Apakah Sunat Itu Sakit? Ini Tips Redakan Nyeri Pascatindakan
Kesehatan Tubuh

Apakah Sunat Itu Sakit? Ini Tips Redakan Nyeri Pascatindakan

10 Maret 2026 6 menit waktu baca
apakah sunat itu sakit

Apakah sunat itu sakit? Pertanyaan ini sering muncul, baik dari anak yang akan menjalani prosedur maupun dari orang tua yang merasa khawatir. Sunat atau sirkumsisi merupakan tindakan medis yang umum dilakukan dan biasanya menggunakan bius agar pasien tidak merasakan nyeri selama prosedur berlangsung.

 

Namun, setelah efek bius mulai mereda, rasa nyeri dapat muncul di area tindakan. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana cara mengelola rasa nyeri dan merawat luka dengan benar agar proses pemulihan berjalan optimal. Untuk mengetahui penjelasan lengkap serta tips perawatannya, simak artikel berikut ini.

 

Apakah Sunat Itu Sakit?

 

Secara medis, sunat adalah prosedur bedah sehingga dapat menimbulkan rasa nyeri. Namun, dalam praktik kedokteran modern, tindakan ini dilakukan dengan anestesi (bius) agar pasien tidak merasakan sakit selama prosedur berlangsung. 

 

Dalam praktiknya, terdapat metode sunat yang tidak sakit. Dokter dapat menggunakan anestesi lokal atau anestesi umum, tergantung pada kondisi pasien. Anestesi lokal dapat menghilangkan rasa nyeri di area yang disunat tanpa memengaruhi kesadaran pasien. Sementara itu, anestesi umum akan membuat pasien tertidur atau tidak sadar selama tindakan. 

 

Penggunaan anestesi ini sangatlah penting karena berdasarkan penelitian dari Journal of Applied Nursing and Health (2022), sunat tanpa anestesi yang memadai dapat memicu respons nyeri yang signifikan. Hal ini kemudian dapat berdampak pada aspek psikologis, seperti stres, kecemasan, hingga fobia terhadap prosedur medis di masa depan.

 

Meski demikian, perlu dipahami bahwa rasa nyeri dapat muncul setelah prosedur selesai dan efek bius mulai memudar. Nyeri ini umumnya bersifat ringan hingga sedang dan merupakan bagian dari proses penyembuhan luka. Dengan penanganan yang tepat, ketidaknyamanan pascatindakan biasanya dapat dikontrol dan membaik dalam beberapa hari.

 

Jenis-jenis Metode Sunat

 

Terdapat beberapa jenis atau metode sunat yang umum digunakan, terutama pada bayi dan orang dewasa. Berikut adalah masing-masing penjelasannya.

 

1. Metode Sunat pada Bayi

 

Pada bayi, prosedur umumnya menggunakan alat khusus (device/clamp techniques) yang dirancang untuk melindungi glans (kepala penis) dan membantu mengontrol perdarahan. Berikut adalah beberapa jenis alat sunat yang umum digunakan untuk bayi:

 

  • Gomco clamp: Merupakan alat berbentuk lonceng (bell) yang ditempatkan di atas kepala penis untuk melindungi kepala penis saat kulup dipotong. Alat penjepit dijepit bersama kulup guna menghentikan aliran darah sementara sebelum jaringan dipotong. Tekanan dari jepitan tersebut membantu meminimalkan perdarahan.

  • Mogen clamp: Menggunakan penjepit sederhana untuk menjepit kulup sebelum dipotong. Prosedurnya relatif lebih cepat dibandingkan Gomco karena tidak memerlukan pemasangan pelindung kepala penis, tetapi membutuhkan ketelitian yang tinggi. Oleh karena itu, dokter harus memastikan posisi glans aman sebelum pemotongan dilakukan.

  • Plastibell (plastic bell device): Menggunakan cincin plastik yang dipasang di bawah kulup dan diikat dengan benang untuk menghentikan aliran darah ke jaringan kulup. Dalam 5–10 hari, kulup dan cincin akan terlepas dengan sendirinya.

 

2. Metode Sunat pada Anak-Anak & Dewasa

 

Pada anak-anak, remaja, dan pria dewasa, prosedur sunat umumnya dilakukan menggunakan teknik bedah konvensional. Pada kelompok usia ini, jaringan sudah lebih berkembang sehingga diperlukan pembedahan langsung dengan alat bedah standar. Selama prosedur berlangsung, dokter mengontrol perdarahan secara manual dan biasanya diperlukan jahitan untuk menutup luka setelah kulup diangkat. 

 

Berikut beberapa metodenya:

 

  • Dorsal slit technique: Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada kulup sebelum jaringan diangkat. Umumnya, dorsal slit technique digunakan pada kasus fimosis (kulup sempit). Teknik ini lebih sederhana, tetapi hasil tampilan akhir bisa kurang rapi dibandingkan teknik sleeve.

  • Sleeve technique: Kulup dipotong secara melingkar sehingga hasilnya lebih rapi dan simetris. Namun, durasi operasinya sedikit lebih lama dibandingkan teknik dorsal slit. Metode ini sering digunakan pada pasien remaja dan dewasa.

 

3. Metode Sunat pada Semua Kelompok Usia

 

Metode yang digunakan pada semua kelompok usia, baik bayi, anak-anak, maupun pria dewasa adalah sunat laser yang menggunakan alat bernama electrocauter. Alat ini memotong kulup sekaligus membekukan pembuluh darah dengan panas listrik sehingga dinilai dapat mengurangi risiko perdarahan. Pada akhir prosedur, tetap diperlukan jahitan untuk merapikan hasil dan membantu proses penyembuhan.

 

Tips Mengelola Rasa Sakit setelah Sunat

 

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, rasa nyeri akan muncul ketika efek bius mulai menghilang. Untuk mengatasinya, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan, seperti:

 

  • Gunakan obat pereda nyeri sesuai anjuran dokter, seperti parasetamol atau ibuprofen. 

  • Jaga agar area sunat tetap bersih dan kering, serta kenakan pakaian longgar agar tidak menekan luka.

  • Oleskan salep antibiotik sesuai resep bila dianjurkan.

  • Mengompres area sekitar dengan kain dingin untuk membantu meredakan pembengkakan dan rasa nyeri.

  • Istirahat yang cukup agar tubuh dapat pulih dengan lebih cepat.

  • Hindari aktivitas berat selama 3–7 hari.

  • Pada pasien remaja atau dewasa, hindari aktivitas seksual kurang lebih selama 4–6 minggu.

 

Selain itu, hindari obat yang dapat meningkatkan risiko memar atau perdarahan, seperti aspirin, kecuali telah mendapat izin dokter. Dengan perawatan yang tepat, rasa sakit setelah sunat dapat diminimalkan dan proses penyembuhan menjadi lebih optimal.

 

Siapa yang Dilarang Menjalani Sunat?

 

Sunat sebaiknya tidak dilakukan pada bayi yang sedang mengalami kondisi kesehatan tertentu atau memiliki kelainan pada organ genital guna mengurangi risiko komplikasi pascaprosedur. Beberapa kondisi yang menjadi pertimbangan meliputi:

 

  • Bayi sedang sakit atau demam (suhu ≥38°C), infeksi aktif, berat badan lahir sangat rendah (<2.500 gram).

  • Kelainan anatomi pada penis, seperti hipospadia, epispadia atau kelamin ganda.

  • Gangguan pembekuan darah atau riwayat keluarga dengan masalah perdarahan.

  • Bayi dengan penyakit kuning yang belum membaik.

  • Bayi yang berada di unit perawatan intensif (ICU/NICU).

 

Apa yang Harus Diwaspadai setelah Sunat?

 

Meskipun sunat termasuk prosedur yang umum dan relatif aman, fase pemulihan tetap memerlukan pemantauan yang cermat. Sebab, respons tubuh setiap pasien dapat berbeda sehingga potensi munculnya komplikasi tetap ada. Oleh karena itu, penting untuk mengenali tanda-tanda yang memerlukan perhatian medis agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat. Beberapa hal yang perlu diperhatikan setelah sunat antara lain:

 

  • Perdarahan berlebihan yang tidak berhenti dengan tekanan ringan.

  • Rasa nyeri terus-menerus meski sudah diberikan obat pereda nyeri.

  • Tanda-tanda infeksi, seperti kemerahan, bengkak, atau nanah di area luka.

  • Edema atau pembengkakan menetap di ujung penis.

  • Sulit buang air kecil atau aliran urine sangat lemah.

 

Perawatan setelah sunat yang tepat dapat mengurangi risiko komplikasi. Oleh karena itu, pastikan area luka tetap bersih dan kering dan pantau kondisi pasien secara rutin agar proses penyembuhan berjalan lancar.

 

Demikian penjelasan mengenai apakah sunat itu sakit. Secara umum, sunat merupakan prosedur yang aman selama dilakukan oleh tenaga medis profesional dan memperoleh perawatan pascatindakan yang tepat. Namun, perlu diingat bahwa kondisi setiap individu dapat berbeda sehingga informasi di atas tidak dapat menggantikan pemeriksaan maupun saran medis langsung dari dokter.

 

Oleh karena itu, jika Anda atau anak Anda berencana menjalani sunat, sebaiknya konsultasikan lebih lanjut dengan Dokter Spesialis Bedah Umum di Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan penilaian dan rekomendasi yang sesuai dengan kondisi masing-masing pasien. 

 

Selain itu, Anda dapat memanfaatkan layanan Perawatan Luka Homecare untuk membantu proses pemulihan di rumah dengan pendampingan tenaga medis profesional. Melalui perawatan luka yang tepat, pemberian obat sesuai anjuran, serta pemantauan kondisi secara berkala, risiko komplikasi dapat diminimalkan dan rasa nyeri setelah sunat pun dapat lebih terkontrol. 

 

Gunakan aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai layanan kesehatan dengan praktis, termasuk melihat jadwal praktik dokter, memesan janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan secara online. Unduh MySiloam sekarang untuk mempermudah perjalanan kesehatan Anda.

Sumber

Journal of Applied Nursing and Health. Social and Psychological Effects of Circumcision: A Narrative Review. Diakses pada 2026 | National Library of Medicine. Circumcision. Diakses pada 2026 | Stanford Medicine. Contraindications to Routine Circumcision. Diakses pada 2026 | UW Medicine. After Your Surgery: Adult Circumcision. Diakses pada 2026 | NHS. Information for Adult Patients After Circumcision. Diakses pada 2026 | National Library of Medicine. Postoperative Pain Management for Circumcision; Comparison of Frequently Used Methods. Diakses pada 2026 | Cleveland Clinic. Circumcision. Diakses pada 2026 |

message

ArticleDetail