Kesehatan Tubuh
Apa itu Fotofobia? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Table of Contents
Fotofobia adalah kondisi ketika mata sensitif terhadap cahaya terang sehingga menyebabkan mata terasa nyeri dan tidak nyaman. Pada dasarnya, fotofobia bukanlah suatu penyakit, melainkan gejala dari kondisi medis tertentu, seperti migrain atau sindrom mata kering.
Mari pahami lebih lanjut mengenai penyebab, gejala penyerta, cara mendiagnosis, serta cara mengatasi fotofobia selengkapnya melalui ulasan di bawah ini.
Apa itu Fotofobia?
Photophobia atau fotofobia adalah kondisi yang terjadi ketika mata sensitif terhadap cahaya terang. Keluhan ini biasanya muncul saat seseorang sedang melihat sinar matahari atau cahaya lampu yang sangat terang. Fotofobia bisa disebabkan oleh berbagai hal, seperti efek samping pemeriksaan mata atau karena kondisi medis tertentu.
Secara umum, fotofobia dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu direct photophobia dan consensual photophobia. Berikut penjelasan mendetail dari masing-masing jenis fotofobia.
-
Direct photophobia: Jenis fotofobia yang terjadi ketika mata terasa nyeri dan tidak nyaman saat cahaya menyinari mata sisi mata yang nyeri itu sendiri.
-
Consensual photophobia: Jenis fotofobia yang terjadi ketika mata terasa nyeri dan tidak nyaman saat cahaya menyinari sisi mata yang lain.
Penyebab Fotofobia
Fotofobia sering kali dikaitkan dengan sel-sel serta saraf pada mata yang berfungsi mendeteksi cahaya dan mengantarkan rangsangan menuju otak. Kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti gangguan mata, gangguan sistem saraf, efek samping prosedur medis, hingga masalah kesehatan mental tertentu.
Gangguan mata yang bisa menyebabkan terjadinya fotofobia adalah:
-
Aniridia, yaitu kelainan kongenital yang membuat seseorang tidak memiliki iris mata.
-
Astigmatisme (mata silinder).
-
Uveitis, yaitu peradangan pada lapisan tengah mata (uvea).
-
Iritis, yaitu peradangan pada selaput berwarna di mata (iris).
-
Keratitis, yaitu peradangan pada kornea mata.
-
Konjungtivitis, yaitu peradangan pada selaput yang melapisi bagian putih mata serta kelopak mata (konjungtiva).
-
Blepharospasm, yaitu kelainan saraf yang memengaruhi otot-otot yang mengendalikan kelopak mata, sehingga terjadi kontraksi otot kelopak mata yang menyebabkan mata berkedut.
-
Abrasi kornea, yaitu goresan kecil pada lapisan bening mata yang menutupi iris dan pupil.
-
Exotropia, yaitu kelainan otot bola mata yang mengakibatkan posisi mata tidak sejajar dan mengalami deviasi ke arah luar.
-
Neuritis optik, yaitu gangguan penglihatan yang disebabkan oleh peradangan pada saraf mata.
-
Papilledema, yaitu pembengkakan pada saraf optik mata yang disebabkan oleh peningkatan tekanan pada otak.
-
Retinitis pigmentosa, yaitu kelainan genetik yang ditandai dengan rabun senja serta penglihatan seperti terowongan (tunnel vision) karena adanya kerusakan sel-sel retina.
-
Strabismus (mata juling).
Gangguan sistem saraf yang dapat menyebabkan seseorang mengalami fotofobia adalah:
-
Traumatic brain injury (cedera otak traumatik).
-
Supranuclear palsy, yaitu kelainan pada otak yang dapat memengaruhi keseimbangan tubuh dan pergerakan bola mata.
-
Adanya tumor pada kelenjar hipofisis atau pituitari.
-
Migrain.
-
Subarachnoid hemorrhage, yaitu perdarahan yang terjadi pada lapisan pelindung otak.
Prosedur medis yang berisiko menimbulkan efek samping berupa fotofobia adalah:
-
Efek samping obat-obatan tertentu, seperti pil kina, furosemide, antidepresan, dan antibiotik.
-
Efek samping prosedur operasi mata, seperti LASIK (laser-assisted in situ keratomileusis).
Gangguan kesehatan mental yang dapat memicu seseorang mengalami fotofobia adalah:
-
Agoraphobia, yaitu rasa takut dan cemas berlebihan saat berada di situasi yang membuat penderitanya merasa panik, tidak berdaya, malu, atau terperangkap.
-
Panic disorder.
Kondisi lain yang dapat memicu atau berkaitan dengan fotofobia:
-
Albinisme, kondisi ini dapat membuat kurangnya pigmen pada iris atau lapisan di sekitar retina sehingga menyebabkan seseorang cenderung sensitif terhadap cahaya.
-
Alergi.
-
Chronic fatigue syndrome, yaitu sekumpulan gejala berupa lesu, lelah, dan tidak bertenaga yang terjadi secara terus-menerus.
-
Fibromyalgia, yaitu kondisi medis yang membuat penderitanya mengeluhkan rasa nyeri di sekujur tubuh, dan disertai dengan rasa lelah serta gangguan tidur.
Gejala Fotofobia
Pada dasarnya, fotofobia adalah gejala dari kondisi medis tertentu yang membuat penderitanya mengeluhkan rasa nyeri dan tidak nyaman pada mata saat mendapatkan rangsangan cahaya terang. Di samping itu, beberapa gejala yang kerap menyertai fotofobia adalah sebagai berikut.
-
Sering menyipitkan mata atau berkedip saat melihat cahaya terang.
-
Cenderung mengangkat tangan untuk melindungi mata dari cahaya terang.
-
Cenderung tinggal di dalam rumah ketika cuaca sedang terik atau lebih senang bepergian saat senja.
-
Lebih memilih menggunakan lampu dengan cahaya redup dibandingkan dengan cahaya terang.
Diagnosis Fotofobia
Untuk menegakkan diagnosis penyebab fotofobia, dokter akan melakukan anamnesis atau wawancara medis terkait dengan keluhan, riwayat kesehatan, jenis obat-obatan yang sedang dikonsumsi, serta riwayat prosedur medis yang pernah dilakukan oleh pasien. Setelah itu, dokter dapat melakukan pemeriksaan mata untuk mengevaluasi kondisi pasien.
Lalu, sejumlah pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk membantu mengonfirmasi diagnosis penyebab fotofobia adalah sebagai berikut.
-
Pemeriksaan mata menggunakan slit lamp, yaitu pemeriksaan mata dengan menggunakan mikroskop khusus dengan cahaya.
-
Pemeriksaan lapisan film air mata (exam of the tear film), yaitu pemeriksaan jumlah air dikeluarkan oleh mata untuk mengetahui apakah mata kering.
-
MRI.
Cara Mengatasi Fotofobia
Pengobatan fotofobia dapat dilakukan sesuai dengan penyebab yang mendasarinya. Setelah penyebabnya ditangani, keluhan fotofobia biasanya juga akan mereda dan menghilang. Secara umum, beberapa tindakan medis yang dapat dilakukan dokter untuk menangani fotofobia adalah:
-
Penggunaan kacamata.
-
Pemberian obat-obatan tertentu, seperti obat tetes mata atau injeksi.
-
Tindakan operasi.
Dokter juga dapat menyarankan pasien untuk menghindari alergen tertentu apabila fotofobia disebabkan oleh alergi. Selama menjalani pengobatan, pasien juga dianjurkan untuk menerapkan beberapa perawatan mandiri berikut ini.
-
Menggunakan kacamata saat berada di luar rumah.
-
Mengurangi atau menghindari paparan cahaya terang sebisa mungkin.
-
Menghindari menggunakan lensa kontak jika fotofobia disebabkan oleh mata kering.
-
Mengatur pencahayaan pada ponsel, televisi, atau monitor komputer agar tidak terlalu terang.
-
Menghindari penggunaan makeup di area mata.
Dapat disimpulkan, fotofobia adalah gejala yang bisa menjadi indikasi dari kondisi medis tertentu, sehingga penting untuk segera mendapatkan diagnosis yang tepat. Jika Anda mengalami gejala tersebut, sebaiknya segera kunjungi Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan diagnosis dan tindakan medis yang tepat dari dokter kami.
Untuk memperoleh perawatan kesehatan di rumah, Anda juga dapat memesan layanan Homecare - Coordinated Care dari Siloam at Home. Melalui layanan ini, Anda bisa mendapatkan pendampingan aktivitas sehari-hari di rumah dari perawat Siloam Hospitals, baik dengan menginap ataupun pulang pergi.
Agar lebih praktis, Anda dapat memesan layanan Homecare - Coordinated Care melalui fitur yang tersedia pada aplikasi MySiloam. Selain itu, MySiloam juga bisa Anda manfaatkan untuk mengakses layanan kesehatan lebih cepat, mulai dari check in mandiri, antre secara online, hingga konsultasi langsung dengan dokter secara virtual. Mari percayakan kesehatan Anda dan keluarga #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Makassar
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya
Tersedia :
Tersedia hari ini







