekerja dengan cara yang berbeda-beda. Sebagai informasi, otak mengandung milyaran sel yang dikenal sebagai neuron. Fungsi neuron adalah mengirimkan serta menyampaikan sinyal kimia dan listrik satu sama lain.

 

Pada waktu-waktu tertentu, neuron dapat beristirahat, merangsang, atau menghambat neuron lainnya. Kejang bisa terjadi ketika kerusakan menyebabkan neuron menembakkan sinyal listrik secara tidak terkendali. Obat antikonvulsan membantu mengurangi aktivitas listrik yang berlebihan ini, sehingga otak bisa bekerja dengan lebih stabil dan teratur.

 

Berapa Lama Harus Menjalani Pengobatan Antikonvulsan

 

Durasi penggunaan antikonvulsan bisa berbeda-beda pada setiap pasien, tergantung dari anjuran dokter. Dalam hal ini, dokter biasanya akan mempertimbangkan beberapa faktor, di antaranya:

 

  • Jenis epilepsi yang diderita pasien.

  • Jumlah obat antikejang yang dikonsumsi.

  • Berapa lama pasien sudah terbebas dari kejang.

  • Kapan pertama kali mengalami epilepsi.

  • Berapa lama epilepsi berlangsung sebelum pasien bebas dari kejang.

  • Jumlah kejang yang dialami sebelum bebas kejang.

  • Adanya temuan abnormal pada EEG. 

 

Risiko Efek Samping dan Komplikasi Antikonvulsan

 

Setiap jenis obat antikejang bisa memiliki efek samping yang berbeda. Namun, secara umum, beberapa efek samping yang dapat ditimbulkan oleh antikonvulsan adalah sebagai berikut:

 

  • Sakit kepala.

  • Kelelahan.

  • Pusing.

  • Penglihatan kabur.

  • Mual.

  • Kenaikan atau penurunan berat badan.

  • Perubahan suasana hati.

  • Osteoporosis (jika diminum dalam jangka panjang).

 

Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan

 

Sebelum mengonsumsi obat antikejang, penting untuk berkonsultasi dengan dokter mengenai jenis obat, dosis, dan jadwal minum yang sesuai, terutama bila sedang hamil, menyusui, atau menderita penyakit kronis tertentu. Seseorang yang sedang mengonsumsi jenis obat lain juga perlu memberitahu dokter mengenai hal tersebut.

 

Perlu dipahami bahwa informasi yang disebutkan hanya untuk tujuan edukasi sehingga tidak dapat menggantikan saran kesehatan dari dokter. Penggunaan obat antikejang ini perlu mengikuti anjuran dari dokter atau tim medis profesional lainnya.

 

Jika ingin berkonsultasi mengenai penggunaan obat antikonvulsan atau memiliki kondisi yang membutuhkan jenis obat-obatan ini, Anda bisa mengunjungi Dokter Spesialis Neurologi di Siloam Hospitals terdekat. Bersama Siloam Hospitals, Anda juga dapat memperoleh penanganan lebih lanjut sesuai dengan kondisi tubuh.

 

Namun, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang Anda jalani terkait kondisi ini mungkin berbeda di satu fasilitas kesehatan dengan yang lain. Tenaga medis akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat sesuai dengan kondisi medis setiap pasien.

 

Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk menemukan Siloam Hospitals terdekat. Melalui aplikasi ini, Anda juga dapat membuat janji temu dengan dokter terkait serta memeriksa riwayat kesehatan secara virtual. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

Sumber

National Cancer Institute. anticonvulsant. Diakses pada 2024 | Cleveland Clinic. Antiseizure Medications (Formerly Known as Anticonvulsants). Diakses pada 2024 | Mayo Clinic. Anti-seizure medications: Relief from nerve pain. Diakses pada 2024 |

Dokter Kami
dr-kelvin-yuwanda-spn

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-jerry-hartawan--sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-dorothea-fortuna-meita-caturwulan-sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail