Kesehatan Tubuh
Mengenal Deformitas Sendi, Penyebab, hingga Pencegahannya

Table of Contents
Deformitas sendi adalah kondisi perubahan bentuk atau posisi sendi yang tidak normal, yang biasanya dapat disebabkan oleh cedera, kondisi medis tertentu, maupun proses penuaan (degeneratif). Tanpa penanganan yang tepat, kondisi ini dapat mengganggu fungsi normal sendi dan memicu rasa tidak nyaman saat melakukan aktivitas sehari-hari. Simak artikel berikut untuk mengetahui pengobatan dan pencegahannya.
Apa Itu Deformitas Sendi?
Deformitas sendi adalah kondisi yang terjadi ketika struktur sendi, seperti tulang, ligamen, atau kartilago, mengalami kerusakan akibat penyakit atau cedera, sehingga sendi kehilangan bentuk, posisi, atau kesejajaran normalnya. Kondisi ini dapat terjadi di sendi tangan maupun kaki. Pada sebagian kasus, bentuk sendi dapat mengalami perubahan bentuk yang terlihat jelas sehingga penderita dapat mengalami gangguan fungsi gerak.
Jenis Deformitas Sendi
Deformitas sendi dapat terjadi pada tangan, kaki, pinggul, lutut, bahu, dan siku. Namun, kondisi ini lebih sering menyerang sendi di area tangan karena tangan memiliki banyak sendi yang digunakan secara terus-menerus dalam aktivitas sehari-hari. Adapun jenis-jenis deformitas sendi pada tangan meliputi:
-
Boutonniere deformity: Terjadi ketika sendi jari tengah menekuk mendekati telapak tangan. Sementara jari terluar mungkin akan menekuk menjauhi telapak tangan.
-
Swan-neck deformity: Kondisi ketika sendi pangkal jari dan sendi ujung menekuk, sementara sendi tengah mengalami hiperekstensi (melengkung ke belakang).
-
Hitchhiker’s thumb: Terjadi ketika pangkal ibu jari menekuk ke belakang dan bagian atas ibu jari memanjang. Kondisi ini juga dikenal sebagai deformitas berbentuk Z.
-
Mallet finger: Kondisi ketika ujung sendi jari menekuk ke bawah.
-
Ulnar drift: Kondisi berupa pergeseran jari-jari tangan ke arah kelingking.
-
Bouchard's nodes: Benjolan tulang yang tumbuh di sendi tengah jari.
-
Heberden’s nodes: Kondisi ini sama dengan Bouchard's nodes, namun tumbuh di sendi ujung jari.
Selain tangan, deformitas kaki juga sering kali terjadi. Beberapa jenis deformitas sendi pada kaki yaitu:
-
Flat feet: Kondisi berupa telapak kaki berbentuk datar atau rata.
-
Bunions: Benjolan tulang pada sendi jempol kaki.
-
Hammertoe: Sendi tengah pada jari kedua kaki menekuk ke bawah menyerupai bentuk palu.
-
Claw toe: Ujung dan tengah sendi jari kaki menekuk ke bawah menyerupai bentuk cakar, sedangkan pangkalnya menekuk ke atas.
-
Mallet toe: Kondisi ketika ujung sendi jari menekuk ke bawah.
Penyebab Deformitas Sendi
Deformitas sendi dapat terjadi akibat beberapa faktor, mulai dari kondisi medis tertentu hingga cedera atau trauma. Berikut penjelasannya.
1. Lupus
Lupus dapat menyebabkan jenis arthritis (radang sendi) yang mengakibatkan rasa nyeri dan peradangan pada sendi. Pada sebagian kasus, kondisi ini dapat berkembang menjadi deformitas, terutama pada jari. Hal ini pun dapat memicu suatu kondisi bernama Jaccoud arthropathy, yaitu deformitas sendi yang terjadi karena ligamen di sekitar sendi menjadi longgar. Meskipun bentuk sendi berubah, tidak ada kerusakan tulang seperti yang terjadi pada jenis arthritis lain.
Sebuah studi kasus dalam Case Report: Joint Deformity Associated With Systemic Lupus Erythematosus (2022) melaporkan bahwa terapi kombinasi (prednisone, tofacitinib, MTX, dan celecoxib) berhasil meredakan gejala deformitas pada tangan dan kaki dalam waktu empat bulan. Perkembangan gejala sendi pada pasien cenderung melambat dan nyeri sendi berkurang.
2. Rheumatoid Arthritis
Rheumatoid arthritis adalah penyakit autoimun yang ditandai dengan peradangan sendi, seperti pada jari tangan dan kaki, dan dapat menjalar ke sendi lainnya apabila tidak ditangani dengan segera. Kondisi ini pun dapat menyebabkan deformitas.
Mengutip dari StatPearls, rheumatoid arthritis berkembang secara bertahap dan deformitas sendi mulai terjadi pada tahap 3. Pada tahap 1, tidak ada perubahan secara kasat mata yang bisa tampak pada pemeriksaan X-ray. Tahap 2 menunjukkan adanya bukti radiologis osteoporosis periartikular, destruksi tulang subkondral, namun tidak ditemukannya deformitas sendi.
Pada tahap 3, pemeriksaan X-ray sudah menunjukkan adanya kerusakan tulang rawan diikuti dengan deformitas sendi dan osteoporosis periartikular. Lalu, pada tahap akhir yaitu tahap 4, terdeteksinya ankylosis tulang atau jaringan fibrosa disertai dengan gejala-gejala pada tahap 3.
3. Cedera dan Patah Tulang
Pada dasarnya, patah tulang yang bersifat ringan dapat sembuh dengan sendirinya dalam beberapa waktu. Namun, tetap dibutuhkan perawatan yang tepat guna mengoptimalkan pemulihan dan memastikan tulang menyambung ke posisi semula.
Pasalnya, apabila tulang yang patah tersebut tidak menyambung dengan benar, kondisi ini dapat memicu terjadinya deformitas sendi. Tak hanya itu, cedera atau trauma tanpa fraktur, terutama yang tidak mendapat penanganan dengan tepat, diketahui juga berisiko menyebabkan deformitas.
4. Osteoarthritis (OA)
Osteoarthritis adalah jenis artritis yang paling umum terjadi dengan gejala berupa nyeri pada sendi dan kekakuan, terutama di pagi hari. Seseorang dengan osteoarthritis berisiko mengalami deformitas sendi, yakni perubahan bentuk dan pembesaran sendi akibat pembengkakan, peregangan ligamen, kerusakan pada tulang rawan, dan perubahan pada tulang.
Pengobatan Deformitas Sendi
Pengobatan deformitas sendi akan disesuaikan dengan penyebab yang mendasari, jenis, dan tingkat keparahannya. Salah satu pengobatan yang biasanya direkomendasikan oleh dokter adalah terapi okupasi. Terapi okupasi bertujuan untuk menjaga fleksibilitas dan pergerakan sendi, namun tidak dapat mengembalikan bentuk sendi seperti semula.
Pada terapi okupasi, pasien juga dapat dipasangkan splint atau brace (penyangga) untuk memperlambat kerusakan sekaligus memberi dukungan pada sendi. Selain itu, dokter juga mungkin akan meresepkan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) atau suntikan kortikosteroid untuk membantu meredakan peradangan dan rasa nyeri.
Pada kasus yang berat, operasi penggantian sendi mungkin diperlukan untuk mengembalikan fungsi dan mobilitas sendi. Sementara itu, terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengelola rasa nyeri sendi akibat deformitas, meliputi:
-
Mengompres panas atau dingin pada sendi yang terdampak.
-
Mengistirahatkan sendi.
-
Menjaga berat badan ideal.
-
Mengonsumsi makanan bergizi seimbang.
-
Menghentikan kebiasaan merokok.
Pencegahan Deformitas Sendi
Apabila seseorang mengetahui dirinya berisiko mengalami gangguan sendi, melakukan konsultasi sejak dini dengan tenaga medis profesional dan menjalani pengobatan yang sesuai dapat menjadi salah satu upaya pencegahan yang efektif. Lebih lanjut, berikut adalah beberapa tindakan preventif untuk menghindari deformitas:
-
Mengontrol kadar gula darah.
-
Berolahraga secara teratur.
-
Melakukan peregangan setiap hari.
-
Menghindari cedera dan patah tulang.
-
Berhenti merokok.
Penting untuk diketahui bahwa gejala-gejala yang disebutkan pada artikel ini tidak secara spesifik mewakili kondisi deformitas sendi. Artinya, gejala seperti nyeri pada sendi, mungkin saja mengindikasikan kondisi medis lainnya. Oleh karena itu, segera berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Orthopedi di Siloam Hospitals terdekat agar mendapatkan diagnosis yang akurat, terlebih jika Anda mengalami nyeri tak tertahankan pada sendi.
Sebagai informasi, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang Anda jalani terkait kondisi ini mungkin berbeda di satu fasilitas kesehatan dengan yang lain. Tenaga medis akan menentukan langkah diagnosis dan penanganan yang paling tepat sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.
Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk menemukan Siloam Hospitals terdekat. Melalui aplikasi ini, Anda juga dapat membuat janji temu dengan dokter spesialis hingga memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Sumber
Medical News Today. Joint Deformity: What to know. Diakses pada 2025 | PubMed Central. Case report: Joint deformity associated with systemic lupus erythematosus. Diakses pada 2025 | PubMed Central. Overview of Rheumatoid Arthritis and Scientific Understanding of the Disease. Diakses pada 2025 | StatPearls. Rheumatoid Arthritis. Diakses pada 2025 | StatPearls. Boutonniere Deformity. Diakses pada 2025 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Made Oka Mahendra, SpOT, M.Biomed
Ortopedi (Tulang)
Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Su Djie To Rante, M. Biomed., SpOT, Subsp. P.L(K)
Ortopedi (Tulang)
Subspesialis Panggul dan Lutut
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Henry Tanzil, M. Kes, SpOT (K), FICS
Ortopedi (Tulang)
Subspesialis Panggul dan Lutut
Siloam Hospitals Makassar
Tersedia :
Tersedia hari ini







