Kesehatan Tubuh
Infeksi Clostridioides Difficile, Gejala, dan Pengobatannya

Table of Contents
Clostridioides difficile (C. diff) adalah bakteri penyebab diare dan radang usus yang sangat menular. Bakteri ini sering menginfeksi orang yang baru saja mengonsumsi antibiotik tertentu.
Pada dasarnya, antibiotik berguna untuk membunuh bakteri lain dalam usus, namun tidak membunuh C. diff sehingga memungkinkan bakteri ini tumbuh dengan cepat di luar kendali. Simak penjelasan selengkapnya tentang Clostridioides difficile di bawah ini.
Apa itu Clostridioides Difficile?
Seperti yang sudah dijelaskan, Clostridioides difficile (C. diff) adalah bakteri yang dapat menginfeksi usus besar (kolon) dan menyebabkan diare serta gejala gangguan pencernaan lainnya. Pada dasarnya, infeksi usus besar ini umum terjadi akibat jenis bakteri lain, dan mayoritas kasus tidaklah serius.
Namun, infeksi C. diff bisa lebih agresif dan berbahaya. Infeksi ini dapat menyebabkan kolitis atau radang usus besar yang dikenal sebagai kolitis pseudomembran, yang ditandai dengan peradangan yang lebih berat serta gejala yang lebih mengancam kesehatan pencernaan.
Penyebab Infeksi Clostridioides Difficile
Sebenarnya, Clostridioides difficile bisa tumbuh di dalam usus tanpa menyebabkan infeksi, asalkan ada bakteri lain yang membantu menjaga jumlah C. diff tetap terkendali.
Karena tanpa adanya bakteri lain, C. diff bisa tumbuh berlebihan. Biasanya, C. diff memicu infeksi ketika seseorang mengonsumsi antibiotik tertentu yang membunuh bakteri lain sehingga memungkinkan bakteri ini menyebar dengan sangat cepat.
Clostridioides difficile berkembang biak dengan melepaskan spora. Spora tersebut bisa hidup di lingkungan, terutama di tempat yang disinggahi atau ditinggali oleh orang yang terinfeksi. Kemudian, spora tersebut masuk ke dalam saluran pencernaan orang lain melalui mulut.
Selain itu, C. diff juga sangat mudah menular. Pasalnya, spora C. diff sangat sulit dibunuh, baik yang di dalam maupun di luar usus. Hal ini dikarenakan spora tersebut tahan terhadap panas, asam, serta berbagai jenis antibiotik dan disinfektan. Spora ini juga bisa hidup hingga beberapa bulan di permukaan.
Selain penggunaan antibiotik tertentu, beberapa kondisi medis yang bisa mengurangi pertahanan tubuh terhadap infeksi Clostridioides difficile adalah sebagai berikut:
-
Imunodefisiensi. Penurunan kekebalan tubuh secara umum, misalnya karena penyakit kronis tertentu seperti HIV, kanker, penyakit ginjal, dan diabetes.
Gejala Infeksi Clostridioides Difficile
Gejala infeksi C. diff sering kali muncul dalam waktu 5–10 hari setelah penggunaan antibiotik tertentu dimulai. Namun, pada sebagian orang, gejala bisa muncul segera setelah hari pertama atau tiga bulan kemudian. Gejala infeksi ini bervariasi, mulai dari ringan, sedang, hingga parah.
Gejala umum dari infeksi ringan hingga sedang adalah diare encer sebanyak tiga kali atau lebih dalam sehari, serta kram dan nyeri perut. Sementara itu, infeksi yang parah biasanya ditandai dengan kehilangan cairan dalam jumlah banyak (dehidrasi). Gejala infeksi C. diff parah di antaranya sebagai berikut:
-
Diare encer sebanyak 10–15 kali sehari.
-
Terdapat darah atau nanah di feses.
-
Kram dan nyeri perut hebat.
-
Mual.
-
Kehilangan nafsu makan.
-
Demam.
-
Denyut jantung cepat.
-
Perut bengkak.
-
Penurunan berat badan.
-
Peningkatan jumlah sel darah putih.
Bila mengalami infeksi parah, penderita disarankan untuk menjalani perawatan di rumah sakit. Jika tidak mendapatkan penanganan, infeksi C. diff yang parah bisa menyebabkan usus besar meradang dan membesar (megakolon toksik). Kondisi ini dapat mengakibatkan sepsis, yaitu respons imun tubuh yang berlebihan terhadap infeksi sehingga dapat merusak jaringannya sendiri.
Diagnosis Infeksi Clostridioides Difficile
Sebelum menegakkan diagnosis, dokter akan terlebih dahulu melakukan anamnesis (wawancara medis) mengenai gejala dan riwayat kesehatan pasien, terutama riwayat minum antibiotik atau dirawat di rumah sakit dalam kurun waktu tiga bulan terakhir.
Dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik seperti mengevaluasi seluruh tubuh pasien, terutama di area perut. Diagnosis infeksi ini didasarkan pada diare, gejala lain, serta adanya bakteri C. diff dalam sampel feses. Pemeriksaan penunjang untuk mengonfirmasi diagnosis infeksi C. diff, di antaranya:
-
Tes feses.
-
Tes darah.
-
Pemeriksaan usus besar: Digunakan untuk memeriksa bagian dalam usus besar menggunakan sigmoidoskopi atau kolonoskopi.
-
Tes pencitraan, menggunakan sinar-X perut atau CT scan. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi:
-
Dinding usus besar yang menebal.
-
Usus yang membesar.
-
Lubang (perforasi) pada lapisan usus besar.
Pengobatan Infeksi Clostridioides Difficile
Pengobatan untuk infeksi bakteri ini tergantung dari tingkat keparahannya. Bila disebabkan oleh jenis antibiotik tertentu, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menghentikan konsumsi antibiotik tersebut. Pada sebagian kasus, langkah ini sudah cukup membantu mengembalikan kekebalan alami usus dan mengatasi infeksi.
Jika penghentian antibiotik sebelumnya tidak efektif, dokter dapat meresepkan jenis antibiotik khusus untuk melawan bakteri C. diff, seperti metronidazol, vankomisin, dan fidaksomisin. Penderita dengan infeksi ringan akan membaik dalam beberapa hari dengan bantuan obat-obatan tersebut.
Namun, jika penderita mengalami gejala infeksi yang parah, biasanya akan diberikan antibiotik melalui infus bersamaan dengan cairan untuk mencegah dehidrasi. Pada beberapa kasus, dokter mungkin memberikan obat langsung ke usus besar.
Pencegahan Infeksi Clostridioides Difficile
Guna mencegah perkembangan C. diff di dalam usus sekaligus risiko infeksi, terdapat beberapa cara yang bisa Anda lakukan, di antaranya sebagai berikut:
-
Menghindari penggunaan antibiotik secara sembarangan, kecuali benar-benar diperlukan dan dikonsumsi berdasarkan anjuran dokter.
-
Rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
-
Menggunakan desinfektan berbasis klorin untuk membersihkan permukaan-permukaan benda, terutama di kamar mandi.
-
Menjaga kekebalan tubuh. Pastikan untuk menerapkan gaya hidup sehat, seperti makan bergizi dan cukup beristirahat, untuk mendukung sistem kekebalan tubuh.
Sebagai informasi, penyebab serta gejala yang disebutkan di atas tidak spesifik mewakili infeksi Clostridioides difficile. Dengan kata lain, penyebab gejala tersebut bisa serupa dengan kondisi medis lainnya, sehingga penting untuk berkonsultasi dengan Dokter Umum di Siloam Hospitals terdekat agar mendapatkan diagnosis yang akurat.
Namun, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang Anda jalani terkait kondisi ini mungkin berbeda di satu fasilitas kesehatan dengan yang lain. Tenaga medis akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat sesuai dengan kondisi medis setiap pasien.
Manfaatkan aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai fitur kesehatan yang memudahkan Anda, mulai dari melihat jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Sumber
Cleveland Clinic. C. diff (Clostridioides difficile) Infection. Diakses pada 2024 | CDC. About C. diff. Diakses pada 2024 | Mayo Clinic. C. difficile infection. Diakses pada 2024 | StatPearls [Internet]. Clostridioides difficile infection. Diakses pada 2024 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kelapa Dua
Tersedia :
Tersedia hari ini






