Ensefalitis Virus Bisa Sebabkan Kerusakan Otak, Hati-Hati!
Kesehatan Tubuh

Ensefalitis Virus Bisa Sebabkan Kerusakan Otak, Hati-Hati!

14 Februari 2025 4 menit waktu baca
 mengenal Ensefalitis virus

 

Ensefalitis virus adalah peradangan pada otak yang disebabkan oleh virus. Meski jarang terjadi, ensefalitis virus dapat menimbulkan dampak serius yang signifikan terhadap kesehatan penderitanya. Virus penyebab penyakit ini bisa beragam, mari pahami informasi selengkapnya melalui ulasan di bawah ini.

 

Apa itu Ensefalitis Virus?

 

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, ensefalitis virus adalah peradangan pada otak yang disebabkan oleh virus. Selain itu, beberapa penyakit infeksi virus, seperti campak dan rubella juga dapat berkembang hingga menyebabkan peradangan otak. Komplikasi paling serius yang berpotensi terjadi dari ensefalitis virus adalah kerusakan otak permanen. Karenanya, kondisi ini perlu ditangani segera dengan tepat.

 

Penyebab Ensefalitis Virus

 

Mikroorganisme lain, seperti bakteri, jamur, dan parasit, juga dapat memicu ensefalitis. Namun, virus merupakan penyebab paling umum yang ditemui pada kasus ensefalitis. Begitu masuk ke dalam darah, virus bermigrasi ke otak dan mulai bereplikasi (berkembang biak) di sana. Sebagai respons akan serangan virus, tubuh akan meningkatkan respons sistem imun dan dapat menyebabkan otak membengkak. 

 

Ensefalitis dapat terjadi dalam dua bentuk, yaitu ensefalitis primer (infeksi virus yang langsung menyerang otak) dan ensefalitis sekunder (infeksi virus yang pertama terjadi di tempat lain di tubuh dan kemudian menyerang otak). 

 

 Beberapa jenis virus yang dapat menyebabkan ensefalitis adalah sebagai berikut:

 

  • Enterovirus.

  • Virus dengue.

  • Virus herpes simpleks.

  • Varicella zoster virus.

  • Cytomegalovirus.

  • Epstein-Barr virus (EBV).

  • Virus penyebab rabies.

  • Adenovirus.

  • Rubella.

  • Virus penyebab campak (measles).

  • Virus penyebab gondongan (mumps).

  • Virus Murray Valley encephalitis (MVE).

  • Japanese encephalitis virus.

  • Virus SARS-CoV-2 (COVID-19).

 

Virus tersebut dapat menyebar melalui berbagai cara, seperti:

 

  • Batuk atau bersin dari orang yang terinfeksi. Hal ini dapat menyebabkan virus menyebar di udara dan kemudian terhirup oleh orang lain.

  • Serangga seperti nyamuk atau kutu dan jenis hewan lainnya yang terinfeksi dapat menyalurkan virus langsung ke dalam aliran darah melalui gigitannya.

  • Mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh virus.

  • Beberapa jenis virus dapat menyebar melalui sentuhan dengan orang yang terinfeksi.

 

Gejala Ensefalitis Virus

 

Secara umum, beberapa gejala ensefalitis virus adalah sebagai berikut:

 

  • Demam tinggi.

  • Sakit kepala.

  • Fotofobia.

  • Mudah merasa lelah dan lemas.

  • Leher kaku.

  • Punggung kaku.

  • Muntah.

  • Perubahan perilaku.

  • Kebingungan.

  • Amnesia.

  • Kejang.

  • Kelumpuhan.

  • Koma. 

 

Diagnosis Ensefalitis Virus

 

Dalam proses penegakan diagnosis ensefalitis virus, dokter akan terlebih dahulu melakukan anamnesis (wawancara medis) untuk mengetahui tentang gejala dan riwayat kesehatan pasien. Kemudian, dilanjutkan dengan melakukan pemeriksaan fisik. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan penunjang guna mengonfirmasi diagnosis. Pemeriksaan tersebut meliputi:

 

Tes pencitraan otak, seperti CT scan dan MRI

 

Pemeriksaan ini dilakukan sebelum prosedur pungsi lumbal untuk memastikan tidak ada tekanan intrakranial yang meningkat atau risiko herniasi otak. Selain itu, pada kasus ensefalitis virus herpes simpleks (HSV), CT scan dapat menunjukkan kerusakan jaringan di lobus temporal yang biasanya muncul pada 3-5 hari setelah terinfeksi. MRI juga merupakan modalitas pencitraan yang dapat memberikan gambaran lebih detail dalam mendeteksi kerusakan di lobus temporal dan frontal pada kasus ensefalitis HSV.

 

Pungsi lumbal

 

Prosedur yang dilakukan untuk mengambil cairan serebrospinal (cairan bening yang mengalir di dalam dan di sekeliling otak dan sumsum tulang belakang). Prosedur pemeriksaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis virus penyebab infeksi, jumlah sel, kadar glukosa, dan protein. Pemeriksaan cairan serebrospinal juga sebaiknya mencakup tes PCR untuk mendeteksi virus tertentu, seperti HSV-1, HSV-2, dan enterovirus.

 

Electroencephalography (EEG) 

 

Pemeriksaan untuk memeriksa aktivitas listrik otak dan dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kelainan pada pasien yang mengalami kejang.

 

Biopsi otak 

 

Biasanya diperlukan untuk mengidentifikasi penyebab penyakit melalui pengambilan sampel jaringan otak jika diagnosis masih belum jelas, gejala pasien semakin memburuk, atau jika pengobatan tidak efektif.

 

Komplikasi Ensefalitis Virus

 

Bayi, orang tua, dan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi akibat ensefalitis virus, terutama jika tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat. Beberapa komplikasi ini meliputi:

 

  • Tekanan darah rendah (hipotensi).

  • Kadar oksigen rendah dalam darah (hipoksemia).

  • Perdarahan di dalam otak.

  • Kerusakan otak permanen.

  • Kematian. 

 

Pengobatan Ensefalitis Virus

 

Tidak seperti bakteri, infeksi virus cenderung lebih sulit diobati dan pengobatannya terutama bersifat suportif. Pasalnya, obat antivirus mungkin hanya dapat bekerja pada sejumlah kecil jenis virus. Misalnya, pemberian obat asiklovir secara dini dapat membantu menurunkan risiko kematian, morbiditas, serta keparahan gangguan perilaku dan kognitif jangka panjang akibat ensefalitis HSV. 

 

Kendati demikian, dokter dapat memberikan pengobatan yang tepat untuk mengurangi keparahan gejala. Pengobatan tersebut meliputi:

 

  • Obat antivirus yang diberikan melalui infus. Obat ini dapat diberikan jika virus sudah diketahui rentan terhadap obat antivirus tersebut, misalnya seperti pada kasus ensefalitis HSV.

  • Pemberian obat-obatan untuk mengurangi pembengkakan otak.

  • Obat pereda nyeri.

  • Obat untuk mencegah muntah.

  • Obat untuk mencegah kejang (antikonvulsan).

  • Obat untuk menurunkan demam.

  • Cairan untuk mencegah dehidrasi, namun pemberian cairan perlu berhati-hati dan harus sesuai dengan instruksi dokter.

 

Perlu dipahami bahwa informasi dalam artikel ini hanya untuk tujuan edukasi dan tidak dapat menggantikan diagnosis maupun saran perawatan dari dokter. Gejala yang dijelaskan di atas pun tidak secara spesifik merepresentasikan ensefalitis virus, sehingga bisa terjadi pada kondisi medis lainnya yang mungkin juga memiliki gejala atau tanda serupa.

 

Apabila mengalami gejala-gejala tidak biasa yang dicurigai berkaitan dengan kondisi ini, seperti demam tinggi, sakit kepala, dan malaise. penting untuk memperoleh diagnosis yang akurat dengan mengunjungi Dokter Spesialis Neurologi di Siloam Hospitals terdekat. Bersama Siloam Hospitals, Anda juga dapat memperoleh penanganan lebih lanjut sesuai dengan kondisi tubuh.

 

Namun, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang Anda jalani terkait kondisi ini mungkin berbeda di satu fasilitas kesehatan dengan yang lain. Tenaga medis akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat sesuai dengan kondisi medis setiap pasien.


Manfaatkan aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai fitur kesehatan yang memudahkan Anda, mulai dari melihat jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

Sumber

BetterHealth Channel. Viral encephalitis. Diakses pada 2024 | StatPearls Publishing. Viral Encephalitis. Diakses pada 2024 |

Dokter Kami
dr-kelvin-yuwanda-spn

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-jerry-hartawan--sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-dorothea-fortuna-meita-caturwulan-sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail