Cushing Syndrome: Penyebab, Gejala, Diagnosis, & Pengobatan
Kesehatan Tubuh

Cushing Syndrome: Penyebab, Gejala, Diagnosis, & Pengobatan

03 Juni 2025 5 menit waktu baca
 cushing syndrome

 

Cushing syndrome adalah kondisi yang ditandai oleh kelebihan kadar hormon kortisol di dalam tubuh. Secara fisik, sindrom Cushing dapat ditandai dengan munculnya punuk berlemak di antara bahu (buffalo hump), wajah berbentuk bulat (moon face), dan timbulnya stretch mark berwarna merah muda atau ungu.

 

Lantas, seberapa seriusnya kondisi Cushing syndrome dan bagaimana diagnosis serta penanganannya yang tepat secara medis? Sebagai langkah antisipasi dini, mari simak hal-hal penting mengenai Cushing syndrome selengkapnya melalui artikel di bawah ini.

 

Apa itu Cushing Syndrome?

 

Cushing syndrome adalah sejumlah tanda dan gejala yang mengindikasikan kadar hormon kortisol berlebih dalam tubuh. Hormon kortisol sering kali disebut sebagai hormon stres. Hormon kortisol dihasilkan oleh dua kelenjar adrenal yang berupa dua kelenjar kecil di atas kedua ginjal. Bersama dengan kelenjar adrenal, kelenjar hipofisis di otak dan hipotalamus bertugas untuk mengatur kadar hormon kortisol agar tidak menyebabkan gangguan. 

 

Ketika diproduksi sesuai dengan kebutuhan, beberapa fungsi utama hormon kortisol adalah  untuk:

 

  • Meregulasi metabolisme. Hormon kortisol mengatur metabolisme lemak, protein dan karbohidrat.

  • Mengelola gula darah. Hormon kortisol dapat meningkatkan gula darah dengan cara mengeluarkan glukosa yang tersimpan (efek ini berbanding terbalik dengan hormon insulin).

  • Meregulasi respons stres. Ketika tubuh menghadapi situasi stres, seperti ketika takut atau merasa terancam, hormon kortisol mengaktifkan respons fight or flight, yaitu menjadikan tubuh semakin awas serta meningkatkan detak jantung dan laju napas.  

  • Mengurangi peradangan. Kortisol dapat mencegah kerusakan jaringan dan saraf terkait inflamasi.

  • Menyeimbangkan kadar air garam di dalam tubuh.

  • Memperkuat ingatan.

 

Penyebab Cushing Syndrome

 

Cushing syndrome disebabkan oleh dua macam faktor, yaitu endogen (dari dalam tubuh) dan eksogen (dari luar tubuh). Penyebab paling umum dari faktor eksogen adalah efek samping obat-obatan, seperti penggunaan rutin glukokortikoid dalam beberapa bulan hingga beberapa tahun. Sementara itu, faktor endogen yang menjadi penyebab sindrom Cushing yaitu produksi hormon kortisol berlebihan oleh kelenjar adrenal. Jumlah kortisol yang berlebihan umumnya dipicu oleh beberapa tumor yang menghasilkan adrenokortikotropik (ACTH), seperti:

 

  • Adenoma hipofisis: Tumor yang tumbuh di dasar otak dan tidak bersifat kanker. Kondisi ini merupakan salah satu penyebab Cushing syndrome yang umum.

  • Tumor atau penyakit pada kelenjar adrenal: Berada di bagian luar kelenjar adrenal dan tidak bersifat kanker.

  • Karsinoma adrenokortikal: Terkadang berupa beberapa benjolan yang memicu produksi kortisol berlebih dalam kelenjar adrenal.

  • Ectopic ACTH-producing tumors: Biasanya ditemukan di paru-paru, pankreas, kelenjar timus, atau tiroid. Beberapa bersifat kanker, namun ada pula yang tidak.

  • Sindrom Cushing turunan: Jarang terjadi, namun seseorang bisa mewarisi kecenderungan tumbuhnya tumor pada satu atau lebih kelenjar endokrin penghasil kortisol.

 

Gejala Cushing Syndrome

 

Sindrom Cushing memiliki sejumlah gejala yang berbeda-beda pada setiap orang. Beberapa gejalanya bahkan bisa mengarah pada variasi sindrom lainnya. Namun, beberapa gejala Cushing syndrome yang umumnya ditemukan adalah:

 

  • Berat badan bertambah dengan cepat pada wajah, perut, leher, dada, dan punggung. Pada wajah, apabila lemak wajah bertambah banyak dan membulat, sering disebut dengan moon face. 

  • Otot-otot melemah.

  • Kulit menipis.

  • Stretch mark keunguan di atas perut.

  • Lengan dan tungkai mudah memar.

  • Tubuh sering merasa letih.

  • Penglihatan kabur.

  • Rasa pusing dan sakit kepala.

  • Luka sulit sembuh.

  • Tekanan darah tinggi (hipertensi).

  • Rambut yang tumbuh berlebih pada wajah, leher, dada, perut, payudara, dan paha (hirsutisme).

  • Kebotakan.

  • Diabetes.

  • Pengeroposan tulang (osteoporosis) yang bisa menyebabkan patah tulang.

  • Sulit mengontrol emosi.

  • Depresi.

  • Mudah tersinggung.

  • Mengalami gangguan kecemasan.

  • Sulit tidur.

  • Perubahan libido.

  • Disfungsi ereksi.

  • Siklus menstruasi yang tidak teratur atau berhenti pada wanita.

  • Pertumbuhan yang terhambat pada penderita anak.

 

Diagnosis Cushing Syndrome

 

Cushing syndrome terkadang bisa disalahartikan sebagai sindrom lain, seperti sindrom ovarium polikistik (PCOS) atau sindrom metabolik. Maka dari itu, diperlukan diagnosis medis yang tepat agar pasien bisa mendapatkan penanganan sesuai dengan kondisinya.

 

Langkah awal yang dilakukan dokter untuk mendiagnosis Cushing syndrome adalah melakukan anamnesis (wawancara medis) dengan pasien. Dengan begitu, dokter bisa mengetahui gejala-gejala yang mengarah pada kondisi pasien saat pemeriksaan. Setelahnya, dokter akan merekomendasikan sejumlah tes, seperti:

 

  • Tes kortisol urine 24 jam: Mengumpulkan sampel urine untuk mengukur jumlah kortisol  dalam urine.

  • Tes kortisol saliva tengah malam: Mengecek kadar kortisol yang seharusnya sangat rendah pada larut malam. Pemeriksaan biasanya dilakukan pada pukul 23.00 dan 00.00.

  • Tes darah: Mengukur kadar ACTH dalam darah. Apabila rendah, maka kemungkinan penyebabnya adalah tumor adrenal. Jika kadarnya normal atau tinggi, maka kemungkinan disebabkan oleh tumor hipofisis atau ektopik.

  • Tes penekanan deksametason dosis rendah (low dose dexamethasone suppression test/LDDST): Meminum satu miligram obat pada malam hari untuk tes pengukuran kadar kortisol melalui pengambilan darah antara pukul 8 dan 9 pagi pada esok hari. Penderita Cushing syndrome akan memiliki kadar kortisol yang tetap tinggi.

  • Tes penekanan deksametason dosis tinggi (high dose dexamethasone suppression test/HDDST): Dosis obat yang diberikan lebih tinggi, yaitu 8 miligram. Biasanya dilakukan setelah pelaksanaan tes dosis rendah menunjukkan kadar kortisol yang tinggi di pagi hari. Pemeriksaan ini ditujukan untuk mengetahui sumber penyebab sindrom Cushing karena bisa membedakan adenoma hipofisis dan tumor yang tumbuh di bagian tubuh lainnya.

 

Apabila diperlukan, dokter juga dapat merekomendasikan sejumlah tes pencitraan untuk mengetahui lokasi tumor. Beberapa metode pencitraan yang umumnya dipilih adalah CT scan dan MRI. Masing-masing prosedur tersebut bisa membantu dokter memastikan keberadaan tumor yang memicu produksi kortisol berlebih dan menyebabkan Cushing syndrome.

 

Pengobatan Cushing Syndrome

 

Metode pengobatan Cushing syndrome akan disesuaikan dengan penyebab dan kadar kortisol penderitanya. Apabila kondisinya disebabkan oleh penggunaan glukokortikoid, maka dokter akan menurunkan dosisnya atau merekomendasikan obat yang tidak mengandung glukokortikoid. Namun, sindrom Cushing yang disebabkan oleh tumor biasanya perlu ditangani dengan sejumlah prosedur berikut:

 

 

Perlu dicatat bahwa penyebab dan gejala yang disebutkan di atas tidak semata-mata mengarah pada kondisi Cushing syndrome. Kondisi tertentu mungkin mengindikasikan penyakit lain. Untuk memastikan kondisi Anda, lakukan konsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Siloam Hospitals terdekat guna memperoleh diagnosis serta penanganan yang tepat.

 

Sebagai informasi, dokter akan merekomendasikan tahapan pemeriksaan dan metode penanganan sindrom Cushing sesuai dengan ketersediaan fasilitas kesehatan sehingga dapat berbeda di masing-masing rumah sakit. Namun, dokter akan memastikan langkah pemeriksaan dan penanganan telah sesuai dengan kondisi medis pasien.

 

Untuk mempermudah membuat janji temu dengan dokter, Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam. Selain itu, aplikasi ini juga memungkinkan Anda untuk mengetahui jadwal praktik dokter, berkonsultasi dengan dokter terkait hingga mengecek hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari gunakan MySiloam dan nikmati berbagai fitur yang dapat memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

Sumber

Mayo Clinic. Cushing Syndrome. Diakses pada 2024 | National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Cushing’s Syndrome. Diakses pada 2024 | Cleveland Clinic. Cushing Syndrome. Diakses pada 2024 | National Library of Medicine. Cushing Syndrome. Diakses pada 2024 | National Library of Medicine. Physiology, Cortisol. Diakses pada 2024 | National Library of Medicine. Chronic Stress, Cortisol Dysfunction, And Pain: A Psychoneuroendocrine Rationale For Stress Management In Pain Rehabilitation. Diakses pada 2024 | National Library of Medicine. Cushing’s Syndrome. Diakses pada 2024 |

Dokter Kami
dr-albertus-daniel-sppd

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Albertus Daniel, SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ra-aditya-adhi-puruhita-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ra Aditya Adhi Puruhita, M.M.R., SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-juliyanti-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Juliyanti, SpPD, FINASIM

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Kelapa Dua

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail